
Beberapa orang perawat masuk ke ruangan Cellya, sekitar pukul setengah tiga. setelah menyiapkan semuanya, mereka segera mendorong brankar Cellya keluar kamar, menuju tempat di lakukan nya biopsi.
Sean, setia terus berada di samping istrinya. tangannya, terus menggenggam erat tangan Cellya.
Laju brankar terhenti di depan sebuah ruangan. beberapa petugas nampak membuka pintu ruangan lebih dulu.
"Anda bisa menunggu di sini, tuan.", ucap salah seorang dari mereka, pada Sean. pria itu mengangguk, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya.
"Dengar!. aku disini, jadi tidak ada yang perlu di takutkan. oke?!.", ucapnya, lirih. kedua manik matanya, menatap wajah sendu istrinya.
"Aku akan tetap disini sampai kau keluar lagi, by. promise...", ujarnya. ia mengecup kening istrinya lama, dan Cellya hanya memejamkan matanya, merasakan kasih sayang tulus dari suami, yang kini menjadi sumber kekuatan untuk nya.
"Love you.", bisiknya. membuat Cellya mengangguk. perlahan tautan tangan mereka terlepas. karena perawat mulai mendorong brankar Cellya masuk dalam ruang tindakan.
Sean mematung di depan pintu itu. ia setia menunggu sampai istrinya keluar. ya, dia harus melewati ini bersama istrinya saja kali ini. karena, memang kedua keluarga ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan. tapi, begitu mereka sempat, mereka segera berbondong-bondong ke rumah sakit untuk melihat keadaan Cellya.
Pintu itu akhirnya terbuka setelah hampir satu jam. Sean yang sedari tadi berdiri di depan pintu, segera membaur ketika melihat brankar yang menopang tubuh istrinya keluar dari sana.
Ia segera menghampiri dan tersenyum melihat istrinya yang nampak terbaring lemah.
Setelah nya, Cellya segera di bawa ke ruang perawatan lagi sebelum di putuskan, apakah ia bisa secepatnya pulang atau tidak.
Saat mereka hampir sampai di ruangan Cellya, nampak semua anggota keluarga nya sudah datang menunggu nya di ruang rawat.
Sejenak mereka memberikan jalan agar brankar yang membawa Cellya bisa segera masuk ke ruangan nya.
Setelah masuk, beberapa perawat nampak membenarkan infus dan alat medis lainnya sebelum meninggalkan Cellya.
Begitu para perawat pergi, ibu, mertua dan saudaranya segera mendekat.
"Hai, sayang.", sapa ibunya. membuat Cellya hanya merespon dengan kedipan matanya. ia nampak masih lemah dan tidak ingin mengatakan apapun.
Ibu serta keluarga lain yang paham, hanya mengusap surai hitam milik nyonya Xavier, dan tersenyum sembari mengelilingi ranjang nya.
"Tidurlah, kau nampak sangat lelah.", ucap ibunya. lagi-lagi Cellya hanya mengedipkan mata.
__ADS_1
Perlahan, satu persatu dari mereka mulai menjauh dari brankar agar Cellya bisa istirahat dengan baik. hanya Sean, yang masih berada di samping ranjang nya.
"Mau di elus perutnya, sampai tidur?!.", tanyanya pada Cellya, membuat wanita itu mengedipkan matanya. Sean segera menarik kursi dan duduk lebih dekat dengan ranjang istrinya. ia lantas, mengusap-usap perut Cellya hingga wanitanya tertidur.
Malam itu, tak ada banyak pembicaraan di antara mereka semua. mereka berencana menemani Sean dan Cellya tidur di rumah sakit, walaupun nampak David sampai membawa laptop nya, karena harus mengoreksi berkas yang telah di kirimkan sekertaris nya, untuk menyambut kerjasama besok.
"Tidurlah. kau tidak perlu memaksakan diri.", ujar Sean, yang melihat David berjalan mendekat pada ranjang Cellya setelah menyelesaikan pekerjaan nya.
"Aku juga ingin. tapi, istriku masih ingin menemani saudaranya. lalu, aku bisa apa?!.", ucapnya, santai. Sean menatap Ellyana, sekilas. ya, sedari tadi saudara iparnya ini tidak juga beranjak dari tempat duduknya. ia masih setia duduk di samping ranjang istrinya.
......................
"El, ajak suamimu istirahat. kalian butuh tenaga untuk besok.",
"Lagi pula, Cellya masih tertidur pulas. biar aku yang menjaganya di sini.", bujuk Sean. ia merasa tidak enak dengan pasangan pengantin baru ini.
"Aku tidur di kamar ini juga ya, ay?.", ucapnya, meminta izin pada suaminya.
"Tidur dimana?!.", tanya David.
"Sofa.", jawab Ellyana singkat.
"Kalau begitu, aku akan minta bed lagi pada petugas rumah sakit. agar kau bisa tidur disini malam ini.", ucap David, setelah lama terdiam.
Ya, tidak baik membuat istrinya marah. selain tidak dapat jatah malam, pasti akan membuat moodnya naik turun yang bisa merembet kemana-mana.
Ellyana tersenyum, setelah mendengar ucapan suaminya. ia mendekat dan mengalungkan tangannya di leher David.
"Suamiku, memang yang terbaik.", ucapnya, dengan senyum manis dan wajah menggemaskan. membuat David tersenyum aneh melihat istrinya. sementara Sean, hanya tersenyum kecil, melihat akhir drama pasutri ini.
Pada akhirnya, mereka tidur di kamar Cellya. Sean memilih tidur di kursi, samping ranjang istrinya. tangannya terus menggenggam tangan Cellya. ia ingin menjadi orang pertama yang melihat istrinya bangun setelah tindakan biopsi sore tadi.
Sementara David tidur di sofa, dan Ellyana tidur di bed yang di siapkan petugas rumah sakit tadi.
Pagi datang. Ellyana nampak membersihkan diri di kamar mandi, sementara David menunggu giliran.
__ADS_1
"Tok...
"Tok...
"Masuk.", sahut David, ketika mendengar ketukan pintu. seorang pelayan rumahnya datang membawa paper bag.
"Permisi, tuan.",
Nyonya meminta saya, mengantarkan baju ganti, nona. tuan.", ucapnya, sembari meletakkan paper bag di meja.
"Dan ini baju ganti anda.", ucapnya sembari meletakkan paper bag lainnya di atas meja.
"Terimakasih.", ucap David. pelayan itu membungkuk hormat. ia beralih ke arah Sean, yang sedang duduk di samping ranjang istrinya.
"Nyonya, mengirimkan baju ganti dan beberapa makanan untuk anda juga, tuan.", ucapnya menyerahkan dua paper bag pada Sean.
"Terimakasih.", ucapnya. ia tersenyum dan menerima titipan dari mertuanya.
"Kalau begitu, saya permisi.", ucapnya, membungkuk hormat sebelum pergi. Sean dan David mengangguk.
"Ay, bajumu datang.", teriak David dari balik pintu kamar mandi, yang membuat Ellyana segera membuka pintu. David menyerahkan paper bag berisi baju ganti itu, dan Ellyana segera menutup pintu nya kembali.
Tak berapa lama kemudian, Ellyana sudah keluar. ganti David yang masuk untuk membersihkan diri dan berganti baju.
Selanjutnya, mereka bertiga sarapan bersama dengan menu yang sudah di antarkan oleh penjaga rumah dan beberapa maid ke rumah sakit, sebelum Ellyana dan David pergi ke kantor.
"Aku akan kesini siang nanti, ketika jam makan siang.", ujar Ellyana di sela sarapan pagi mereka. Sean mengangguk, mengiyakan.
"Aku kesini lagi mungkin, nanti malam.", sahut David. Sean pun mengangguk. ia meletakkan mangkuk nya di meja, lalu meneguk segelas susu hangat.
"Jangan terlalu di paksakan. kalian tidak perlu terus datang ke sini setiap hari.",
"Kalian adalah pengantin baru. nikmatilah waktu berdua lebih banyak.",
"Jangan khawatirkan, Cellya. aku akan terus menjaganya.",
__ADS_1
"Lagi pula, ada mama juga kan?!.", ucap Sean. ia merasa tidak enak dengan David, karena ikut repot tidur di rumah sakit menemaninya. sehingga, mengorbankan waktu bulan madu mereka.
...----------------...