
Sean segera turun dan menjemput istrinya. ia membopong tubuh Cellya dan membawanya masuk ke rumah sakit.
Nampak seorang perawat menghampirinya dan membawakan kursi roda. Sean yang paham segera mendudukkan istrinya di kursi itu.
Selanjutnya, seperti biasa Sean ke pendaftaran dan segera di bantu untuk bertemu dokter Jeno.
Semua proses terlewati dengan cepat. dan kini, mereka sudah berada di antrian para pasien yang juga ingin menemui dokter Jeno.
Tidak berselang lama, Sean dan Cellya sudah di izinkan masuk ke ruangan dokter Jeno.
Cellya segera di baringkan di brankar, dan dokter segera memeriksa kondisi nya.
Sean menceritakan tentang kejadian pagi ini tentang Cellya. dokter Jeno mendengarkan dengan seksama, sembari terus memeriksa.
"Bagaimana?!.", tanya Sean, saat mereka sudah duduk berhadapan.
"Saya rasa, nona harus menginap di rumah sakit dari hari ini juga.", jawab dokter.
Cellya terkejut. ia menggeleng dan ingin mengatakan sesuatu, namun tenggorokannya terasa sakit dan berat. Sean yang melihat kondisi istrinya, hanya bisa menyetujui ucapan dokter Jeno.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui apa yang terjadi dengan, nona.", ucap dokter Jeno. sebelum pergi meninggalkan kamar tempat Cellya di rawat. Sean hanya mengangguk.
Ia menatap istrinya yang sedang di tangani oleh beberapa perawat. mereka nampak masih berusaha memasang infus di tangan istrinya.
Sean keluar sebentar karena dokter Tya memanggilnya ke ruang kerja.
Cellya termenung sendiri di kamar rawatnya. ia mengkhawatirkan beberapa hal, terutama keselamatan baby nya. tapi ia tidak bisa berbuat banyak, dengan kondisinya saat ini.
"Sayang.", suara khas, yang membuat Cellya menoleh ke arah pintu seketika.
Nampak wanita itu berjalan mendekat menghampiri nya lalu memeluk erat tubuh Cellya yang sedikit kurus.
"Mama langsung ke sini, begitu mendapat kabar dari Sean.", ucap ibu Cellya sembari melepaskan pelukannya. ia melihat putrinya tersenyum hambar.
"Kenapa?!. ada yang sakit kah?!.", tanya ibunya, membuat Cellya menggeleng pelan.
"Mama tadi ketemu, Sean. katanya, dia di panggil untuk bertemu dokter Tya. jadi, mama langsung ke sini saja.",
__ADS_1
"Takut tidak ada yang menemani mu.", sambungnya. Cellya tersenyum tipis.
Kenapa dokter Tya memanggilnya?!. ada masalah kah dengan baby nya?!. segala jenis pertanyaan mulai muncul dalam angan dan pikirannya.
Ibu Cellya memilih menemani putrinya di kamar rawat inap, sementara menantunya sedang bertemu dengan beberapa dokter, untuk membahas kondisi Cellya.
Hari kedua Cellya di rumah sakit. Sean baru saja pamit pergi menemui dokter Jeno, di ruangannya.
Begitu sampai disana, ternyata sudah ada beberapa dokter lainnya. di antara nya dokter Tya, dokter spesialis kandungan yang rutin mengecek kondisi kandungan Cellya.
Dokter Jeno, dokter spesialis kanker dan tumor. serta dua orang dokter lainnya, yang sudah nampak cukup berumur. mereka adalah spesialis dokter bedah saraf.
Dokter Jeno, memperkenalkan para dokter pada Sean setelah mereka duduk dengan santai di kursinya masing-masing.
Nampak dokter Jeno menjelaskan kondisi Cellya saat ini, yang sudah tidak mungkin untuk melakukan penundaan pengobatan.
"Kenapa?!.", tanya Sean.
"Karena tumor itu sudah mulai merusak saraf mata, tenggorokan hingga pita suara.", jawab dokter Jeno, sembari menunjuk gambar tengkorak milik Cellya yang di gantung di papan.
"Jika kita membiarkan nya. maka, di khawatirkan tumor itu akan menyebabkan kerusakan pada organ lain yang lebih parah.
Sean kembali ke ruang rawat Cellya. ia melihat istrinya bisa tersenyum lagi karena kedatangan kedua orang tua, mertua, saudara ipar beserta suaminya.
Dengan cepat ia merubah ekspresi wajahnya. berusaha menutupi dengan senyum, agar tidak membuat istrinya takut dan khawatir yang bisa semakin memperburuk kondisi istrinya.
"Sayang, maaf kami baru datang.", ujar ibu Cellya, dengan senyum. Sean tersenyum tipis, ia lantas mendekat dan memeluk mereka satu persatu.
Terakhir ia memeluk ayahnya erat. ayahnya yang paham, membiarkan putranya memeluk tubuhnya dan melangkah sedikit menjauh dari mereka.
Pada akhirnya tuan Xavier mengajak Sean keluar dari kamar Cellya dan kini, mereka sedang duduk di taman.
"Why?, there something that makes you sad?.", tanya ayahnya membuka pembicaraan.
"what should I do, dad?.", ucapnya, dengan menunduk. tubuhnya terlihat lesu dan tak bertenaga.
"Bicara yang benar, dan lihat Dady. jangan seperti ini.", ujar ayahnya, sembari meraih kedua bahu Sean.
__ADS_1
Sean menatap ayahnya dengan pandangan sayu. ia terdiam sejenak, lalu menghela nafas dalam dan mulai menceritakan pertemuannya dengan dokter hari ini.
Ia nampak sesekali mengusap kedua matanya yang mulai berembun karena menahan tangis. sebisa mungkin, ia segera mengusap matanya sebelum air matanya jatuh ke pipi. ia lakukan itu, agar Dady nya tidak tahu bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. walaupun mungkin, sebenarnya Dady nya sudah tahu dan cukup mengerti dengan dirinya saat ini.
"Cellya pasti akan menolak keputusan dokter.", ujar ayahnya, menanggapi cerita sang putra.
"Tapi, dokter sudah tidak bisa menunggu waktu untuk melakukan pengobatan, dad. kondisi Cellya, bisa semakin memburuk, jika terus seperti ini.", jawabnya, menjelaskan.
Dady mengangguk paham, dengan keputusan dokter dan ke khawatiran Sean.
"Bicarakan baik-baik dengannya. Dady, yakin menantu kesayangan Dady itu, akan mengerti.", sarannya. Sean mengangguk walau tidak yakin dengan saran ayahnya.
Setelah cukup lama berbincang dan menenangkan diri di taman bersama ayahnya. akhirnya, mereka memutuskan kembali ke ruang rawat Cellya.
Terlebih lagi, ini sudah jam makan siang. mereka pasti sudah menyiapkan makanan untuk makan siang bersama.
"Ahh, kalian dari mana saja?!.", tanya ibu Sean, yang melihat anak serta suaminya, baru saja memasuki kamar rawat Cellya.
"Kami tadi dari cafe di bawah. aku sedikit mengantuk, jadi meminta Sean mengantar ke cafe, sambil ngobrol sebentar.",
"Bagaimanapun, Dady kan sudah lama tidak ngobrol dengan putra Dady ini. apalagi perusahaan di Singapura, sedang sibuk-sibuknya.", jawab ayah Sean panjang lebar, Sean hanya tersenyum tipis, menanggapi jawaban ayahnya.
"Baiklah. sekarang, mari makan siang bersama.", ajak ibu Cellya, yang membuat semua orang segera duduk di sofa untuk menikmati makan bersama.
Sean berjalan mendekati Cellya. ia duduk di kursi samping ranjang istrinya, lalu mulai mengambil semangkok bubur.
"Coba telan ludah dulu, by.", ucapnya. Cellya segera melakukan nya.
"Apa masih sakit?!.", tanyanya.
"Sedikit.", jawabnya, lirih.
"Makan, ya?!. baby, butuh asupan makanan untuk terus kuat.", tawarnya, dan Cellya mengangguk. membuat Sean segera menyuapi istrinya sedikit demi sedikit, dan pelan.
"Tidak perlu buru-buru, by. pelan-pelan saja, makannya.", ucapnya, saat beberapa kali melihat istrinya nampak menahan sakit ketika menelan makanan. Cellya hanya mengangguk dan berusaha menutupi dengan senyum.
Setelah selesai makan siang. beberapa perawat datang untuk mengecek kondisi Cellya, sehingga mereka harus menunggu di luar untuk beberapa saat.
__ADS_1
...----------------...