Sebuah Janji

Sebuah Janji
Pertengkaran


__ADS_3

***


Hari hari berlalu, semua terasa sangat cepat.


Sasa menggenggam hp nya lalu merebahkan tubuh mungilnya di ranjang. Sasa kini terdiam menatap layar hpnya. Nama jaya tertera di layar hp nya. Ada pesan masuk.


Jaya


(Sa, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu)


Jantung sasa berdetak kencang. Kali ini benar-benar berbeda.


***


***Sasa


(Iya jay, ada apa?)


Jaya


(Aku suka padamu)


Sasa


(Apa? Tidak mungkin.)


Jaya


(Aku serius sa)


Sasa


(Kamu tidak bisa bersama ku jay, vita mnyukaimu. Aku tidak mungkin mengambil kamu dari nya.)


Jaya


(Vitakan udah punya pacar sa, aku ga suka sama pacar orang. Aku juga ga mau merusak hubungan orang lain.)


Sasa


(Tapi jay, Walaupun Vita udah punya pacar dia sepertinya berharap padamu.)

__ADS_1


Jaya


(Enggak sa. Perasaan ku lebih kuat ke kamu. Percayalah, entah kenapa perasaan ku lebih mau kamu.)


Sasa


(Maaf jay, aku ga bisa.)


Jaya


(Yaudah kalau itu mau kamu. Aku ga akan ganggu kamu lagi.)


Sasa


(Tapi jay, kenapa harus bilang kek gitu sih, kita kan bisa temenan. Banyak Perempuan yang dekat dan nyaman sama kamu kok, bukan cuma aku jay.)


Jaya


(Aku kan udah bilang sa, perasaan aku lebih kuat ke kamu daripada kemereka.)


Sasa


(Maafin aku ya)


Jaya


***


Sasa cukup kaget mengetahui itu semua.


Bukan hanya itu, sasa juga masih bingung apakah sebenarnya sasa mempunyai perasaan pada jaya atau tidak.


Sasa tidak pernah berfikir akhirnya akan seperti ini. Jaya ingin menjauhi sasa. Namun sasa rasanya tidak rela mengetahui hal itu.


Sebenarnya apa yang sasa rasakan.


***


Pagi ini sasa duduk seperti biasa di kursinya. Kelas begitu tenang. Tidak seperti biasanya.


Sasa menoleh kesamping meja seberang. Melihat jaya yang sedang meletakkan kepalanya di meja.

__ADS_1


Wajahnya terlihat tidak bersahabat. Sepertinya setelah kejadian semalam, ia benar-benar mengurungkan niatnya untuk menyapa sasa. Bahkan tidak sedikitpun melihat sasa.


Sasa merasa bersalah karna kejadian semalam. Setelah penolakan itu pasti menyakitkan bagi jaya.


Sasa juga bingung, kenapa semuanya jadi kacau. Seharusnya sasa tidak langsung menolaknya. Harusnya sasa tidak memperdulikan perasaan temannya saat itu. Harusnya sasa tidak peduli dengan vita.


Bagaimana pun ini terjadi secara tiba-tiba membuat sasa bingung apakah sasa mencintai jaya atau tidak.


Tapi setiap kali sasa melihat kedekatan jaya dengan orang lain. Rasanya ia tidak suka jika ada yang mendekati jaya.


Sasa ingin menyapa jaya namun ia mengurungkan niatnya.


Entah kenapa sasa hari ini tidak bersemangat, walaupun kris merayu nya berkali-kali. Sasa hanya terdiam menatap jaya.


Hari ini sasa pulang awal karna guru sedang rapat. Jaya terlihat sedang mengemaskan bukunya bergegas keluar dari kelas.


***


Sasa sebenarnya kecewa kenapa jaya seperti itu. Tidak senyum sedikitpun. Tidak menyapa sasa seperti biasanya.


***


Senja pun kembali keperaduannya. Tenggelam bersama kepahitan hari ini. Malam kembali menemani sasa dalam suasana yang pilu.


Semuanya sungguh membingungkan. Sasa bingung dengan semua ini.


Sasa menatap jendela kamarnya yang terbuka setengah. Melamunkan semuanya.


Ketika sasa sedang melamun hp sasa pun berbunyi.


**tring*


Jepi


(Sa, aku mau tau jawaban kamu*.)


Jepi kembali menghubungi sasa, tentu saja menanyakan jawaban sasa. Apakah sasa akan menjawab iya atau tidak.


Apakah sasa akan menerima jepi menjadi pacarnya atau tidak.


Sebab sasa saat itu masih merasa tidak baik.

__ADS_1


Membingungkan.


Bersambung....


__ADS_2