
Pagi datang...
Ibu Sean menata sarapan di meja, sementara putranya nampak bersiap seusai mandi.
"Sarapan dulu jika ingin menemui istrimu.",
"Ingat!. dia sangat membutuhkan mu, jadi kau harus selalu sehat.", pesan ibunya. Sean mengangguk dan berjalan menghampiri ibunya di kursi.
Mereka sarapan bersama. ya, mereka harus mengisi tenaga demi selalu siap sedia menemani dan menjaga Cellya.
"Mama, tidak pulang?!.",
"Apa butik tidak apa-apa, jika tidak ada Mama?!.", tanya Sean, membuka obrolan.
"Ada asisten dan para karyawan. kau pikir, untuk apa mama menggaji mereka?!.", jawab ibunya.
"Bukankah, banyak desain yang harus mama kerjakan?!.", tanya Sean lagi. membuat ibunya menghela nafas, dan meletakkan sendok nya.
"Jangan bahas pekerjaan.",
"Uang bisa di cari. yang penting sekarang adalah kalian.", ucap ibu nya.
Sean terdiam. benar kata ibunya, yang utama sekarang adalah fokus pada kesehatan istrinya. apalagi, wanita yang di cintai nya itu kini tengah mengandung bersamaan berjuang melawan penyakitnya.
"Katakan!.",
"Setelah kondisinya membaik. apa rencana pengobatan selanjutnya?!.",
"Kemana kita membawa Cellya berobat?!. kau bilang, dia terus berucap tidak ingin kehilangan bayi nya. bahkan, dalam keadaan tidak sadar sekalipun.", tanya ibunya.
"Entahlah, ma. aku belum memikirkan langkah selanjutnya.",
"Mungkin, aku akan lebih banyak berbincang dan konsultasi dengan beberapa dokter.", jawabnya.
"Kau benar. lebih banyak tahu, lebih banyak konsultasi. Mama yakin, kita bisa menyembuhkan menantu mama. benar, kan?!.", sahut ibunya. berusaha meyakinkan diri sendiri dan putranya. Sean tersenyum, lalu berhambur ke pelukan ibunya.
Ya, hanya pelukan itu yang saat ini menenangkan dan menguatkan nya.
Sean telah menyelesaikan sarapan nya. ia segera menemui istrinya dari balik jendela, menggantikan John.
"Kau pulanglah ke apartemen dan kemudian, urus masalah kantor.", ucapnya pada asisten nya. John mengangguk.
"Tuan. tuan besar bilang, akan terbang pagi ini bersama nyonya besar dan nona Ellyana.",
"Perlukah saya menjemput nya?!.", tanya John. Sean menghela nafas, mengangguk.
"Jangan sampai terlambat.", pesannya.
"Mengerti, tuan.", jawab John.
__ADS_1
Pria itu membungkuk kan badannya, dan segera pamit undur diri.
seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Sean selalu berdiri di luar jendela untuk melihat dan memantau perkembangan istrinya.
"Bagaimana keadaannya pagi ini?!.", tanya ibu nya yang baru sampai. Sean hanya menggeleng dan tidak mengalihkan pandangannya.
"Excuse me, sir.",
"Doctor wants to meet you in his room.", ucap perawat yang baru saja menghampiri mereka.
"Oh, ya. thank you.", jawab ibu Sean. perawat itu tersenyum, dan pamit undur diri untuk masuk ke ruangan Cellya.
"Pergilah, dulu. Mama, yang akan menjaga nya disini.", ucap nya pada sang anak.
Sean segera pergi menemui dokter. ia menghela nafas dalam sebelum masuk.
Perawat itu nampak luwes menyeka tubuh menantunya. tidak lupa juga mengecek kondisi menantunya pagi ini.
"Ma...", panggil suara khas milik putranya. suaranya terdengar bahagia dan antusias. membuat wanita paruh baya yang sedari tadi berdiri di samping jendela kaca segera mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
Nampak raut wajahnya penuh tanda tanya melihat putranya menghampiri dengan senyum sumringah dan wajah bahagia.
"Mama.", panggil nya lagi, saat sudah berada di hadapan ibunya.
"Dokter bilang, keadaan Cellya sudah lebih baik. kita di izinkan untuk masuk dan menunggu nya di dalam. tapi, hanya satu orang dan bergiliran.", ucapnya. Sean nampak sedikit sedih di kalimat terakhirnya.
Mendengar itu, ibunya tersenyum. "Tidak apa-apa. bagus kalau kita boleh masuk bergantian.",
......................
Sean sudah memakai baju steril. perlahan, perawat membuka pintu utama. setelah berganti alas kaki, barulah Sean dan perawat itu membuka pintu kedua yang langsung menampakkan sosok Cellya yang tengah terbaring.
Dengan langkah gontai ia menghampiri sang istri. Sean berdiri di samping ranjang istrinya. nampak, wajah ayu itu tertidur lelap.
Ia meraih tangan yang nampak kurus itu, menggenggam nya erat lalu beralih mengecup kening Cellya cukup lama.
Matanya terpejam, menyalurkan kerinduan nya selama ini. sedikit bulir air bening jatuh di kening istrinya. ya, pria itu menangis.
"Hai prince!.",
"How are you?!.", bisiknya di telinga sang istri.
"I Miss so bad.", sambungnya. Sean duduk di kursi samping ranjang.
"Cepatlah bangun!.", ada banyak hal yang ingin aku tanyakan dan aku ceritakan padamu.", ucapnya.
"Dokter bilang. aku harus sering mengajak mu berbicara agar, kau mau cepat bangun.",
"Tapi aku tidak tahu apa yang ingin kau bicarakan. jadi, aku akan menceritakan diriku setelah sadar di rumah sakit.",
__ADS_1
"By, orang pertama yang aku cari saat aku bangun, adalah dirimu.",
"Aku bertanya pada Mama...
Sean nampak terus bercerita sembari menatap Cellya. tangannya pun, tak melepas pegangannya pada tangan istrinya.
"Nyonya. tuan, dan nyonya besar datang.", ucap John, yang baru saja datang. membuat ibu Sean menoleh pada suami, besan serta saudara ipar Sean.
Ia berhambur memeluk suaminya, lalu memeluk besannya erat dan terakhir memeluk Ellyana.
"Bagaimana keadaannya?!.", tanya ayah Sean dan besannya hampir bersamaan.
Ibu Sean mengajak mereka melihat Sean dan Cellya dari balik jendela.
"Baru hari ini, dokter bilang keadaan nya membaik. hanya belum sadar.",
"Pagi ini juga, baru saja di perbolehkan untuk menjenguk tapi bergantian.", terang ibu Sean pada suami, besan dan saudara Cellya.
"Dia hamil berapa bulan, kata dokter?!.", tanya ibu Cellya.
"Lima bulan jalan, besan.", jawab ibu Sean.
"Untungnya, tidak ada masalah dengan kehamilannya meskipun kondisi nya lemah.", imbuhnya.
Nampak raut wajah lega terlihat dari ibu Cellya. Ellyana, memandang sendu saudara kembar nya dari balik jendela.
"Semuanya, akan baik-baik saja.", ucap ibu Cellya, sembari mengusap punggung putrinya. Ellyana berbalik dan memeluk sang ibu. sungguh hanya itu yang bisa membuat nya tenang saat ini.
Ibu Sean mengajak suaminya, besan dan saudara Cellya untuk duduk.
"John, tolong antar tuan ke kamar untuk membersihkan diri.", perintah ibu Sean pada asisten putranya. sementara ibu Cellya dan saudaranya memilih untuk menemani ibu Sean di kursi tunggu.
"Setelah kondisinya stabil. bisakah kita membawa dia ke luar negeri untuk pengobatan intensif?!.", tanya Ellyana, pada ibunya.
"Tentu. kita akan mencarikan dokter terbaik.", jawab ibunya.
"Dia pasti sembuh kan, ma?!.", tanyanya lagi. dan ibu Cellya mengangguk, meyakinkan putrinya.
"Mama.", ucap Sean, yang baru saja keluar dari ruangan tempat istrinya di rawat.
Ibu Cellya berdiri dan memeluk menantunya. sekali lagi Sean tidak bisa menahan tangisnya.
"Tidak apa-apa. sungguh, tidak apa-apa.", ucap ibu Cellya, sembari mengusap dan menepuk-nepuk punggung menantunya. mereka melepaskan pelukannya.
"Terimakasih.",
"Terimakasih, karena telah menemukan putri, mama. terimakasih, sayang.", ucapnya. Sean hanya mengangguk.
"Thank you so much.", ucap Ellyana, kemudian memeluk iparnya.
__ADS_1
"Everything is fine. everything is, ok.", sambungnya.
...----------------...