
Cellya diam melihat suaminya yang meyakinkan nya. ia tidak tahu harus bicara apalagi. hanya bisa mengangguk dan menatap suaminya penuh arti.
Hari itu juga, segera di lakukan prosedur biopsi. Cellya tidak di izinkan pulang. ia masuk ruang perawatan setelah perawat memasang infus di tangannya.
Ya, ia di haruskan tinggal di rumah sakit 1-3 hari sampai tindakan selesai di lakukan. itupun, melihat kondisinya juga. bila memungkinkan, Cellya bisa segera pulang.
Sean setia menemaninya, ia juga tidak lupa memberi kabar pada kedua orang tua, mertua serta saudara kembar istrinya.
Berharap, dengan kedatangan mereka Cellya bisa bersemangat.
Wanita itu berbaring di ranjang tanpa ekspresi apapun. sementara suaminya setia menunggu di sampingnya. sesekali, Sean nampak mencium tangan sang istri dan menatap nya lembut sembari tersenyum agar istrinya ceria lagi.
Walaupun Sean tahu, di raut wajah serta tatapan Cellya ada ketakutan dan keraguan.
"Tok...
"Tok...
Nampak seseorang masuk setelah mengetuk pintu, yang ternyata adalah ibunya.
"Maaf, mama baru datang.", ucapnya sembari memeluk putranya sejenak lalu beralih ke menantunya.
"Bagaimana?!.",
"Apa kata dokter?!.", tanya ibu Sean, melepas pelukan dari menantunya. ia masih duduk di ranjang sembari menggenggam tangan Cellya.
"Nanti sekitar jam tiga sore, akan dilakukan tindakan biopsi. Mama, tolong doakan yang terbaik.", ucap Sean. ibu Sean mengangguk.
"Tentu. Mama, pasti doakan yang terbaik.", ujarnya. ia beralih menatap Cellya yang sedari tadi diam.
"Dengarkan, Mama!. jika dokter di sini tidak bisa mengobati dirimu. kita akan mencari dokter terbaik, yang bisa menyembuhkan mu dan menyelamatkan cucu mama. kau hanya harus percaya ya, sayang.", ucap ibu Sean.
Ia tidak pernah melihat menantunya menjadi pendiam, bahkan saat Sean memperlakukan nya dengan kasar saat putranya hilang ingatan, tempo lalu.
Tapi, melihat Cellya sedari tadi hanya diam. membuat nya benar-benar bersusah hati. ia tahu menantunya sedang sedih. tapi, ia tidak ingin menantunya menyerah dan putus asa begitu saja.
"Percayalah pada kami, pada orang tuamu dan pada suamimu, bahwa kami tidak akan membiarkan dirimu melewati semua ini sendiri."
"Kami akan mencari dan memberikan pengobatan terbaik untuk kalian, sayang.", ucapnya lagi. kali ini Cellya tidak bisa membendung air matanya, mendengar ucapan dan harapan mertuanya.
__ADS_1
Ia merangsek masuk dalam pelukan mertuanya. menangis sepuasnya untuk melegakan semua ketakutan di hatinya.
Ibu Sean mengusap-usap punggung menantunya, sementara Sean mengusap surai istrinya.
"Berjanjilah pada kami, untuk selalu bersemangat dan ceria. jangan jadikan ini sebagai alasan hilangnya senyummu, sayang.", pinta ibu Sean, yang hanya di angguki Cellya dalam pelukan mertuanya.
Cellya baru saja bisa tidur siang saat Sean ikut berbaring di ranjang dan memeluknya.
Nampak pintu terbuka. ibu Cellya dan Ellyana serta David yang memang sedang istirahat jam makan siang menyempatkan datang di tengah-tengah padatnya jadwal kantor.
Sean memberi isyarat agar tidak terlalu berisik, karena istrinya sedang tidur.
Akhirnya, ibu Cellya dan Ellyana serta David mendekat pada mereka secara perlahan.
Ibu Cellya menghampiri ibu Sean yang sedang duduk di sofa. ia memeluk besannya, begitu juga dengan Ellyana dan David, memeluk ibu Sean bergantian.
"Bagaimana keadaannya?!.", tanya ibu Cellya, berbisik pada besannya.
"Nanti pukul tiga sore akan di lakukan tindakan biopsi.", jawabnya.
"Bukankah biopsi adalah tindakan mengambil sampel, untuk mengetahui jenis tumor dan kanker?!.", tanya David, lirih. ibu Sean menjawab dengan anggukan.
"Dokter menemukan hal lain dari pemeriksaan MRI nya kemarin. itu sebabnya, perlu tindakan biopsi.", ucap ibu Sean menjelaskan.
......................
Ibu Cellya, Ellyana dan David berjalan mendekat untuk melihat Cellya. sementara Sean, masih berbaring di samping istrinya.
Ya, ia tidak bisa pergi. Cellya tidur dengan posisi memeluknya. jadi, ibu Cellya hanya bisa menyisipkan rambut yang menutupi wajah putrinya.
Ia melihat Cellya dari samping, sehingga tidak begitu jelas.
"Dia baru bisa tidur setelah dari tadi menangis, ma.", ucap Sean lirih.
Ibu Cellya sendu menatap putrinya, ketika mendengar ucapan Sean.
David nampak mengajak Ellyana untuk duduk di sofa dan memilih mengobrol dengan ibu Sean. Ellyana pun, menurut.
Ibu Cellya mendekatkan wajahnya pada sang putri yang kini sedang terlelap. ia mengecup pipi Cellya, dalam.
__ADS_1
"Kau akan sehat lagi. Mama janji akan mencarikan dokter terbaik. jadi, jangan takut dan jangan menangis lagi, oke?!.",
"Kasihan cucu mama, nanti.", bisiknya, di telinga Cellya.
Ibu Cellya mengusap-usap surai putrinya. ia menghapus air matanya, yang hampir jatuh. sungguh, baginya yang berharga hanyalah kedua putrinya.
Ya, suaminya meninggal karena serangan jantung saat kedua putrinya masih kecil. membuat nya menjadi single parents waktu itu.
Itu adalah luka terberatnya, setelah kehilangan orang tuanya. dan kini, ia tidak ingin merasakan luka dan sakit yang sama untuk ke sekian kalinya.
Selagi tuhan memberi kesempatan. ia akan terus mengusahakan nya.
Ponsel ibu Cellya berdering. ia segera menjauhkan diri dari Cellya dan mengangkat telfon nya.
Ellyana nampak mendekat begitu juga dengan David. ia nampak mengusap surai saudaranya, lalu mengecup pipi Cellya sesaat.
"Kau pasti akan segera sehat. kakak janji, akan mencarikan dokter terbaik.",
"Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak penting. kau akan sehat, berumur panjang dan bisa menemani baby bermain dan tumbuh dengan baik.", bisiknya. David, nampak mengusap-usap pundak istrinya. ia tahu betul bagaimana perasaan Ellyana, dan mertuanya saat ini.
Ellyana menoleh, menatap suaminya. yang akhirnya, membuat ia luluh dan memeluk David untuk melegakan isi hatinya.
"Tidak apa-apa. semuanya akan baik-baik saja.", ucapnya, sembari menenangkan Ellyana.
Sejenak wanita yang kini menyandang sebagai nyonya Guetta itu melepaskan pelukannya, dan cepat-cepat menghapus air matanya. David mencoba menghibur dengan tersenyum, melihat istrinya agar Ellyana ikut tersenyum. dan itu berhasil. ia tersenyum dan menghambur ke pelukannya.
"Kami harus pergi dulu. tapi, kami janji nanti akan ke sini lagi.", ucap Ellyana pada Sean. membuat pria itu mengangguk.
"Jaga kesehatan mu juga. dia sangat membutuhkanmu berada di sampingnya terus.", sahut David, sekali lagi Sean mengangguk.
Pada akhirnya, mereka harus pergi karena ada pekerjaan yang memang tidak bisa di tunda.
"Mama, juga harus pergi dulu. ada rapat dewan direksi.", ucap ibu Cellya, setelah masuk ke dalam ruangan Cellya. Sean mengangguk paham.
"Maaf tidak bisa mengantar ke bawah, ma.", ucap Sean, lirih. mertuanya, hanya mengangguk.
Ya, bagaimana bisa ia mengantar mertua nya sampai lobi rumah sakit?!. sedangkan dia sendiri masih dalam pelukan istrinya.
Selanjutnya, ibu Cellya juga berpamitan pada besannya. ia menghampiri besannya dan saling berpelukan. nampak juga ibu Cellya, menjelaskan bahwa ia harus pergi, karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan.
__ADS_1
...----------------...