Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 75


__ADS_3

"Iya, sayang. coba lihat itu.", ucap ibu Sean, sembari membantu Neysa duduk. gadis itu melihat lebam di pahanya. Ia memijit bagian yang lebam.


"Tidak sakit, Oma.", ujarnya. membuat kedua orang tua itu beradu pandang sekilas.


"Mungkin Neysa hanya kelelahan.", sambung bocah itu, polos. ia merebahkan badannya lagi di pangkuan sang nenek. membuat ibu Sean tersenyum dan kembali memijat nya.


Malam semakin menunjukkan dirinya. Neysa kini tengah tidur di kamarnya, begitu juga dengan ibu Cellya dan Sean, tidur di kamar mereka masing-masing.


Sean baru saja memasuki mansion saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. ia melewati kamar putrinya. entah mengapa, tiba-tiba ia membuka pintu kamar Neysa dan masuk.


Sean menghela nafas lega saat melihat putrinya tengah tertidur lelap. entahlah, beberapa hari ini perasaannya tidak tenang, pikirannya penuh dengan putrinya.


Ia mengusap kening Neysa, namun tangannya merasakan basah. ya, putrinya berkeringat cukup banyak di malam hari. ia menaikkan suhu AC dengan remote yang berada di atas nakas. Sean mengusap kening putrinya dengan tisu, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi keluar dari kamar Neysa, menuju kamarnya.


Sean segera membersihkan diri di kamar mandi. tidak butuh waktu lama, ia kemudian segera keluar dan berganti baju. ia merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memainkan ponselnya. melihat-lihat galeri foto di handphone nya.


Ia menatap photo-photo manis bersama mendiang istrinya. "Aku merindukanmu, by.", ucapnya lirih.


Sean memiringkan tubuhnya, matanya masih menikmati paras ayu yang tersimpan dalam galeri fotonya hingga akhirnya, ia tertidur.


Pagi-pagi buta, seperti biasa Sean sudah bersiap keluar dari rumah. ia tidak pernah ikut sarapan bersama, alasannya apa?, hanya dia yang tahu.


Ia nampak sudah rapi dengan baju setelan kerjanya dan jas. "Sampai kapan kau akan terus begitu?.", sebuah suara khas milik ibunya, menghentikan langkah Sean yang baru saja menuruni tangga dan melewati ruang makan keluarga. ia nampak menghela nafas dalam tanpa menoleh.


"Kau terus saja semakin seenakmu sendiri. apa kau benar-benar tidak menginginkan untuk dekat dengan putrimu?.", tanya ibunya.


"Ayah macam apa yang bisa berbuat demikian pada putrinya sendiri?!.", sambung ibunya. lagi-lagi Sean hanya diam berdiri di tempatnya. ia juga tidak menjawab.


"Baik. kalau kau tetap begitu, mama juga tidak akan memikirkan perasaan mu lagi. Mama akan merawat nya sendiri. Neysa, tidak butuh sosok ayah seperti mu.", ucapnya, lalu berlalu pergi meninggalkan Sean yang masih diam di tempatnya.


Ia diam bukan karena tidak peduli, tapi lebih karena tidak ingin berdebat. bagi ibunya, sejak hari itu ia bukanlah sosok ayah yang baik.


Bahkan, ibunya seolah-olah tidak mengizinkan dia dekat dengan putrinya. ia berusaha mengerti dan memilih diam untuk menghindari perdebatan.


Ia hanya bisa menjadikan John supir pribadi untuk putrinya sekaligus asisten nya, agar ia bisa mendapat informasi tentang putrinya.


Sean juga mengurangi bahkan tidak pernah berinteraksi dengan putrinya, agar tidak terjadi percekcokan antara dia dan ibunya di depan sang putri. selebihnya, ia hanya bisa diam dan bersikap seolah-olah tidak perduli.


Ia terima semua omongan kasar ibunya, meskipun terkadang ia merasa sedih tidak bisa leluasa mencurahkan kasih sayang nya untuk sang putri.


......................

__ADS_1


Sean melakukan penerbangan ke Singapura sore ini menggantikan ayahnya. ya, ayahnya memilih pulang sebelum weekend karena tiba-tiba merindukan cucunya.


"Kakek?!.", panggil Neysa, heran. ya, ia heran, terkejut dan kaget dengan kehadiran kakeknya yang tiba-tiba. padahal kakeknya baru terbang Senin pagi. sekarang, Selasa sore sudah di mansion lagi.


Neysa yang baru pulang dari sekolah berjalan menghampiri kakeknya dan memeluk hangat pria berumur yang sudah menunggunya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Kakek, kangen cucu cantik, kakek.", ucapnya, sembari memeluk erat tubuh mungil Neysa.


"Kapan kakek datang?.", tanya Neysa, melepaskan pelukannya.


"Baru saja.", jawab ayah Sean.


"Oma dan nenek sudah tahu?.", tanyanya lagi. kakeknya menggeleng dan tersenyum.


"Ini kejutan.", jawab ayah Sean, yang membuat Neysa tertawa renyah. mereka kembali berpelukan.


"Lalu, siapa yang menggantikan pekerjaan kakek disana?.", tanya Neysa, masih dalam pelukan kakeknya.


"Ayahmu.", jawab ayah Sean, singkat. membuat senyum gadis itu memudar dalam pelukan kakeknya.


Ia melepaskan pelukannya. "Kapan ayah berangkat?.", tanya Neysa, dengan mata bulatnya.


"Kenapa?.", tanya ayah Sean, yang menyadari perubahan mimik wajah sang cucu. Neysa menghela nafas, tersenyum dan menggeleng. ya, sudah terbiasa ayahnya pergi tanpa pamit, meskipun sebenarnya, ia ingin ayahnya berpamitan padanya.


"Apa ayah bilang, kapan akan pulang?.", tanyanya. kakeknya menggeleng.


"Memang nya kenapa?!.", tanya kakeknya. lagi-lagi Neysa tersenyum tipis dan menggeleng. ia menyembunyikan sesuatu.


"Kakek, Neysa pergi ke kamar dulu. mau ganti baju.", ucapnya, yang di angguki oleh kakeknya.


Neysa segera pergi menuju kamarnya. ia nampak diam dan duduk sejenak di tepi ranjang. entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu. tapi, akhir-akhir ini ia terlalu banyak diam dan berpikir.


Helaan nafasnya terdengar jelas, saat matanya menerawang jauh. ia lantas segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Kau pulang?.", tanya istrinya, saat melihat ayah Sean tengah duduk di kursi sembari membaca koran hari ini.


"Kenapa pulang?. ada pekerjaan disini kah?.", tanya istrinya, yang baru saja duduk di sampingnya. nampak ayah Sean, melipat koran itu dan meletakkan nya di meja.


"Hahh, aku baru datang, dan kau menanyakan hal itu?!.",


"Apakah kau tidak senang, suamimu ini pulang?.", tanya ayah Sean. yang membuat istrinya tertawa kecil.

__ADS_1


"Aku minta maaf.", ujarnya, lalu memeluk suaminya.


"Aku senang kau pulang.", ucapnya, melepaskan pelukannya.


"Baiklah. sekarang, apa yang membuatmu pulang lebih cepat?.", tanya istrinya.


"Aku merindukan cucuku.", jawabnya.


"Kenapa?.", tanya ibu Sean, meminta jawaban lebih jelas.


"Entahlah. perasaanku tidak enak. aku tiba-tiba merasa sangat khawatir, jadi aku putuskan untuk pulang dan melihat nya.", ujar ayah Sean.


"Dan kau, sudah bertemu dengannya?.", tanya ibu Sean, membuat suaminya mengangguk.


"Aku tenang, melihatnya baik-baik saja.", jawabnya.


"Dimana dia sekarang?.", tanya ibu Sean, sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"Dia sedang membersihkan diri di kamarnya. dia baru saja pulang sekolah.", jawab ayah Sean.


"Baiklah. kalau begitu, sekarang giliran ku yang membersihkan diri.",


"Aku ke kamar dulu, ya?!.", ucap ibu Sean, ia berlalu meninggalkan suaminya.


Malam harinya, mereka menikmati makan malam bersama. kali ini berempat, Neysa, Oma, nenek dan kakeknya. setelah selesai, Neysa segera berlalu menuju kamar nya.


"Tok...


"Tok...


Ibu Cellya mengetuk pintu kamar Neysa, sebelum masuk. "Boleh, Oma masuk?.", tanya ibu Cellya yang di angguki oleh cucunya.


Ibu Cellya segera masuk, dan duduk di tepi ranjang cucunya yang tengah bersiap untuk tidur.


"Nenek dan kakek menonton TV di ruang keluarga, kenapa Neysa tidak bergabung?.", tanya Oma nya.


"Neysa merasa lelah, Oma. Neysa ingin tidur cepat.", jawabnya, membuat ibu Cellya meletakkan tangannya di kening Neysa.


"Neysa tidak sakit, kan?.", tanya Oma nya. membuat gadis kecil itu menggeleng.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2