
"Apa paman seorang peri?.", tanyanya, pada John yang sedari tadi sibuk mengerjakan pekerjaan kantor dari laptopnya. pria itu, nampak fokus dan duduk di sofa.
John menutup laptopnya. "Paman bukan peri, tapi paman bisa mengabulkan semua permintaan dan perintah, nona.", jawabnya.
"Apakah bisa mendekor ruangan ini agar tidak terlihat seperti kamar pasien?.", tanyanya.
"Bisa.", jawab John.
"Kalau begitu, untuk natal tahun ini. karena, aku dan ayah masih berada dirumah sakit. maka, aku minta dekorasi natal terbaik.", ujarnya, bersemangat. ibu Cellya dan Sean hanya tersenyum melihat interaksi John dan Neysa.
"Dekor kamar ini dengan warna merah dan hijau, juga putih.",
"Pastikan ada manusia saljunya juga, rusa, kado-kado natal, lampu kelap-kelip. dan, jangan lupakan pohon natalnya juga.",
"Oh ya, patung Santa dan keretanya harus ada juga. karena Santa yang asli sedang sakit.", pesannya. ucapannya yang terakhir, membuat Sean dan John sedikit terkejut.
"Paman, jangan pura-pura lupa. aku, tahu ayah yang menjadi Santa Claus saat ulang tahunku.", ujarnya.
"Sejak kapan?.", tanya John, heran.
Neysa mengambil tangan ayahnya. ia menunjukkan gelang buatannya.
"Dari gelang ini. ini adalah gelang yang aku buat khusus Santa, dan ini adalah gelang yang aku buat khusus untuk ayah.",
"Gelang ini, aku yang buat sendiri paman. jadi, tidak ada yang menjualnya.",
"Lagi pula, mana ada aku tidak mengenali hasil karyaku sendiri.", jelasnya. John mengacungkan kedua jempolnya. ia benar-benar takjub dengan cara berpikir nona mudanya. begitu cerdas dan kreatif.
"Jadi, misi ayah gagal?!. ayah, ketahuan?.", tanya Sean.
"Misi ayah, tetap berhasil. sebelum aku tahu, saat aku kembali memberikan sesuatu pada ayah di hari ulang tahunku, kemarin.", ujarnya.
"Baby tidak marah pada ayah?.", tanya Sean. Neysa menggeleng.
"Awalnya aku sedih. tapi, sesudahnya aku merasa senang. karena itu artinya, aku melewati setiap hari ulang tahunku bersama ayah. meskipun, awalnya aku tidak tahu.", jawabnya. membuat Sean tersenyum lega.
Sean lega, putrinya memiliki jiwa yang besar sama seperti mendiang istrinya. ini pasti karena andil ibu mertuanya yang ikut mendidik Neysa.
"Terimakasih.", ucap Sean.
"Sama-sama, ayah.", ia memeluk tubuh Sean. haru dan bahagia di rasakan ibu Cellya dan John melihat mereka akhirnya bisa berpelukan dan bersama.
__ADS_1
Malam datang. John nampak membuka pintu, ia baru saja keluar untuk mencari makan. tapi, belum lama sudah kembali lagi karena berpapasan dengan tuan besarnya. sehingga, lebih memilih menemani tuannya menuju kamar Sean.
"Apa yang paman bawa?. aku ingin ayam pop.", teriak Neysa, yang masih berada di ranjang ayahnya.
"Kakek?!.", teriaknya, girang. ia bahkan melompat-lompat di ranjang yang membuat semua khawatir. bahkan, ibu Cellya yang tengah mengecek beberapa email, spontan berlari dari sofa dan mendekat pada cucunya.
"Jangan lompat-lompat. itu bahaya!.",
"Infus mu bisa bisa terlepas, dan kakimu bisa menginjak kaki ayah. kau bisa jatuh, sayang.", ujar ibu Cellya. Neysa hanya tersenyum.
"Oh, cucuku. apakah merindukan kakek?!.", tanya ayah Sean, menghampiri Neysa dan memeluknya.
"Aku sangat rindu kakek.", ujarnya, ketika pelukan itu sudah terlepas.
"Kakek, juga paling rindu cucu kakek, yang cantik ini.", ayah Sean gemas, dan mencubit pipi Neysa. gadis itu cemberut dengan perlakuan kakeknya, setiap kali merasa gemas pada dirinya. tapi, ayah Sean hanya tersenyum melihat ekspresi itu.
......................
Neysa, tengah duduk di sofa bersama Omanya dan John. mereka menikmati makan malam yang di bawa oleh ayah Sean, tadi.
"Ayah berusaha menyelesaikan pekerjaan lebih awal hari ini. tapi, tuan Morgan malah datang terlambat. itu sebabnya, ayah baru bisa datang kesini.", ucap ayah Sean, menjelaskan alasannya baru bisa datang.
"Tidak apa-apa, ayah. terimakasih sudah menyempatkan waktu.", ujar Sean. pria tua itu mengangguk.
"Ayah, ini sudah cukup malam. lebih baik, ayah pulang.",
"Mama, pasti menunggu untuk makan malam bersama.", ujar Sean. lagi-lagi ayahnya nampak menghela nafas.
"Ayah?!.", Sean menepuk pundak ayahnya, yang sedari tadi tertunduk. sang ayah menatapnya, sendu. tapi, pria itu malah tersenyum. membuat ayahnya menurut untuk segera pulang.
Pria tua itu berdiri dari tempat duduknya, dan mengambil jas kerja yang ia taruh di sandaran kursi.
"Kakek, mau pulang?!.", tanya Neysa, ketika melihat kakeknya berdiri dan mengambil jas nya dari kursi.
Ia melihat cucunya dan tersenyum. "Iya.", jawab ayah Sean sembari mengangguk.
"Ayahmu khawatir, nenek menunggu kakek terlalu lama untuk makan malam.", sambungnya. Neysa tersenyum.
"Peluk dulu, kek!.", pintanya, sembari merentangkan kedua tangannya. senyum ayah Sean mengembang dan segera menghampiri Neysa, lalu memeluk dan menggendongnya sebentar.
"Kakek, kata Oma kalau aku belum boleh pulang dan masih harus di rawat. itu artinya, aku akan melewati natal di rumah sakit bersama, ayah.",
__ADS_1
"Kakek, jangan lupa ajak nenek kesini, ya?!. kita bisa rayakan Natal bersama-sama.", ajaknya.
"Baiklah. Kakek, akan mengatakannya pada nenek, nanti.",
"Sekarang, turun dulu ya?!. pinggang kakek, sakit.", ujarnya, lalu perlahan menurunkan Neysa.
"Uh, cucu kakek sudah semakin berat saja. itu berarti, Neysa semakin sehat.",
"Bisa cepat pulang. dan bermain lagi, dengan kakek.", sambungnya. Neysa tersenyum manis.
"Besan, aku permisi dulu.", pamitnya, ibu Cellya mengangguk.
"John, tolong antar tuan besar sampai lobi.", perintahnya, pada asisten menantunya.
"Baik, nyonya.",
"Mari, tuan.", ucapnya, mempersilahkan ayah Sean, berjalan lebih dulu.
John pergi mengantar tuan besarnya. sementara ibu Cellya, segera mengambilkan makanan untuk Sean, setelah besannya pulang.
Ya, Sean belum makan karena memilih berbincang dengan ayahnya, tadi.
"Makan dulu.", ucap ibu mertuanya, sembari menyodorkan nampan berisi makanan, jus dan buah, pada Sean yang tengah duduk di ranjang.
"Terimakasih, ma.", jawabnya. ibu Cellya mengangguk. Sean memulai makan malamnya, dan ibu Cellya masih diam menatap menantunya sendu.
"Kenapa, ma?!.", tanya Sean, di sela makannya. ya, ia merasa tidak nyaman saat sedang makan dan ada yang menatapnya seperti itu.
"Tidak apa.", jawab mertuanya. Sean tersenyum, ia tahu isi pikiran mertuanya.
"Mama tidak usah khawatir. i'm ok.", ujarnya. ibu Cellya tersenyum mendengar penuturan menantunya.
"Ya, tolong fokus saja pada kesehatan kalian. kesehatan mu, kesehatan Neysa.",
"Mungkin, memang kesalahpahaman ini hanya bisa di selesaikan saat kalian sudah saling bertemu.",
"Untuk saat ini, tolong bersabar sedikit lagi.",
"Jangan terlalu di pikirkan. dan jangan sampai mempengaruhi proses penyembuhan kalian.", pesan ibu Cellya. Sean mengangguk.
"Oma, aku mau minum obat.", panggil Neysa, dari sofa. Oma mengangguk dan segera berjalan mendekat pada cucunya. ia membantu Neysa berjalan ke ranjangnya, sedangkan ibu Cellya mengikuti di belakangnya, sembari membawakan infus cucunya.
__ADS_1
"Ayah, boleh Ney tidur bersama ayah, malam ini?.", tanyanya, saat hendak naik ke ranjangnya. Sean mengangguk.
...----------------...