Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 26


__ADS_3

"Mood ibu hamil memang cepat berubah.....", ya, tiba-tiba dia mengingat ucapan Tresya, rekan kerja istrinya.


Istrinya hamil, dan menjalani kehamilan yang berat di dinas sosial, karena ia kehilangan tas beserta identitas nya. pasti tidak mudah bagi Cellya melewati semua itu sendiri, pikir Sean.


Ponsel Sean berdering.


"Tuan, dokter mencari anda.", ucap suara John, di seberang.


"Aku ke sana.", jawab Sean, lalu mematikan ponselnya.


Ia segera membayar semua pesanannya dan pergi menuju tempat istrinya lagi.


"Dimana dokter?!.", tanya Sean, begitu sampai dan melihat John.


"Dokter meminta anda ke ruangannya.", jawabnya.


Sean segera menemui dokter. ia mengetuk pintu ruangan dokter lebih dulu, sebelum masuk.


Begitu masuk, dokter segera mempersilahkan Sean untuk duduk dan segera menjelaskan kondisi Cellya.


"Tumor otak?!.", tanya Sean, tidak percaya setelah mendengar semua penjelasan dokter.


Wajahnya terlihat bingung dan kaget bersamaan. ya, tentu saja kaget. di awal pernikahan, Cellya sehat dan baik-baik saja.


Lantas, sejak kapan dia mengindap penyakit sialan itu?!. Sean bertanya-tanya pada dirinya.


Ditengah-tengah kemelut pikiran nya, ia merasa sedikit pusing dan sesak. Sean yang menyadari hal itu, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


Ya, di saat seperti ini. ia tidak boleh lemah, tidak boleh drop, down atau apapun itu. ia harus menjadi penguat untuk istrinya.


Setelah di rasa cukup, Sean segera pamit keluar dari ruangan dokter.


Ia kembali menemui John yang sedang menunggu di depan ruangan Cellya.


"Nyonya, mengambil penerbangan ke Singapura sore ini, tuan.", lapor John.


"Mama, memberitahu mu?!.", tanya Sean. John mengangguk.


"Nyonya, bilang tidak bisa menghubungi tuan. jadi, nyonya menghubungi saya.", kata John.


"Ponselku mati.", ucap Sean sembari mengusap wajahnya kasar.


"Bisa kau pulang ke apartemen dan mengambil charger nya?!.",

__ADS_1


"Baik, tuan.",


John segera pergi meninggalkan Sean sendiri di ruang tunggu. ia belum boleh di izinkan menemui istrinya karena, Cellya dalam penanganan intensif.


Ia berdiri di samping jendela, melihat istrinya penuh dengan alat medis di tubuhnya.


Dokter bilang, kondisinya sangat lemah. tumor otak nya sendiri sudah mencapai stadium tiga.


"Untuk sementara, kita fokus menstabilkan kondisi nya. jika, kondisi nya stabil dan mulai membaik. mungkin, kita bisa mengambil tindakan berikut nya.", kata-kata dokter itu, tergiang di telinga nya.


"By.", gumamnya, sembari terus menatap istrinya dari balik kaca.


"Bertahanlah!. cepat bangun.", ucapnya lirih, penuh harap.


Sean menunggu di rumah sakit sendiri seharian ini. John, harus bertemu klien siang ini. jadi, setelah mengantar charger ke rumah sakit, ia segera pamit pergi.


Sore datang, Sean yang sedari tadi duduk di kursi kembali menghampiri jendela. melihat istrinya, yang sedang di periksa oleh beberapa perawat. ada juga, perawat yang tengah menyeka badan Cellya.


"Aku pergi dulu, by. membersihkan diri dulu, dan segera kembali kesini, aku janji.", ucapnya lirih.


Tak berapa lama kemudian, ia sudah kembali lagi dan menunggu Cellya di ruang tunggu.


Ya, sementara ini hanya itu yang bisa ia lakukan. menemani istrinya dari balik jendela.


Mereka terus memacu langkah nya, dan baru berhenti ketika sudah melihat Sean.


"Tuan, nyonya datang.", bisik John, karena melihat Sean termenung dan tidak menyadari kedatangan mereka.


Sean menoleh seketika. melihat ibunya, yang tengah berdiri menatap nya dengan tatapan sendu.


......................


Sean terus menangis di pangkuan ibunya. sementara, ibunya hanya mengusap surai putranya, lembut. berusaha menenangkan Sean dan dirinya sendiri.


Kenyataan yang sudah pasti memukul semua anggota keluarga nya. bukan hanya Sean, tapi ibu, ayah, mertua dan bahkan saudara kembar istrinya.


Ya, yang mereka tahu selama ini Cellya baik-baik saja. ia tidak pernah mengeluh, ataupun terlihat pucat, mudah lelah dan tidak sehat.


Cellya selalu ceria, dia sosok penyayang yang selalu optimis. tidak pernah sedikitpun, ia membuat khawatir orang di sekitar nya.


Tapi kenyataannya sekarang berbeda. ia terbaring lemah dengan kondisinya yang naik-turun. termasuk, sedikit terlambat bagi Sean mengetahui kondisi istrinya.


Oleh sebab itu, ia menangis. menyesali sebuah fakta, ketidak tahuannya tentang kondisi sang istri sebelumnya.

__ADS_1


Ibu Sean memutuskan menyewa kamar di rumah sakit, untuk mereka istirahat selama menjaga Cellya. hal ini juga memudahkan mereka untuk tidak sering pulang ke apartemen, hanya untuk mandi dan ganti baju.


Sean nampak tertidur di ranjang, sementara ibunya selesai membersihkan diri. John bertugas menjaga Cellya malam ini.


"Apa Sean baik-baik saja?.", tanya suara di seberang.


"Dia sedikit tertekan. dia baru bisa tertidur setelah kelelahan menangis dan menyalahkan dirinya sendiri, tadi.", ibu Cellya menjawab telepon suaminya.


"Jaga dia. aku akan terbang besok pagi bersama besan dan Ellyana.", pesan suaminya.


"Mm..., hati-hati. jaga dirimu baik-baik, selama aku disini.",


"Kau tak perlu khawatir. yang terpenting, jaga kesehatan putra kita.", ucap suaminya.


"Mm..", jawab ibu Sean, mengangguk.


"Istirahat lah, aku tutup dulu telponnya. selamat malam.", pamitnya pada sang istri.


"Malam.", jawab ibu Sean, sebelum menutup teleponnya.


Ibu Sean keluar dari ruangan nya. ia melihat John masih duduk di kursi sembari mengerjakan tugas nya dengan komputer.


Perlahan langkah kaki nya mendekat ke arah jendela. dan mulai mengamati menantunya yang tengah terbaring lemah dengan oksigen, selang infus dan beberapa selang-selang lainnya.


ibu Sean mengarah kan pandangan nya pada perut Cellya yang nampak membuncit. disana, ada sebuah kehidupan baru yang tumbuh di rahim menantunya.


Air matanya lolos begitu saja. ya, melihat kondisi menantunya membuat hatinya teriris. bagaimana tidak?!, kapan awal mula penyakit itu di derita, tidak ketahui.


Kapan awal mula Cellya hamil, mereka juga tidak mengetahui. bahkan, saat Cellya hilang kontak mereka juga masih tenang-tenang saja, dan tidak berusaha lebih cepat menemukan nya.


Ia ingat, ia yang selalu melarang Sean mencari istri nya dengan alasan kesehatan.


Tapi memang waktu itu, kesehatan Sean belum memungkinkan. ia hanya tidak ingin putranya mengalami serangan panik atau apalah itu, yang dapat memperburuk keadaan serta proses pemulihan.


Tak terbayangkan, bagaimana menantunya melewati masa-masa sulit itu seorang diri?!. sungguh kejamnya, egonya waktu itu.


Jika saja ia tidak egois. tidak melarang Sean untuk pergi mencari Cellya, mungkin keadaan tidak separah dan serumit ini.


Bahkan sekarang, saat ia tahu bahwa menantunya mengandung cucu, pewaris dari keluarganya ia tidak bisa menyentuh dan mengusap perut buncit itu.


ia ingin, cucunya merasakan kasih sayang nya walaupun masih dalam kandungan. tapi apa daya, waktu belum mengizinkan.


Hanya doa yang bisa di panjatkan saat ini. tidak ada harapan lain, selain menantu dan cucunya sehat selamat, sehingga mereka bisa hidup bahagia.

__ADS_1


__ADS_2