Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 103


__ADS_3

Sean keluar dari ruangan itu. ia ingin segera menyusul putrinya yang tadi masih berada di taman bersama supir ibunya.


"Baby?!.", ia terkejut melihat Neysa sudah berdiri di depan pintu kamar rawat mereka. sontak, panggilan Sean membuat ibu Cellya dan ibu Sean menoleh dan melihat ke arah luar. tentu saja, mereka mengawatirkan cucunya.


"Bye, ayah.", hanya itu yang di ucapkannya. ia lantas, berjalan masuk ke ruang rawat nya. tanpa memperdulikan nenek dan Omanya. gadis itu berjalan melewati mereka begitu saja, dan naik ke ranjang. ia berbaring dan menutupi sekujur tubuhnya, dengan selimut.


Ibu Cellya berjalan mendekat. "Sayang.", panggilnya. sembari membuka selimut bagian wajah Neysa, tapi gadis itu menariknya lagi, dan menutupnya rapat. tidak ada yang ia katakan. tapi jelas, gadis itu menangis terisak-isak di balik selimutnya.


Ibu Sean hendak menghampiri Neysa. ia ingin membujur dan mengatakan sesuatu pada cucunya. tapi, ibu Cellya lebih dulu mencegahnya. ia menggeleng pelan. lalu, menarik ibu Sean menjauh dan keluar dari kamar rawat itu. sementara Sean sudah lebih dulu pergi.


Ia telah menghubungi John, untuk mengurus administrasi nya keluar dari rumah sakit. dan memintanya untuk menjemputnya.


"Sekarang kau lihat?!, itu akibat keegoisanmu.", ujar ibu Cellya.


"Tidak bisakah, sedikit saja?!. melupakan semuanya, dan memulai semuanya dari awal?.",


"Kau terlalu egois, karena sakit hatimu sendiri.",


"Berdoalah, agar dia tidak membencimu.", ujarnya, lalu pergi meninggalkan besannya mematung di tempatnya. ibu Cellya masuk ke kamar rawat Neysa. gadis itu masih terisak di balik selimutnya. dan ibu Cellya, hanya bisa mengusap-usap punggung cucunya dari balik selimut.


"Sayang, sudah ok?.",


"Ayo, buka selimutnya. ini tidak baik untuk pernapasanmu.", bujuknya. Neysa, tidak bergeming. ia tetap tidak mau membuka selimutnya, dan masih terisak. jadi, ibu Cellya hanya memilih untuk duduk di kursi samping ranjang nya, menunggu cucunya lebih lega, sehingga tidak menangis lagi.


Akhirnya, selimut itu bisa terbuka setelah Neysa menangis hampir satu jam dan tertidur pulas. ibu Cellya mengusap wajah cucunya yang berkeringat dan menyisipkan rambut yang menutupi wajah Neysa.


Sedih melihat cucunya saat ini. hidung yang memerah dan bekas air mata yang membasahi bulu matanya masih jelas terlihat. sementara ibu Sean masuk dan menutup pintu. ia menunggu di luar sedari tadi. dan baru memberanikan diri masuk, untuk melihat keadaan cucunya.


Ibu Cellya diam tidak bergeming. ia tidak tahu harus berkata apa pada besannya. berulang kali, ia memberi pengertian. tapi ibu Sean tetap tidak bergeming dengan semua ucapannya.


"Apa dia baik-baik saja?!.", tanya ibu Sean.

__ADS_1


"Kau bisa melihatnya sendiri.", jawab ibu Cellya. entahlah, ia begitu malas mengatakan apapun pada besannya.


Ibu Cellya memilih mengambil tas nya dan keluar dari kamar rawat Neysa. berada di dekat besan, membuatnya ingin selalu mengumpat. dan ia tidak ingin itu terjadi, jadi ia lebih memilih pergi.


Ibu Cellya pergi ke taman. ia ingin menemui menantunya. tapi setelah berkeliling, ia tidak juga menemukan Sean. ibu Cellya pun, berinisiatif untuk menghubungi John.


"John, kau tahu dimana Sean?.", tanya ibu Cellya, begitu panggilan itu tersambung.


"Apa?!. bukankah, dia dalam pemulihan dengan pantauan dokter?.",


"Bagaimana dokter bisa mengizinkan begitu saja?!.", kesalnya.


Ibu Sean menutup ponselnya begitu saja, saat mendengar jawaban dari John. ia segera pergi ke ruang dokter untuk menemui dokter Jeno.


......................


"Maaf, nyonya. tapi, tuan sendiri yang memintanya. kami, juga sudah membuatkan surat rujukan tadi.", jelas dokter Jeno.


"Tidak. maksudnya apa?!. surat rujukan apa?.", tanya ibu Cellya.


"Tuan, akan menjalani perawatan dan pemulihan di Singapore.",


"Tuan, bilang. ada pekerjaan yang begitu mendesak, yang tidak bisa di lakukan oleh orang kepercayaannya di sana. jadi, tuan meminta untuk dibuatkan surat rujukan, dan perawatan di sana, nyonya.",


"Saya, sudah menghubungi dokter yang menangani prosedur cek sumsum tulang belakang kemarin, sebelum tuan menjadi pendonor untuk nona muda.", jelasnya.


Ibu Cellya menghela nafas dalam. ia menoleh ke sembarang arah, tidak tahu harus bagaimana saat Neysa bangun dan mencari ayahnya, nanti.


"Terimakasih.", hanya itu, yang bisa di ucapkan oleh ibu Cellya. ia lantas beranjak dari duduknya, dan membawa tas nya. tak dihiraukannya, dokter Jeno yang membungkuk hormat padanya. ia berjalan, dengan begitu banyak pertanyaan dan pengandaian yang akan terjadi, dalam benaknya.


Ia berjongkok di sebelah pintu ruangan dokter Jeno, dan mencoba menghubungi seseorang. panggilan pertama, tidak di jawab. panggilan kedua, sama. panggilan ketiga pun juga tetap tidak di jawab. "Ya tuhan, apakah ini pertanda menantunya, sudah terbang ke negeri singa itu?!.", gumamnya.

__ADS_1


"Nenek minta maaf. sungguh!.",


"Neysa, sayang mau kan memaafkan nenek?.", tanyanya, pada bocah yang baru saja bangun dari tidurnya. Neysa, melirik neneknya sekilas.


"Neysa, sudah memaafkan nenek.", jawabnya. ibu Sean, tersenyum senang dan memeluk cucunya. namun, Neysa sama sekali tidak bereaksi untuk membalas.


"Nenek, senang sekali karena Neysa, mau memaafkan nenek.", ujarnya, setelah melepas pelukannya. Neysa, hanya mengangguk.


Dua hari berlalu sudah, sejak hari perdebatan itu. baik Neysa, maupun kedua neneknya tidak pernah membahas tentang Sean. tapi, gadis yang masih dalam perawatan dokter itu, lebih sering diam. ia tidak seceria dulu. ia hanya akan mengangguk, menggeleng, dan menjawab pertanyaan kedua nenek, kakek atau Oma seperlunya.


"Sayang, mau makan pagi?.", Kakek bawakan kue labu untuk cucu kakek yang cantik. sapa ayah Sean, ia sengaja mampir ke rumah sakit untuk menengok cucunya. Neysa hanya tersenyum.


"Sayang, sarapan dulu ya?!, nenek bantu.", tawar ibu Sean. gadis itu mengangguk pelan.


"Oma.", panggilnya, lirih. saat melihat Omanya baru saja datang, mengunjunginya pagi ini.


"Hai, sayang.",


"Ayo, sarapan dulu.", sapa ibu Cellya. Neysa menurut, ia menerima suapan dari neneknya. entah mengapa?!, ibu Cellya merasa ada yang aneh dengan cucu perempuannya ini. wajahnya, terlihat sedikit tirus dan pucat.


Tiba-tiba, Neysa mengalami sesak. ia memuntahkan semua makanan yang berada di mulutnya. membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.


"Panggil dokter!.", perintah ayah Sean, yang langsung membuat Alex reflek bergerak dan pergi keluar ruangan, untuk memanggil dokter.


Dokter, datang saat Oma dan neneknya sedang membersihkan baju dan mulut Neysa dari sisa-sisa muntah nya. mereka segera memberi ruang, dan menunggu di luar sementara Neysa dalam penanganan dokter.


Setelah setengah jam lebih penanganan. akhirnya, dokter memasang kembali infus di tangan Neysa, yang sempat di lepas.


"Bagaimana?.", tanya ibu Sean, saat dokter baru saja keluar dari ruang rawat Neysa.


"Kemungkinan, nona mengalami infeksi. tapi, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, untuk mengetahui penyebabnya.", jawab dokter. ia lalu, pamit undur diri untuk melakukan tugasnya yang lain.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2