Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 60


__ADS_3

Sean terdiam mendengar penuturan perawat. ia tidak habis pikir Cellya senekat ini.


Malam menampakkan dirinya. semua anggota keluarga juga sudah berdatangan ke rumah sakit. seperti biasa, mereka ingin menjenguk dan menemani Cellya.


Tapi, rupanya dia juga belum membuka pintu ruangan nya. mereka terpaksa menunggu di luar ruangan. Cellya juga sama sekali tidak mau menjawab panggilan dan ketukan pintu.


Siapapun itu, Cellya tidak bergeming untuk membuka pintu kamar rawatnya. ia memilih membelakangi jendela, dan menyibukkan diri dengan menulis serta menggambar desain.


"Apakah dia akan baik-baik saja?!.", tanya ayah Sean, khawatir.


Ya, bagaimana tidak khawatir?!. bukankah perawat bilang Cellya mengurung diri sedari pagi. itu artinya, ia melewatkan makan siang dan makan malam.


Bagaimana dengan kondisi tubuhnya?!. dia adalah wanita yang sedang hamil, kasihan baby nya.


Sean melakukan panggilan telepon. nampak ponsel Cellya yang berada di atas nakas berdering. Cellya hanya melihat nya sekilas.


Ia tahu itu panggilan dari suaminya, maka dari itu ia mengabaikan nya.


"Bagaimana?!.", tanya mereka bersamaan, ya walaupun mereka sudah tahu bahwa Cellya tidak bergeming untuk mengangkat nya.


Sean menggeleng. ia menundukkan kepalanya yang mulai berisi argumen-argumen yang semakin membuat nya khawatir.


"Tok....


"Tok....


Sean mengetuk jendela, berharap istrinya mau menoleh dan melihat nya.


"By, buka pintunya!.",


"Jangan seperti ini. ini tidak baik bagi kau dan baby.",


"Aku mohon buka pintunya sekarang, sayang!.", bujuknya, dengan suara lembut.


Cellya tidak bergeming. ia tidak juga menyahut ataupun menoleh sedikitpun.


"By, aku mohon jangan egois. lihatlah!, semua ada disini karena menyayangi mu.",


"Ayo!, buka pintunya sayang.", bujuknya lagi.


Melihat usaha Sean, semua pun ikut membantu membujuk Cellya. terdengar suara mereka bersahutan memanggil nama Cellya, dan meminta Cellya untuk membuka pintu.


Sementara air mata Cellya sudah membanjiri kedua pipinya. bahunya bahkan sampai terguncang karena merasakan sedih di hatinya.

__ADS_1


Kata-kata Sean terakhir kali, begitu menyakiti hatinya. dalam penangkapan pahamnya, Sean menuduh anak mereka sebagai pembunuh karena, Cellya memilih melahirkan anak mereka dari pada memilih melakukan operasi.


Dia hanya menuruti nalurinya sebagai ibu dan orang tua, yang harus selalu melindungi dan menjaga buah hati nya.


Sean mencari cara lain. ia berjalan mengitari ruangan Cellya, dan melihat wanitanya dari sisi jendela yang lain.


Nampak wajah Cellya yang sembab. mungkin karena kebanyakan menangis.


"Tok...


"Tok...


Lagi-lagi, Sean mengetuk jendela. membuat Cellya refleks menatap nya. Sean tersenyum sumringah melihat mata bulat istrinya melihat ke arah nya.


"By, buka pintunya. oke?!.",


"Kedua mama, Dady, Ellyana dan David ada disini. mereka ingin masuk dan menemanimu.",


Cellya hanya diam, ia tidak ingin mengatakan apapun.


"By, aku mohon!.",


"Aku minta maaf. aku salah, membentak dirimu. aku salah berdebat dengan mu. aku salah tidak mendengarkan keinginan mu.", Cellya sudah nampak menangis lagi.


"Aku minta maaf, oke?!.",


"Sekarang tolong buka pintunya. aku janji tidak akan memaksa lagi.",


"Aku benar-benar minta maaf, dan aku sungguh-sungguh berjanji, by.", ujar Sean berusaha meyakinkan.


Cellya nampak melihat ke arah Sean. ia lalu mulai turun dari ranjang setelah meraih infusnya.


......................


Namun tiba-tiba, Cellya jatuh pingsan. Sean yang melihat itu, refleks merusak bingkai jendela. menarik nya hingga daun jendela itu terlepas dari tempatnya.


Sean membuang daun jendela itu kasar. ia melemparkan ke sembarang arah, dan segera melompat naik untuk masuk ke kamar rawat istrinya.


"By. are you, oke?!.", tanyanya, saat ia berhasil masuk dan sudah meraih tubuh Cellya yang tengah tergeletak di lantai.


"Darah?!.", Sean terkejut, bukan main. ya, rupanya Cellya sempat mimisan sebelum akhirnya pingsan.


Ia segera membopong tubuh Cellya ke ranjang. membenarkan infus di tempatnya dan segera membuka pintu yang di kunci istrinya dari dalam, sejak tadi pagi.

__ADS_1


"Panggil dokter!.", kata pertama yang ia ucapkan pada keluarganya, saat pintu terbuka.


David segera berlari keruangan dokter Jeno, sementara anggota keluarga lainnya merangsek masuk, ingin melihat keadaan Cellya.


Nampak wajah itu memucat. noda darah segar masih terlihat di hidung nya, bahkan noda merah itu meluber.


Dokter Jeno masuk bersama beberapa orang perawat yang di ikuti oleh David.


Semua nampak bergeser, memberi ruang pada dokter agar lebih leluasa memeriksa keadaan Cellya.


"Tidak bisa menunda lagi.", ujarnya, setelah selesai memeriksa Cellya.


"Kita harus lakukan operasi malam ini juga.", sambungnya.


"Apa semua pihak keluarga setuju?!"., tanya dokter Jeno.


"Kami setuju. lakukan apapun untuk menyelamatkan putri dan cucu ku.", jawab ayah Sean, mewakili keluarga. semua masih shock dan terdiam dengan apa yang terjadi pada Cellya. oleh sebab itu mereka tidak merespon ucapan dokter.


"Tolong siapkan berkas yang harus di tandatangani.", ujarnya pada salah seorang perawat.


"Kami akan berusaha sebaik mungkin. tolong pergi bersama perawat untuk mengurus keperluan nya.", ucap dokter Jeno. membuat ayah Sean segera berjalan cepat menyusul perawat tadi.


Sean dan lainnya masih menemani Cellya di ruangan nya. sedih, khawatir, takut dan cemas bercampur menjadi satu.


Ibu Cellya, tak henti-hentinya mengusap surai hitam milik putrinya, yang kini tidak sadarkan diri. nampak sesekali ia mengecup kening dan tangan Cellya bergantian.


Hancur sudah pasti. itulah perasaan nya sebagai seorang ibu, kini. tapi ia mencoba tegar, agar tidak mempengaruhi perasaan putrinya yang lain.


"Mama di sini, sayang. kita semua di sini nemenin kamu. so, you must be healthy soon!.", bisiknya, sesekali di telinga Cellya.


Ellyana hanya bisa menyembunyikan kesedihannya di balik pelukan David, suaminya. ya, hati saudara mana yang tidak hancur, melihat saudara kembar nya terbaring tidak berdaya antara hidup dan mati?!.


David mencoba menenangkannya dengan mengajak keluar. ya, suasana di luar ruangan pasti lebih lega dan tenang.


"Semuanya akan baik-baik saja, besan.", ujar ibu Sean, lirih. mengusap-usap bahu serta punggung besannya. tidak berbeda dengan ibu Cellya, ibu Sean pun merasakan hal yang sama. oleh sebab itu, mereka harus saling support dan menguatkan.


Sementara Sean berdiri di ujung kaki Cellya. ia nampak terus menggosok telapak kaki itu, karena sedari istrinya pingsan, sekujur tubuhnya terasa dingin. jadi, dia berinsiatif untuk membuat telapak kaki istrinya hangat, agar rasa hangat juga menjalar ke bagian tubuh lainnya.


Pintu kamar rawat Cellya terbuka. nampak beberapa perawat datang dan meminta izin untuk membawa Cellya ke ruang operasi.


Tentu mereka mengizinkan dan segera membantu para perawat mendorong brankar Cellya menuju ruang operasi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2