Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 104


__ADS_3

Untuk mengetahui apa yang terjadi, tubuh Neysa segera di bawa ke ruangan intensif. gadis kecil itu kembali melakukan pemeriksaan dan perawatan intensif. selang infus dan selang oksigen kembali menghiasi tubuhnya.


Sedih, susah dan khawatir sudah pasti. apalagi, melihat kondisi Neysa yang semula baik-baik saja, mendadak turun drastis.


Ia menjalani serangkaian pemeriksaan. dokter mengambil sampel darah dan melakukan rontgen, untuk mengetahui lebih jelas penyebab kondisi Neysa menurun yang di sertai muntah.


Sembari menunggu hasil pemeriksaan dan lab keluar, kakek, nenek serta Omanya menunggu Neysa di ruangannya. sejak tadi, ia belum sadarkan diri.


"Ayah.", gumamnya. ia mengigau memanggil sang ayah. semua mata tertuju pada tubuh kecil yang tengah terbaring lemah di tempat tidurnya. ibu Cellya memegang kening Neysa, untuk memeriksa suhu tubuh cucunya. cukup panas, ya Neysa sedang demam.


"Mungkin, dia merindukan ayahnya.", ujar ibu Cellya. ibu Sean hanya terdiam dan memandang suami serta besannya sekilas. di raut wajahnya, ia nampak merasa bersalah.


"Aku akan memintanya untuk kesini.", ujar ibu Sean, di keheningan, setelah ibu Cellya berucap demikian. ibu Sean hendak melangkah pergi, tapi ucapan dari suaminya menghentikan langkahnya.


"Mau kemana?.",


"Ke apartemennya?!.",


"Percuma. kau tidak akan menemukannya.", ujar ayah Sean. istrinya berbalik, dan menghampirinya.


"Apa maksudnya?!.", tanya ibu Sean.


"Dia sudah pergi ke Singapore, sejak hari pertengkaran kalian.", sahut ibu Cellya. ibu Sean, nampak terkejut.


"Bagaimana dia bisa pergi dalam keadaan sakit, besan?.", tanyanya, sembari menghampiri besannya.


"Harusnya, aku yang bertanya seperti itu padamu.", ujarnya.


"Aku tidak ada maksud untuk menyuruhnya pergi.", ucap ibu Sean menjelaskan.


"Tidak ada maksud. tapi, dia juga tidak ingin melukai perasaanmu, karena dekat dengan putrinya. itu sebabnya, dia pergi.",


"Kalau aku boleh berkata, bukankah itu sama saja dengan menyiksa cucuku juga, dengan keegoisanmu?!.", tanyanya. ibu Sean terdiam.

__ADS_1


Ayah sean segera mengambil jas nya. ia keluar dari ruang rawat Neysa, di ikuti oleh Alex yang sedari tadi berdiri di luar pintu.


"Urus penerbanganku hari ini. dan setelah itu, urus semua pekerjaan kantor.",


"Aku harus menjemput putraku, pulang.", perintahnya.


"Mengerti, tuan.", jawabnya. ia segera mengambil ponsel dari sakunya, sembari terus mengikuti langkah kaki majikannya.


Sampai di lobi rumah sakit, Alex segera membukakan pintu mobil untuk majikannya, dan menutup setelah ayah Sean masuk. ia langsung berlari ke sisi mobil lainnya dan segera masuk, duduk di belakang kemudi.


Sepanjang perjalanan, Alex tidak banyak bertanya. ia paham, tuannya sedang marah sekarang. jadi, ia hanya akan menjawab dan berucap saat tuannya bertanya ata mengajaknya bicara.


"Jam berapa aku akan terbang?.", tanya ayah Sean. Alex baru saja menghentikan mobilnya di depan gedung perkantoran milik majikannya.


"Paling cepat jam 10 pagi ini, tuan.", jawabnya. ayah Sean mengangguk. sementara Alex segera turun, dan segera membukakan pintu mobil untuk majikannya. mempersilahkan tuannya berjalan lebih dulu, memasuki gedung perkantoran itu.


Para karyawan yang berpapasan dengan ayah Sean, dengan sigap memberi hormat dan menyapa. Alex menekan tombol lift. tidak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka. pria paruh baya itu, segera masuk di ikuti oleh asisten sekaligus supir pribadinya. Alex menekan pintu lift lagi, yang membuat pintu lift tertutup.


"Tuan, hari ini sebelum ke kantor lebih baik kita cek ke dokter dulu.", ajak John. ia ingat benar, semalam Sean tidak bisa tidur. mungkin, bekas operasinya menimbulkan nyeri atau semacamnya.


......................


"Tidak apa-apa, tuan. itu hal yang wajar, setelah operasi sumsum tulang belakang.",


"Saya akan bagi resep obat, sikit. kena tebus di apotek.", ucap dokter, setelah selesai memeriksa Sean. Sean dan John mengangguk.


Dokter menyerahkan lembar berisi resep obat yang harus di tebus dan di konsumsi Sean, untuk meredakan nyeri di pinggangnya, pasca operasi transplantasi sumsum tulang belakang. Alex dengan sigap menerima resep obat itu.


"Terimakasih.", ucapnya, sembari membungkuk hormat. dokter pun, membalas dengan cara yang sama.


"Baiklah. kami, permisi dulu.", ucap Sean. John membantunya berdiri dari kursi. lalu, berjalan beriringan bersama Sean, untuk keluar dari ruang pemeriksaan dokter.


"Tuan, tunggu di mobil sebentar. saya, akan menebus obatnya.", ujar John, saat ia telah mengantarkan Sean ke mobil. pria itu mengangguk.

__ADS_1


Sean segera masuk ke dalam mobil, dan merebahkan dirinya di sana, sembari menunggu John menebus resep obat.


Kurang lebih, 30 menit. pria itu sudah kembali dengan sekantong obat di tangannya. tanpa basa-basi, ia segera masuk ke dalam mobil dan melakukan kendaraan itu, saat melihat majikannya tertidur.


"Tuan, bangun. kita sudah sampai.", ujar John, membangunkan majikannya, saat mereka sampai di depan apartemen. Sean segera bangun dan turun dari mobil.


John begitu setia merawat Sean dan melakukan serta mengerjakan tugas kantornya, menggantikan sang majikan. sebelum, ia meninggalkan Sean ke kantor ia menjelaskan obat- obat mana saja yang harus diminum di pagi hari.


"Tuan, minum ini dulu.", ujarnya, sembari membawa segelas air putih dan beberapa butir obat.


"Untuk yang diminum siang hari, aku sudah siapkan di atas nakas. tapi, nanti jam istirahat makan siang, aku pasti akan menengok tuan lagi.", ujarnya. Sean tersenyum ia senang masih ada yang mau menemaninya di saat seperti ini.


"Terimakasih.", ucapnya. John mengangguk.


"Pergilah, ke kantor. aku ingin tidur dan beristirahat.", ujar Sean.


"Baik, tuan.", John segera beranjak dari duduknya. ia mengambil tas kerja Sean, dan segera keluar dari apartemen. John turun ke lobi dan segera pergi ke parkiran, lalu menaiki kendaraannya menuju kantor, sesuai perintah sang majikan.


Sementara ayah Sean baru saja turun dari mobil. ia kini sudah berada di bandara. sesuai jam terbangnya, dalam waktu dua puluh lima menit lagi, pria paruh baya itu akan menaiki jet pribadinya untuk menyusul sang putra.


Ia sungguh tidak habis pikir, putranya langsung terbang ke negara singa, setelah di izinkan pulang. padahal, ia masih berada dalam pantauan dokter. kenapa tidak memilih beristirahat di apartemennya, sembari menunggu keadaan dan kondisi tubuhnya membaik?!.


Bahkan, kini kondisi cucunya juga menurun setelah dua hari tidak bertemu dengan ayahnya. haish, ingin rasanya ia marah dan menegur istrinya karena terlalu berlebihan dan keras pada putranya yang berdampak juga pada cucu satu-satunya. tapi percuma, yang ada hanyalah masalah dan keributan baru.


Ia hanya berharap, istrinya mau dan bisa melupakan kesalahan masa lalu, dan lebih bijak dalam menanggapinya.


Dokter Jeno masuk dengan membawa beberapa berkas dan laporan hasil lab, serta hasil rontgen dari Neysa.


"Bagaimana dokter?!. apa yang terjadi?.", tanya ibu Cellya.


"Dari beberapa pemeriksaan dan tes darah, serta lab. nona, mengalami infeksi organ dalam.", jawabnya. sontak semuanya terkejut dengan penuturan dokter Jeno.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2