
Cellya tersenyum bahagia melihat aksi orang-orang yang berebut mendapatkan bunga itu.
Ia teringat saat melakukan hal itu dulu. dulu, saat ia melempar bunga, David yang mendapatkannya. namun, saat ia memberikan nya pada Ellyana, adiknya menolak dengan alasan masih ingin fokus membantu ibunya di kantor.
"Apa yang kau pikirkan?!.", tanya Sean, yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Cellya tersenyum menatap suaminya. "Kita dulu juga melakukan nya.", ujarnya, kembali menatap kehebohan itu.
"Mau melakukan nya lagi?.", tawar Sean, membuat gadis itu tidak mengerti.
"Kita lemparkan bunga, siapa yang mendapatkannya ia akan segera mengandung baby.", ucap Sean. membuat istrinya tertawa lepas.
"Tidak ada hal yang seperti itu, by.", ucap Cellya kemudian. membuat Sean gemas dan memeluk istrinya dari belakang.
Nampak Ellyana dan David masuk dalam mobil pengantin dan segera pergi meninggalkan gereja.
Pukul dua siang. mereka sedang di rias di kamar masing-masing. ya, setelah acara pemberkatan selesai, mereka segera pergi ke hotel tempat di adakannya acara resepsi.
Kali ini, acara resepsi lebih banyak tamu yang hadir. bukan hanya dari kerabat dan ketiga keluarga. tapi, juga dari teman dan relasi bisnis dari kedua mempelai.
Cellya baru saja bangun saat pelayan datang untuk melakukan room servis.
Nampak pelayan itu membawa beberapa dress yang akan di pakai Cellya dan kemeja Sean malam ini.
Mereka juga nampak membawa nampan berisi makanan dan camilan serta minuman untuk Cellya dan Sean.
"Letakkan saja, disini.", terdengar suara suaminya. membuat Cellya berusaha membuka mata.
Tak lama berselang, suara pintu kamar hotel tertutup. Sean segera menghampiri Cellya. ya, ia tahu istrinya pasti bangun karena mendengar ada yang datang.
"Siapa, by?.", tanyanya, ketika melihat Sean kembali dan duduk di ranjang.
"Room servis.", jawabnya.
"Mau makan?!.", tawar Sean, kemudian.
"Aku mau mandi.", jawab Cellya.
"Makan dulu, baru mandi.", selah Sean.
"Bukankah, kita harus bersiap-siap untuk acara Ellyana?!.", tanyanya. Sean mengangguk.
"Mm, tapi aku sudah bilang pada mama agar merias mu paling akhir.",
"Aku bilang. kau butuh istirahat lebih, dan mama setuju.", ucapnya.
"Hahh.", dengus Cellya. membuat suaminya hanya tersenyum.
"Baiklah. ayo makan, dulu.", ajak Cellya setelah beberapa saat. membuat Sean senang, dan segera turun dari ranjang.
Mereka menikmati makan siang yang sudah lewat jam itu. ya, tadi karena Cellya merasa lelah sesampainya di hotel, dia memilih untuk langsung tidur dan istirahat.
"Baby, baik hari ini?!.", tanya Sean di sela-sela makan mereka sembari mengusap perut Cellya.
"Bersandar lah, by.", ucap Sean, sembari mengambil kan beberapa makanan untuk istrinya. sementara Cellya menuruti perintah sang suami, dan membuat dirinya nyaman dengan duduk bersandar dan meluruskan kakinya.
__ADS_1
Sean memberikan sepiring makanan yang siap di santap oleh Cellya. dengan senang hati, Cellya menerimanya.
Ia nampak lahap memakan semua hidangan yang di ambilkan oleh Sean. membuat pria itu tersenyum dan mengusap perut buncit istrinya.
"Are you happy, baby?!.", tanyanya pada perut buncit itu. ia merasakan gerakan di perut Cellya.
"Oh right?!.", ujarnya, tawanya makin lebar dan keras, ketika baby dalam perut Cellya terus merespon.
"Baby tidak lelah?!.", tanyanya lagi, sembari mengusap. dan benar saja, baby itu merespon lagi.
"Ok, ok. baby dan momy memang paling bersemangat.", ujar Sean lagi.
"Karena baby selalu bersemangat. jadi, ingatkan momy untuk banyak istirahat dan jangan lupa minum vitamin, oke?!.", sambungnya.
Cellya yang mendengar pembicaraan antara calon ayah dan baby di perutnya itu hanya bisa tersenyum, sembari sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.
"By, makanlah!.", pinta Cellya, meminta suaminya untuk bergabung menikmati makanan dengannya.
"Jangan ganggu kami, by. kami sedang mengobrol.", ujarnya, yang membuat wanita itu semakin tertawa dengan tingkah suaminya.
Sean nampak menempelkan bibir dan telinganya bergantian di perut Cellya. interaksi antara mereka benar-benar sebuah ikatan batin.
......................
Setelah selesai makan, Cellya segera mandi sementara Sean nampak sedang menikmati makan siangnya.
Selesai mandi, Cellya segera menghampiri MUA yang sudah menunggunya di depan meja rias.
Sementara Sean segera mandi setelah menghabiskan makanannya.
Cellya nampak berganti pakaian di bantu beberapa MUA, sementara Sean segera di rias setelah keluar dari kamar mandi.
Ya, acara pesta tinggal beberapa menit lagi. tepatnya pukul enam sore sampai selesai.
Ponsel berdering. membuat Sean mengambil ponsel istrinya dan segera menyerahkan nya pada Cellya.
Nampak di layar tertera jelas nama saudaranya.
"Kemarilah!.", teriak nya dari seberang begitu panggilan itu di jawab oleh Cellya.
"Ada apa?!.", tanya Cellya bingung.
"Kemari saja dulu. baru aku jelaskan masalahnya.", pintanya, merengek.
"Baiklah. aku segera ke sana.", jawab Cellya.
"Ok. terimakasih.",
Panggilan terputus begitu saja. "Ada apa, by?!.", tanya Sean setelah istrinya menyudahi panggilan dari Ellyana.
"Ellyana, meminta ku ke kamar nya.", jawab Cellya.
"Ada apa memang nya?!.",
"Entahlah. mau ikut, by?!.", tawar nya. Sean segera mengangguk menjawab tawaran istrinya. ya, mana mungkin ia membiarkan istrinya keluar kamar sendiri.
__ADS_1
Mereka segera keluar kamar menuju kamar kedua mempelai.
"Tok...
"Tok...
Cellya mengetuk pintu kamar Ellyana terlebih dulu, sebelum masuk. tak berapa lama kemudian, nampak David yang membuka pintu.
"Mana Ellyana?!.", tanya Cellya.
"Di dalam.", jawab David. ia segera menutup pintu, ketika Cellya dan Sean sudah masuk dalam kamar nya.
"Ada apa memang nya?!.", tanya Cellya khawatir. ya, bagaimana dia tidak khawatir?!. suara Ellyana ketika menelfon nya terdengar panik.
"Aku juga tidak tahu, dia mengunci diri di ruang wardrobe. katanya, hanya kau yang bisa membantu nya. makanya, dia hanya menyuruhku untuk mengambilkan ponselnya.", jawab David menjelaskan.
Cellya segera berjalan ke ruang wardrobe. ia mengetuk pintu beberapa kali.
"El, aku datang. buka pintunya.", ucap Cellya.
Mendengar suara saudaranya, Ellyana segera membuka pintu.
"Masuklah.", ucapnya. Cellya segera masuk, sesuai permintaan saudaranya.
"Eits. kalian tidak boleh masuk.", ucapnya ketus. saat David dan Sean hendak ikut masuk. membuat keduanya mematung di depan pintu, setelah Ellyana menutup nya.
"Ada apa?!.", tanya Cellya, khawatir.
"Tolong aku. aku merasa tidak nyaman.", ucap Ellyana.
"Apa yang tidak nyaman?!. kau sakit?!.", tanyanya, sembari memeriksa kening dan leher Ellyana dengan tangan. Ellyana menggeleng pelan.
"Lalu?!.", tanya Cellya, semakin khawatir.
"Kancing bra ku terlepas. tolong kaitkan.", ucapnya spontan, dengan wajah polos, tanpa rasa bersalah. membuat Cellya mendengus, dan nampak sedikit kesal.
Ya, bagaimana tidak?!. ia sudah khawatir terjadi sesuatu pada saudaranya. ternyata masalah nya hanyalah pengait bra.
Tanpa banyak bicara, Cellya segera memutar badan Ellyana untuk membelakangi nya dan membenarkan kancing bra tersebut.
"Seharusnya, kau tidak perlu membuat aku repot dan khawatir. bukankah, David juga bisa membenarkan nya?!.", gerutunya.
"Aku malu.", rengek Ellyana. membuat Cellya kesal dan memutar bola matanya.
...----------------...
Sean & Cellya
__ADS_1