Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 84


__ADS_3

Semua teman Neysa sudah datang dan kini, mereka sedang menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


Setelah lagu selesai, Neysa segera memanjatkan doanya. ia nampak memejamkan mata sembari menyatukan kedua telapak tangannya. entah, apa permintaan nya.


Setelahnya, Neysa membuka mata dan meniup lilin di atas kue nya. semua temannya yang hadir bersorak dan bertepuk tangan.


Acara potong kue, seperti biasa Neysa memberikan potongan kue pertama pada Oma, nenek dan kakeknya. baru setelah nya, teman-temannya di persilahkan untuk menikmati semua hidangan.


Waktu cepat berlalu, semua teman Neysa satu persatu berpamitan untuk pulang. Neysa berjabat tangan dengan mereka satu persatu. setelah temannya pulang semua, gadis itu masuk ke kamarnya untuk istirahat sejenak, sebelum acara ulang tahun bersama keluarga dan rekan bisnis dari ayah, Oma serta kakek nya datang.


Nani membawakan makanan untuk Neysa ke kamarnya.


"Nona, ayo makan dulu sebelum acara lagi.", ucap Nani yang di angguki oleh Neysa.


Gadis itu segera makan, sementara Nani merapikan rambut dan makeup nya. selesai makan, Neysa segera berganti baju di walk in closet. ia keluar kembali setelah berganti memakai gaun untuk acara malam ini.


Sembari menunggu di panggil, Neysa membenarkan gelang yang sudah dibuat nya semalam. ia merapikannya, agar orang yang menerima gelang itu senang memakai nya.


"Sayang, ayo turun.", ajak Oma nya. Neysa tersenyum dan mengangguk. ia segera turun di dampingi Oma nya, sementara kakek dan neneknya sedang melakukan sambutan di bawah.


Semua bertepuk tangan saat Neysa terlihat berjalan dengan Oma nya. ia membungkuk hormat pada semua tamu yang datang. gadis itu, sejak kecil memang memiliki tingkah dan sifat serta sikap yang manis. membuat semua orang yang melihatnya begitu menyukainya sejak pertama bertemu.


Acara potong kue segera di lakukan, Neysa di bantu Oma dan neneknya memotong kue bertingkat tiga itu. semuanya bertepuk tangan saat Neysa menyuapkan kue pada kedua nenek dan kakeknya. tidak lupa, ia juga menyuapi aunty El nya dan uncle David.


Setelahnya, tentu saja acara jamuan makan malam. semua tamu di persilahkan untuk menikmati hidangan. Neysa masih berdiri dan menemani kakek, nenek, serta Oma nya berbincang dengan beberapa kolega mereka.


Ia banyak menerima bunga dan Nani serta maid membantunya untuk menyimpan. Nani, kembali. ia nampak membisikkan sesuatu pada Neysa. membuat gadis itu mengangguk paham.


"Oma, Ney mau ke belakang sebentar.", ucapnya, meminta izin pada Oma nya.


"Ney, lelah?!.", tanya Oma nya.


"Tidak, Oma. tapi, Nani memanggil. sebentar saja, ya?!.", pintanya. Oma nya mengangguk.


"Cepat kembali.", ujar Oma nya, sembari mengusap rambut panjang Neysa. gadis itu mengangguk lalu segera menyusul Nani, yang sudah pergi lebih dulu.


Neysa pergi ke taman samping mansion seperti yang Nani katakan. dia melihat seseorang yang tidak asing, di sana.

__ADS_1


"Paman, sudah datang?!.", tanyanya. membuat seseorang berkostum Santa lengkap dengan topi kerucut merah dan jenggot putih itu menoleh dan tersenyum.


"Paman, menunggu lama?!.", tanyanya, sembari berjalan mendekat. Neysa mengajak Santa Claus itu duduk di kursi yang berada di taman itu.


"Selamat ulang tahun.", ucap Santa Claus, sembari mengeluarkan cake kecil berhiaskan lilin angka tujuh untuk Neysa.


"Terimakasih.", ujarnya, ia nampak sangat senang dengan kue pemberian Santa.


"Ayo, nyanyikan lagu ulang tahun dulu.", ajak Santa. mereka pun menyanyikan lagu ulang tahun bersama.


......................


"Ayo!, buat permintaan.", ucap Santa. membuat gadis itu menutup kedua matanya dan menyatukan kedua telapak tangannya. Santa Claus itu memandang intens gadis kecil di depannya. ia tersenyum manis saat Neysa membuka mata.


"Apa permintaan nya?.", tanya Santa.


"Itu rahasia.", jawab Neysa, ia tersenyum manis. membuat Santa Claus terpaku melihat itu.


"Baiklah. cepat tiup lilinnya.", Neysa menurut, dan segera meniup lilin di atas kuenya. Neysa mengambil secuil kue, lalu menyuapkan pada Santa, begitu juga dengan Santa Claus itu, mengambil secuil dan meyuapkan pada Neysa.


"Selamat ulang tahun.", ucap Santa lagi, sembari memberikan kotak kado pada Neysa.


"Bukalah!.", ucap paman Santa, Neysa menggeleng.


"Kenapa?.", tanya Santa.


"Aku akan membukanya, nanti.", ucapnya lalu menyimpan kado itu di sampingnya.


"Sekarang, aku juga punya sesuatu untuk paman.", ucapnya. ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. ya, sebuah gelang yang ia buat semalam.


"Aku tidak tahu paman menyukainya atau tidak?!. tapi, karena aku belum bekerja dan belum memiliki penghasilan, jadi aku hanya bisa memberikan ini pada paman.",


"Ini adalah buatan ku sendiri.", ucapnya, sembari memasangkan gelang itu pada Santa.


"Nah!.", ia sedikit senang, saat gelang itu terpasang di tangan Santa.


"Apa paman menyukainya?.", tanya Neysa. Santa Claus itu mengangguk.

__ADS_1


"Sangat suka.", jawabnya. Neysa tersenyum manis.


"Kalau begitu, pasangkan ini untuk ku.", pintanya, sembari menyodorkan gelang lainnya pada Santa.


Santa Claus itu segera memasangkan gelang lainnya pada tangan kecil Neysa. tapi saat Santa mengencangkan tali gelang, ia melihat lebam di pergelangan tangan Neysa.


"Ini kenapa?.", tanya Santa, menunjuk lebam di pergelangan tangan Neysa. gadis kecil itu menggeleng.


"Kulit Neysa sering lebam paman, padahal Neysa tidak terjatuh atau di pukul.",


"Oma dan nenek juga menanyakannya, tapi karena Neysa tidak tahu, jadi Neysa jawab tidak tahu saja.", ujarnya. Santa Claus itu terdiam, ia nampak memikirkan sesuatu.


"Ahh, karena paman ada disini. aku, ingin titip surat ini untuk ayah.", ujarnya, sembari mengambil surat dari balik gaunnya.


Neysa menyerahkan surat itu pada Santa. "Aku harap, ayah segera membacanya. jadi, aku bisa melakukan semua yang ku inginkan bersama ayah.", harapnya. Santa Claus itu memandang gadis kecil yang sedang duduk di depannya. entah apa yang dipikirkan, tapi tatapan Santa terlihat sendu.


"Nona, nyonya besar memanggil anda. ada yang ingin bertemu.", ucap Nani, yang baru saja datang.


"Katakan pada Oma dan nenek, aku segera datang.", ucapnya. Nani mengangguk paham, dan segera masuk kembali.


"Cepat masuk. udara diluar, dingin.", ucap Santa. gadis itu mengangguk.


"Terimakasih, paman.",


"Terimakasih, sudah datang dan memberiku doa serta hadiah.", ucapnya, manis. membuat Santa tersenyum.


"Sama-sama.",


"Baiklah. sekarang, cepat masuk!. Oma dan nenek, pasti sudah lama menunggu.", ucap Santa. Neysa mengangguk, ia memeluk Santa sebentar, sebelum mereka berpisah. Santa termangu merasakan pelukan kecil itu.


"Dah, paman.", ucapnya, setelah melepaskan pelukannya. ia melambaikan tangan pada Santa, sembari membawa kado dari Santa untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


"Oh, aku melupakan sesuatu.", gumamnya, saat langkah kakinya baru melewati pintu. ia meletakkan kado dari Santa, di meja yang berada di samping pintu. lalu, berlari keluar sembari membawa gelang yang ia buat untuk ayahnya.


Ya, dia lupa tidak menitipkan gelang itu pada Santa, bersama suratnya tadi.


"Semua sudah di atur, tuan. tapi, kita harus pergi malam ini juga.",

__ADS_1


Tidak sengaja, ia melihat wajah asli di balik jenggot Santa yang terlepas itu. membuat Neysa mematung diam di tempatnya.


...----------------...


__ADS_2