Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 51


__ADS_3

Malam datang. Sean meminta Nani untuk mengantarkan makan malam ke balkon kamar saja.


Ya, seharian ini setelah pulang dari rumah sakit. Sean dan Cellya lebih senang dan merasa nyaman berada dan tinggal di kamar.


"By, makanan sudah datang.", ucapnya. Nani dan beberapa maid segera undur diri setelah menghidangkan makan malam mereka.


"Permisi, tuan.", ucap mereka, pamit kembali ke bawah. Sean mengangguk.


"Terimakasih.", ucapnya, mereka membungkuk hormat dan segera keluar dari kamar Sean.


Cellya segera menuju walk in closet setelah keluar dari kamar mandi. ia berganti baju di sana, sementara Sean menunggu nya di balkon.


Tak berapa lama setelah selesai ganti baju dan merias tipis wajahnya, Cellya segera menyusul Sean untuk makan malam.


Mereka menikmati makan malam dengan melihat gemerlap lampu di malam hari.


Setelah makan malam, mereka hanya bersantai di balkon sembari menikmati ke intiman mereka.


Ya, mereka menikmati waktu berdua. Sean dan Cellya sama-sama berharap keadaan akan lebih baik setelah ini, terutama kesehatan istrinya.


Hari demi hari berlalu begitu saja. Sean sibuk ke kantor saat ada rapat dan keperluan yang mendesak saja. sedangkan, Cellya lebih banyak beristirahat di rumah sejak medical check up yang terakhir, sesuai permintaan suaminya.


"Hari ini aku bertemu klien dulu, by.",


"Aku janji akan pulang cepat, untuk mengantarmu ke rumah sakit.", ujarnya. wanita pujaannya yang tengah sibuk membenarkan dasi suaminya itu hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ingat!. perbanyak istirahat, oke?!.", pesannya, saat sang istri selesai merapikan rambut nya.


"Oke.", jawab Cellya.


Cellya mengambil jas suaminya dan segera turun bersama untuk sarapan pagi.


Seperti biasa, mereka selalu mesra dan romantis di setiap waktunya. saling memperlihatkan kasih sayang, atau hanya sekedar berjalan beriringan sambil bergandengan tangan seperti sekarang ini.


Sean menggeser kursi dan mempersilahkan istrinya duduk lebih dulu, saat mereka sampai di meja makan. baru kemudian ia menggeser kursinya sendiri dan duduk berdampingan dengan Cellya.


Mereka segera menikmati sarapan pagi hari ini. setelah selesai, Cellya segera memakaikan jas Sean dan mengantarkan nya ke teras mansion.


"Banyak istirahat, ya sayang.", ucapnya, lantas mengecup kening Cellya. Cellya mengangguk.


"Baby, yang pintar oke?!. ayah akan segera pulang dan mengantarkan kalian check kesehatan.", pesannya, berjongkok, mengusap lalu mengecup perut buncit itu.


Ia segera berdiri, memeluk istrinya sebelum berangkat. John membuka pintu mobil bagian belakang, dan Sean segera naik.

__ADS_1


Cellya melambaikan tangannya begitu John menutup pintu dan mulai melajukan mobil suaminya.


Cellya segera masuk. ia duduk di sofa ruang keluarga, sementara para pekerja renovasi mulai berdatangan dan melanjutkan merenovasi kamar baby nya.


Sesekali, Cellya nampak melihat-lihat hasil kerja mereka dan mengarahkan nya sesuai dengan keinginannya.


"Iya. beri warna putih salju saja temboknya. kita bisa tambahkan aksesoris kamar yang bisa di lepas pasang. atau beberapa aksesoris dan mainan edukasi.", jawabnya, saat seorang dari tukang renovasi bertanya padanya.


"Nona, minum vitamin dulu dan makan buahnya.", ujar Nani, sembari meletakkan semuanya di meja ruang keluarga.


Cellya segera berjalan mendekat pada Nani. ia meluruskan kakinya karena merasa pegal.


"Mau Nani, pijat?!.", tawar nya. membuat Cellya tersenyum dan menggeleng.


"Tidak usah, Nani. nanti juga berkurang sendiri. hanya sedikit pegal.", jawabnya.


Nani segera mengulurkan vitamin dan segelas air pada Cellya. Cellya pun, segera meneguk vitamin itu.


......................


Tepat pukul sepuluh pagi, mobil Sean memasuki pelataran mansion. dia pulang sendiri, dan membiarkan John mengambil urusan kantor karena, ia harus mengantarkan Cellya check up.


Apalagi hari ini, adalah hari keluar nya pemeriksaan MRI yang di lakukan Cellya kemarin.


"Kau sudah siap, by?!.", tanyanya, sembari memasuki kamarnya.


Ia melihat istrinya baru saja selesai merias diri. "Kau tidak ganti baju, by?!.", tanya Cellya pada Sean.


"Begini saja. kita harus cepat, bukan?!.",


"Kita membuat janji dengan dokter jam sepuluh, dan ini sudah lewat sedikit.", ucapnya.


Cellya berdiri dan segera meraih tas nya. " Baiklah, ayo berangkat.", ajaknya.


Sean segera menggandeng tangan istrinya untuk menuruni tangga menuju mobil.


"Nani, kami pergi ke rumah sakit sebentar.", pamitnya, setengah berteriak, karena memang terburu-buru dan waktunya sudah mepet.


Nani buru-buru menghampiri dan mengantar sampai teras mansion. setelah mobil majikannya berlalu, baru Nani segera masuk ke dalam.


Setengah jam perjalanan yang di tempuh. begitu sampai Sean segera mengajak turun istrinya dan langsung menuju ruang radiologi untuk mengambil hasil MRI.


Tidak butuh waktu lama, begitu mendapatkan foto MRI Sean segera menuju ruang dokter Jeno.

__ADS_1


Asisten dokter Jeno yang sudah mengatur pertemuan mereka segera mempersilahkan Sean dan Cellya masuk, begitu melihat mereka datang.


"Siang dok. maaf terlambat.", ucap Sean yang baru saja duduk berhadapan dengan dokter, di dampingi istrinya.


"Tidak apa. waktunya malah lebih senggang karena banyak pasien sudah di tangani sebelumnya.", ucap dokter Jeno.


Sean menyerahkan hasil MRI yang masih tersegel di dalam amplop besar itu.


Dokter Jeno, mengambilnya dan segera membukanya perlahan.


Dengan pelan-pelan dokter Jeno menarik foto hitam putih itu dari dalam amplop. setelah nya, baru meletakkan pada papan dan menyalakan lampunya agar memudahkan nya membaca hasil MRI.


Dokter Jeno terdiam sesaat melihat hasil MRI Cellya. jelas sekali di sana masalah nya. bingung sudah pasti, dengan apa yang akan ia sampaikan pada pasutri di depannya ini.


"Kita harus melakukan biopsi.", ucap dokter Jeno, setelah sekian lama diam.


"Kenapa?!.", tanya Sean.


"Kita perlu tahu, itu jenis tumor jinak atau jenis kanker?!.", jawabnya. Sean terdiam menatap dokter Jeno. sementara Cellya nampak bingung.


Bagaimana kanker?!. jelas-jelas awal dia periksa di diagnosa tumor jinak.


"Ini tumor jinak. aku pernah melakukan kemoterapi dan sel tumor nya semakin turun dan melemah.",


"Lihatlah catatan medis ku. bagaimana mungkin itu bisa menjadi kanker?!.",


"Kau pasti salah diagnosa.",


"Ayo!, coba periksa sekali lagi. kau adalah dokter muda, masih banyak yang harus kau pelajari, aku yakin diagnosa ini salah. ayo coba periksa lagi.", ujar Cellya. ia menahan sesak di dadanya yang turun menjadi air mata.


"Nyonya, aku...


"By, ayo cari rumah sakit yang lebih baik dari sini. ayo!.", ajak Cellya merengek. ia memotong ucapan dokter Jeno, yang ingin menjelaskan sesuatu padanya.


"By. dokter Jeno, adalah dokter terbaik saat ini. kita ikuti saja semua sarannya, oke?!.", ucap Sean, mencoba menenangkan istrinya setelah lama terdiam.


"By, kau percaya aku terkena kanker?!.", tanyanya.


"Dokter di Singapura juga mengatakan aku hanya mengindap tumor, kan?!. dan itupun tumor jinak.", sambungnya.


"By, kita lewati semua bersama. oke?!.",


"Aku selalu disini bersamamu.", ucapnya, menatap kedua manik istrinya, lembut.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2