Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 33


__ADS_3

"Apa itu tadi?!.", tanya Sean. ia terkejut sekaligus merasa senang.


"Dia akan merespon saat kita sering mengusap, mengajak bicara atau berinteraksi apapun dengannya.", jelas Cellya.


"Benarkah?!.", tanya Sean, masih tidak percaya.


"Tendangan nya kuat sekali. dia perempuan atau laki-laki?!.", tanya suaminya lagi.


Cellya menggeleng. "Entahlah. aku hanya berharap dia sehat.", jawab Cellya.


"Benar. laki-laki atau perempuan, itu tidak penting. yang penting kalian selalu sehat.", ucap Sean. ia mengecup perut buncit Cellya lalu, menempelkan tangan dan telinganya di perut sang istri, untuk berinteraksi dengan bayi mereka. Cellya hanya tersenyum melihat suaminya.


Sore hari, Cellya sudah duduk bersandar di ranjang nya. nampak seorang dokter dan perawat memeriksa dirinya.


Sementara di tempat lain, ibu mertuanya sedang mengemas barang sang suami ke dalam koper.


Ya, ayah mertuanya harus kembali ke rumah sore ini agar esok bisa mulai bekerja di kantor utama miliknya.


Ada beberapa pertemuan dengan relasinya yang tidak bisa di ambil alih oleh asisten nya, Alex.


"How is the condition?.", tanya ibu Cellya yang baru saja masuk kamar rawat putrinya. nampak dokter dan perawat baru saja menyelesaikan tugas nya.


"Everything is fine.",


"maybe if there are problems. Miss Cellya, you can home soon and rest at home.", jawabnya. ibu Cellya dan Sean nampak tersenyum lega. rasa syukur tak hentinya ia panjatkan.


"So, can we go home today?.", tanya Cellya.


"Ofcourse.", jawab dokter. membuat Cellya tersenyum girang.


"By, aku bisa pulang hari ini.", ucapnya. ia sangat senang, membuat Sean yang sedari tadi berdiri di samping ranjang nya tersenyum riang. tak kalah dengan sang istri.


Dokter pamit pada ibu Cellya, dan ibu Cellya hanya mengangguk, memberi hormat. sementara Cellya sedang berbahagia dan merengek pada suaminya.


"Kita pulang sekarang, ya?!.", bujuk Cellya.


"Satu pesawat sama, Dady.",


"Ya, by?!.", pintanya. dan Sean lagi-lagi hanya tersenyum, mengangguk menuruti kemauan istrinya.


"Kalau begitu, aku akan menemui Dady dan mama dulu.", ucapnya pada sang istri, membuat Cellya setuju, mengangguk penuh antusias.


Sean segera pergi menemui orang tuanya, sementara Cellya meminta ibunya untuk segera mengemas barang nya.


Ya, dia begitu antusias dan tidak sabar untuk segera pulang ke rumah nya.


Ia ingin beristirahat di rumah, sehingga semuanya tidak repot menunggunya di rumah sakit.


Apalagi mereka semua adalah orang sibuk. sibuk dengan pekerjaan nya, di tambah lagi saudaranya akan segera menikah dalam waktu beberapa hari lagi.

__ADS_1


"Kau sedang berkemas?!.", tanya ayah Sean, yang baru saja membuka pintu kamar. ia melihat Cellya sedang membantu ibunya berkemas.


"Yes, dad.", jawabnya.


"Apakah benar akan pulang hari ini bersama, Dady?!.", tanyanya lagi. Cellya mengangguk pasti.


"Apakah dokter benar-benar sudah memastikan bahwa, keadaannya memungkinkan untuk pulang?!", tanya ibu Sean, yang baru saja menyusul masuk.


"Semuanya baik-baik saja, besan.", jawab ibu Cellya.


"Dokter, sudah memastikan nya. Sean, juga mendengar nya tadi.", sambungnya, menepis kekhawatiran ibu Sean.


"Aku sangat senang, jika memang menantuku bisa segera pulang.",


"Kita bisa lebih leluasa merawat nya dirumah, bukan?!.", ucap ibu Sean. dan besannya, mengangguk mengiyakan.


"Baiklah. kalau begitu, aku akan bantu besan berkemas.",


"Kebetulan, aku sudah selesai mengemas barang-barang suami.", ucap ibu Sean, lalu segera bergabung dengan besan dan menantunya.


......................


Cellya hanya tidur saja selama di pesawat. sampai di bandara pun, ia tidak di izinkan untuk jalan sendiri. Sean lebih suka mendorongnya menggunakan kursi roda.


Ia tidak ingin istrinya kelelahan. apalagi, Cellya sedang hamil.


Sementara ini, pengobatan tumor di hentikan karena membahayakan janin.


Sebenarnya, dokter menyarankan operasi tapi Cellya tetap kekeuh menolak. ia tidak ingin apapun memengaruhi janinnya.


Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan beberapa dokter ahli dan keluarga. mereka menuruti kemauan Cellya. apalagi, Sean dan keluarga telah menyiapkan dokter yang selalu memantau keadaan Cellya. sehingga, mereka tidak perlu terlalu khawatir.


Sampai di depan mansion nya, Sean segera menggendong istrinya masuk ke dalam rumah.


Ia mendudukkan Cellya di sofa tamu, di susul dengan orang tua mereka. beberapa maid menyusul masuk dengan membawa barang-barang mereka.


"Bawa ke kamar tuan, dan rapikan.", perintah ibu Sean pada pelayan di rumah putranya.


"Mama, pulang?!.", tanya Cellya. ibu Cellya mengangguk.


"Mama, juga ingin istirahat di rumah.", jawabnya, kemudian.


"Mama dan Dady?!.", tanyanya, pada mertuanya.


"Tentu saja. kau butuh istirahat lebih kan?!. kalau mama, disini itu akan membuat mu tidak nyaman.", jawab ibu mertua nya.


"Aku harap, mama mau menemani disini.", ucap Cellya.


"Kami, akan sering menjenguk mu ke sini. benar kan, besan?!.", ucap ibu Cellya, yang di angguki besannya.

__ADS_1


"Nani, siapkan air mandi untuk, nona.", pinta Sean pada asisten rumah tangga kepercayaan nya.


"Baik, tuan.", ucap Nani, lantas ia segera pergi menaiki tangga menuju kamar Sean.


"Istirahatlah!. Mama, pulang dulu, ok?!.", ucap ibu Cellya, memeluk putrinya dan berpamitan.


"Hati-hati, ma.", ucapnya, saat melepas pelukan. ibunya tersenyum dan mengangguk.


Ibunya beralih memeluk Sean. "Terimakasih, ma.", ucap menantunya. sekali lagi, ibu Cellya tersenyum.


Ibu Cellya kemudian menghampiri besannya dan mereka saling berpelukan.


"Terimakasih, besan.", ucap ibu Cellya.


"Tidak perlu berterima kasih.", sahut besannya, mereka saling melempar senyum.


Selanjutnya, ibu Sean mengantar besannya ke depan mansion.


"Dad, aku bawa Cellya ke kamar dulu untuk istirahat.", pamitnya pada sang ayah, yang hanya di angguki.


Sean hendak mengangkat Cellya. "Aku bisa jalan sendiri, by.", ucap Cellya, yang seketika menghentikan aksinya.


"Tidak apa-apa. Dady, paham.", ucap ayah Sean, saat melihat menantunya memberi kode pada putranya, bahwa ia merasa tidak enak ada ayah yang melihat mereka.


Mendengar itu, Sean segera menyambar tubuh istrinya dan melangkah menaiki tangga meninggalkan ayahnya.


POV of Ellyana


David nampak sedang mencoba tuksedo di depan sebuah cermin, di bantu oleh karyawan butik.


Sementara Ellyana sedang di kamar ganti, mencoba beberapa gaun yang akan di kenakan saat acara pemberkatan dan pesta.


Nampak tiga orang membantu nya memakai gaun berwarna putih yang memiliki ekor menjuntai dengan hiasan Payet dan Swarovski itu.


"Nampaknya, pinggang nya harus di perkecil lagi, nona.", ucap asisten kepercayaan ibu Sean itu.


Ya, dia memercayakan semua gaun pernikahan dan gaun yang akan di pakai keluarga nya dan keluarga suaminya di butik ibu Sean.


"Ah, apa aku tidak akan terlalu terlihat kurus nanti?!.", tanyanya.


"Aku khawatir itu terlihat jelek.", sambungnya.


"Tidak, nona. kita hanya memperkecil nya sedikit.", ucap asisten.


"Lagi pula, gaun ini di desain dengan menonjolkan lekuk tubuh, nona. akan terlihat jelek bila ada renggang dengan badan. itu akan terlihat longgar.", sambungnya, memberi pengertian.


Ia lantas menyematkan jarum pentul di bagian pinggang yang perlu di perkecil. "coba, nona lihat!.", ucapnya. membuat Ellyana memutar badannya di depan kaca.


"Bagus, bukan?!.", tanya asisten, membuat Ellyana tersenyum, melihat pantulan bayangan nya di cermin.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2