Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 89


__ADS_3

"Manager, atur ulang semua jadwal pertemuan dan rapat untukku.",


"Aku ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.", perintah Sean yang tengah duduk di kursi penumpang sembari memeriksa ulang berkas yang di serahkan manager tadi.


"Secepat itu, tuan?.", tanya manager, memastikan sembari menatap majikannya dari kaca spion mobil. Sean mengangguk tanpa melihat manager yang sedang menyetir dan terus melihat serta mengecek berkas di tangannya.


"Kalau bisa, semua pekerjaan mu dan pertemuan dua minggu ke depan, di selesaikan sebelum aku pulang.",


"Selanjutnya, aku minta cuti selama dua minggu.",


"Aku ingin menghabiskan waktu di rumah.", ucap Sean. ia meletakkan berkas itu di sampingnya. setelahnya, terdengar helaan nafasnya.


"Sudah lama, aku tidak istirahat. dan sibuk berkutat dengan semua pekerjaan ku.", ujarnya. ia menyandarkan kepalanya di kursi mobil. sekilas, terlihat dari kaca bahwa, majikan nya sedang memejamkan matanya.


Di ruangan bercat putih dengan segala alat medis yang dibutuhkan oleh pasien kecil itu. nampak seorang wanita paruh baya tengah duduk di samping brankar. air matanya berulang kali menetes, membasahi kedua pipinya.


"Ayah.", gumam gadis kecil, yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. gumaman nya terdengar jelas di telinga sang nenek.


"Sayang.", panggilnya. mencoba, membuat gadis itu membuka matanya perlahan.


"Nenek.", panggilnya, lemah. ibu Sean berusaha membendung air matanya agar tidak menetes lagi.


Ya, wajah pucat, bibir kering dan sedikit pecah-pecah efek obat-obatan yang masuk ke dalam tubuhnya.juga tubuh mungil Neysa yang terlihat sedikit kurus. membuat ibu Sean benar-benar sakit melihat cucu satu-satunya sedang berjuang antara hidup dan mati.


"Nenek, kenapa menangis?.", tanyanya, polos. ia bahkan masih berusaha tersenyum untuk menghibur neneknya.


"Nenek, hanya sedih. sekarang, tidak ada lagi yang menemani nenek dirumah.",


"Kakek, juga sedih. tidak ada lagi yang menggodanya dan memijit bahu, saat kakek merasa lelah.", jawab ibu Sean, berbohong. Neysa tersenyum kecil, mendengarnya.


"Neysa, akan segera sembuh, nek.", ucapnya. ibu Sean, hanya mengangguk sembari mengusap air matanya yang hampir jatuh, dengan tisu di tangannya.


"Dimana kakek?.", tanyanya, lirih.


"Kakek, sedang bekerja. nanti, pasti segera kesini.",


"Neysa, mau minta sesuatu?. nanti, biar kakek bawakan.", ucap neneknya. gadis itu, menggeleng pelan.


"Oma?.", tanyanya, lagi.

__ADS_1


"Oma, sedang ada pertemuan dengan klien, di sekitar rumah sakit.",


"Nanti, juga segera kesini.", jawab neneknya. gadis itu terdiam. matanya, berat untuk terbuka. tapi, ia terus memaksa dengan mengajak neneknya berbicara.


"Nenek.", panggilnya, setelah lama terdiam. ibu Sean, menatap cucunya.


"Iya, sayang. nenek, disini.", jawabnya.


"Nenek. apakah aku boleh bertemu ayah, nanti?!.", tanyanya. sebuah pertanyaan yang membuat ibu Sean terdiam sekaligus terkejut seketika. ia terdiam sesaat, sembari memandang wajah gadis kecil, cucunya.


Neysa tersenyum dengan ekspresi neneknya. "Nenek, tidak usah khawatir. kalau nenek tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa.", ucapnya. perkataan dari seorang gadis kecil yang membuat neneknya merasakan sesak di dada.


"Kenapa Neysa bertanya seperti itu?.", tanya neneknya, setelah cukup lama diam.


"Neysa, tidak tahu. itu hanya perasaan Neysa, atau memang nenek dan ayah memiliki masalah.",


"Tapi, kalau boleh Neysa bilang. Neysa, ingin sekali di peluk ayah.", jawabnya. haish, bahkan ternyata cucunya bisa merasakan adanya konflik di antara mereka. sungguh miris, pikir ibu Sean.


"Neysa, iri dengan semua teman-teman Neysa.", ujarnya.


......................


"Terimakasih, nek.", ujarnya, membuat ibu Sean mengangguk.


Pintu terbuka, ibu Sean menoleh. terlihat dokter dan seorang perawat masuk untuk mengontrol kondisi Neysa.


Ibu Sean, masih menemani cucunya untuk di periksa, sampai akhirnya dokter meminta ibu Sean untuk berbincang di luar ruangan rawat Neysa, setelah selesai memeriksa.


"Bagaimana?.", tanya ibu Sean, saat dokter baru saja menutup pintu ruang rawat cucunya. dokter Jeno nampak menghela nafas, lalu berjalan mendekat.


"Untuk saat ini, keadaannya masih cukup baik, nyonya.",


"Hanya saja, secepatnya kita harus segera menemukan pendonor tulang sumsum untuk nona.", ujarnya. ibu Sean menghela nafas, mendengar penuturan dokter Jeno.


"Kita, tidak banyak memiliki waktu.",


"Keselamatan nona, bertaruh dengan waktu yang terus bergulir.",


"Untuk saat ini, keadaannya stabil dan tidak menunjukkan penurunan. tapi, kita harus tetap siaga.", jelasnya.

__ADS_1


"Aku mengerti.", jawab ibu Sean. dokter Jeno mengangguk, lalu undur diri menuju ruangan nya.


Suami juga besannya telah membuka sayembara bagi siapa saja yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang untuk cucunya, ia akan mendapatkan hadiah yang sepadan. memang banyak yang menghubungi mereka dan bersedia mendonorkan sumsum tulangnya, tapi belum ada yang mendekati dan cocok dengan sumsum tulang Neysa.


Wanita itu nampak duduk di kursi ruang tunggu. ia tidak tahu harus berbuat apa untuk kesembuhan cucunya. jadi, ia hanya bisa menenangkan diri dan pikirannya terlebih dahulu, dari pada masuk menemani cucunya, dan bersedih di depan Neysa.


Dokter Jeno, membuka laptop nya. ia menerima notif pesan email. ya, itu pesan dari dokter yang pernah menangani Cellya di Singapore, sebelum akhirnya di pindah ke sini.


Ia membuka file yang dikirimkan. matanya terbelalak membaca file rekam medis milik Sean. berulang kali, ia nampak menaik-turunkan kursor dan membaca file itu berulang, untuk memastikan.


Dokter Jeno tersenyum sumringah. ia menekan telpon kantor, untuk menghubungi asistennya.


"Segera ke ruangan ku.", ucapnya, begitu panggilan telepon itu tersambung.


"Tok...",


"Tok...",


Asisten dokter Jeno mengetuk pintu sebelum masuk.


"Ada yang perlu di bantu, dok?.", tanyanya, setelah masuk dan berdiri di samping dokter.


"Sebentar, aku sedang menyalin file.", ujar dokter Jeno. ia nampak serius melihat layar laptop, yang memunculkan berapa persen, file yang sudah masuk dalam flashdisk nya.


Setelah benar 100% masuk. dokter Jeno, segera mencabut flashdisk dari laptop nya.


"Tolong, cetak file yang baru saja aku salin.", pintanya, sembari menyerahkan flashdisk kepada asistennya.


"Baik, dok.", jawabnya, tanpa banyak tanya. perawat itu segera pamit keluar untuk melakukan tugasnya.


Sementara di Singapore....


"Tuan, tuan Saleh bersedia membahas kerjasama dengan anda malam ini.", ucap manager Sean, sesaat setelah mereka menyelesaikan pertemuan dengan klien.


"Bagus.", ucapnya, sembari terus berjalan menuju mobilnya. Sean duduk di kursi penumpang, dan manager segera menutup pintunya. ia beralih ke sisi depan untuk duduk di kursi kemudi dan bersiap melajukan kendaraannya.


"Langsung ke new town food center.", ujar Sean, yang di angguki oleh manager nya. ini adalah pertemuan ke empat dalam sehari ini. meskipun awalnya, para klien, investor dan beberapa pemegang saham merasa aneh, tapi pada akhirnya mereka menerima dan menyetujui Sean, untuk mempercepat bisnis serta kerjasama antara mereka.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2