Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 92


__ADS_3

Sean sudah berada dalam jet pribadinya. ia memilih untuk beristirahat selama perjalanan, mengingat ia kurang jam tidur belakangan ini.


"Oma, aku sudah menitipkan surat pada dokter, untuk diberikan pada pendonornya besok.", ujar Neysa, ibu Cellya mengangguk.


"Tentu.",


"Sekarang, Ney harus banyak istirahat. agar badan Ney, siap untuk operasi lusa.", ucap Omanya. gadis kecil itu tersenyum.


"Oma, jika operasi ini gagal. tolong, berikan ini pada ayah.", pesannya, sembari memberikan sepucuk surat yang sudah ia tulis untuk ayahnya. ibu Cellya kaget mendengar penuturan cucunya. kenapa ia sampai berpikir demikian?!.


"Kenapa Ney berpikir seperti itu?!.", tanya Omanya. gadis itu menggeleng pelan.


"Oma, hidup mati orang tidak ada yang tahu.",


"Momy dulu juga sehat - sehat saja. momy dan ayah hidup bahagia. tapi tiba-tiba momy sakit dan semakin memburuk.",


"Ney, hanya ingin minta maaf pada ayah.", ujarnya. ibu Cellya merasakan dadanya sesak, mendengar penuturan cucunya. dia selalu bersikap dewasa di setiap keadaan.


"Tapi, jika Ney sembuh, dan operasi ini berhasil. bolehkah Ney ikut kemana pun ayah pergi?.", tanyanya. ia masih berusaha menghibur Omanya, dengan pengandaiannya.


"Boleh.", jawab Oma, mengangguk mengiyakan permintaan Neysa.


"Kalau Ney, sembuh. Ney, mau minta apapun, Oma akan kabulkan.", ucap ibu Cellya, suaranya terdengar parau karena menahan tangis dan lara di dada yang mencekat tenggorokannya. Neysa, tersenyum.


"Tapi apakah nenek akan setuju?.", tanyanya. Oma mengangguk.


"Nenek, akan setuju. Oma yang akan membuatnya setuju.", ujar ibu Cellya, memastikan. Neysa, tersenyum manis.


"Terimakasih, Oma.",


"Sekarang, Ney ingin istirahat.", ucapnya. ibu Cellya mengangguk. ia membenarkan selimut Neysa dan kembali duduk di samping ranjang cucunya. ia tidak ingin melewatkan satu momen pun bersama cucunya, saat ini.


Tangan ibu Cellya terulur, mengusap kening hingga surai hitam milik Neysa. sungguh, Neysa adalah gambaran mendiang putrinya. hanya saja, ia lebih mirip ke ayahnya.


Tidak berselang lama, gadis itu nampak pulas tertidur. ibu Cellya, menatapnya sendu. ia tidak ingin kehilangan untuk kesekian kalinya. ia tidak ingin kembali merasakan sakitnya kehilangan. ia menatap cucunya penuh cinta. berharap, semua akan baik-baik saja. ia yakin, badai ini bisa terlewati bersama.

__ADS_1


Sean sudah nampak di bandara. ia hanya membawa tas kecil untuk tempat menyimpan dompet dan ponselnya.


"Tuan.", sapa John, yang baru saja menghampiri majikannya. ia nampak membungkuk hormat.


Ya, John bertugas menjemput majikannya kali ini. ia segera mendampingi Sean untuk berjalan ke mobil mereka.


Setelah Sean naik, John segera mengemudikan mobil itu. tujuannya adalah rumah sakit, begitu pulang dari Singapore.


Mengemudi selama kurang lebih satu setengah jam, dan sempat membuat Sean tertidur lagi di kursi kemudi. akhirnya, sekarang mereka sampai di depan sebuah rumah sakit.


Sean nampak memakai topi, kacamata dan masker sebelum turun, begitu juga dengan John. mereka memakai pakaian casual dan lebih santai agar tidak ada yang mengenali. Sean ada janji dengan seorang dokter dirumah sakit, dan ia harus segera menemuinya segera setelah pesawat mendarat


Mereka berjalan beriringan memasuki rumah sakit, dan segera mencari dokter yang akan melakukan pemeriksaan untuk persiapan operasinya, besok.


"Tok...",


"Tok...",


Seorang perawat mengetuk pintu ruang tempat dokter bekerja. "Masuk.", sahut dari dalam. saat pintu terbuka, nampak perawat itu mengantarkan dua orang yang tidak lain adalah Sean dan John.


"Hasil medical check up, akan keluar beberapa jam lagi.",


"Setelah keluar, saya akan segera menghubungi tuan.", ucap dokter, Sean mengangguk.


"Terimakasih, untuk kerja kerasnya.", ujar Sean, sembari menjabat tangan dokter, senang. ia kembali memakai masker dan topi nya lagi, begitu juga dengan John.


Setelahnya, mereka pamit. dokter mengantar sampai depan pintu ruangannya. ibu Cellya, hendak menemui dokter Jeno dan matanya menangkap dua orang yang tidak asing. Sean segera menurunkan topinya, agar tidak membuat orang-orang curiga dan mengenalinya. ia menunduk dan berjalan berlalu begitu saja. tapi, mata ibu Cellya masih mengikutinya.


"Nyonya.", panggil dokter Jeno, yang baru saja membuka pintu. ia ingin keluar untuk mengecek kondisi Neysa.


"Nyonya.", panggilnya lagi, lebih keras. membuat ibu Cellya sedikit terkejut dan mengalihkan pandangannya.


"Ada yang bisa saya bantu?.", tanya dokter.


"Oh, ya.", jawab ibu Cellya. sesekali ia masih melihat dua orang yang lewat berpapasan dengannya tadi. ia benar-benar merasa mengenal body kedua orang itu.

__ADS_1


"Apa yang bisa saya bantu?.", tanyanya. ibu Cellya mengeluarkan surat dari Neysa untuk pendonornya, dan menyerahkan pada dokter Jeno.


"Karena kami tidak tahu siapa pendonornya. dan dia juga tidak meminta imbalan apapun. jadi, cucuku menulis ini sebagai balasan dan ungkapan rasa terimakasih kami pada orang itu.",


"Bisakah dokter memberikannya?.", tanya ibu Cellya. dokter Jeno melihat surat itu dan menerimanya.


"Baik, nyonya. akan saya sampaikan.", ujarnya. ibu Cellya mengangguk dan tersenyum.


"Oh, ya.",


"Dokter, siapa orang yang baru saja keluar dari ruangan ini?.", tanya ibu Cellya. dokter Jeno menyimpan surat di sakunya.


"Orang?. orang mana?!.", tanya dokter Jeno.


"Dua orang pria, memakai jaket, baju, celana dan topi hitam. mereka dari sini, kan?!.", tanya ibu Cellya. ya, bagaimana tidak yakin?!. sementara ruang dokter berada paling ujung, dan yang berada di lorong ini hanya ruang dokter Jeno. sedang di lorong sebelahnya, ada dua ruang kerja dokter. itupun dokter spesialis jantung dan dokter spesialis paru.


"Oh, itu?!.", tanya dokter Jeno. ia berusaha mencairkan suasana, agar ibu Cellya tidak berpikir jauh.


"Mereka adalah kedu sahabat saya, yang datang mengunjungi saya di tempat kerja.", ucapnya, tersenyum. ibu Cellya terdiam. ia nampak berpikir.


"Selarut ini?.", tanyanya, tidak percaya. dokter Jeno sedikit terkejut. hah, dia memilih alasan yang keliru. ya, tentu saja ibu Cellya curiga. ini sudah lewat jam sebelas malam, dan ada teman yang datang untuk menemui dokter?!.


Sementara ibu Cellya sendiri sedang tidak bisa tidur karena, kepikiran ucapan cucunya, tadi.


"Iya, dia baru saja pulang dari luar negeri dan menyempatkan diri untuk melakukan swab test. setelahnya, ia mampir ke ruangan kerjaku untuk menemui ku.", jelasnya, dengan senyum canggung.


"Oh.", jawab ibu Cellya. ia melihat lorong yang sunyi, sekilas.


"Baiklah. kalau begitu, aku permisi dulu.", ucap ibu Cellya, dokter Jeno, mengangguk.


Ibu Cellya mulai berjalan menyusuri lorong. pikirannya masih merasa aneh dengan kedua orang asing yang ia temui tadi. ia benar-benar seperti mengenal kedua pria itu.


Sean sendiri harus segera melakukan medical check up, untuk memastikan tubuhnya siap melakukan operasi besar esok. karena waktu kedatangan sudah sangat mepet, maka John mengatur jadwal untuk bertemu dengan dokter malam ini juga. untungnya, dokter Jeno lembur di rumah sakit malam ini, untuk persiapan operasi Neysa, besok.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2