
Sean menerima pesan di ponselnya dari dokter yang menanganinya di Singapore.
"Semua sudah siap, dan akan dilakukan pada esok lusa.", begitu bunyi pesan yang masuk ke ponsel Sean.
"Ok.", balasnya. ia lantas segera memasukkan ponselnya dalam saku, dan keluar dari apartemennya. pria itu berjalan menyusuri lorong dan berhenti di depan sebuah lift. ia menunggu lift terbuka untuk turun ke lobi.
"Selamat pagi, tuan.", sapa manager yang menjemputnya pagi ini. Sean mengangguk, dan segera memasuki mobil.
"Kita langsung pergi ke perusahaan, tuan Charles.",
"Aku sudah membuat janji dengannya, pagi ini.", ujar Sean, saat mobil mulai berjalan meninggalkan apartemen mewahnya.
"Baik, tuan.", jawab manager. ia nampak sibuk, membuka laptop dan mengecek ulang semua file yang akan ia tawarkan pada tuan Charles. ya, Sean harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar, agar ia tidak menyusahkan managernya, nanti saat ia pulang dan memilih cuti.
"Pagi, Oma.", sapa gadis kecil yang masih terbaring di ranjangnya. membuat ibu Cellya yang sedang duduk di kursi samping ranjang tersenyum.
"Selamat pagi, sayang.", ujar ibu Cellya, sumringah.
"Nenek belum datang?.", tanyanya.
"Nenek, sudah datang. tapi, tadi bilang mau pergi ke kantin sebentar.", jawab Oma nya. Neysa tersenyum tipis. sesaat wajah pucat dan bibir keringnya tidak terlihat, ia seperti anak yang sehat.
"Bagaimana keadaan, Ney?!. apa merasa lebih baik?.", tanya Omanya. Neysa hanya tersenyum. ibu Cellya mengusap surai hitam cucunya.
"Sebentar lagi, Ney akan segera sembuh.", bisik Omanya. Neysa, hanya tersenyum menanggapi ucapan Omanya.
"Ada orang baik, yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk, Ney.", ujar Omanya. Neysa menatap wajah Omanya, yang nampak terlihat lebih cerah hari ini. mungkin, karena berita baik ini.
"Siapa orang itu, Oma?.", tanyanya, lirih. Omanya, menggeleng.
"Oma, tidak tahu.",
"Orang itu, tidak ingin diketahui identitasnya oleh kita.", jawab Oma.
"Lalu, bagaimana kita akan berterima kasih dan memberi imbalan sebagai hadiah, karena dia memiliki hati yang baik?!.", tanya Neysa.
"Dokter Jeno bilang, dokter yang akan menyampaikannya.", jawab Omanya. Neysa tersenyum dan mengangguk pelan.
"Oma, bisa berikan aku pensil dan buku?.", tanyanya, sesaat kemudian setelah diam.
"Untuk apa?.", tanya Oma.
__ADS_1
"Aku ingin menulis, ucapan terimakasih untuk orang yang baik dan bersedia menolongku.", jawabnya. lagi-lagi, di saat sakit pun, gadis kecilnya selalu bersikap dewasa.
"Sebentar.", jawab Oma.
Ibu Cellya berdiri dari duduknya, ke sofa untuk mengambil buku dan bolpoin dari tas nya. ia lantas, segera kembali dan duduk di samping ranjang Neysa, setelah memberikan buku dan bolpoin itu. Neysa menerimanya dengan senang.
Ia lantas, mulai menulis pesan dan surat pada pendonor yang baik hati itu.
Pintu terbuka, nampak ibu Sean masuk sudah lengkap dengan pakaian medis sterilnya. ibu Cellya, menoleh. nampak ibu Sean, berjalan ke sofa untuk meletakkan tasnya.
"Sayang, karena nenek sudah disini. Oma, harus segera pergi ke kantor untuk bekerja. tidak apa-apa, kan?.", tanya Oma. membuat gadis itu mengangguk. ia nampak berdiri dan mengecup puncak kepala cucunya.
"Oma, akan segera kembali begitu pekerjaan Oma selesai.", janjinya. membuat Neysa tersenyum.
"Bye, Oma.", ucapnya, sembari melambaikan tangannya pelan. dan di balas oleh Omanya.
Ibu Cellya segera mengambil tas nya di sofa dan berpamitan pada besannya.
......................
"Tuan, kita ada rapat pemegang saham hari ini.", ucap manager, mengingatkan. saat mereka menyelesaikan pertemuan dengan tuan Charles.
Ini adalah hari terakhir, ia menghandle semua kontrak kerja sama dan pertemuan dengan relasi perusahaan. ya, malam ini ia harus terbang kembali ke negaranya karena ada satu hal yang mendesak.
"Tuan, mau sarapan dulu?.", tawar manager.
"Belikan saja. aku, akan memakannya di kantor.", jawab Sean, tanpa menoleh pada manager.
Untuk sesaat mobil berhenti di depan sebuah resto ternama. manager memesan makanan sehat untuk Sean dan dirinya sendiri.
Setelah pesanan jadi, manager segera membayarnya dan pergi dari resto itu. mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor. tidak banyak yang mereka bicarakan, karena Sean fokus dengan laptopnya dan manager fokus menyetir.
Tak berapa lama mereka sampai di depan perusahaan Sean. manager segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Sean. Sean segera keluar dengan membawa laptopnya. ia berjalan lebih dulu, di ikuti manager di belakangnya.
"Tuan, sarapannya?!.", tanya manager.
"Bawa ke ruanganku. kita akan sarapan bersama.", ujarnya. mereka berjalan, menaiki lift dan akhirnya sampai di depan ruang kerja Sean. mereka segera masuk dan duduk di sofa. manager pun duduk setelah Sean mempersilahkannya.
Manager nampak repot menyiapkan sarapan mereka di meja.
"Sarapannya sudah siap, tuan.", ujar manager.
__ADS_1
"Baik.", ucapnya, lalu menutup laptop dan meletakkan beberapa berkas di sofa.
"Mari makan bersama.", ajak Sean. manager mengiyakan dan segera menikmati sarapan bersama.
Seharian ini, Sean bekerja di kantor bersama manager. ya, manager lah yang akan menghandle semua pekerjaan saat Sean pergi nanti. untuk itu, Sean mengajaknya bekerja bersama pada hari ini, agar pria itu benar-benar menguasai semua projek yang akan dia kerjakan, nantinya.
Waktu menunjukkan pukul empat sore. semua karyawan sudah banyak yang pulang ke rumahnya masing-masing. sementara Sean dan manager masih menyelesaikan pekerjaan yang tersisa dan merapikan berkas yang tercampur itu.
Ya, ada sekitar lima hingga tujuh projek yang sedang mereka kerjakan dalam sehari ini. dan manager memisahkan berkas dan filenya masing-masing.
"Selesai, tuan.", ucap manager, sembari menumpuk berkas terakhir yang telah selesai.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. sepulang dari kantor itu juga, Sean meminta di antarkan ke bandara untuk melakukan penerbangan menuju negaranya. ia harus pulang malam ini, agar besok bisa istirahat dan mempersiapkan diri.
Sean segera masuk ke bandara setelah mobilnya berhenti di bandara.
"Terimakasih, manager.", ucapnya. ia membungkuk hormat pada manager, sebagai ucapan terimakasih atas semua bantuannya dan kerja kerasnya selama beberapa hari ini. juga, terimakasih karena mau mengantarkannya ke bandara sepulang bekerja. pasti, manager merasa lelah. manager membungkuk hormat juga, membalas Sean.
"Mau makan malam bersama, dulu?.", tawar Sean.
"Tidak, tuan. itu merepotkan, tuan.", ujarnya.
"Tidak apa. sembari menunggu pesawatku siap.", ajak Sean. yang akhirnya, membuat manager menyetujuinya.
Mereka pergi untuk makan sebentar sebelum Sean naik pesawat.
"Tolong, handle perusahaan sebaik mungkin selama aku pergi.", pesan Sean.
"Aku sangat berharap padamu, manager.", sambungnya. manager meletakkan sendok, setelah menghabiskan makanannya.
"Suatu kehormatan menjadi orang kepercayaan anda dan tuan besar, tuan.", ucapnya. Sean tersenyum dan mengangguk.
"Sekali lagi, terimakasih.",
"Aku akan membalasnya dengan banyak hal baik, saat aku kembali.", ujar Sean.
"Anda tidak perlu berucap seperti itu. ini, adalah tugas dan kewajibanku, tuan.", ucapnya, sembari menunduk hormat.
"Terimakasih.", ucap Sean sekali lagi, sembari menepuk pundak manager, dengan bangga.
...----------------...
__ADS_1