
Neysa di bawa ke ICU untuk penanganan lebih lanjut. sementara ini, dokter belum bisa mengatakan apapun karena hasil lab belum juga keluar.
Oma dan neneknya serta kakeknya masih menunggu di depan ruang ICU, mereka belum di izinkan masuk sejak dokter mengambil tindakan.
"John, kau pergilah ke kantor dan bantu Alex.",
"Sepertinya, aku tidak akan ke kantor hari ini.", perintah ayah Sean, di sela kalut dan khawatir pada cucunya. John mengangguk paham. ia membungkuk hormat dan segera pergi dari rumah sakit untuk melaksanakan perintah tuan besarnya.
Ibu Cellya terdengar beberapa kali menghela nafas dalam. pikiran dan hatinya benar-benar tidak tenang.
"Asisten Han, tolong tangani semua pekerjaan di kantor hari ini.",
"Aku akan tetap disini, sampai cucuku bangun dan sehat lagi.", ujarnya. asisten Han yang paham dengan keadaan yang ada, mengangguk. ia lantas membungkuk hormat dan meninggalkan rumah sakit juga.
Ketiga orang itu, sama-sama menunggu kabar baik dari ruang ICU. mereka sering menoleh ke pintu kamar yang menyembunyikan Neysa di balik nya. berharap pintu itu lekas terbuka, sehingga mereka bisa segera melihat dan mengetahui kondisi cucunya.
"Kenapa lama sekali?.", gumam ibu Sean, sembari menatap pintu kokoh itu. kekhawatiran nya semakin jelas, karena dokter dan perawat belum ada yang keluar, sejak kurang lebih setengah jam yang lalu.
Ibu Cellya menghela nafas. berusaha menguatkan hati nya. ia mengambil duduk lebih dekat dengan besan nya. perlahan tangan nya terulur meraih kedua pundak besannya dan mengusapnya pelan, untuk memberi rasa tenang. ibu Sean melihat sekilas besannya yang duduk di sampingnya. ibu Cellya mengangguk pelan, seolah mengatakan bahwa, semua akan baik-baik saja.
Pintu terbuka, semua segera berdiri menyambut dokter. ya, mereka menuntut penjelasan apa yang terjadi pada Neysa.
Belum sempat mereka bertanya, seorang suster datang dengan membawa berkas hasil lab Neysa. dokter membacanya dengan seksama. ia ragu ingin mengatakan apa yang terjadi pada Neysa. ya, ia pernah gagal menyelamatkan nyawa Cellya, akankah ia bisa menyelamatkan nyawa putrinya?!. mengingat ini adalah penyakit yang hampir sama.
"Bagaimana?.", tanya ibu Sean. dokter Jeno, menghela nafas. ia memberi isyarat, mengajak kedua nenek serta kakek Neysa ke ruang kerjanya.
"Sebelumnya, saya minta maaf.", ucap dokter Jeno, setelah mereka semua sudah berada di ruang kerja dokter muda itu, dan dokter Jeno, baru saja duduk.
"Apa yang terjadi?!. katakan!, jangan berbelit.",
__ADS_1
"Kita lebih cepat mengatasinya, jika terbuka dan tidak membuang-buang waktu.", ujar ayah Sean. dokter Jeno, nampak menatap ibu Cellya dan ibu Sean bergantian. ia beberapa kali menghela nafas sebelum yakin untuk mengatakan keadaan Neysa.
"Dari hasil pemeriksaan, nona muda menderita leukimia.", ucapnya. lidahnya terasa kelu mengucapkan hal itu. ibu Cellya terdiam tanpa kata mendengar nya. sejenak rasa kaget membuat nya tidak bisa berkata dan mencerna keadaan yang ada. begitupun, dengan ibu Sean.
Ayah Sean nampak menghela nafas. rasanya, dunia runtuh begitu saja baginya. ia sedikit merasa sesak, sebelum bisa menguasai emosinya.
Ya, masing-masing dari mereka berusaha sadar dan kuat untuk Neysa.
"Apakah bisa sembuh?.", tanya ibu Cellya, lirih. raut wajahnya tak terbaca. entah sedih, hancur atau apa?!, sungguh ekspresi datar yang menyimpan sejuta luka.
"Iya, katakan!. apa bisa sembuh?.", tanya ibu Sean, menyahut.
......................
"Kami akan berusaha sebaik mungkin.", jawab dokter Jeno. membuat ibu Sean yang menatap penuh harap pada dokter itu, menunduk lesu. dia ingat betul, dulu dokter juga berkata seperti itu, tapi hasilnya??. menantunya pergi begitu saja, meninggalkan luka bagi semuanya, terutama bagi putra dan cucunya.
"Tindakan apa yang perlu kita lakukan?.", tanya ayah Sean, setelah merasa cukup tenang.
"Lakukan apapun, untuk menyelamatkan cucuku.",
"Saat ini, kami hanya bisa memohon bantuan mu.",
"Tolong selamatkan cucu kami.", ucap ayah Sean, sembari menyatukan kedua telapak tangannya, memohon pada dokter Jeno. dokter Jeno yang melihat hal itu, merasa trenyuh dan terharu.
Pria itu segera berdiri dari duduknya, dan mendekat pada ayah Sean.
"Saya, akan berusaha semaksimal mungkin, tuan.", ucapnya, sembari menurunkan tangan ayah Sean, yang memohon padanya. pria tua itu nampak terharu dan sedikit lega.
Hari berlalu begitu saja, sudah dua hari Neysa di rawat di ruangan intensif. ia belum juga sadarkan diri, membuat Oma dan neneknya setia menunggunya bergantian. dan mereka tidak di perbolehkan masuk tanpa pakaian steril, demi terjaganya kondisi stabil pasien.
__ADS_1
Nenek dan Oma nya, sering mengajaknya bercerita walau gadis itu tidak merespon. begitu juga dengan kakeknya, saat datang.
Hari ini, dokter Jeno memanggil Oma Neysa yang kebetulan sedang menjaga cucunya, untuk berbincang di ruangan nya.
"Sebelumnya saya minta maaf, nyonya.",
"Berita ini, mungkin akan sedikit membuat nyonya kecewa.", ucap dokter Jeno, mengawali obrolan mereka. ibu Cellya, masih terus menyimak dan berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh dokter.
"Leukimia atau kanker darah yang di indap nona muda, adalah jenis leukimia akut.",
"Leukemia akut adalah Suatu jenis kanker darah dan sumsum tulang dengan sel-sel darah putih yang belum matang dalam jumlah berlebihan. AML berlangsung cepat, dengan sel mieloid mengganggu produksi sel-sel normal darah putih, sel darah merah, dan platelet.",
" Untuk jenis kanker yang di alami nona, kita bisa menggunakan tiga metode pengobatan.",
"Kemoterapi, radiologi atau pencangkokan sumsum tulang belakang.", jelas dokter Jeno. ibu Cellya masih menyimak semua ucapan dokter Jeno.
"Tok....",
"Tok....", pintu terbuka. nampak, ibu Sean membuka pintu dengan nafasnya yang memburu dan wajah penuh kekhawatiran. ya, saat perawat mengatakan bahwa, dokter Jeno ingin bertemu dengan wali dari cucunya, ibu Cellya juga menelpon besannya.
Bukan tanpa alasan, ia melakukan itu karena ia tahu bahwa besannya begitu menyayangi cucunya. dan lagi, ibu Sean sudah berpesan untuk mengabarkan apapun yang berhubungan dengan Neysa.
"Maaf.", ucapnya dari balik pintu. ibu Sean segera masuk, menutup pintu dan ikut duduk di samping ibu Cellya. tidak lama kemudian, terdengar pintu di ketuk lagi. kali ini, nampak ayah Sean yang masuk dan ikut duduk bersama mereka.
"Semua sudah datang. tolong jelaskan lebih detail, agar kami bisa lebih paham dengan kondisi cucu kami.", ucap ibu Cellya, yang di angguki ibu Sean.
"Baik. saya ulangi, untuk jenis leukimia yang di derita nona. kita bisa menggunakan tiga metode pengobatan. yaitu, kemoterapi, radiologi atau pencangkokan sumsum tulang belakang.", ucapnya mengulang ucapan nya kembali.
"Tapi, karena kondisi nona yang belum sadarkan diri sampai saat ini. kemoterapi, tidak bisa di lakukan.", ujar dokter, membuat wajah mereka lesu dan kecewa seketika.
__ADS_1
...----------------...