Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 23


__ADS_3

Sean terkejut mendengarnya, ia hampir tak percaya.


"Can you check again?.", tanya Sean. pegawai itu tersenyum ramah dan mengecek komputer nya lagi.


Ia bahkan mempersilahkan Sean melihat layar komputer setelah nya.


Sean melihat layar itu. ia men scroll ke atas dan ke bawah. benar, tidak ada nama istrinya di sana.


"Thank you.", ucapnya lemah. ia memundurkan langkahnya. Hans yang melihat hal itu segera membantu nya mencapai tempat duduk, agar Sean bisa sedikit lebih tenang.


Berulang kali, Sean mengatur nafasnya. ia tidak bisa membiarkan serangan panik menguasainya saat ini. apalagi setelah melihat rekaman CCTV di bandara tadi.


Ia khawatir, istrinya sedang berada di tempat yang tidak aman sekarang. atau, dia mungkin sedang kesakitan. jadi, Sean harus bisa menjaga dirinya, agar ia juga bisa segera menemukan istrinya.


"Are you, ok?!.", tanya seorang pegawai sembari mengulurkan sebotol minuman pada Sean.


"Thank you.", ucap Hans, mewakili sepupunya.


Hans segera meraih botol itu. ia nampak membuka segel dan penutup sebelum memberikan pada Sean.


"Minumlah dulu, agar kau sedikit tenang.", ucap Hans, menyodorkan air minum dalam kemasan itu. Sean mengambil nya, lalu meneguk perlahan. ia nampak menyandarkan kepalanya setelah selesai minum, dan memberikan botol itu pada Hans.


"Lebih baik, kita pulang dulu. Kau butuh istirahat sekarang.", "Kita bisa mencari nya lagi besok.", bujuk Hans. Sean masih terdiam di tempatnya.


"Untuk menemukan nya, kau harus terus sehat dan kuat.",


"Jadi, jangan biarkan hasil awal pencarian ini mempengaruhi mu.", lanjutnya.


Sean menghela nafas berat, ia mengangguk paham. ia mengerti ke khawatiran Hans. ia sendiri, juga tidak ingin sakit ataupun down saat ini.


Ya, bagaimana ia bisa melanjutkan mencari istrinya, jika ia sendiri tidak bisa menjaga dirinya.


Hans mengajak Sean kembali ke apartemennya, setelah pria itu sedikit tenang.


Sepanjang perjalanan, Sean hanya diam. sementara Hans duduk di belakang kemudi.


Setelah beberapa jam akhirnya, mereka sampai di apartemen. Hans segera mengantar Sean sampai apartemen nya.


"Selamat datang, tuan.", ucap John, saat melihat membuka kan pintu untuk mereka.


Sean masuk dan berlalu begitu saja. ia terus berjalan dan masuk ke kamar nya.


"Awasi dan jaga tuanmu.",


"Terus terang aku khawatir, karena emosinya tidak stabil malam ini.", pesan Hans, pada John. ketika asisten pribadi menatap kepergian Sean, yang berlalu begitu saja.

__ADS_1


Hans menceritakan pencarian mereka malam ini, yang mana hasil akhir nya membuat Sean kecewa seketika.


"Terimakasih, tuan.", ucap John, setelah mendengar penjelasan Hans.


"Tuan, mau masuk dulu?!.", tawar John.


"Biar saya, buat kan minuman.", imbuhnya.


"Tidak. terimakasih, aku ada jadwal penerbangan tiga jam lagi.", jawab Hans.


"Jaga dan awasi dia dengan baik. aku khawatir pada mental nya.", pesan Hans sebelum beranjak pergi. dan John, mengangguk kuat, meyakinkan sepupu majikan nya bahwa, Sean akan aman saja dalam pengawasan nya.


John segera menutup pintu apartemen setelah Hans pergi. ia berjalan menuju kamar tidur Sean.


Di sana, ia melihat Sean yang masih diam, duduk dan mematung.


"Ada perintah, tuan?!.", tanyanya, mendekat. ia berdiri di tengah pintu kamar Sean yang terbuka.


Sean menghela nafas. melihat asisten kepercayaan nya sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, sebelum menatap John kembali.


"Cellya masih disini.", ucap Sean pelan, sembari menunduk. John diam dan hanya mendengarkan ucapan Sean berikut nya.


"Mulai besok. semua pekerjaan disini, kau yang urus.",


"Mengerti, tuan.", jawab John.


......................


Pagi datang. John sudah rapi dan menyiapkan semua kebutuhan tuannya.


Ia membuat kan kopi dan sandwich untuk mereka sarapan pagi.


Sean baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar nya. ia segera duduk di kursi, bersama John untuk sarapan.


"Menurut mu, apa aku harus ke rumah sakit semalam?!.", tanya Sean, membuka percakapan di sela-sela aktivitas sarapan mereka.


John meletakkan cangkir kopinya di meja setelah meminumnya. ia mengangguk.


"Jika menurut perkiraan ku benar. berarti, nona di bawa ke rumah sakit tanpa identitas. atau, bisa juga memakai identitas orang lain.",


"Dalam artian, orang yang membawa nona lah. yang memberikan identitas baru, atau nama baru sebagai penanggung jawab atas nona, selama di rawat di rumah sakit itu.",


"Karena menurut cerita, tuan. nona kehilangan tas nya bukan?!.",


"Tentu saja, saat tuan bertanya pada mereka dengan menyebut nama nona, itu tidak ada dalam daftar pasien.", ucap John, membuat Sean terdiam dan mendengarkan dengan seksama.

__ADS_1


"Benar.", gumam Sean.


"Berarti, mungkin kita bisa menunjukkan foto Cellya pada mereka. sedikit banyak, mereka pasti tahu.", ucap Sean.


"Benar, tuan.", sahut John.


Nampak Sean tersenyum senang. harapannya kembali muncul. ia juga nampak lebih bersemangat hari ini.


Selesai sarapan, mereka segera berangkat ke kantor. ya, Sean harus ke kantor lebih dulu. menyapa para karyawan, dan menyerahkan semua urusan pada John, sebagai wakil nya kini.


Ia ingin fokus mencari istrinya. itu sebabnya, dia menyerahkan semua pekerjaan kantor pada asisten kepercayaan nya.


Mereka sampai di depan sebuah gedung perkantoran. John segera turun dan membukakan pintu untuk Sean.


Setelah nya, Sean segera berjalan memasuki gedung di ikuti oleh John.


Semua karyawan sudah berdiri rapi menyambut di kanan-kiri pintu.


"Welcome, sir.", sapa manager yang berjalan ke arah Sean. ia kemudian menjabat tangan Sean dan tersenyum ramah.


"Nice to meet you.", ucapnya. ia pun beralih menjabat tangan John juga.


"Aku sedikit terkejut. aku pikir, tuan besar akan mengirim Alex kesini. ternyata, bukan Alex melainkan putra terhebat nya.", ucap manager yang memang berasal dari negara yang sama dengan nya. Sean tersenyum.


Mereka nampak berjalan beriringan, melewati semua karyawan yang menyabut mereka.


Sembari berbincang, manager itu terus mengajak Sean dan John untuk berkeliling kantor sebelum akhirnya, mengantar Sean menuju ruang kerjanya.


Manager membukakan pintu ruang kerja Sean, dan mempersilahkan Sean beserta asisten nya masuk. mereka duduk di sofa yang berada di ruangan itu, sembari masih mengobrol.


"Untuk beberapa hari ini, aku mempercayakan semua pekerjaan pada asisten ku.",


"Aku ada hal yang lebih penting untuk di urus.",


"Jadi, kalian bisa saling berkomunikasi, tukar pikiran dalam mengerjakan semua projek.",


"Aku sangat mempercayai John. dan kau bisa melakukan hal yang sama.", ucap Sean. manager itu tersenyum.


"Senang bekerja dengan orang yang perfeksionis seperti anda, tuan.", ucapnya pada John, sembari mengulurkan tangannya.


"Saya pun merasa terhormat bisa bekerja dengan orang hebat seperti anda.", ucap John, menyambut tangan manager itu, dan mereka pun berjabat tangan.


Sean merasa sedikit tenang meninggalkan asisten kepercayaan nya mengambil alih tugasnya sementara. dengan begini, ia juga bisa dengan tenang mencari keberadaan istrinya.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2