
Sean baru pulang ke apartemennya sekitar pukul sebelas malam. ya, setelah membahas kerjasama dengan tuan Saleh, untuk merayakannya mereka menikmati makan malam bersama dan sedikit minum. namun, Sean tidak ikut minum dan mengutarakan alasannya. untungnya, tuan Saleh paham dan mengerti alasannya, untuk tidak minum. jadi, Sean hanya menemani tuan Saleh sampai selesai.
Pria itu melepaskan jas nya dan meletakkannya di kursi. selanjutnya, ia melepas satu persatu kancing bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Rasa lelahnya, ikut mengalir dengan kucuran air shower yang membasahi tubuhnya. ia memejamkan matanya, dan menengadah ke guyuran shower. merasakan rileks dengan aliran air hangat yang terus membasahi tubuhnya.
Hmm, ia harus segera menyelesaikan mandi, sehingga bisa cepat beristirahat. ya, esok masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum ia meminta cuti dan tidak pergi ke kantor, sama sekali pada ayahnya.
Sean keluar dari kamar mandi, ia hanya memakai handuk kimono. pria itu lantas duduk di meja kerjanya, dan membuka laptopnya. ada beberapa berkas yang harus ia kerjakan dan cek ulang untuk pertemuan dengan beberapa relasi dan klien besok.
Pukul satu lewat, Sean nampak sudah lelah dan mengantuk. pada akhirnya, pria itu memutuskan untuk segera tidur. ia beralih ke ranjangnya dan hanya dalam hitungan detik, pria itu sudah tertidur dengan memeluk boneka gajah berwarna putih milik mendiang istrinya.
Sinar matahari mulai menampakkan diri. membuat tanaman dan bunga di sekitar rumah sakit terlihat lebih segar dan indah.
Dokter Jeno nampak sumringah setelah membaca laporan yang di cetak dan di serahkan oleh asistennya pagi ini.
"Tolong, minta keluarga nona untuk menemui ku.", ucapnya, pada asistennya. perawat yang sudah menjadi asisten dokter Jeno, sejak ia bertugas di rumah sakit ini pun, mengangguk dan segera pergi untuk melakukan tugasnya.
Perawat membuka pintu kamar rawat Neysa. nampak ibu Cellya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya lewat laptop. ya, mereka bergantian menjaga cucunya. bila memungkinkan untuk membawa pekerjaan ke tempat rawat inap Neysa, mereka pun akan melakukannya.
"Selamat pagi, nyonya.", sapa perawat, ketika berdiri di dekat sofa, tempat ibu Cellya sedang fokus bekerja.
"Selamat pagi.", jawabnya, sembari masih mengetik keyboardnya.
"Nyonya, dokter ingin bertemu dengan anda di ruangannya.", ucap perawat. ibu Cellya melepas kacamata bacanya.
"Sekarang?.", tanya ibu Sean, memastikan. perawat mengangguk.
"Iya, nyonya.", jawabnya. ibu Cellya, melihat ke arah cucunya sekilas.
"Baik.", jawabnya.
Ia lantas segera menutup laptop dan beranjak berdiri dari duduknya. tanpa pikir panjang, ibu Cellya segera keluar dari ruang rawat Neysa menuju ruang kerja dokter. meninggalkan perawat yang tengah melakukan tugasnya, mengecek kondisi Neysa.
"Tok...",
__ADS_1
"Tok...",
Pintu di ketuk oleh ibu Cellya sebelum wanita paruh baya itu masuk, dan dipersilahkan duduk oleh dokter.
"Ada apa, dok?.", tanya ibu Cellya.
"Saya, punya berita yang sangat bagus, nyonya.", ujarnya. ibu Cellya mengerutkan keningnya, tidak paham dengan maksud dokter.
"Jadi, kami sudah menemukan pendonor tulang sumsum yang cocok dan sangat sesuai dengan nona muda.", ucapnya, dengan wajah sumringah. membuat wanita yang duduk di depannya itu menutup mulutnya seketika dengan kedua telapak tangannya.
Matanya jelas, nampak berkaca-kaca. ia tidak menyangka akan mendengar kabar baik setelah begitu banyak usaha yang mereka lakukan.
......................
"Siapa nama pendonornya?.", tanya ibu Cellya, antusias. ya, ia ingin tahu lebih banyak tentang orang baik yang rela mendonorkan sumsum tulang belakangnya, untuk Neysa.
"Maaf, nyonya. untuk nama, dia minta untuk tidak di beritahukan pada keluarga pasien.", jawab dokter Jeno. ibu Cellya nampak berpikir sejenak.
"Alamatnya?.", tanya ibu Cellya. dokter Jeno menggeleng dan tersenyum.
"Lalu, bagaimana kami bisa berterima kasih pada orang baik ini?.", tanya ibu Cellya, sedih. dokter Jeno, tersenyum.
Setelah cukup lama berbincang dan berkonsultasi dengan dokter Jeno, ibu Cellya keluar dari ruangan itu. saat ia keluar dan menutup pintu. tidak sengaja ibu Cellya berpapasan dengan besannya yang baru saja datang, untuk menggantikan dirinya menjaga Neysa.
Ia tersenyum lebar melihat besannya. ibu Cellya, langsung saja mendekat dan memeluk besan. ibu Sean yang tidak mengerti hanya diam menerima perlakuan dari besannya.
"Ada apa?!.", tanyanya heran, dan khawatir. ya, bagaimana tidak heran?!. sesaat lalu, besannya nampak senang dan berhambur memeluknya. tapi, sekarang ia mendengar sedikit isak tangis besannya dalam pelukannya.
Ibu Cellya melepaskan pelukannya. ia menghapus sisa air matanya. membuat ibu Sean semakin khawatir, kalau - kalau ada berita buruk yang di sampaikan oleh besannya. mengingat, besannya baru saja keluar dari ruangan dokter Jeno.
"Puji Tuhan. cucu kita akan segera sembuh.", ucap ibu Cellya, suaranya bergetar menahan rasa haru dan bahagia. ibu Sean mengerutkan keningnya, berusaha mencerna ucapan besannya.
"Sembuh?!.", tanyanya, ragu. ia mengulangi ucapan ibu Cellya untuk memastikan. besannya, mengangguk kuat. meyakinkan ibu Sean bahwa apa yang di dengarkan tidaklah salah.
"Iya, cucu kita akan segera sembuh.", ucap ibu Cellya, memastikan. wajahnya begitu sumringah, dan tidak bisa menutupi rasa bahagia dengan kabar baik ini.
__ADS_1
"Benarkah?!.", tanya ibu Sean, masih tidak percaya.
"Iya, dokter bilang ada yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Neysa.", jelasnya.
"Benarkah?!. oh Tuhan, mukjizatmu sungguh nyata.", ucapnya, sembari membuat tanda salib di tubuhnya. mereka berpelukan sesaat.
"Tunggu.", ucap ibu Sean sembari melepaskan pelukannya.
"Siapa pendonornya?. aku ingin bertemu.", tanya ibu Sean. ibu Cellya hanya menggeleng.
"Apa maksudnya?.", tanya ibu Sean.
"Pendonor itu tidak bersedia untuk di ketahui identitasnya, oleh kita.", ujar ibu Cellya.
"Lalu?.", ibu Sean, terus mengejar dengan pertanyaannya.
"Dokter Jeno, yang akan mengatakan rasa dan ucapan terimakasih kita, untuknya.", jelas ibu Cellya.
Ibu Sean terdiam sejenak, mendengar penuturan ibu Cellya.
"Sebentar.", ucapnya. ia meraih tangan besannya untuk duduk di kursi tunggu depan ruang rawat cucu mereka.
"Bukankah ini aneh?.", tanya ibu Sean, saat mereka sudah duduk berdua. ibu Cellya tidak mengerti maksud besannya. ia masih menatap ibu Sean, dengan wajah yang menyiratkan pertanyaan.
"Aneh, bagaimana?.", tanya ibu Cellya.
"Kita membuka sayembara online. hampir semua orang yang datang, menginginkan imbalan yang besar untuk mereka pribadi. tapi, ini?!. dia tidak ingin di ketahui identitasnya. bagaimana kita bisa memberikan imbalan pada orang ini?!.", tanya ibu Sean.
"Mungkin, orang ini tulus dan ingin membantu.", ujar ibu Cellya, setelah nampak diam dan berpikir sejenak.
"Tulus?.", ucap ibu Sean, mengulangi ucapan besannya dengan ragu.
"Apakah ada orang tulus, di jaman seperti ini?.", tanya ibu Sean.
"Aku takut ini hanya sabotase, mengingat kita punya banyak pesaing bisnis.", lanjutnya. ibu Cellya tersenyum.
__ADS_1
"Ini jelas tidak mungkin. dokter Jeno, bukan orang seperti itu.", ujar ibu Cellya, mematahkan keragu-raguan besannya.
...----------------...