Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 25


__ADS_3

Pagi menjelang. Sean baru saja membuka matanya, dan melihat John masih memegang kemudi di sampingnya.


"Apa masih lama?!.", tanya Sean.


"Sekitar dua puluh menit lagi, tuan.", jawab John.


"Kau tidak tidur dari semalam?!.", tanyanya lagi. John menggeleng.


"Kesalahan ku, tuan. kita salah jalur tadi malam.",


"Perjalanan yang harusnya, hanya di tempuh sekitar tiga jam. jadi, lebih lama.", ucap John.


"Berhentilah!. tepi kan mobilnya, biar aku yang menyetir.", perintah Sean.


"Tidak perlu, tuan. sebentar lagi kita sampai.", jawab John.


"Tepi kan!. setidaknya, kau bisa istirahat sejenak.", Sean mengulang perintah nya. membuat John, segera menepi kan mobil dan bertukar tempat duduk dengan Sean.


Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, dan mereka sudah sangat dekat dengan tempat tujuan.


Dinas sosial yang di tunjukkan oleh pihak rumah sakit berada di pinggiran kota. dan waktu untuk menempuh perjalanan kurang lebih 3-4 jam. itupun, jika tidak ada halangan di jalan.


Sean menghentikan mobilnya, di depan gerbang. ya, gerbang nya masih tertutup rapat. mungkin, karena memang mereka datang bukan pada saat jam kunjung.


Ia mematikan mesin mobil, dan membenarkan jok mobil. memutuskan menunggu di mobil sembari beristirahat, sampai pintu gerbang terbuka, dan di izinkan berkunjung.


Sean terbangun saat mendengar pagar terbuka. nampak John, sedang berbincang dengan petugas itu.


Ya, dia meminta izin dan bertanya pada security seputar dinas sosial, tempat security ini bekerja.


Sean turun dari mobil dan menghampiri security serta asisten nya.


"Morning.", sapa Sean pada keduanya. ia bersikap ramah, tentunya.


Sean mengulurkan tangan, dan security itu segera menjabat nya. sementara, John masih terus berbicara tentang alasan mereka kesini dengan bahasa campuran Inggris dan Melayu.


"Tunggu kejap!.",


"The office will come soon and help you.", ucap security itu.


"Ok. thank you!.", jawab John, mengakhiri obrolan mereka.


Ia mengajak Sean untuk masuk ke dalam mobil lagi.


"Why?!.", tanya Sean tidak mengerti.


"Kita harus menunggu petugas dan jam besuk, tuan.",


"Jam berapa mulai di izinkan membesuk?.", tanyanya lagi.


"Jam delapan.", jawab John. Sean mengangguk dan menghela nafas.

__ADS_1


"Ok.", gumamnya lirih.


"Tuan, sebaiknya kita membersihkan diri lebih dulu.", tawar John pada Sean.


Sean mengedarkan pandangannya ke sekitar. ia nampak keluar mobil dan mengamati lokasi sekitar nya.


"Kita cari hotel atau penginapan terdekat. kita bisa mandi dan ganti baju di sana, sebelum ke sini lagi.", ucap Sean sembari menunjuk sebuah motel.


John menyetujui ide sang majikan. mereka segera pergi menuju motel terdekat.


Setelah menyelesaikan pembayaran sewa, Sean dan John segera masuk dalam motel yang mereka sewa.


Bukan untuk istirahat atau tinggal di sana sejenak. tapi, hanya untuk membersihkan diri dan berganti baju. setelah nya, mereka akan segera pergi kembali ke dinas sosial itu lagi.


Hanya kurang dari satu jam, Sean dan John sudah bersiap dan mengembalikan kunci kamar yang mereka sewa.


Dan hanya dalam waktu setengah jam, mereka sudah kembali lagi ke dinas sosial.


John membawa masuk mobil majikannya, dan memarkirkan mobil itu di pelataran gedung.


"Your back?!.", sapa security yang mereka temui tadi pagi.


"Ya. Can we go inside?.", tanya John.


"Ofcourse.", jawabnya. tangannya, memberi isyarat mempersilahkan John dan Sean masuk ke dalam.


"Thank you.", ucap Sean, sembari membungkuk kan badan, sebagai tanda hormat dan terimakasih.


John dan Sean menemui seorang penjaga resepsionis. mereka menjelaskan maksud dan tujuan mereka kemari.


Tidak lupa, menceritakan tentang pencarian mereka mencari Cellya.


Setelah nya, nampak Sean mengeluarkan ponselnya. memperlihatkan photo-photo sang istri pada petugas itu.


"Dia?!.", tanya petugas itu, nampak terkejut.


"Ya. He is here.", tambahnya. Sean tersenyum senang mendengarnya. ia menoleh pada John, dan asisten nya hanya tersenyum sembari mengusap punggung majikannya.


John tahu benar, bagaimana bahagia nya Sean. karena usianya hanya terpaut tujuh tahun lebih tua dari Sean. ia juga memiliki keluarga.


"Where is he now?.", tanya Sean, bersemangat. nampak ia tidak sabar.


"Bilik nomor A3, ruang Dahlia.", jawabnya.


"Bisakah, you bagi kita arah ka sana?!.", tanya John, dalam bahasa Melayu.


"Yah. dari sini you ambi ar.....


"Urgent!!.... emergency!!... cepat calling dokter!.",


"Pasien bilik A3 meracau. dia nampak kesakitan, sangat.", ucap seorang petugas wanita, yang tiba-tiba datang berlari tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"A3?!.. gumam Sean... ia ingat petugas sebelumnya, menyebutkan bahwa istrinya berada di kamar A3.


"Take me there!.", teriak Sean, di tengah kepanikan para petugas itu.


"Who are you?.", tanya perawat itu.


"I'm her husband. I will take her to the hospital.", ucap Sean.


"husband?!... but....


"I'll explain later. now, take me there!.", sentak Sean.


Tanpa menunggu lagi, Sean segera berlari menyusuri lorong menuju kamar istrinya. dan petugas itu hanya bisa mengikuti, lalu beralih menunjukkan jalan.


Sampai di sana, terlihat banyak orang yang berkerumun. John segera membelah kerumunan orang-orang itu, agar sang tuan bisa masuk.


Nampak di sana, Cellya tengah terbaring kesakitan. ia tak lagi banyak bergerak seperti tadi. mungkin, tenaga nya sudah terkuras.


Nampak keringat bercucuran di kening dan membasahi wajah serta membuat bajunya lembab. wajah ayu itu nampak pucat, bahkan bibir nya mengering dan pecah.


Sean mendekat perlahan, nafas Cellya tersengal lemah. Ia meraih tubuh yang nampak kurus itu. tanpa permisi air matanya lolos begitu saja.


"Jangan gugur kan bayinya.",


"Jangan...


"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.", gumamnya lirih di tengah ketidak sadar an nya.


John yang paham, segera mengurus semua berkas Cellya untuk keluar dari tempat ini dan menyiapkan ambulance untuk membawa istri majikan nya ke rumah sakit.


Pada akhirnya, Sean dan John membawa Cellya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Sean masih diam duduk di kursi tunggu. ia masih setia menunggu dokter keluar dari ruangan tempat istrinya di rawat kini.


Menunggu kabar dan perkembangan terbaru tentang keadaan sang istri.


"Semua sudah di selesai kan, tuan.", ucap John. ya, ia baru bisa menyusul dari dinas sosial ke rumah sakit Changi setelah menyelesaikan prosedur Cellya di dinas sosial.


"Terimakasih.", hanya itu yang di ucapkan Sean.


"Makanlah dulu, tuan. Anda belum makan apapun dari pagi.", ucap John.


Sean menatap John sekilas. "Menurut mu, apa aku masih bisa makan di saat seperti ini?!.", tanyanya, dengan tatapan kosong.


"Anda membutuhkan asupan tenaga untuk menjaga, nona.", jawab John, singkat. lagi-lagi Sean hanya diam. entah sedang memikirkan ucapan John atau memikirkan hal lain.


"Jaga dia untuk ku!.", ucap Sean, John mengangguk mengiyakan perintah tuannya.


Sean akhirnya, pergi ke cafe di lantai bawah untuk memesan makanan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2