
Sean tidak melewatkan kesempatan begitu mendapat izin dari istrinya.
Ia segera mendekat, mencumbu dan ******* bibir strawberry milik istrinya.
Seperti musafir yang kehausan di padang pasir. begitu juga dirinya. ia dengan ganas ******* dan menikmati semua yang ada pada istrinya.
Ya, memang sudah lama mereka tidak melakukannya. apalagi semenjak pulang dari Singapura, mereka juga belum melakukannya.
Selain fokus pada kesehatan istrinya, Sean juga tidak ingin pikiran Cellya terbagi karena, kemarin mereka masih sibuk dengan pesta pernikahan Ellyana.
Jadi begitu mendapat izin, ia tak segan-segan melakukannya.
"Pelan-pelan, by?!", pinta nya saat Sean mulai memasuki dirinya.
Sesuai permintaan istrinya, ia melakukan dengan pelan. "Ahh...", desah keduanya ketika mereka mulai menyatu.
Malam itu, mereka saling meluapkan rindu yang sama-sama di tahan. malam itu juga, pertama kalinya mereka melakukan dalam keadaan sadar. bukan seperti sebelumnya, saat Sean mabuk dan tidak mengingatnya.
Sean mempercepat gerakannya saat mereka hampir menuju puncak. rintih, desah dan kenikmatan jadi satu. hingga akhirnya, mereka mencapai puncak bersama.
Sean melengguh panjang di sertai badannya yang bergetar hebat. begitu juga dengan Cellya.
Sean tersungkur di atas perut Cellya. nafas dari keduanya masih memburu. dan peluh membasahi mereka, meskipun kamar itu memiliki AC.
Sean mengecup perut buncit istrinya, kemudian perlahan turun dan berbaring di ranjang. ia menyelimuti tubuhnya dan tubuh istrinya, lalu membawa tubuh Cellya dalam pelukannya.
Cellya menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. berulang kali ia nampak mengecup puncak kepala istrinya.
"Terimakasih.", ucap Sean, sembari mengusap dan mengecup puncak kepala Cellya.
"Sudah jadi kewajiban istri untuk melayani suamiku, by. jadi tidak perlu berterima kasih.", ujarnya, mendongak menatap wajah suaminya. Sean tersenyum dan mengecup bibir istrinya sekilas.
Ia mengusap perut Cellya. "Hai baby, apa kau merasakan sakit saat ayah menjengukmu barusan?!.", tanyanya. membuat Cellya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Ayolah, by. dia baik-baik saja. jadi jangan membuat ku tertawa dengan pertanyaan itu.", ujar Cellya yang ikut mengusap perut buncitnya.
Sean meraih dagu istrinya, membuat wanita itu mendongak menatap nya, lalu ******* bibir strawberry itu.
Untuk beberapa saat mereka saling mencumbu dan lebih intens. namun, setelah nya pagutan itu berakhir.
"Tidurlah. kau pasti lelah.", ujar Sean. Cellya kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean.
__ADS_1
Malam itu, pada akhirnya mereka terlelap bersama setelah saling mencumbu dan melepas rindu.
......................
Pagi datang. Cellya bangun lebih dulu dan segera membersihkan diri. baru setelah nya, ia menyiapkan air mandi untuk suaminya.
"By, bangunlah!.",
"Aku sudah menyiapkan air mandi nya.", ujar Cellya, yang sedang duduk di pinggir ranjang, membangunkan suaminya.
Sean menggeliat. ia berusaha membuka matanya yang masih ingin terpejam.
"By, kau ingin menggodaku sepagi ini?!.", tanya Sean, dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ya, dia membangunkan suaminya masih dengan memakai handuk kimono dan gulungan handuk di kepalanya. membuat mata Sean terbuka lebar seketika.
Cellya yang paham, segera merapatkan handuk kimono bagian dadanya.
"Tidak pagi ini, by. kau bisa terlambat ke kantor.", ucapnya. membuat Sean lemas seketika.
"Ahh..., rasanya aku tidak bersemangat.", ujarnya, malas. membuat Cellya mengecup bibir Sean sekilas, dan tersenyum pada suaminya.
......................
Cellya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. ia lantas segera berganti baju di walk in closet sekaligus mengambilkan baju kantor suaminya.
Cellya sedang merias diri, saat Sean keluar dari kamar mandi. ia melihat baju kantor nya sudah di siapkan.
"By, aku tidak ke kantor hari ini.", ujar Sean, sembari mengusap-usap rambut nya dengan handuk.
"Kenapa?!.", tanya Cellya, yang baru saja menyelesaikan riasan nya.
"Hari ini, jadwal kontrol. dan aku ingin menemani mu, by.", ucap Sean.
"Oh, ya. aku lupa.", gumamnya. ia berdiri dari duduknya.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan baju yang lain.", ucap Cellya, sembari membereskan baju kantor suaminya di ranjang.
Tak berapa lama, Cellya kembali dengan baju ganti Sean di tangan nya. ia memilihkan baju dan celana yang lebih santai.
Setelah suaminya, berganti baju. Cellya segera mendudukkan suaminya di kursi dan membantu Sean mengeringkan rambut dengan hairdryer.
__ADS_1
"Apakah tidak ada hal penting di kantor hari ini?!.", tanya Cellya, sembari memberi hair tonic dan serum pada rambut suaminya.
Tangannya begitu luwes mengusap dan memijit kepala suaminya, agar Sean lebih rileks dan serum rambutnya cepat meresap.
Setelah di rasa cukup, Cellya segera merapikan rambut suaminya dengan sisir.
"Wahh...., tampannya suamiku.", goda Cellya, sembari meletakkan dagunya, di bahu sean. membuat Sean menoleh, dan mengecup bibir Cellya sekilas.
"Aku tampan karena memang turunan. jadi, dari kecil aku memang sudah terlahir tampan. tapi, aku merasa lebih tampan karena istriku selalu merawat ku.", ujarnya, membuat Cellya tersenyum dan mengecup pipinya cukup lama.
"Baiklah. ayo kita sarapan dan segera berangkat ke dokter.", ajak Sean, saat istrinya sudah melepas ciumannya. Cellya mengangguk setuju. dan mereka pun segera turun ke meja makan.
"Selamat pagi, tuan, nona.", sapa para maid dan Nani, bergantian.
"Selamat pagi.", jawab Cellya dan Sean.
Mereka segera duduk, sementara Nani sibuk melayani mereka. para maid yang lain membersihkan rumah dan taman serta kolam seperti biasanya.
Ada juga yang membersihkan mobil, sebelum di gunakan pergi oleh Sean.
Sarapan pagi selesai. Sean dan Cellya segera keluar dan masuk dalam mobil yang sudah di siapkan.
"Aku akan menyetir sendiri, John. kau bisa ke kantor.", ucap Sean, saat ketika melihat pria itu membukakan pintu untuknya.
"Baik, tuan.", jawabnya. ia pun menutup pintu mobil bagian belakang, dan beralih membuka pintu mobil bagian depan untuk Cellya.
Sementara Sean segera beralih ke sisi mobil lainnya dan duduk di belakang kemudi.
Pintu mobil tertutup, dan ia mulai menyalakan mesin mobil. perlahan, mobil Porsche itu bergerak meninggalkan pelataran mansion.
Tidak banyak yang dibicarakan di dalam perjalanan rumah sakit. Sean hanya terus menggenggam tangan Cellya, dan sesekali mengusap perut buncit itu. sementara tangan satunya berada di atas setir.
Hampir satu jam mereka melaju, hingga akhirnya mobil milik Sean memasuki pelataran parkir rumah sakit.
Salah satu rumah sakit ternama di kota ini. untuk ke sekian kalinya, mereka kembali untuk memeriksa kesehatan istri dan baby nya.
Sean segera masuk dan menemui resepsionis. ya, ia punya akses mudah bertemu dan membuat janji dengan semua dokter di rumah sakit ini. jadi, tidak perlu berlama-lama di ruang antrian seperti yang lain.
"Permisi. apa dokter Jeno dan dokter Tya, sudah datang?!.", tanya Sean. resepsionis yang tahu, mengangguk dan segera mengantarkan mereka ke ruangan dokter Tya terlebih dahulu.
...----------------...
__ADS_1