
pukul empat sore, mobil Sean baru saja memasuki pelataran mansion nya. ia segera turun dari mobil dan berjalan melewati taman. tapi, matanya tiba-tiba tertuju pada sosok gadis kecil yang rupanya tengah tertidur di ayunan.
Sean mendekat, memastikan apakah Neysa benar-benar tertidur atau tidak. perlahan langkah kakinya mendekat.
Buku gambarnya masih terbuka jelas di pangkuannya, jari-jari manis sang putri masih menggenggam pensil, namun gadis itu nampak pulas. mungkin, dia kelelahan masuk hari pertama sekolah pagi tadi. apalagi, pulang nya jam tiga sore.
Perlahan, Sean mengambil buku gambar itu. maksud hatinya, ingin membereskan tapi malah melihat gambar-gambar indah hasil tangan mungil putrinya.
Sejenak, Sean melihat-lihat gambar putrinya. ia pandai menggambar pemandangan, bermacam-macam hewan, dan yang terakhir, yang belum sempat Neysa selesaikan, masih tergambar mata sebelah dan bentuk rambut. entah, dia ingin menggambar siapa?.
Sean mengambil pensil dari tangan Neysa, lalu merapikan semua alat tulis dan buku milik putrinya. setelahnya, ia baru mengangkat tubuh putrinya.
Sean tersenyum menatap Neysa yang berada dalam gendongan nya. ya, ini kali pertama ia menggendong putrinya lagi. menatap dekat dan memberi sentuhan serta kasih sayang yang selama ini, tidak ia lakukan. entah mengapa?!, hanya Sean yang tahu jawabannya.
Sean merebahkan tubuh Neysa di ranjang kamarnya. ia menyelimuti putrinya, mengusap surai hitam panjang dan menatap putrinya lekat. melihat wajah putrinya yang memang sangat mirip dengan nya, Sean tersenyum penuh haru.
Ia menatap sekeliling kamar Neysa. ya, sudah lama ia tidak ke kamar ini. kamar yang di desain oleh istrinya dulu sudah banyak hiasan prestasi dan photo putrinya menghiasi dinding. ada juga photo istrinya dan dirinya di atas nakas samping ranjang. Sean menatap Neysa sekilas, lalu mengecup kening putrinya dan segera beranjak keluar kamar.
Sean berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. ia segera masuk. sementara di lantai bawah para maid sedang memasak dan membersihkan rumah.
Tak berapa lama kemudian, ia kembali menuruni tangga dengan baju yang berbeda. ada klien yang harus ia temui bersama John malam ini.
John sudah nampak berdiri di samping mobilnya dan membukakan pintu untuk Sean. langkah kaki Sean terhenti sejenak melihat mobil mertuanya yang sudah terparkir di halaman mansion nya.
"Mama, baru datang?.", tanya Sean pada John.
"Kurang lebih setengah jam yang lalu, tuan.", jawabnya. Sean mengangguk. ia lantas segera memasuki mobil dan John segera menutup pintu nya.
Mobil Sean keluar bersamaan dengan mobil ibunya yang memasuki pelataran mansion. tapi, mobil Sean berlalu begitu saja.
Begitu mobil terparkir, supir ibunya segera turun dan membukakan pintu untuk ibu Sean. wanita yang menyandang gelar nenek itu segera turun dan melihat sekilas ke arah gerbang, sebelum masuk dalam mansion.
__ADS_1
"Selamat datang, nyonya.", sapa para maid bergantian saat melihat nyonya besar mereka datang.
"Dimana Neysa?.", tanya ibu Sean pada salah seorang maid.
"Neysa dikamar, dia sedang tidur besan.", sahut ibu Cellya yang baru saja keluar dari kamar cucunya.
"Besan, sudah pulang?.", tanya ibu Sean, senyum. ibu Cellya mengangguk.
"Baiklah. aku permisi ke kamar sebentar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.", ucapnya, yang di angguki oleh ibu Cellya.
Besannya berlalu pergi menuju kamarnya. ibu Cellya segera menghampiri para maid setelah memastikan ibu Sean sudah masuk dalam kamar nya.
"Ingat!. jangan ceritakan apapun tentang nona muda dengan tuan Sean pada nyonya besar. mengerti?!.", ucapnya, yang mendapat anggukan dari semua maid.
"Beritahu yang lainnya juga.", ucap ibu Sean lagi.
"Baik, nyonya.", jawab mereka bersahutan sebelum pergi, menyelesaikan tugas nya masing-masing.
Suasana makan malam begitu tenang. ya, setiap hari, hanya mereka bertiga yang menikmati makan malam bersama. Neysa dengan kedua neneknya. bila hari Kamis atau Jumat tiba, mereka memiliki kakek sebagai pelengkap makan keluarga bersama. yang jelas, sejak pertengkaran Sean dengan ibunya, pria itu tidak pernah terlihat makan dirumah.
Neysa menyelesaikan makan malam nya lebih dulu. ia lantas beralih ke ruang keluarga untuk melihat TV, di ikuti oleh Oma nya.
"Hai baby, what are you doing?.", tanya ibu Cellya, membuat gadis kecil yang sedang duduk di bawah dengan buku gambarnya mendongak.
"Nonton TV, Oma.", jawabnya. ibu Sean duduk di sofa, dan tersenyum.
"Nonton TV, tapi tangannya sibuk gambar, gitu?!.", ujar Oma nya, membuat gadis itu tersenyum.
"Wah, seru banget nih kayaknya sama Oma. pagi ngomongin apa?!. nenek gak di ajak nih?.", gurau ibu Sean yang baru saja datang dan bergabung bersama mereka. Neysa dan ibu Cellya tersenyum melihat ibu Sean yang ikut duduk di sofa ruang keluarga.
Neysa menutup buku gambarnya dan menyimpan di meja, sementara ia malah meminta bantal sofa pada Oma nya dan merebahkan tubuh kecilnya di karpet bulu yang berada di ruang keluarga itu.
__ADS_1
"Kenapa, sayang?!. kok nggak di lanjut gambarnya?.", tanya Oma nya.
"Iya. apa gara-gara nenek datang?!. trus nggak jadi di lanjut?.", tanya neneknya. Neysa menggeleng.
"Nggak tahu, nek. Neysa ngerasa capek hari ini.", jawabnya. membuat kedua neneknya saling pandang sekilas, dan segera turun dari sofa, duduk di karpet agar lebih dekat dengan cucunya.
Ibu Sean nampak memeriksa kening cucunya. sementara ibu Cellya beralih ke kaki Neysa, dan memijitnya lembut.
"Apakah sedikit demam?.", tanya ibu Cellya pada besannya. ibu Sean menggeleng.
"Apa guru memberi tugas yang membuat Neysa lelah?.", tanya neneknya.
"Tidak, nenek. semua guru dan teman Neysa baik. Neysa senang sekolah disana. mungkin, karena Neysa belum terbiasa pulang sore. biasanya kan, Neysa pulang jam 10pagi.", jawabnya polos.
"Baiklah. kalau begitu, Oma dan nenek akan memberikan pijatan yang membuat Neysa merasa lebih baik. bagaimana?.", tanya ibu Sean. membuat cucunya tersenyum.
"Ok.", ujar ibu Sean, yang segera memijit bahu Neysa. sementara, ibu Cellya memijit kaki cucunya.
"Neysa senang punya Oma dan nenek. meskipun, momy sudah jauh disana, tapi Neysa merasa tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun.", ucapnya, sembari memejamkan mata, menikmati pijitan kedua neneknya.
Untuk sesaat, kedua orang tua itu saling melihat sekilas dengan tatapan sedih yang tidak bisa di artikan. ya, merawat bayi prematur tanpa ibunya sejak lahir bukanlah hal mudah. mendengar cucunya berucap demikian, seolah mengingatkan rasa sakit kehilangan mendiang ibu Neysa dulu.
Tapi yang lebih menyakitkan adalah, ke khawatiran mereka saat Neysa melihat semua teman-temannya datang bersama kedua orangtuanya, sementara ia tidak. ya, Oma dan neneknya, khawatir jika ia berkecil hati. tapi untunglah, cucunya ini sangat dewasa dalam bersikap.
"Sayang, apa tadi Neysa jatuh?.", tanya Oma nya. membuat besannya menghentikan pijitan di bahu cucunya.
"No, Oma. why?.", tanyanya, membuka mata dan melirik ke bawah.
"Tapi ini?!. lebam?.", ujar ibu Cellya, sembari menunjuk memar yang berada di atas lutut.
...----------------...
__ADS_1