Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 85


__ADS_3

"Tuan?!.", nampak asisten pribadi itu memberi isyarat pada sang majikan untuk memakai kembali aksesorisnya, karena melihat Neysa kembali.


"Paman.", panggil gadis itu. Santa menoleh saat memakai jenggot palsunya lagi.


"Ada apa?.", tanya Santa, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Tolong, berikan ini pada ayahku.", pintanya, sembari menyodorkan gelang. Santa menerima gelang itu.


"Terimakasih.", ucapnya. ia tersenyum, namun sorot matanya memperlihatkan perasaan yang lain.


Neysa pergi tanpa kata. sementara Santa masih menatap kepergian nya. ia melihat gelang yang di buat Neysa untuk ayahnya. model gelang yang sama dengan yang di pakai Neysa. berbeda dengan gelang yang di berikan pada Santa.


"Apa dia melihat sesuatu, tadi?.", tanya Santa. dan asisten kepercayaan nya hanya menggeleng, dengan wajah ragu.


Gadis itu kembali ke tempat pesta ulang tahunnya. ia bergabung bersama dengan Oma, nenek serta kakeknya untuk menyapa semua tamu yang hadir.


"Oma, Neysa lelah.", ucapnya, setelah mereka hampir menyapa semua tamu yang datang.


"Bolehkah, Ney istirahat di kamar?.", tanyanya. Oma nya mengangguk.


"Minta Nani untuk membantu ganti pakaian, ya?.", pesan Oma nya, yang di angguki oleh Neysa.


Ia segera pergi ke kamarnya. di bantu oleh Nani, gadis itu menanggalkan gaunnya dan berganti dengan piyama. Neysa mencuci wajah, tangan, kaki dan tidak lupa menggosok gigi. setelahnya, ia segera naik ke ranjang untuk beristirahat.


Di mobil yang berjalan menuju bandara. nampak seorang melepaskan semua aksesoris Santa Claus yang menempel di tubuhnya. mulai dari jenggot, baju, celana, dan terakhir hidung palsu serta topi kerucut merah itu.


Asisten John menyodorkan jaket dan topi hitam pada tuannya. ya, Santa itu tak lain dan tak bukan adalah, Sean. ada alasan tersendiri baginya, kenapa ia harus menjadi Santa setiap hari ulang tahun putrinya.


"Aku berangkat sendiri malam ini. kau, menyusul lah saat urusan resto selesai.", ucap Sean, yang di angguki oleh asisten John. ia membawa tas berisi baju ganti di tangannya, setelah turun dari mobil.


"Oh, ya. John, tolong pastikan besok Neysa melakukan medical check up di rumah sakit.",


"Terus terang, aku mengawatirkan kesehatan nya.", ujarnya, memberi pesan. John mengangguk paham.

__ADS_1


Sean segera melangkah masuk ke dalam area bandara dan segera melakukan semua prosedur. jet pribadi nya sudah menunggu untuk mengantarkan nya kembali ke Singapura.



Dalam hitungan menit, pesawat jet pribadi itu lepas landas menuju negeri singa. Sean menyempatkan tidur selama penerbangan.


Gadis itu rupanya belum tertidur. ia menangis di balik selimutnya, entah apa yang membuatnya bersedih.


Pukul sepuluh lewat. pesta baru saja selesai, semua tamu undangan baru saja berpamitan untuk pulang. nampak para maid membersihkan sisa-sisa pesta di mansion mewah Sean.


Oma nya membuka pintu kamar Neysa, ia ingin tidur bersama cucunya. Neysa yang menyadari kehadiran Oma nya, segera menghapus air mata dan berpura-pura tidur. haish, gadis itu benar-benar mirip ibunya. ia pandai menyembunyikan semua perasaan nya.


Ibu Cellya segera menutup pintu dan merebahkan diri di samping cucunya. ia mendekap Neysa dari belakang hingga terpejam.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3jam, pesawat jet Sean akhirnya mendarat dengan selamat di negeri itu. ia segera keluar dari pesawat dan menemui manager perusahaan cabang yang menjemput nya, kali ini.


......................


Semua orang nampak bersiap melakukan aktifitas nya. nenek dan kakek Neysa sudah menunggu untuk sarapan bersama.


"Apa Neysa masih bersiap?.", tanya besannya, saat melihat ibu Cellya bergabung di meja makan.


"Apa dia belum turun?.", ibu Cellya, berbalik bertanya. ya, saat ia keluar dari kamar cucunya tadi, Neysa baru saja selesai mandi dan hendak berganti baju sekolah.


Ibu Sean menggeleng, menjawab pertanyaan besannya. "Aku akan panggilkan.", ucapnya. lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya.


Ibu Cellya melangkah menaiki tangga menuju kamar Neysa. ia membuka pintu kamar cucunya. nampak Neysa terbaring di pinggir ranjang dengan tas sekolah nya sebagai bantalan. bahkan gadis itu sudah memakai seragam sekolah lengkap. namun, ia tidak merespon dan kakinya menjuntai ke lantai.


"Sayang, apa kau tidur lagi?.", tanya ibu Cellya. ia mendekat, bermaksud membangunkan cucunya. Oma nya berpikir, mungkin Neysa kelelahan setelah pesta ulang tahun nya semalam.


"Sayang, ayo bangun!. nanti.....


Ucapan nya terputus saat melihat mata Neysa terpejam dengan darah segar keluar dari hidungnya. refleks, ibu Cellya meraih tubuh cucunya.

__ADS_1


"Sayang. bangun!. ini, Oma.",


"Neysa?!....", ia terus menggoyangkan tubuh cucunya, berharap Neysa merespon.


Karena tidak mendapat respon dari cucunya, ibu Cellya segera menidurkan Neysa, dan berlari keluar kamar untuk mencari bantuan.


"Tolong!.", teriaknya. berhasil membuat semua penghuni mansion panik, terutama ibu Sean dan ayahnya yang sedang menunggu di meja makan.


Mereka segera berjalan tergesa-gesa menaiki tangga, di ikuti Nani, para maid dan penjaga rumah.


"Ada apa?.", tanya ibu Sean, sembari menghampiri besannya. tanpa kata, ibu Cellya hanya menarik tangan besannya dan membawakan untuk melihat kondisi cucu mereka.


Alangkah terkejutnya, ibu Sean dan sang suami saat melihat kondisi cucunya yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat dan darah segar yang mengalir dari kedua hidung nya.


"Kenapa diam saja?!. cepat siapkan mobil.", bentak ibu Sean lantang, yang berhasil membuat semua maid, penjaga serta pengurus rumah bubar dari kamar Neysa.


Ibu Sean mendekat. ia meraih tubuh cucunya. "Sayang, ayo bangun!. nenek disini, tidak akan terjadi apapun.", ucapnya. namun bocah itu tidak juga merespon, membuat nya menangis melihat kondisi cucunya.


John datang, ia siap menerima perintah.


"John, cepat angkat Neysa ke mobil. kita kerumah sakit sekarang.", perintah ayah Sean, yang langsung di angguki oleh asisten putranya.


John mengambil alih Neysa dari pelukan nyonya besar nya. ia segera menggendong Neysa keluar kamar dan menuruni tangga, di ikuti kedua nyonya besar di belakangnya. mereka benar-benar terlihat cemas dan khawatir.


Ibu Cellya naik ke mobil lebih dulu, lalu John memasukkan Neysa ke mobil. ibu Cellya, dengan senang hati memangku gadis kecil itu.


Begitu John masuk dan duduk di kursi belakang kemudi, tidak lama kemudian, mobil itu segera keluar dari gerbang mansion dan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan menuju rumah sakit.


Sementara ibu Sean menyusul mengikuti dari belakang dengan suaminya. pikiran mereka benar-benar kalut. ya, bagaimana tidak?!. mereka tidak pernah melihat Neysa sakit, ataupun mengeluh ada yang sakit. tapi, kenapa tiba-tiba ia bisa tidak sadar?!.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mobil terparkir di depan rumah sakit. para perawat yang siaga segera menghampiri mobil dengan membawa brankar rumah sakit.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2