
Neysa menikmati hari pertamanya di sekolah ini. ia bisa berbaur dan berkenalan dengan banyak teman dan guru. mungkin karena sifat anaknya yang ceria, dewasa dan ramah. jadi, banyak murid dan guru yang menyukainya hanya dengan sekali melihat dan berinteraksi dengan nya.
Ia nampak luwes memperkenalkan dirinya di depan kelas kepada guru dan teman-temannya. ya, hal positif itulah yang membuat orang baru mudah menyukainya.
Jam menunjukkan waktu pulang sekolah. semua murid nampak keluar teratur dari gerbang.
"Bye. sampai jumpa besok lagi, Neysa.", ucap beberapa temannya bergantian ketika melewati gadis itu.
Neysa dengan ramah melambaikan tangan dan tersenyum manis pada teman-temannya.
Ia beralih menatap keluar gerbang. sudah ada John yang menunggu di sana. Neysa melambaikan tangannya yang di respon oleh John.
Asisten pribadi Sean itu segera menyebrang jalan dan menghampiri nona kecilnya.
"Selamat sore, paman John.", sapanya.
"Selamat sore, nona.", jawab John, senyum.
Neysa segera meraih tangan John untuk di gandeng dan mereka mulai menyebrang. sesampainya di sana, John segera membuka pintu mobil untuk Neysa, dan gadis itu segera masuk.
Tanpa banyak bicara, John segera mengemudikan mobil tuannya.
"Bagaimana hari pertama nona di sekolah?.", tanya John, membuka obrolan di antara mereka.
"Sangat menyenangkan, paman.",
"Aku sudah memiliki banyak teman di hari pertama sekolah. mereka semua baik dan perhatian padaku. ibu dan guru yang lain juga sama.",
"Aku senang, mereka menyukaiku.", jawab Neysa. ia bercerita dengan senyum dan mata yang berbinar. membuat John, ikut bahagia dan senang dengan tumbuh kembang putri sang tuan.
"Sepertinya, nona sangat senang.", ujar John.
"Iya.", jawab Neysa di sertai anggukan yang antusias. John tersenyum melihat Neysa dari kaca mobil.
"Paman, apa paman sudah memberikan bekal yang aku titipkan pada ayah?.", tanyanya. John mengangguk.
__ADS_1
"Sudah, nona.", jawab John.
"Apa ayah makan dengan baik?.", tanyanya lagi. lagi-lagi John mengangguk.
Ya, Sean sangat senang setiap kali mendapatkan titipan dari putrinya, yang di bawa oleh asisten nya. tapi, entah mengapa?, sampai saat ini, ia selalu menghindari putrinya. berangkat sangat pagi, dan pulang sangat larut, saat Neysa sudah benar-benar tidur.
Ya, kejadian saat putrinya di nyatakan terkena sepsis, penyakit yang bisa mengancam nyawanya itu. sejak saat itu, ia menghindari putrinya. tentang alasannya?!, tidak ada yang tahu. yang jelas, ia sering berdebat dengan ibunya sejak hari itu. membuat mereka memiliki jarak, yang sama-sama di pertahankan oleh Sean dan ibunya.
"Paman, apakah ayah akan pulang larut lagi hari ini?.", tanya Neysa, polos. entahlah, matanya menunjukkan ia nampak mengharapkan jawaban yang lain.
"Sepertinya iya, nona.", jawab John. jawaban yang tiba-tiba membuat gadis yang tengah duduk di kursi penumpang itu menunduk dan diam.
John yang menyadari perubahan sikap nona kecilnya, dan ia pun berusaha mencairkan suasana.
"Nona, mau beli es krim?.", tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Neysa menggeleng pelan.
"Tidak, paman. kita langsung pulang saja.", jawabnya, dengan senyum manisnya. ia melihat pemandangan sekitar dari jendela.
Matanya, tidak sengaja menangkap gambaran seorang kakek yang sedang berjuang membawa karung rongsokan di tangan kanan dan kirinya, sementara di punggung nya nampak terlelap seorang bocah dalam gendongan kain.
"Tentu, nona.", jawab John, yang membuat senyum manis gadis itu terukir di bibir mungilnya.
......................
John nampak membukakan pintu mobil untuk Neysa, ketika mobil itu sudah terparkir di depan mansion milik tuannya.
Neysa nampak berjalan memasuki rumah, sementara John mengikutinya sembari membawakan tas sekolah Neysa.
"Nona, sudah pulang?!.", ucap Nani, saat melihat nona kecilnya memasuki rumah. Neysa tersenyum kecil.
John menyerahkan tas Neysa pada Nani, dan ia segera pamit untuk kembali ke kantor. sementara Nani, segera mengikuti Neysa ke kamarnya setelah menerima tas nona kecilnya.
"Saya siapkan airnya dulu, nona.", ucap Nani, yang masuk dalam kamar Neysa, dan melihat bocah itu sedang melepaskan sepatu dan kaos kakinya.
Nani meletakkan tas Neysa di tempatnya. dan segera masuk ke kamar mandi, menyiapkan air untuk nona kecilnya mandi.
__ADS_1
"Sudah siap, nona.", ucap Nani, saat keluar dari kamar mandi. Neysa hanya tersenyum tipis dan mengangguk. tanpa tanya Neysa segera masuk untuk membersihkan dirinya.
Setelahnya, Nani segera menyiapkan baju ganti untuk Neysa. tidak berapa lama kemudian, gadis kecil itu sudah keluar dari kamar mandi. Neysa segera berganti baju, baru setelah nya, Nani membantu Neysa merapikan rambutnya.
Gadis itu nampak duduk diam di depan meja rias, sementara Nani sedang menyisir rambut panjang Neysa.
"Apa nona sedang sakit?.", tanya Nani, membuka obrolan karena ia melihat Neysa diam sedari pulang sekolah. Neysa menggeleng.
"Tidak, Nani.", jawabnya.
"Lalu, kenapa dari tadi diam?. apa yang nona pikirkan?.", tanya Nani lagi.
"Neysa kangen momy.", jawabnya lirih. membuat Nani menghentikan aktivitas nya sejenak. ya, hatinya ikut teriris mendengar jawaban nona kecilnya.
"Bukannya tadi pagi sudah ke makam, momy?.", tanya Nani, mencoba menghibur. Neysa hanya mengangguk. melihat respon Neysa, Nani sempat diam. tapi, wanita yang lebih tua dari Oma nya itu, berupaya mengajak gadis itu mengobrol lagi agar Neysa merasa lebih baik.
"Nona, Nani juga kadang tiba-tiba kangen dengan mendiang ibu Nani. jadi, untuk meredam rindu biasanya, Nani mengirimkan doa untuk ibu Nani.", ujarnya. Neysa menoleh menatap wajah Nani yang semakin termakan usia.
"Lalu, apa Nani bisa bertemu ibu Nani?.", tanyanya polos. Nani, mengangguk dan tersenyum. Neysa nampak memutar badannya, kini ia menghadap pengasuh yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Ajarkan doanya, Nani. aku ingin bertemu momy juga.", pintanya, antusias. Nani tersenyum, ia lantas mengajarkan Neysa berdoa. gadis mengikuti setiap gerakan Nani dan menirukan apa yang di ucapkan oleh wanita itu. Neysa menengadahkan tangan, dan setelah selesai, ia mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, pertanda doa selesai.
Neysa tersenyum setelah Nani mengajarkan doa itu, ia lantas memeluk Nani erat dan pengasuh itu membalasnya.
"Terimakasih, Nani.", ujarnya, membuat Nani mengangguk di pelukan bocah manis itu.
Sejenak kemudian, Neysa sudah nampak ceria lagi. ia pun segera keluar kamar, untuk menunggu Oma, nenek, kakek serta ayahnya pulang dan menikmati makan malam bersama.
Gadis itu, membawa buku gambarnya serta peralatan mewarnainya ke taman. persis seperti mendiang ibunya, Neysa sangat suka duduk di ayunan sembari menikmati segarnya udara taman mansion.
Gadis itu, nampak mulai membuka lembar demi lembar buku gambarnya. terpampang jelas, dia memang ahlinya dalam menggambar dengan gambar-gambar indah yang tergores di buku gambarnya.
Neysa memilih lembar yang kosong. ia mulai mengambil pensil, dan mulai menggambar lagi. menyelesaikan sketsa yang pertama kali ia buat. ya, sebuah sketsa dua orang yang berharga baginya. sesekali, ia nampak melirik ponsel yang menjadi contoh untuk sketsa di samping buku gambarnya.
__ADS_1
...----------------...