
Begitu sampai di hotel tempat di adakan resepsi saudaranya besok, seorang ajudan segera datang dan menghampiri Cellya dan Sean.
"Selamat datang, nona, tuan.", sapanya sembari membungkuk hormat.
"Apa mama dan Ellyana belum selesai?!.", tanya Cellya.
"Belum, nona. mari ikuti saya.", ucapnya, yang di jawab anggukan oleh ajudan.
"Pelan-pelan jalan nya, by.", ucap Sean, yang selalu setia menggandeng tangan istrinya, membuat Cellya tersenyum gemas pada suaminya.
Cellya dan Sean terus berjalan mengikuti ajudan ibunya. sampai mereka berhenti di aula, dimana banyak pekerja sibuk mendekor.
"Sayang.", sapa ibunya, sembari menghampiri putrinya kemudian memeluk Cellya.
"Ayo, duduk.", ajak ibu Cellya pada anak dan menantunya.
"Bagaimana hasil check up nya?!.", tanya ibu Cellya, setelah mereka duduk di sofa.
"Semua baik, ma. Mama, tidak perlu khawatir.", jawabnya. ia nampak mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"Mama, coba lihat ini.", ucapnya, sembari menyodorkan foto USG baby nya.
"Ini si kecil yang menjadi penghuni perutmu?!.", tanya ibunya tidak percaya. Cellya mengangguk dan tersenyum.
"Dia nampak sehat.", ucap ibu Cellya. ia hanya mengangguk mengiyakan ucapan ibunya.
"Dokter bilang, dia laki-laki atau perempuan?!.", tanya ibu Cellya, membuat putrinya menggeleng pelan.
"Sewaktu dokter ingin melihat nya. dia malu-malu, ma.",
"Dia tengkurap sembari menoleh ke arah layar.", jawab Cellya, senyum melihat foto USG itu.
"Bukankah, laki-laki atau perempuan tidak jadi masalah?!.", ucap Sean. ibu Cellya mengangguk menyetujui ucapan menantunya.
"Benar, laki-laki atau perempuan tidak masalah. yang penting dia lahir sehat dan ibu serta baby nya selamat.", imbuh ibu Cellya.
"Lagi pula kami bisa membuat nya lagi, jika mama dan yang lain menginginkan cucu laki-laki. benar bukan?!.", ujar Sean, membuat mertuanya tertawa, begitu juga dengan dirinya. tapi Cellya?!. entah, ia hanya terdiam menatap kedua orang yang di sayangi nya itu tertawa lepas.
"Ada hal lucu apa?!. sampai tidak mengajakku?!.", ucap Ellyana, yang baru saja bergabung.
"Sean sudah berencana membuat baby kedua mereka, bahkan saat baby butter belum lahir.", jawab ibu Cellya, di sela tawa renyah nya bersama Sean.
Ya, butter. itu nama janin Cellya. ibu dan Sean yang memanggilnya demikian, karena memang menurut mereka, butter adalah nama yang tepat untuk janin yang masih berkembang di perut Cellya.
"Haish, kau pikir saudaraku mesin melahirkan?!.", gerutu Ellyana dengan candanya, membela Cellya.
__ADS_1
"Kau, jangan mau terus hamil dan melahirkan anak untuk nya?!.",
"Setelah melahirkan, harus merawat diri juga. jangan sampai Sean berpaling darimu karena kau berubah gendut dan tidak merawat diri.", pesan Ellyana pada saudarinya. Cellya hanya tersenyum.
"Aku tidak akan melakukan hal itu.", sanggah Sean.
"Semua lelaki sama saja. sekarang bilangnya seperti ini, lain hari beda lagi.", kekeuh Ellyana.
Membuat perdebatan kecil di antara Sean dan Ellyana. Cellya hanya tersenyum mengamati obrolan, sanggahan dan ledekan dari suami dan saudaranya.
Momen yang tidak bisa terulang lagi kan pastinya?!. jadi, dia menikmati semua perdebatan ini.
"Nyonya, sudah waktunya makan siang.",
"Mau di bawa kesini, atau?!....",
"Aku akan keluar bersama anak-anak ku. kau tolong awasi mereka.", jawab ibu Cellya pada ajudannya.
"Baik, nyonya.", angguknya.
"Berhenti berdebat.", ucap ibu Cellya, yang seketika itu membuat Ellyana dan Sean diam.
"Sudah waktunya makan siang. ayo, kita keluar dulu untuk makan bersama.", ajak ibu Cellya, yang segera di setujui anak-anaknya.
Mereka memesan makanan di resto dekat hotel tempat resepsi pernikahan Ellyana. jadi, karena dekat mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Tak ada banyak percakapan selama acara makan siang bersama saat itu.
Begitu menyelesaikan makan siang bersama, Sean segera mengajak istrinya pulang untuk istirahat.
"Ma, aku dan Cellya pulang dulu.",
"Dia harus istirahat yang cukup untuk acara Ellyana besok.", ucapnya, mengakhiri pertemuan makan siang mereka.
Ibu Cellya meletakkan gelas jus yang baru di teguknya. ia lantas mengulurkan kedua tangannya, menyambut putrinya yang sudah berdiri dari duduk dan segera memeluknya.
"Sampai rumah, cepat istirahat. oke?!.", ucap ibu Cellya, melepaskan pelukannya. Cellya tersenyum dan mengangguk.
Ia lantas segera beralih memeluk saudaranya. "Jangan terlalu lelah. aku mengharapkan kehadiran mu besok.", ucap Ellyana, memeluk saudaranya.
"Aku pasti datang.", ucapnya, kemudian melepas pelukannya.
Cellya dan Sean segera berjalan bergandengan keluar dari resto. tak berapa lama, nampak orang suruhan ibu Cellya datang membawa mobil Sean.
Ia nampak segera keluar, dan membungkuk hormat. Sean mengangguk dan tersenyum sebagai ucapan terimakasih.
__ADS_1
Ia segera membukakan pintu mobil untuk istrinya, dan beralih ke sisi mobil lain saat Cellya sudah masuk dan duduk di samping kemudi.
"Mau jalan-jalan?.", tanya Sean, sembari memasang seat belt nya.
"Kemana?!.", tanya Cellya.
"Bagaimana kalau mencari keperluan baby?.", tawar Sean. membuat Cellya tersenyum.
"Kita saja belum tahu dia laki-laki atau perempuan, by?!.", ucap Cellya.
"Kita beli warna yang netral saja, by. seperti, putih, kuning, hijau atau warna lainnya?!.", jawab Sean.
"Tapi akan lucu, kalau bayinya perempuan dan memakai pakaian laki-laki.", ucap Cellya, dengan senyuman.
"Kalau begitu. cukup simpan baju laki-laki dan kita beli lagi baju untuk baby perempuan.", jawabnya.
"Itu pemborosan, by.", ujar Cellya.
"Ohh..., ayolah by!.",
"Aku tidak sabar melakukan hal-hal itu.", rengek Sean, membuat Cellya semakin tersenyum lebar dengan rengekan suaminya.
Bagaimana tidak?!. rasa excited suaminya, membuat Sean mendadak bersikap seperti anak kecil dan sedikit merajuk.
"Ok. kita akan pergi berbelanja untuk, baby.", jawab Cellya, kemudian. membuat pimpinan CEO itu, mendadak girang bukan main.
"Ayo, kita berangkat. let's go!.", teriak nya, sembari mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran hotel dan membelah jalanan.
Begitu sampai di pusat perbelanjaan, Sean segera memarkirkan mobilnya. tidak lupa, ia membukakan pintu mobil untuk istri tercinta, dan berlanjut masuk untuk mencari pernak pernik kebutuhan baby.
Menaiki eskalator, Sean begitu sigap dan hati-hati dengan terus menjaga dan menggandeng tangan Cellya.
Mereka menghampiri setiap toko peralatan bayi yang mereka lewati.
Sean begitu antusias memilih semua keperluan dan kebutuhan untuk menyambut baby mereka. mulai dari baju, celana, baju hangat, topi, gendongan, sarung tangan baby, sampai yang terakhir kini mereka sedang berada di toko furniture.
Ya, Sean bahkan masuk ke sana dan memilih box baby, lemari untuk baby mereka dan beberapa furniture lain untuk melengkapi kamar baby.
"Kita belum merenovasi kamar, by.",
"Mau di taruh dimana semua ini?!.", tanya Cellya, mengingatkan. ia nampak bingung suaminya, membeli semua furniture hari ini juga.
"Gampang. nanti, tinggal panggil tukang untuk merenovasi dan membuat kamar untuk baby.", jawab Sean, enteng sembari menatap ke sekitar. entahlah, matanya sibuk mencari apalagi untuk baby nya?!.
...----------------...
__ADS_1