Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 110


__ADS_3

Pagi ini gadis kecil tuan Xavier Kamasean nampak begitu bersemangat. ya, Neysa di izinkan pulang hari ini juga. ia bahkan begitu antusias membantu Oma dan neneknya berkemas.


"Ney, duduk saja. biar Oma, dan nenek yang membereskannya.", ucap ibu Cellya.


"Ney, bantu agar lebih cepat Oma.",


"Hari ini, Ney dan ayah akan pergi ke makam momy bersama.", ujarnya. wajah sumringahnya tidak lepas dari bocah kecil itu.


Pertama kali, ia akan mengunjungi ibunya bersama sang ayah tercinta. tentu saja, bocah itu sangat bersemangat.


"Ayah.",


"Ayah, sudah selesaikan administrasinya?.", tanya Neysa, begitu melihat ayahnya memasuki ruang rawatnya. ia berlari kecil dan memeluk pinggang sang ayah, manja. Sean mengangguk dan meraih tubuh Neysa.


"Sudah.", jawabnya. suaranya terdengar sedikit berat karena ia mengangkat tubuh putrinya.


"Uh, kenapa baby jadi sangat berat sekarang?!.", ujarnya, membuat Neysa tersenyum dan merangkup kedua pipi ayahnya.


Sean menurunkan Neysa di ranjang. nampak kedua orang tuanya sudah selesai membereskan semua barang-barang Neysa, baik baju, mainan dan apapun itu.


"Sudah, ma?.", tanyanya, yang di jawab anggukan dari kedua ibunya. Sean tersenyum.


"Ayo, aku bantu.", ujar Sean. tangannya terulur mengambil koper putrinya. namun, ibu dan mertuanya tidak mengizinkan.


"Gendong saja bayi besar itu.", ucap ibu Sean.


"Iya. gendong saja, baby butter.", sahut ibu Cellya. membuat Neysa, mengerutkan bibirnya.


"Aku bukan bayi besar, Oma, nenek.", kesalnya. tapi kedua perempuan paruh baya itu hanya tersenyum mendengarnya.


Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang rawat Neysa, menuju lobi rumah sakit.


Sean nampak menggendong putrinya di punggung. sementara kedua ibunya berjalan lebih dulu dengan membawa koper Neysa.


Ayah dan anak itu nampak bercanda dengan saling menggoda dan bertanya jawab sepanjang jalan.


"Oma, harus segera kembali ke kantor.",


"Aunty El dan uncle David juga adik Kai, sedang merayakan natal di Thailand, bersama keluarga uncle David.",


"Tidak apa, kan sayang?!.", tanya ibu Cellya, saat mereka sampai di lobi rumah sakit.


Neysa tersenyum dan mengangguk sumringah, mengiyakan ucapan Oma nya.


"Baiklah. cium, Oma dulu.", pintanya, sembari menyodorkan kedua pipinya bergantian untuk mendapatkan kiss dari cucunya.

__ADS_1


"Setelah pulang dari makam momy, jangan lupa bersihkan diri dan langsung istirahat ya, sayang?!.",


"Nanti, selesai urusan kantor, Oma langsung ke mansion Ney, ya?!.", ujar ibu Cellya, berpesan. Neysa mengangguk paham.


"Bye!.", ucapnya, melambaikan tangan dan mulai berjalan menuju mobilnya. Neysa membalasnya, sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.


Giliran neneknya berpamitan. "Sayang, nenek juga harus pergi ke butik.",


"Ada yang suda menunggu nenek.",


"Tidak apa-apa, kan?.", ujarnya. Neysa, paham kedua neneknya memanglah orang yang sibuk. tapi, ia begitu mengerti dan bersikap dewasa. ya, gadis itu berpikir bahwa, jika Oma dan neneknya ada waktu. pasti, mereka akan meluangkan waktu untuk menemaninya. pemikiran seperti itulah yang membuatnya tidak pernah berkecil hati.


"Nenek, jangan pulang sore-sore ya?!.", ucapnya


"Nanti, kan Oma mau ke rumah.",


"Jadi, kita bisa makan malam bersama.", imbuh Neysa.


"Ok.", jawab ibu Sean, sembari mengusap rambut Neysa.


"Kalau begitu, nenek pergi dulu ya?!.", pamit ibu Sean. Neysa mengangguk.


"Bye, nenek!.", ucapnya riang. tidak lupa Neysa melambaikan tangan pada neneknya, saat wanita itu perlahan berjalan menjauh dan masuk ke mobilnya.


"Bye, bye, nenek!.", teriaknya lagi, saat mobil neneknya berlalu pergi.


Mobil Sean berhenti di depan sebuah komplek pemakaman. ya, disinilah ia bersama putrinya untuk pertama kali.


"Pakai ini.",


"Udaranya, sedikit dingin.", ucapnya, sembari memakaikan syal pada leher putrinya. Neysa, tersenyum manis.


Nampak Sean turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil yang lain untuk putrinya.


Gadis itu turun dan melihat sekitar. "Ayo.", ajak ayahnya. ia menerima uluran tangan sang ayah setelah mengambil bunga yang akan ia berikan pada momy nya.


Ia tahu sekarang, siapa pengirim bunga mawar putih ke makam ibunya.


Ya, saat diperjalanan menuju ke makam mereka mampir untuk membeli bunga. dan Sean membeli bunga mawar putih setelah Neysa meminta bunga mawar merah dan bunga Lily.


"Ayah, membelikan bunga mawar putih untuk momy?!.", tanyanya, menyelidik. Sean mengangguk.


"Jadi, selama ini apa ayah yang mengunjungi momy selain Ney?.", tanyanya. Sean menggeleng.


"Ayah, tidak pernah menjenguk momy mu. tapi, ayah tidak pernah lupa untuk mengiriminya bunga setiap hari.",

__ADS_1


"Paman John, yang selalu datang dan mengantarkan bunga pada momy.", ujarnya.


"Kenapa, ayah?.", tanyanya, polos. Sean nampak menghela nafas dalam.


"Karena ayah merasa tidak pantas bertemu, momy.", jawabnya, membuat wajah gadis kecil itu bertanya-tanya.


"Dulu, ayah gagal menyelamatkan dan menjagamu.",


"Ayah bahkan, sudah menyerah. ayah tidak mau berjuang sekuat tenaga untukmu. ayah, mengatakan hal itu pada momy mu. tapi, mukjizat Tuhan itu nyata, kau disembuhkan.", ceritanya.


"Jadi itu yang membuat ayah dan nenek bertengkar, ya?!.", sahutnya. Sean sedikit terkejut melihat putrinya. tapi, ia mengangguk kemudian.


"Nenek hanya marah dan kecewa karena ayah menyerah terlalu cepat.", ujarnya, menjelaskan. Neysa tersenyum tipis mendengarnya.


Gadis kecil itu, meraih tangan sang ayah. saat Sean tidak juga beranjak dari tempatnya berdiri.


"Ayo, ayah.", ajaknya. membuyarkan lamunannya.


"Ayo, kenapa ayah hanya berdiri di sini?!.",


"Momy, sudah menunggu kita.", ujarnya. ia menarik tangan Sean agar pria itu melangkah mengikuti langkah kakinya.


Sean mengikuti langkah putrinya, menuju makam mendiang istrinya. sementara tangan Neysa, tidak lepas dari menggenggam tangan sang ayah, sementara tangan satunya membawa bunga. begitu juga dengan Sean.


Mereka berjalan menyusuri komplek pemakaman yang bersih dan tertata rapi itu, hingga akhirnya sampai di depan pusara sang istri.


Neysa nampak membungkuk hormat pada nisan sang ibu, sebelum meletakkan bunga yang ia bawa.


"Ayo, ayah. sapa, momy lebih dulu.", ucapnya, setelah berjongkok di samping pusara ibunya. Sean yang sadar dan paham, segera melakukan hal yang sama, lalu meletakkan bunga mawar putih di pusara istrinya.


"Selamat natal, momy. maaf, kami datang terlambat.", ucapnya. Sean hanya menatap interaksi antara putrinya dan nisan sang istri.


Jadi beginilah, saat Neysa datang ke makam ibunya. ia banyak bercerita tentang apa yang dilakukannya sehari-hari. tapi, ia tidak menceritakan kesusahan ataupun kesakitan nya. bocah itu, datang murni untuk mendoakan momy nya dan bercerita serta berbagi hal yang membahagiakan pada mendiang ibunya.


"Paman John, begitu hebat momy.",


"Dia bahkan bisa membuat dekorasi natal sesuai yang aku mau.",


"Benar kan, ayah?!.", ucapnya, saat sadar bahwa ayahnya memperhatikannya. Sean tersenyum dan mengangguk, membuat gadis kecil itu membalasnya.


"Oh, ya. Ney datang bersama ayah.",


"Momy pernah bilang, kangen dengan gummy smile ayah, kan?!.",


"Ayo, ayah. tunjukkan gummy smile nya.", pinta gadis itu. Sean yang awalnya malu-malu pun menurut.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2