Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 80


__ADS_3

Ibu Cellya mengangguk menjawab pertanyaan cucunya. Neysa memeluk neneknya erat. ia bersyukur, banyak yang mencintai dan menyayangi nya.


"Terimakasih, Oma.", ucapnya. yang membuat orang tua itu tersenyum. pandangan penuh kasih mereka saling bertatapan, membuat ibu Cellya bahagia dan memeluk cucunya lagi.


Neysa tersenyum tipis menatap Oma nya. "Kenapa?.", tanya ibu Cellya. ia tahu ada yang di sembunyikan cucunya. Neysa menggeleng.


"Oma paling tahu cucu, Oma.", ujar ibu Cellya. Neysa hendak mengatakan sesuatu, namun bel sekolah berbunyi lebih dulu.


"Oma, tunggu Neysa sebentar, ya?!.", ucapnya, yang di angguki oleh neneknya. ia segera masuk kembali ke dalam kelas dan duduk kembali di tempat nya.


Sementara Neysa menyelesaikan pelajaran nya hari ini. Oma nya memilih untuk berkeliling sekolah di temani pengurus sekolah.


Bel sekolah berbunyi, Neysa segera keluar untuk menemui Oma nya dan mengajak nya pulang.


"Oma, pulang ke mansion atau ke rumah?.", tanya Neysa.


"Mau, Oma temani?.", tanya ibu Sean, berbalik bertanya. gadis itu mengangguk.


Neysa segera masuk ke dalam mobil Oma nya. setelah mereka duduk di kursi penumpang, asisten Han segera menyalakan mesin mobil dan mulai keluar gerbang sekolah, bersiap menyusuri jalan.


Gadis itu nampak mengeluarkan sebuah buku gambar dari dalam ranselnya. ia memberikan buku itu pada neneknya.


"Apa ini sayang?.", tanya neneknya, sembari menerima buku itu. Neysa hanya menatap Oma nya sekilas dan menghela nafas. membuat ibu Cellya, membuka lembar demi lembar buku itu untuk mengetahui maksud cucunya.


Air mata haru tidak bisa di bendung oleh ibu Cellya melihat sketsa wajah putrinya yang di gambar dengan apik oleh cucunya. padahal, Neysa tidak pernah melihat ibunya. ia hanya mencontoh dari photo yang tersimpan di ponsel atau photo ibunya yang di pajang di dinding.


Tidak hanya sketsa ibunya, gadis kecil itu juga menggambar sketsa wajah sang ayah dan dirinya. ya, momy, Neysa dan ayahnya.


"Sangat bagus, sayang.", ucap ibu Cellya, haru. ia nampak menghapus air mata yang menetes dari kedua netra nya.


"Neysa ingin memberikan itu pada ayah. tapi, paman John sudah pergi menyusul ayah ke Singapura tadi pagi.",


"Neysa, sedikit sedih Oma.", jelasnya.


Oma nya berdehem mendengar ucapan cucunya. "Neysa, bisa memberikan itu pada ayah, nanti.", hibur Oma nya. gadis itu tersenyum tipis.


Ibu Cellya menutup buku itu dan memberikannya pada Neysa. "Neysa, simpan dulu. nanti, kalau ayah sudah pulang, Neysa bisa berikan pada ayah.", ucap Oma nya.

__ADS_1


Neysa menggeleng pelan. ia meletakkan buku itu di tangan Oma nya. "Kenapa?.", tanya ibu Cellya.


"Oma simpan, ya?.", pintanya. membuat ibu Cellya, menaikkan sebelah alisnya.


"Kenapa?.", tanya ibu Cellya. gadis itu menggeleng pelan. membuat Oma nya menghela nafas dalam.


"Katakan, kenapa?!.", tanya ibu Cellya, ingin tahu.


"Oma simpan, ya?!.",


"Neysa, khawatir membuat nenek sedih.", jawabnya. ibu Cellya nampak bingung dengan jawaban cucunya.


"Neysa, merasa nenek tidak suka melihat Neysa dekat dengan ayah.", ucapnya, polos. ibu Cellya nampak terkejut. apakah gadis kecilnya bisa merasakan konflik di antara ayah dan neneknya?!, pikirnya.


"Kenapa Neysa berpikir seperti itu?.", tanya Oma nya. gadis kecil itu menggeleng.


"Entah, Oma. tapi, itu yang Neysa rasakan.", jawabnya. ibu Cellya meraih tubuh kecil yang tengah duduk di sampingnya. ia menahan sesak di dada dengan penuturan cucunya.


......................


Mobil sampai di depan mansion. Neysa dan ibu Cellya segera turun dan masuk. mereka nampak bergandengan tangan sembari sesekali bergurau.


Setelah selesai, ibu Cellya sudah duduk di kursi taman sembari menatap laptop dan buku di meja depannya. Neysa nampak berjalan menghampiri dari dalam mansion.


"Oma.", panggilnya. membuat ibu Cellya menoleh dan tersenyum menatap kehadiran cucunya. Neysa duduk di kursi taman, bergabung dengan Oma nya.


"Oma, sedang apa?.", tanyanya. ibu Cellya, nampak menggeser laptop nya, agar Neysa bisa melihat apa yang sedang di kerjakan Oma nya.


"Desain apa ini, Oma?.", tanyanya.


"Ini desain pesta ulang tahun kamu, sayang.", jawab ibu Cellya. Neysa tersenyum.


"Terimakasih, Oma. tapi, seharusnya Oma tidak perlu repot.", ujarnya. ibu Cellya mengecup puncak kepala cucunya. baginya, Neysa adalah cucu terbaik yang ia punya. ia adalah pelipur lara hati yang mampu membuatnya bangkit dan bersemangat lagi. membuat nya mengikhlaskan semua rasa sakit kehilangan.


Ia adalah duplikat mendiang putrinya. benar-benar duplikat, terutama sifat, kedewasaan, dan kedua mata bulatnya.


"Tapi, Oma pengen.", jawab Oma nya, yang membuat mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lain dengan cinta.

__ADS_1


Malam datang, kini Neysa, Oma serta kakek dan neneknya tengah menikmati santapan makan malam dengan menu favorit Neysa. ya, ayam betutu.


Neneknya pulang dengan membawa menu favoritnya tadi. dan kini, mereka tengah menyantapnya bersama.


Makan malam selesai. Neysa sedang menggambar sesuatu di meja ruang keluarga di temani Oma nya. tiba-tiba datang kakek dan neneknya, untuk bergabung.


"Besan, bagaimana keadaan Ellyana?.",


"Neysa bilang, ia baru saja melahirkan.", tanya ibu Sean memulai pembicaraan.


"Keadaannya baik-baik saja, besan.",


"Puji Tuhan, bayi dan ibunya sehat, selamat tanpa kekurangan satu apapun.", jawab ibu Cellya.


"Aku turut lega, dan bahagia mendengarnya.",


"Neysa, juga begitu antusias menceritakan tentang Tante El, dan baby Kai nya.", ujar ibu Sean. ibu Cellya, tersenyum.


"Ya, dia senang karena menjadi kakak sekarang.", timpal ibu Cellya, membuat ibu Sean tersenyum.


nona


"Tapi, maaf. karena belum sempat datang untuk menjenguk.", ujar ibu Sean.


"Tidak apa-apa. doa dari besan, itu yang penting.", jawab ibu Cellya.


Mereka terus mengobrol di ruang keluarga. menikmati famili time bersama. sampai tidak terasa, malam sudah semakin larut. Neysa nampak menguap beberapa kali.


"Oma, nenek, kakek Neysa ke kamar dulu ya?!.",


"Neysa, sudah mengantuk. lagi pula, besok Neysa harus sekolah.", ujarnya, yang diangguki oleh semuanya.


Gadis itu, berjalan meninggalkan ruang keluarga setelahnya. ia masuk ke kamar dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menggosok gigi, cuci wajah dan setelah nya, segera naik ke ranjang. gadis kecil itu nampak berdoa sejenak lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, begitu selesai berdoa.


Neysa menyelimuti tubuhnya dan perlahan gadis itu mulai terpejam. suasana malam yang hangat untuk gadis kecil itu.


"Siapkan penerbangan untuk besok. aku mau pulang.", perintah Sean pada John.

__ADS_1


"Baik, tuan.", jawab asisten yang sudah lama ikut dirinya itu.


...----------------...


__ADS_2