
Pagi menyapa, semua anggota keluarga bersiap meninggalkan hotel menuju rumah masing-masing, begitu juga dengan Ellyana dan David.
Para maid nampak sibuk mengepak semua barang-barang milik majikannya masing-masing.
Sementara keluarga Sean, keluarga David dan ibu Cellya sudah berada di dining room hotel.
Nampak Bianca, sudah duduk bersama kedua orangtuanya. Sean duduk berdampingan dengan istri tercinta juga kedua orang tua, serta besannya.
"Kenapa kakak belum turun juga?. aku sudah lapar.", gerutu Bianca, sembari sesekali melihat ke arah pintu.
"Iya. ini sudah hampir pukul sembilan, dan mereka belum kelihatan.", timpal ibu Cellya.
"Lebih baik kita segera mulai sarapan nya, ma. aku jamin mereka tidak akan ikut sarapan bersama.", ucap Sean. membuat semua menatap nya penuh tanya.
"Memang kenapa, by?!.", tanya Cellya.
"Kita dulu juga pernah melakukannya, by.... , malam pertama.", ucapnya, dengan senyum menggoda. membuat Cellya refleks mencubit paha suaminya. karena melihat reaksi orang-orang terhadap Sean.
"Ahh, auw!!.", teriak nya. Cellya tersenyum untuk menghilangkan canggung dengan semua anggota keluarga yang ada.
"Maaf. suamiku, memang suka bercanda.", ucap Cellya. ia merasa tidak enak hati dengan kedua orang tua David, dan adiknya.
"Tapi, sayang...., ucapan Sean terpotong karena pukulan halus mendarat di pahanya.
"Ah, tidak apa-apa. kami sangat memakluminya.",
"Bagus, kalau mereka segera melakukan malam pertama nya. itu artinya, mereka tidak menunda untuk mendapatkan momongan. sehingga, kami bisa segera menggendong cucu.", ujar ayah David, terlihat begitu senang.
"Nah, benar kan?!.", tuan Guetta sungguh sangat pengertian.", ucap Sean menjabat tangan ayah David. mereka nampak tertawa bersama.
Makan pagi selesai. mereka segera melakukan check out dari hotel.
Sean segera mengajak istri serta Nani pulang ke mansion. hari ini, ia harus menemui klien dari Thailand, tuan Tang.
Begitu sampai di mansion, ia segera mengajak istrinya masuk untuk istirahat, sebelum akhirnya ia berganti baju dan pergi menemui kliennya.
Hari berlalu begitu saja, setelah pernikahan Ellyana. saudara Cellya itu memilih tinggal bersama ibunya setelah menikah. itu, karena memang perjanjian awal David dengan ibu Cellya yang mengizinkan mereka menikah, namun tetap tinggal di mansion ibu Cellya.
Bukan tanpa sebab. ibunya hanya punya dua orang putri. Cellya sudah di bawa oleh suaminya, maka Ellyana dan suaminya harus tinggal disini, untuk menemani hari tuanya.
Dua Minggu berlalu. kandungan Cellya semakin terlihat, apalagi Sean dan Cellya juga selalu melakukan pemeriksaan rutin kehamilan. mereka benar-benar menjadi orang tua siaga, terlebih Sean.
__ADS_1
Sore ini, Cellya ingin membuat camilan untuk dinikmati bersama suami, saat Sean pulang dari kantor nanti.
Ia ingin membuat cake, untuk teman minum teh suaminya nanti.
Cellya nampak mengeluarkan semua bahan-bahan dari lemari es. ia mengeluarkan telur, dan bahan cake lainnya.
"Nona, ingin makan apa?!. biar Nani, yang buatkan.", ujar Nani. Cellya tersenyum.
"Aku hanya ingin membuat cake, Nani.", jawabnya.
"Nona, istirahat saja. biar Nani, yang buatkan. nona, bisa memberi arahan pada, Nani.", ucap Nani. ia khawatir mendapat teguran dari Sean, karena membiarkan Cellya ke dapur. apalagi, beberapa menit lagi, sudah waktunya Sean pulang.
"Tidak apa-apa. Nani, duduk saja.",
"Jangan khawatir kan soal Sean. nanti, aku yang akan mengatakan padanya. jadi, Nani tidak perlu takut.", ucap Cellya. membuat asisten rumah tangga itu hanya diam, dan duduk di kursi dekat majikannya.
......................
Semua bahan sudah siap. Cellya nampak mengambil sebutir telur, dan memecahkan nya.
Seharusnya, dan menurut nya ia sudah memasukkan telur itu di wadahnya, tapi ternyata telur itu malah jatuh di samping wadah.
"Benarkah?!.", tanya Cellya. ia menatap meja dapur dengan diam.
"Nona, sebaiknya istirahat. duduk, saja.",
"Nani, yang akan membuat cake nya, sesuai arahan nona.", ucap Nani, seraya menuntun Cellya ke tempat duduk.
Cellya duduk dan memperhatikan Nani membuat cake, sesekali ia nampak memberi arahan.
Setelah Nani selesai membuat adonan, Cellya menyuruh Nani untuk mengoven nya.
"25 menit, nona?!.", tanya Nani, menanyakan waktu pasti mengoven cake, dan Cellya mengangguk.
"Nani, aku mandi dulu ya?!.", ucap Cellya. ia berjalan meninggalkan ruang dapur. ke kamar lamanya.
Ya, entah mengapa ia tidak ingin naik ke atas menuju kamar utama mereka. rasanya, malas. mungkin karena bawaan ibu hamil.
Pada akhirnya, Cellya mandi, berganti baju dan bersiap di kamarnya dulu. ia berjalan ke taman, menunggu suaminya pulang, sembari melanjutkan mendesign kamar baby mereka yang belum sempat ia selesaikan kemarin.
Sebuah mobil Porsche Panamera memasuki pelataran mansion. ia segera menutup laptopnya, karena ia tahu betul siapa yang datang.
__ADS_1
Ia menyambut dengan senyum manis saat suaminya turun dari mobil dan menghampirinya.
John nampak segera ke ruang kerja Sean, untuk meletakkan tas kerja bos nya.
Cellya merentangkan kedua tangannya. membuat ia mendapat pelukan hangat penuh cinta dari suaminya.
"Kau baik seharian ini, by?!.", tanyanya pada Cellya yang di jawab dengan senyum dan anggukan.
"Lalu, bagaimana dengan kabarmu baby?!. apakah kau pintar dan tidak membuat momy kesusahan?!.", tanya Sean, yang kini berjongkok di depan perut Cellya.
"Ayolah, by. dia adalah anak yang sangat penurut dan pintar.", ujar Cellya, sembari mengusap rambut suaminya. membuat pria itu segera berdiri di depannya, dan mengajak nya masuk rumah.
Mereka berjalan menaiki tangga, hingga sampai kamar. begitu di kamar, Cellya segera membantu Sean melepaskan jas dan bergegas menyiapkan air mandi.
"Mandilah dulu, by. aku akan menyiapkan baju gantinya.", ucapnya, sembari berlalu memasuki walk in closet.
Tak berapa lama, setelah Cellya menyiapkan baju ganti Sean di ranjang. suami siaga nya sudah keluar dari kamar mandi.
Cellya membantu Sean mengeringkan tubuh dan rambutnya, sebelum pria itu berganti baju.
"Tok...
"Tok...
"Nona, makan malam sudah siap.", ucap maid dari balik pintu kamar.
"Ya, terimakasih. kami akan segera turun ke bawah.", ujar Cellya, menyahut dari kamar.
Mereka keluar kamar setelah Sean rapi dan nampak lebih segar. tiba-tiba, saat berjalan beriringan di tangga, ponsel Sean berdering. ia pun segera menjawab panggilan itu, hingga melepaskan tangan Cellya yang sedari tadi di genggam nya.
Pandangan Cellya menjadi berbayang. ya, apa yang di lihatnya, nampak terlihat menjadi banyak. seperti sekarang ini, ia melihat anak tangga menjadi begitu banyak sehingga membuat nya salah injak dan hampir terjatuh.
Untungnya, Sean masih bisa menarik lengan Cellya. sehingga membuat wanita itu hanya terkejut saja.
Sean segera mematikan sambungan telepon nya, dan menggandeng tangan Cellya lagi.
"Ada apa, by?!.", tanya Sean. ia khawatir dan ingin memastikan istrinya baik-baik saja.
"Entahlah. tiba-tiba pandangan ku kabur dan jika melihat sesuatu terlihat menjadi banyak. itu sebabnya, aku hampir tergelincir tadi.", jawabnya, menjelaskan apa yang baru saja ia rasakan.
...----------------...
__ADS_1