
Pagi menyapa semua makhluk di dunia. ia menampakkan diri dengan sinar sang Surya. pagi yang cukup sibuk dan dinantikan oleh keluarga Neysa.
Ya, hari ini. tepatnya pukul satu siang nanti, operasi transplantasi sumsum tulang belakang akan di lakukan. sebelumnya, Neysa harus melewati beberapa prosedur untuk kesiapannya menjalani operasi besar ini.
Setelah melewati tindakan EKG jantung, Rontgen, CT scan, tes darah, biopsi dan terakhir adalah pengambilan sel punca untuk di cocokkan dengan pendonor. akhirnya, hari yang di harapkan oleh semuanya tiba.
Ya, mereka berharap dengan pencangkokan sumsum tulang belakang ini keadaan Neysa akan membaik. dokter sendiri bilang, potensi sembuh dari leukimia dengan pencangkokan sumsum tulang belakang ini, cukup besar.
"Dokter.", panggil Neysa, saat dokter selesai memeriksanya pagi ini. dokter Jeno menatap gadis itu, kemudian menyimpan stetoskopnya. Neysa memberi isyarat pada dokter Jeno, untuk duduk di kursi samping ranjangnya. dokter pun, menurut.
Ia nampak mencari sesuatu di balik selimutnya. tak berselang lama, Neysa mengeluarkan gelang yang ia buat kemarin. gadis kecil itu, memberikan gelang benang dengan satu batu berwarna putih di tengahnya.
"Tolong berikan ini, kepada pendonor ku.",
"Ini tanda terimakasih ku. aku, membuatnya sendiri.", ujarnya. dokter Jeno, menerimanya dan tersenyum.
"Gelang ini aku buat sendiri. Jadi, tidak akan ada yang menyamai.",
"Karena sekarang dia tidak mau menemui ku. sehingga aku tidak bisa mengetahui wajah ataupun ciri fisiknya. jadi, biar gelang ini yang menjadi pengenalnya.",
"Suatu saat, jika operasi ini berhasil dan aku bisa sehat kembali. aku akan mudah mengenali siapa pendonor ku dengan gelang ini.",
"Saat itu juga, aku bisa mengucapkan terimakasih ku secara langsung padanya.", ujar Neysa, menjelaskan. dokter Jeno tersenyum. ada anak yang begitu dewasa dan sangat menghormati orang seperti ini. ia begitu kagum.
"Baik.",
"Dokter, akan memberikan pada pendonor nona, nanti.",
"Tapi, nona harus berjanji satu hal.", ucap dokter. Neysa bertanya dengan raut wajahnya.
"Apapun yang terjadi nanti, tolong bertahan sekuat tenaga.",
"Dokter, akan melakukan yang terbaik dan berjuang hingga titik darah penghabisan. dan nona, harus bertahan serta berjuang sekuat tenaga untuk sembuh.",
"Pokoknya, jangan sampai semua pengorbanan kita sia-sia. oke?!.", ucap dokter, sembari menyodorkan hari kelingkingnya. Neysa tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya.
Ya, mereka akan berusaha semaksimal mungkin mengingat, potensi sembuh dan berhasil lewat transplantasi ini sangat besar. mereka saling tersenyum.
"Sekarang, dokter harus pergi untuk menemui pasien yang lain.",
__ADS_1
"Yang perlu nona ingat adalah, operasi ini tidak sakit. ini hanya seperti transfusi darah. jadi, nona tidak boleh takut. mengerti?!.", pesan dokter Jeno. Neysa mengangguk disertai senyum manisnya.
"Bye.", ucap dokter, melambaikan tangannya sembari berjalan menjauh, dan akhirnya keluar dari ruang rawat Neysa.
Dokter menutup pintu ruang Neysa. ia berjalan menuju ruang lainnya. ya, perawat baru saja mengatakan bahwa, pendonor tulang sumsum Neysa sudah datang. dan dokter memintanya untuk melakukan tindakan pemasangan infus, lebih dulu.
Dokter memasuki ruangan tempat pendonor tulang sumsum Neysa berada. ia mendekati pendonor itu dan menyapanya.
"Apa kabar, tuan?.", sapa dokter.
"Baik.", ujarnya. dokter Jeno nampak tersenyum sumringah.
"Kami akan melakukan pengambilan sel punca atau steam cell, untuk di bekukan lebih dulu.",
"Selanjutnya, nanti akan di cairkan ketika nona siap menerima donor sumsum tulang belakang.", jelas dokter Jeno. pendonor itu, mengangguk.
......................
Pendonor itu membaca surat dari Neysa yang telah di berikan oleh dokter.
...Halo, paman..........
Paman, dokter bilang paman orang yang baik karena bersedia mendonorkan sumsum tulangnya untukku tanpa mengharap dan meminta imbalan apa-apa.
Aku, mewakili ayah, Oma serta nenek dan kakek mengucapkan banyak terimakasih. aku harap, masih di beri waktu dan kesempatan untuk bertemu dengan paman, ketika operasi ini berhasil.
Paman, aku menitipkan gelang yang aku buat sendiri. ini tidak ada yang menyamai. tolong di pakai, ya?!. jadi, bila suatu saat Tuhan mengizinkan kita bertemu, aku bisa dengan mudah mengenali, paman.
Paman, mari bertemu di kehidupan kedua dan menjadi teman. aku janji, akan menjadi teman yang baik untuk paman.
Sekali lagi, terimakasih banyak paman. salam hormat dari kami sekeluarga. 😊
"Boleh aku minta bolpoin dan kertas?.", tanyanya, pada dokter. dokter Jeno, mengangguk.
"Tolong, ambilkan yang di minta, tuan.", perintahnya, pada perawat. tidak berapa lama kemudian, perawat kembali dengan bolpoin dan kertas yang segera di berikan pada pendonor itu. ia menulis surat balasan untuk Neysa. setelah selesai, pendonor itu memberikan pada dokter Jeno.
"Tolong berikan, pada Neysa.", pintanya. dokter Jeno mengangguk, dan segera pergi ke kamar Neysa untuk memberikan suratnya.
"Dokter?.", sapa Neysa, saat melihat dokter Jeno masuk keruangannya dan menutup pintu. ibu Cellya, menoleh menatap dokter Jeno yang semakin mendekat.
__ADS_1
"Apa sedang menikmati sarapan dengan, Oma?.", ujar dokter Jeno. Neysa mengangguk.
"Baiklah. makan yang banyak agar cepat sembuh. dan jangan lupa, dengarkan semua ucapan Oma.", ucap dokter Jeno, membuat mereka tersenyum lebar.
"Oh, ya. pendonor membalas surat, nona.", ujarnya, sembari mengeluarkan kertas dari sakunya, dan menyerahkan pada Neysa. Neysa menerima surat dan segera membuka, lalu membacanya.
...Halo, anak manis......
Hai, ini paman. paman harap, paman tidak menggangu waktu istirahatmu menunggu transplantasi dengan membaca balasan dari surat ini.
Paman tidak tahu, apa yang harus paman katakan. hanya saja, tolong berjuang sekuat tenaga dan jangan menyerah saat transplantasi berlangsung, saat setelahnya, dan saat perawatan jangka panjang pasca operasi.
Paman pernah kehilangan seseorang dan itu menyakitkan. itu sebabnya, paman tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama dengan paman.
Jadi, berjanjilah untuk kembali dengan sehat dan selamat. bukankah, kau ingin bertemu denganku?!. mari bertemu dalam keadaan sehat.
Oh ya, sampaikan salam ku pada keluargamu. aku, akan memakai gelang ini, sehingga saat bertemu kau bisa dengan mudah mengenaliku. 😊
Neysa tersenyum sumringah setelah membaca balasan surat dari pendonor.
"Terimakasih, dokter.", ucapnya. dokter Jeno, tersenyum.
"Baiklah. ayo, lanjutkan makannya.",
"Dokter, akan mengecek kesiapan operasi, nanti.", ucapnya, Neysa mengangguk.
"Permisi, nyonya.", pamitnya, sebelum pergi dan keluar dari ruang rawat Neysa. ibu Cellya, mengangguk.
"Cucu Oma, senang?.", tanya Oma, melihat senyum manis di bibir cucunya. Neysa mengangguk.
"Sepertinya, paman pendonor benar-benar orang yg tulus dan baik.", ujar Neysa. Oma pun tersenyum melihat binar bahagia di mata cucunya.
Neysa menghela nafas, hingga Oma mendengarnya.
"Kenapa, sayang?.", tanya Oma. Neysa menggeleng, tapi helaan nafasnya terdengar berulang.
"Ney?.", hardik Oma nya. gadis itu, menatap Oma. dengan ragu ia menanyakan sesuatu.
"Oma, apa ayah akan datang memberi semangat untukku saat operasi, nanti?.", pertanyaan yang lagi-lagi mampu membuat Omanya, terdiam seketika.
__ADS_1
...----------------...