
Pada akhirnya, mereka tertidur di kamar itu. tapi, tengah malam baby kembali menangis. Sean lekas bangun dan menggendongnya.
Tangisan nyaring dari baby Neysa menyebar ke seluruh penjuru mansion. membuat mama, mertua serta ayahnya pun ikut terbangun.
Nani menghampiri Sean dengan membawa botol susunya. Sean segera mengambil dot itu, dan memberikannya pada baby Neysa.
Sejenak baby itu masih meminum susu, namun tidak lama kemudian, baby Neysa kembali menangis.
Sean mencoba memberi susu lagi, namun baby itu menolak nya. ia terus menggelengkan kepalanya ke kanan-kiri, menolak pemberian susu dan terus menangis, yang mana malah membuat baby tersedak dan muntah.
"Kenapa menangis seperti itu?!.", tanya ibu Sean. ibu Cellya, segera mengambil alih untuk menggendong cucunya.
Hanya sebentar baby diam. tidak lama, bayi kecil itu menangis lagi. kini, ganti ibu Sean mengambil alih. ia menepuk-nepuk pantat baby, untuk menidurkan.
Awalnya, seperti terlihat berhasil. namun, beberapa saat kemudian, baby menangis lagi.
"Apa dia demam?.", tanya ayah Sean. membuat Sean dan mertuanya seketika mengecek suhu tubuh baby, dengan menempelkan tangan pada leher dan kening baby Neysa.
"Aku rasa tidak.", jawab Sean.
"Nani, tolong ambilkan termometer.", pinta ibu Cellya, membuat pengasuh itu segera pergi menuju kotak obat, dan segera kembali dengan termometer di tangannya.
Ibu Cellya menerimanya, dan segera menyelipkan termometer itu di ketiak baby Neysa, yang berada dalam gendongan neneknya.
Mereka terus berusaha menenangkan baby, sembari menunggu hasil dari termometer itu.
"37 derajat.", ujar ibu Cellya, setelah mengambil termometer itu dan melihatnya.
"Normal, kan?.", tanya ayah Sean, meyakinkan. ibu Cellya mengangguk, sembari melihat kedua besannya sekilas.
"Tapi, kenapa dia terus menangis dan merengek?!.", gumam ayah Sean, heran.
"Maaf, tuan muda, tuan besar dan kedua nyonya besar. mungkin, baby merasa nyeri dan ngilu di sekitar bekas suntikannya.",
"Sebaiknya, coba di kompres dengan air hangat. itu akan membantu mengurangi rasa nyerinya.", ucap Nani, mencoba memberi saran.
"Ahh, benar.",
"Nani, bisa minta tolong ambilkan air hangat nya?!.", pinta ibu Sean, yang segera di angguki oleh Nani.
Pengasuh itu segera pergi sebentar ke dapur untuk mengambilkan air hangat dan kompres. selanjutnya, ia segera kembali dan menyerahkan itu pada ibu Cellya.
__ADS_1
Ibu Sean segera duduk, dan besannya mengikuti duduk di sampingnya. ia segera memeras kain yang sudah di masukkan dalam air hangat, lalu segera menempelkan pada bekas suntikan di paha baby Neysa.
Baby Neysa tidur sambil menangis. ibu Sean menepuknya lembut, berusaha membuat baby itu nyaman agar lekas tertidur nyenyak.
Benar saja, setelah di kompres baby Neysa mulai nampak terlelap meskipun terkadang, ia meringis kesakitan atau menangis sambil memejamkan matanya.
"Kalian bisa istirahat dulu. kita, bisa bergantian menggendongnya.", ucap ibu Sean.
Ya, baby Neysa akan bangun dan menangis saat di tidurkan di ranjang. jadi, mereka memutuskan untuk bergantian menggendong.
"Aku berbaring di sini saja, besan. akan lebih mudah untukmu untuk membangunkan ku, bila aku tidur disini.", ucap ibu Cellya.
"Badanmu bisa sakit semua, besan. istirahatlah di kamar!.", ujar ayah Sean.
"Tidak. bagaimana aku bisa tidur nyenyak, jika cucuku sedang ingin di gendong oleh Oma dan neneknya?!. aku tidur di sini, saja.", ucap ibu Cellya, bersikukuh.
"Ma, mama, dan ayah, bisa istirahat di kamar. biar baby, bersamaku.", ujar Sean. ia mengambil alih baby Neysa dan membawanya ke kamar untuk istirahat.
......................
Pada akhirnya, mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat setelah drama rewel baby Neysa.
Dengan perlahan, Sean menidurkan baby di ranjang. ia pun, ikut berbaring saat baby benar-benar sudah lelap.
Sean memberinya susu, namun lagi-lagi baby hanya diam sebentar. ia mengompres bekas suntikan baby, lagi. namun, baby malah menangis semakin keras.
Sean hendak menggendong nya. namun, ia merasakan suhu tubuh baby Neysa tinggi.
"Sayang, kau demam?!.", ucap Sean, sedikit panik. ia menggendong baby keluar kamar. membuat Nani yang mendengar, segera menghampiri mereka.
"Ada apalagi, tuan?!.", tanya Nani.
"Neysa, demam.", jawabnya.
"Bisa bangunkan, John. untuk menyiapkan mobil?!.",
"Aku ingin membawa baby ke rumah sakit.", pinta Sean. Nani mengangguk. "Baik, tuan.", ucapnya.
Nani segera pergi untuk membangunkan John. tidak lama berselang, Nani segera masuk menghapus Sean.
"Mobilnya sudah siap, tuan.", ucap Nani. Sean mengangguk dan berjalan keluar.
__ADS_1
"Nani, jika sampai pagi aku tidak pulang. tolong, segera susul ke rumah sakit.", pesan Sean.
"Mengerti, tuan.", ujarnya.
Sean segera masuk ke dalam mobil. dan John segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, ia hanya berusaha menenangkan baby yang terus menangis dan sesekali merengek.
Beberapa saat kemudian, mobil sudah terparkir di depan sebuah rumah sakit. Sean segera keluar, saat John membukakan pintu untuknya.
Dengan sigap, Sean segera menuju ruang resepsionis untuk melakukan pendaftaran, sementara baby sudah di tidurkan di ranjang.
Baby di bawa ke IGD untuk pemeriksaan, sebelum di bawa ke NICU.
Sean terus berada di samping putrinya. nampak, baby Neysa sudah terlihat lemas. ia benar-benar tidak sanggup melihat kondisi putrinya saat ini.
Sementara dokter sedang melakukan pemeriksaan lanjutan pada baby Neysa.
Sean memalingkan wajahnya dan memejamkan mata saat melihat mereka mengambil sampel darah dari baby nya. ia benar-benar tidak tega.
"Kami akan melakukan lab, untuk mengetahui penyebab demamnya.",
"Untuk sementara ini, kami hanya memberikan infus agar demam nona kecil, sedikit menurun.", ucap dokter Tya. Sean hanya mengangguk, ia tidak bisa mencerna ucapan dokter karena pikirannya, penuh dengan putri kecilnya yang sedang sakit.
Ya, ini adalah kali pertama baby Neysa sakit. sebelum nya, baby Neysa tidak pernah sakit sampai seperti ini.
Sean duduk di samping ranjang baby nya. matanya belum terpejam dari semalam, karena hatinya tidak tenang melihat keadaan baby Neysa.
"Sayang. bagaimana keadaan cucu mama?.", tanya ibu Cellya, berlari masuk untuk melihat keadaan cucunya.
"Mama dan mertua mu kaget, saat Nani bilang kalau kau membawa baby Neysa ke rumah sakit. kenapa tidak memberitahu kami?!.", tanya ibu Sean, yang tidak kalah panik.
"Maaf, ma. Sean, panik. jadi, hanya menitipkan pesan pada Nani.",
"Lagipula, mama pasti lelah setelah begadang karena baby rewel semalam. jadi, aku berpikir untuk membawanya tanpa berpamitan pada kalian.", jawabnya, dengan wajah lesu.
Ya, ia benar-benar kacau melihat kondisi putrinya saat ini.
"Kau, bersihkan diri dulu. oke?!.",
"Biar kami yang menjaganya.", ucap ibu Cellya. Nani, pun menyerahkan paper bag di tangan nya yang berisi baju ganti tuan mudanya.
__ADS_1
...----------------...