
Terlihat ranjang itu mulai bergeser dari tempatnya semula. Sean terus menatap istrinya yang mulai masuk dalam alat yang berbentuk seperti lorong itu.
Hanya beberapa menit, dan Cellya sudah kembali keluar. menyelesaikan pemeriksaan MRI nya.
Sean segera menghampiri nya untuk membantu istrinya turun dari ranjang. setelah nya, Cellya ikut perawat lagi untuk berganti dengan bajunya yang semula.
Setelah selesai, Cellya segera menghampiri suaminya yang sedang duduk berhadapan dengan dokter.
"Silahkan bawa ini, saat mengambil hasilnya satu minggu, lagi.", ucap dokter, yang di angguki Sean.
"Baik, terimakasih.", ucap Sean. ia segera pamit pada dokter dan mengajak istrinya pulang, agar bisa segera beristirahat.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu patah katapun keluar dari keduanya.
Sean hanya menatap jalanan sambil terus menyetir. sementara Cellya, lebih sering melihat pemandangan sekitar dari jendela mobil, sembari sesekali melihat suaminya.
Ia tahu perasaan suaminya sedang tidak baik-baik saja setelah pemeriksaan hari ini. ia tahu, pasti di pikiran Sean ada banyak opsi dan kemungkinan-kemungkinan yang di takuti suaminya.
Tapi jangan kan untuk menenangkan, untuk bertanya saja Cellya sudah takut lebih dulu dan tidak berani karena, raut wajah Sean benar-benar datar.
Mobil sampai di depan mansion. Sean segera turun, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Bahkan bergandengan tangan dan berjalan beriringan menuju kamar pun, ia tidak menatap Cellya sama sekali. pikiran dan hatinya sangat tidak tenang saat dokter menyarankan untuk melakukan MRI.
Sampai di kamar, Sean menjatuhkan tubuhnya di ranjang. "Aku ganti baju dulu, by.", ucap Cellya, yang tidak mendapat sahutan dari Sean.
Ia pergi begitu saja, melihat suaminya yang masih diam berbaring menatap langit-langit kamar. bahkan saat Cellya kembali, posisi Sean masih sama.
Hatinya mengatakan untuk mendekat dan mengajak berbicara suaminya. ia pun duduk di tepi ranjang dan mulai berusaha memecah keheningan.
"By.", panggilnya. tangannya terulur untuk meraih jari-jari suaminya. membuat Sean menoleh, menatap nya.
Masih belum mendapatkan reaksi lain dari Sean, Cellya mencoba lagi.
"Kenapa dari tadi diam?!. apa aku berbuat salah?!.", tanyanya. hanya ******* nafas berat dari suaminya yang terdengar.
"Kalau aku bersalah, aku minta maaf. tapi jangan diamkan aku seperti ini.", ucap Cellya lagi. Sean menatap nya lagi. ia tidak tahu apa yang harus di ucapkan pada istrinya saat ini, oleh sebab itu dia memilih diam.
"By, bisa biarkan aku sendiri dulu?!.", ujar Sean. sekedar Cellya menggeleng pelan.
"Biarkan aku sendiri dulu, by.", pintanya lagi.
"Bicarakan padaku!. jangan menutup diri seperti ini.", suara Cellya terdengar berat. jelas, wanita itu hampir menangis.
__ADS_1
Sean segera berganti posisi duduk. dengan sigap ia meraih tubuh kecil istrinya. Cellya mulai menumpahkan air matanya di pelukan suaminya.
"Jangan menangis. aku minta maaf, oke?!.", ujar Sean sembari mengusap punggung istrinya.
"Aku minta maaf, jika salah. tapi, jangan abaikan aku.", pinta Cellya di sela tangisnya.
"Aku yang salah, by. aku yang harus minta maaf.", ucapnya.
"Sudah, jangan menangis lagi.", sambungnya.
Pada akhirnya, Sean membawa Cellya untuk berbaring agar mereka lebih tenang.
Ia terus mengusap surai pujaan hatinya, hingga isak istrinya tak terdengar lagi, yang ternyata istrinya sudah terlelap karena menangis tadi.
Sean mengecup kening Cellya, dalam. ia lantas juga ikut memejamkan matanya, agar hati dan pikiran nya lebih tenang.
......................
Sore hari Sean terbangun lebih dulu. ia segera membersihkan diri dan meminta Nani, mengantarkan teh dan camilan serta buah ke balkon kamarnya.
Ia meminum teh sembari menikmati langit yang mulai berganti warna menjadi kuning dan oranye itu.
Tiba-tiba ada yang memeluk nya dari belakang. dan bisa di pastikan, itu adalah istrinya tercinta.
"Mandi dulu, by. agar badan lebih segar.", bujuknya, tapi Cellya menggeleng lagi. membuat pria itu melepaskan tangan Cellya yang bergelayut di lehernya.
Ia menarik tangan Cellya, dan menuntun wanita itu untuk duduk di pangkuan nya.
Cellya mengalungkan tangannya di leher Sean, dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.
"Kenapa manja sekali?!.", tanya Sean. Cellya tidak menjawab dan hanya mempererat pelukannya.
"Oh, princess ku sedang manja rupanya.", ucap Sean, sembari memeluk tubuh istrinya.
Mereka diam dan saling menikmati pelukan itu. langit oranye menjadi saksi betapa mereka salin mencintai dan membutuhkan satu sama lain.
"By, jangan pernah diamkan aku lagi seperti tadi. oke?!.",
"Itu membuatku takut.", ujar Cellya. Sean mengangguk pelan dan tetap pada posisi mereka, saling memeluk.
"Kau juga jangan sembunyikan apapun dariku. aku tidak ingin terjadi apapun padamu.", ucapnya. Cellya mengangguk.
"Aku minta maaf.", ucap Cellya, lirih. ia masih bersembunyi di ceruk leher suaminya. Sean mengusap surai panjang istrinya yang tergerai.
__ADS_1
"Mau berapa lama lagi seperti ini?!.", tanya Sean. Cellya hanya menggeleng.
"Kau harus mandi, by.", ujar Sean.
"Sebentar lagi.", jawabnya. membuat pria itu menurutinya.
Haish, entahlah. apapun yang terjadi nantinya, ia tidak ingin memikirkan nya. apalagi memikirkan hal terburuk yang akan terjadi.
Pada akhirnya, Cellya melepaskan pelukannya. ia menatap suaminya yang masih memangku tubuhnya intens, begitu juga dengan Sean.
"Everything ok, by. Everything will be fine.", ucapnya lembut, sembari mengusap pipi suaminya. Sean mengangguk.
Kini ia yang menyandarkan kepalanya di dada sang istri, dan Cellya mengusap surai suaminya, lembut.
"Karena kau mengatakan demikian. aku mohon jangan menyerah, oke?!.",
"Kita akan melewatinya bersama.",
"Tidak perduli seberat apapun, jangan menyerah. demi aku, demi baby, demi mama, demi kedua orang tua dan demi semua orang yang mencintai dan menyayangimu.", Sean mendongak kan wajahnya, menatap Cellya.
"Janji, by?!.", tanya Sean, memastikan. dan wanita nya hanya menjawab dengan anggukan.
Sean menghapus air mata istrinya yang sudah mengalir membasahi pipinya.
"Jangan menangis. aku tidak suka melihatnya.", ujar Sean. Cellya berusaha menetralkan sesak di dadanya, agar air matanya berhenti menetes.
"Lihat!. hidung dan pipimu memerah karena menangis.", ucap Sean.
"Kau terlihat seperti bakpao.", ujarnya, membuat Cellya tersenyum kecil.
"Jangan pernah menangis lagi, oke?!. aku tidak suka.", ucap Sean. Cellya hanya mengangguk. ia lantas memeluk Sean lagi.
"Baiklah. sekarang, mau mandi sendiri atau harus aku mandikan?!.", tanya Sean, menggoda.
Cellya segera melepaskan pelukannya. "Tidak, tidak. aku akan mandi sendiri, by.", ujarnya, sembari segera berdiri dari pangkuan suaminya.
"Kenapa?!. aku tidak keberatan.", ujar Sean, yang melihat istrinya masuk ke kamar mereka bersiap untuk mandi.
"Aku tidak ingin merepotkan mu, tuan Xavier.", teriaknya.
"Lagipula, aku tidak ingin berlama-lama di kamar mandi.", ujarnya, sembari tertawa.
...----------------...
__ADS_1