
Tepat saat Sean melihat Cellya, mata indah itu perlahan terbuka.
Sean nampak senang sekaligus terkejut. ia menekan tombol nurse call, yang membuat dokter dan perawat berlarian masuk ke ruangan Cellya.
Membuat ibu Cellya, saudara, ibu serta ayah Sean bingung dengan situasi yang sedang berlaku.
Pikiran mereka kalut melihat dokter datang dan tergesa-gesa masuk ke ruang perawatan Cellya.
Hanya bisa menatap dari luar jendela, membuat mereka nampak sangat cemas. apalagi, terlihat dokter dan perawat berkumpul mengelilingi ranjang Cellya, sementara Sean sedikit menjauh dari ranjang istrinya terbaring.
Ellyana yang nampak bingung, hanya bisa memeluk ibunya erat. rasa takut bercampur khawatir akan keselamatan saudaranya memenuhi pikiran serta isi hatinya.
"Semuanya baik-baik saja.", ucap ibu Cellya, mengusap punggung putrinya. seolah tahu, kekhawatiran yang sedang melanda Ellyana.
Setelah beberapa saat, dokter nampak berjalan keluar. semua keluarga Sean dan Cellya segera beralih menuju pintu. menunggu dokter, dan ingin segera tahu apa yang terjadi.
"What happened?!.", tanya ibu Cellya, begitu dokter membuka pintu. dokter menutup pintu perlahan, lalu mengajak mereka sedikit menjauh, ke tempat duduk di ruang tunggu, tepatnya.
"Miss Cellya has come to her senses. nurse is checking blood pressure and so on.", ucap dokter. membuat kedua keluarga itu, tersenyum lega. terlebih Ellyana, ia nampak bahagia sampai tidak bisa menyembunyikan tangis bahagia nya.
"If conditions allow, and remain stable. we can immediately move to the treatment room.", jelas dokter. ibu Cellya dan lainnya mengangguk paham, dan tersenyum.
"Thank you for hard work.", ucap ibu Cellya, membungkukkan badannya di ikuti oleh yang lain.
"It doesn't have to be like this, madam. This is our duty as medical experts.", jawab dokter, yang kemudian juga membungkukkan badannya. ibu Cellya tersenyum.
Mereka hanya bisa duduk menunggu, sepeninggal dokter karena Sean belum keluar dari ruangan Cellya.
Perawat masih memeriksa lebih lanjut. sedangkan, perawat lain sudah keluar dan menyiapkan kamar rawat untuk Cellya.
Nampak tangan Cellya terus menggenggam tangan suaminya. Sean juga tetap di sisinya, ia merasa lega sekaligus bahagia melihat istrinya membuka mata.
"Miss Cellya, kena bed rest, ok?!. jangan banyak ajak cakap dulu.", ucap perawat itu mengingatkan. Sean mengangguk faham dengan bahas campuran itu.
Setelah itu, perawat pergi undur diri, keluar ruangan Cellya.
"Tidurlah!. dokter dan perawat bilang, kau tidak boleh banyak bicara dulu.", ucap Sean, sembari mengusap rambut istrinya. Cellya, nampak tersenyum lemah.
"Apa kau juga akan pergi?!.", tanya Cellya lirih. ia masih nampak lemah.
"Tidak.", ucap Sean. Cellya tersenyum.
"Tapi, mama disini. dia juga pasti ingin melihat mu.",
"Lagi pula, dari semalam aku disini. jadi, pagi ini aku belum membersihkan diri.", ucap Sean, tersenyum malu.
__ADS_1
"Kau tetap tampan meski belum mandi.", ucap Cellya, lemah. ia tersenyum, berusaha menggoda suaminya. Sean menunduk dan tersipu.
Ya, sudah lama ia tidak mendengar pujian dan rayuan istrinya.
"Pergilah, untuk mandi dan istirahat.", titah Cellya, membuat pria itu menatap wanitanya.
"Aku akan mandi, dan segera kembali menemui mu. lagi pula, kau akan segera di pindahkan ke kamar rawat. jadi, aku bisa istirahat di sana.", ucapnya. ia nampak menggenggam tangan Cellya, dan wanita itu hanya tersenyum melihat suaminya.
"Sekarang, pergilah!.", ucap Cellya, lagi.
"Kau bau, by.", candanya, sembari menarik tangan nya. Sean menunjukkan wajah kesal mendengar pernyataan istrinya, tapi ia juga ingin tersenyum. maka, ia hanya bisa memperlihatkan gummy smile nya.
"Tunggu saja!. aku akan segera kembali.", ucapnya, lalu mengecup kening Cellya dan segera berlari pergi keluar ruangan.
Ya, meskipun sudah bersama sejak kecil. tapi, Sean paling malu jika menunjukkan gummy smile nya pada sang istri.
Bukan tanpa alasan. ia malu sebab, istrinya mengatakan bahwa Sean sangat menggemaskan saat menunjukkan gummy smile nya.
......................
Sean sedang sarapan bersama setelah selesai mandi. sementara, Ellyana yang menemani istrinya.
"Kau merasa lebih baik?!.", tanyanya, sembari terus mengusap lengan saudara kembar nya yang baru saja menerima suntikan lewat infus. Cellya mengangguk.
"Lenganmu juga pasti merasa nyeri. aku akan terus mengusap nya pelan, hingga kau merasa nyaman.", sambungnya. Cellya tersenyum, mendapati perlakuan saudara kembar nya.
Saudaranya tidak pernah berubah. ia yang selalu menjadi garda terdepan setelah ibunya, saat Cellya mengalami kesulitan.
"Aku belum mengantuk.",
"Berapa lama, aku tidak sadarkan diri?!.", tanya Cellya.
"Dua hari dan tiga malam.", jawab Ellyana.
"Maaf, membuat kalian khawatir.", ucap Cellya.
Ellyana menatap wajah saudaranya. "Jangan dipikirkan. yang penting sekarang, kau baik-baik saja.", sambungnya.
Cellya menghela nafas dalam. ia ingin menanyakan sesuatu, tapi ragu. bukankah, seharusnya tanpa ia bertanya semua orang sudah tahu tentang penyakitnya?!.
"Jangan tanyakan apapun.",
"Tidak ada yang perlu di takutkan atau di pikirkan?!. aku paling tahu alasanmu.", ucap Ellyana, setelah lama hening di antara mereka.
"Mama, ibu dan ayah mertua mu. sedang mencari info dan berkonsultasi dengan beberapa dokter terbaik di bidang penyakit mu.",
__ADS_1
"Jadi semuanya, akan baik-baik saja.", sambungnya.
"Maaf, aku tidak jujur pada kalian.", ucap Cellya. ia nampak kecewa dengan dirinya sendiri.
"Lain kali, jangan seperti ini.",
"Jangan mengambil keputusan dan inisiatif sendiri.",
"Kau mungkin tahu dampak nya bagi diri dan kesehatan mu. tapi, apa kau juga memikirkan dampaknya pada kami?!.", Ellyana mulai meluapkan semua emosi dan perasaannya.
"Bagaimana perasaan mama?!. perasaan suami, mertua dan perasaan ku?!.",
"Melihat mu berjuang melewati masa kritis dalam keadaan hamil.",
"Setiap kali jantung berdebar tak beraturan melihat dokter dan perawat berlarian masuk ke ruangan mu.",
"Mengencangkan doa. hanya bisa memohon agar dirimu baik-baik saja.",
"Apa kau memikirkan nya?!.", tanya Ellyana. Cellya terdiam, merasa bersalah. sementara kedua mata Ellyana sudah basah karena butiran air mata.
"Maaf.", hanya itu yang bisa di ucapkan Cellya.
"Dengar!.", ia meraih kedua bahu Cellya.
"Jika kau tak bisa mengatakan pada, Sean dengan alasan kesehatan nya. Kau bisa mengatakan dan membaginya dengan ku.",
"Kau masih memiliki ku, masih memiliki mama.",
"Kau tidak hidup sebatang kara. dan kau tidak bisa menghandle semuanya sendiri.",
"Kita semua membutuhkan orang lain.", ucap Ellyana tegas.
"Aku kakakmu, dan mama adalah ayah sekaligus ibu bagimu. jangan merasa merepotkan?!. karena setelah sejauh ini. justru inilah hal yang repot.",
"Kenapa?!. karena semuanya sudah hampir terlambat.", sambung Ellyana.
Cellya terdiam. ia merasa bersalah pada semua nya, tapi waktu itu ia berpikir bahwa, ia masih mampu menghandle semua.
Ya, ia berpikir bahwa dengan melakukan pengobatan rutin penyakitnya akan sembuh.
Memang benar, stadium nya semakin menurun. hanya saja, saat kurang beberapa kali terapi tubuhnya sudah tidak bereaksi terhadap kemoterapi itu, dan baru di ketahui bahwa, ia tengah mengandung.
Nalurinya sebagai seorang ibu tentu saja keluar. ia ingin melindungi buah hatinya.
...----------------...
__ADS_1