
Pagi datang, semua orang sibuk dengan aktivitas nya masing-masing.
"Bye, Oma.", ucapnya, sembari melambaikan tangan pada Oma nya, yang perlahan menjauh dengan mobilnya.
Neysa segera memasuki gerbang sekolah nya. nampak Naina yang baru turun dari mobil di antar orangtuanya berlari menghampiri sahabatnya itu.
"Hai, Neysa. how are you?.", sapanya.
"I'm fine.", jawab Neysa, tersenyum manis. mereka berjalan beriringan di antara lalu lalang murid lainnya.
"Kamu kurang sehat, ya?.", tanya Naina. Neysa menggeleng.
"Tapi, kamu kelihatan pucat.", ujar Naina. Neysa menghela nafas.
"Aku tidak tahu, tapi aku merasa diriku baik-baik saja.",
"Sebenarnya, bukan cuma kamu yang bilang. tapi, Oma, nenek kakek dan semua orang di mansion juga bertanya seperti itu. tapi, aku tidak merasa sakit ataupun tidak enak badan.", jawabnya, menjelaskan. Naina mengangguk.
"Baiklah. sekarang, ayo kita masuk kelas.", ujar Naina bersemangat, ketika langkah mereka telah dekat dengan kelas tempat mereka belajar.
Sean baru saja selesai mandi dan bersiap. pria itu memakai jas, lalu menyisir rambutnya. pria itu tidak akan ke kantor ayahnya hari ini, karena ada undangan wawancara dengan majalah bisnis.
Ya, di usianya kini Sean tergolong muda dengan prestasi bisnis yang ia kelola bersama sang ayah, juga bisnis kuliner nya yang ia bangun sendiri. Sean berhasil membuka lowongan pekerjaan untuk banyak orang, lewat usaha kuliner yang ia tekuni sejak istrinya meninggal.
Ya, semenjak Cellya meninggal, dan ia di jauhkan dari putrinya. untuk menghibur diri agar tidak sedih dia mengalihkan pikirannya untuk fokus pada bisnis ayahnya di Singapura dan mulai membuka bisnis nya sendiri.
Dengan nama besarnya, mudah bagi dia untuk menggaet chef bersertifikat yang bisa ia tempatkan di setiap cabang bisnis kuliner nya di berbagai daerah.
Oh my tasty adalah nama resto kuliner yang ia dedikasikan untuk mendiang istri dan untuk putrinya. dalam waktu kurang dari tujuh tahun, resto itu telah memiliki lebih dari 20 cabang di berbagai daerah. tiga resto ada di negara Singapura.
Ia memiliki penanggung jawab yang mengelola semua restonya. pastinya, orang itu adalah John. orang yang sudah lama ikut Sean.
John berurusan dengan para kepala chef dan manager yang bertanggung jawab pada resto Sean di daerah masing-masing. selanjutnya, semua laporan pemasukan, pengeluaran dan apapun itu, John pula yang merekapnya dan menyerahkan pada Sean.
__ADS_1
Pria itu nampak terburu-buru memasuki lift untuk turun ke lobi. ya, John memberitahu nya bahwa ia sudah menunggu di bawah.
Pintu lift terbuka, membuat Sean segera melangkah keluar dan berjalan tergesa-gesa. nampak John sudah membukakan pintu mobil di sana.
"Maaf, aku terlambat.", ucap Sean sembari membenarkan jas hitam nya. John mengangguk hormat. ia segera menutup pintu mobil saat Sean sudah duduk di kursi penumpang.
Selanjutnya, ia segera beralih membuka pintu mobil yang lain dan duduk di belakang kemudi.
"Tuan, ada wawancara pagi ini.", ujar John, mengingatkan Sean, saat mobil baru saja melaju.
"Iya, aku ingat.", ucapnya.
"Sementara tuan melakukan wawancara, saya akan pergi untuk mengecek resto tuan yang ada di daerah sana.",
"Chef Felix melaporkan, seperti nya ada yang ingin bermain-main dengan keuangan resto kita.", ujarnya. Sean menghela nafas.
"Atur saja. itu tanggung jawabmu, John.", ujarnya.
Ya, sudah hampir sebulan ini, laporan keuangan resto Sean di daerah ini di rasa tidak beres. dan John, segera meminta chef untuk menyelidikinya.
Pukul tiga sore, mobil yang membawa Neysa memasuki gerbang mansion. gadis itu segera turun dan masuk ke dalam mansion, saat mobil berhenti dan pintu telah di buka oleh paman Han.
"Selamat datang, princess Oma.", sambut ibu Cellya, membuat Neysa tersenyum manis. ia berhambur memeluk Oma nya.
"Are you ready?!"., tanya Oma nya, yang di angguki Neysa dengan senyuman.
"Ok. let's go!.", seru Oma nya. membuat mereka tertawa bersama.
Oma lantas mengajak Neysa ke kamarnya, membersihkan diri dan bersiap untuk pesta ulang tahunnya nanti.
"Nenek belum pulang kah, Oma?.", tanyanya, ia nampak keluar dari kamar mandi, setelah membersihkan dirinya.
"Sebentar lagi, juga nenek pulang.", ujar Oma nya, sembari menerima nampan berisi makanan dari maid.
__ADS_1
"Makan dulu, sayang. baru makeup.", ucap Oma nya. Neysa mengangguk, ia segera duduk di sofa kamar nya dan menerima suapan dari Oma nya.
"Oma, mengirim undangan pada paman Santa juga, kan?.", tanyanya, di sela suapan Oma nya. seperti biasa, Oma nya hanya tersenyum dan mengangguk.
Paman Santa siapa?. dimana rumahnya?. tidak ada yang tahu. lalu, harus mengirimkan undangan nya kemana?!. Tapi anehnya, paman Santa itu selalu datang saat Neysa ulang tahun.
Neysa melahap semua makanan yang di suapkan oleh oma nya. gadis kecil tersenyum manis saat Oma nya selesai menyuapinya.
"Baiklah, karena sudah selesai aku akan sikat gigi dulu, sebelum di rias, Oma.", ucapnya, kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Ibu Cellya tersenyum, dia segera membawa nampan itu keluar dari kamar cucunya.
"Wah, cantiknya cucu kakek.", ujar ayah Sean saat baru memasuki kamar cucunya dan melihat Neysa tengah duduk di depan cermin sembari di rias oleh pengasuh nya.
Nani nampak menyisir rambut panjang Neysa lalu mengikatnya. tidak sampai di situ, Nani masih terus menghias rambut Neysa dengan bunga-bunga. Neysa tersenyum mendengar pujian kakeknya.
"Kakek, baru pulang?!.", tanyanya.
"Iya, tapi kakek sudah mandi dan langsung menemui cucu kakek.", jawab ayah Sean. Neysa tersenyum, ia bahagia banyak yang mencintai nya.
"Kakek, apa ayah pulang hari ini?.", tanya gadis itu, sembari tetap menatap wajahnya di cermin. kakeknya terdiam sejenak.
Ya, ia tidak mendapat kabar dari Sean meskipun sudah mengirim pesan dan berusaha menelpon nya. sebenarnya, ia merasa sedih melihat hubungan Sean dan Neysa yang renggang hanya karena keegoisan istrinya.
Ya, ia sempat marah pada ibu Sean karena terlalu keras pada putra mereka. ayah Sean berharap, istrinya bisa memaklumi ucapan dan sikap putranya. karena ia tahu, pasti berat bagi Sean di masa itu. masa, saat ia baru di tinggal istrinya dan berusaha untuk bangkit, tapi harus menerima kenyataan putrinya terkena penyakit berbahaya yang mengancam nyawanya.
"Kakek?!.", panggilnya, membuyarkan lamunan kakeknya.
"Ahh, ayah akan datang secepat mungkin. Kakek sudah menghubunginya, dan ayah akan segera terbang setelah pekerjaan nya selesai.", jawab ayah Sean, berbohong. Neysa yang sudah paham, tersenyum tipis menatap cermin di depannya.
Ini adalah tahun ketujuh, dan selama itu ia tidak pernah melihat ayahnya hadir di acara ulang tahunnya. hanya Oma, nenek, kakek, aunty El, uncle David beserta keluarga besar serta para relasi dari ayah atau kakeknya dan teman-teman sekolah nya.
Ya, biasanya sore hari hingga pukul tujuh malam adalah waktu ulang tahun Neysa yang di rayakan bersama teman-temannya. sedangkan pukul tujuh malam sampai selesai, adalah waktu ulang tahun Neysa yang di rayakan bersama keluarga besar dan relasi para perusahaan Oma, kakek dan ayahnya.
__ADS_1
...----------------...