Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 97


__ADS_3

Dokter dan perawat selesai memeriksa Sean.


"Kondisi tuan semakin membaik. hanya, untuk saat ini agar tidak terlalu banyak bergerak. kami, khawatir akan berpengaruh dan terinfeksi seperti kemarin.", ucap dokter. John mengangguk.


"Baik. terimakasih.", jawab John.


"Tuan, kami permisi dulu.", pamitnya. Sean mengangguk.


"Paman, apa ayah baik-baik saja?.", tanya Neysa, setelah dokter dan perawat keluar. John mengangguk. sementara Sean memandangi putrinya yang sedang duduk di ranjangnya.


Benarkah itu putrinya?!. ia mengingat kembali, dan yang terlintas di ingatannya adalah, saat ia melepas infus dengan paksa, dan berlari menuju ruang perawatan Neysa saat mendengar kabar, putrinya tidak bisa di selamatkan. ia datang saat perawat hendak melepaskan semua alat di tubuh Neysa. dan Sean berhasil mencegahnya. ia ingat membujuk putrinya, tapi ia merasakan kepalanya pusing dan akhirnya, tidak sadarkan diri.


"John?!.", panggilnya penuh tanya. tapi, tatapan matanya tetap fokus menatap Neysa, yang duduk menghadapnya. John mendekat.


"Benarkah dia putriku?.", tanyanya, dengan suara lemah. John mengangguk.


"Benar, tuan.",


"Tuan, berhasil menyelamatkan nona. tepat, sebelum tuan tidak sadarkan diri.", jelas John.


"Aku, tidak sadarkan diri berapa hari?.", tanyanya.


"Tiga hari, tuan.",


"Setelah kejadian itu, nyonya memutuskan untuk memindah tuan dan nona dalam satu kamar, agar mudah untuk merawat, tuan dan nona bersamaan.", tambahnya.


Ya, ibu Cellya yang mengusulkan hal itu. ia bertekad merawat menantu dan cucunya. jika, memang ibu Sean belum bisa memaafkan putranya, perihal masalah tujuh tahun lalu.


Neysa sendiri sudah siuman sehari setelah di nyatakan berhasil melewati masa kritis. ia sangat senang, saat Omanya membuat keputusan untuk memindahkannya satu kamar dengan sang ayah. apalagi, Neysa sudah bisa lepas dari beberapa alat medis. itu lebih mudah dan lebih leluasa baginya, untuk bergerak.


"Hai, sayang. are you oke?.", tanya Sean, menyapa putrinya untuk pertama kali. Neysa tersenyum. ia memberi isyarat pada John, agar membawanya ke ranjang sang ayah. John yang paham segera mengangkat tubuh kecil putri Sean, dan mendudukkannya di ranjang ayahnya. Sean, nampak sedikit menggeser tubuhnya, agar Neysa memiliki ruang cukup untuk duduk.


"Apa ayah merasa lebih baik, sekarang?.", tanya Neysa. Sean mengangguk. tidak dapat dilukiskan, betapa bahagianya pria itu bisa sedekat ini dengan putrinya, tanpa harus menjadi orang lain.


"Hah!, ayah lemah.", ucapnya. bibir mungilnya mengerut. membuat Sean tersenyum melihat dari dekat, begitu menggemaskannya putri tunggalnya ini. di tambah lagi, dengan gaya Neysa yang melipat kedua tangannya di depan dada.


"Nona, tidak boleh mengatakan hal itu kepada ayah. itu, tidak sopan.", ujar John, sembari menggantungkan infus milik Neysa, pada tiang di samping ranjang majikannya.


"Kenapa mengatai ayah lemah?.", tanya Sean.


"Oma bilang, ayah menangis sampai jatuh pingsan saat melihatku sakit. padahal kan, aku pasti akan sembuh.",

__ADS_1


"Ada banyak hal, yang belum aku lakukan bersama ayah. jadi, aku tidak akan mudah menyerah.",


"Tapi ayah apa?. hanya karena melihatku sakit, ayah menangis sampai pingsan.", gerutunya. Sean tersenyum hingga memperlihatkan gummy smile nya. rasanya, sudah begitu lama senyum itu hilang. dan kini, telah kembali.


"Baiklah. kau yang terhebat.", ujar Sean. Neysa, nampak menghela nafas dalam, dan Sean mendengarnya.


"Aihh, kenapa menghela nafas dalam - dalam?.", tanya Sean.


"Aku rasa. aku bukan anak ayah.", jawabnya. Sean mengerutkan keningnya.


"Apa maksudnya?.", tanya Sean.


"Lihatlah, ayah!. kita berbeda. aku adalah anak yang kuat, sedangkan ayah begitu lemah.", jelasnya.


"Tapi lihatlah!. wajahmu, sangat mirip dengan ayah.", ujarnya, tidak terima.


......................


Perdebatan itu berakhir dengan suara tawa dari Sean dan Neysa. meskipun bertahun-tahun tidak terjadi interaksi diantara keduanya. tapi, ikatan kuat antara ayah dan anak membuktikan cinta dan kasih sayang keduanya, ada.


Ibu Cellya menghapus air matanya, sebelum masuk ke ruangan tempat menantu dan cucunya di rawat. ya, diam-diam ia melihat semuanya. dan menahan langkahnya, hanya untuk melihat pemandangan mengharukan itu.


Ia mengambil duduk di samping ranjang Sean.


"Mama, langsung kesini begitu mendapat kabar kau siuman.",


"Bagaimana?. apa merasa lebih baik?!.", tanya ibu Cellya. Sean mengangguk.


"Thank you, ma.", ujarnya. ibu Cellya menggeleng pelan.


"Mama yang seharusnya berterimakasih.",


"Terimakasih banyak untuk semua.", ujarnya, ia sedikit merasakan tercekat saat mengatakan hal itu. menyadari satu kesalahan, tidak mengusahakan dan tidak membantu Sean untuk bersama putrinya sedari dulu.


"Oma, sekarang ayah sudah sembuh. bisakah, kita segera pulang ke rumah?.", tanya gadis kecil itu. ibu Cellya menatap cucunya penuh kasih.


"Nanti akan Oma tanyakan pada dokter, dulu. oke?!.", jawabnya, lembut. Neysa, nampak cemberut dan melirik ayahnya. ia lantas menjatuhkan diri di samping ayahnya. Sean mengusap punggung Neysa pelan. benar-benar mirip dengan mendiang istrinya jika menginginkan sesuatu dan tidak langsung mendapatkannya.


"Kenapa?.", tanya Oma. gadis itu menggeleng pelan. Oma menghela nafas. kebiasaan cucunya saat di tanya adalah menggelengkan kepalanya. nanti kalau di tanya kesekian kali, baru menjawab.


"Ayo, coba katakan pada Oma. kenapa?.", bujuknya. Neysa menelentangkan tubuhnya, dan menatap langit-langit kamar rawatnya.

__ADS_1


"Ney, ingin merayakan natal dirumah bersama ayah, Oma.", jawabnya. bibirnya masih cemberut. Oma hanya tersenyum mendengar permintaan cucunya.


"Ney, dengarkan Oma!.",


"Kalau memang memungkinkan, kita bisa pulang dan merayakannya di rumah bersama ayah dan keluarga yang lain.",


"Tapi, jika keadaan Ney dan keadaan ayah belum memungkinkan. dan dokter, masih perlu melakukan perawatan untuk mengontrol kondisi Neysa dan ayah, agar tidak sakit lagi. bukankah, kita harus mengikuti apa kata dokter?!.", Neysa mengangguk setengah hati. ya, bibir mungilnya saja masih cemberut.


"Ney, mau sakit lagi?.", tanya Omanya. gadis itu menggeleng.


"Ney, mau ayah sakit lagi?.", tanyanya lagi. lagi-lagi gadis kecil itu menggeleng.


"Bukankah Ney ingin, Ney dan ayah cepat sehat, sehingga bisa pergi kemanapun, Ney dan ayah mau?!.", tambah ibu Cellya. dan kini, gadis manis itu mengangguk.


"Jadi, Ney harus turuti apa kata dokter. oke?!.", ucap Oma, membuat gadis itu mengangguk.


"Maaf, Oma. Ney, egois.", ucapnya, lirih. Sean dan mertuanya tersenyum menatap gadis kecilnya.


"Tidak. Ney, hanya ingin cepat pulang. Oma, rasa itu permintaan yang wajar.",


"Oma sendiri, juga akan jenuh kalau harus dirumah sakit terus.", ucap ibu Cellya. ia tidak ingin cucunya, merasa bersalah.


"Sini, peluk Oma.", ujarnya. membuat gadis kecil segera bangun dan memeluk Omanya. ibu Cellya, mengusap punggung Neysa, hangat.


"Dengarkan, ayah.", ucap Sean, saat melihat mertuanya melepaskan pelukannya dari Neysa. gadis itu menatap Sean dengan manik indahnya.


"Baby, ingin merayakan natal bersama ayah, kan?!.", tanyanya, Neysa mengangguk.


"Tidak perduli dimana pun tempatnya, asal kita bisa merayakan bersama. ayah rasa, itu cukup.", ujar Sean.


"Maksud ayah?!.", gadis itu, belum mengerti.


"Kita bisa meminta paman John, menyulap kamar ini dengan dekorasi natal.", jawabnya.


"Benarkah?.", tanyanya. ia nampak begitu antusias. Sean mengangguk, dan tersenyum.


...----------------



...

__ADS_1


__ADS_2