Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 96


__ADS_3

Semua sedang menunggu di luar ruangan. hening, pastinya apalagi setelah kejadian tadi.


Ayah Sean menoleh ke kanan (sisi istrinya) dan ke kiri (sisi besannya) ia menghela nafas dalam, karena mereka sama-sama diam, terlebih ibu Sean. padahal, beberapa kali ayah Sean, sudah membujuknya untuk meminta maaf pada besan. tapi, ia belum mau mengakui kesalahannya dan memilih diam.


Dokter Jeno dan para perawat keluar dari ruangan. ibu Cellya dan besannya segera menghampiri dan bertanya.


"Bagaimana?.", tanya mereka hampir bersamaan. ibu Sean, melirik sekilas besannya. ya, ia bersikap demikian karena sedikit kesal dan kecewa pada besannya, yang mengizinkan Sean masuk, menemui Neysa. padahal, saat ibu Cellya datang dan ingin melihat cucunya. Sean, sudah berada disana dan meminta dokter untuk tidak melepaskan alat-alat yang menempel di tubuh putrinya.


"Puji Tuhan, nona telah berhasil melewati masa kritis.", jawab dokter Jeno, sumringah. Mereka menghela nafas lega, dan sangat bersyukur karena, Neysa masih selamat.


"Lalu, Sean?.", tanya ibu Cellya. seketika, senyum ibu Sean menghilang, mendengar besannya menyebut nama putranya.


"Sepertinya, tuan mengalami beberapa infeksi pasca donor.", jawab dokter Jeno.


"Donor?. donor apa?.", tanya ibu Sean, merasa aneh.


"Tuan, yang memberikan donor sumsum tulang belakangnya untuk nona, nyonya.", jawab dokter Jeno.


"Oh, itu sebabnya?!. cucuku harus melewati masa kritis yang hampir merenggut nyawanya?. karena menerima donor dari orang yang tidak ikhlas.", ucapnya, ketus.


Mendengar istrinya berucap demikian, ayah Sean hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menghampiri istrinya.


"Ma, Sean sebenarnya sangat menyayangi Neysa.",


"Mama, lihat saja. setelah, Neysa sembuh dan mama tidak mengizinkan dia untuk mendekati putrinya. dia, menempatkan John sebagai supir pribadi Neysa.",


"Setiap hari, Nani akan mengabari apapun yang di lakukan Neysa hari ini. apapun yang masuk ke tubuh Neysa, sampai apa saja yang dibutuhkan anaknya.",

__ADS_1


"Mama, tidak pernah tahu karena mama selalu menutup mata setelah kejadian tujuh tahun lalu.",


"Dia selalu berusaha membuat Neysa tidak melupakannya. dia bahkan selalu hadir di acara ulang tahun putrinya dengan memakai kostum Santa Claus. hanya karena, ingin sedikit lebih dekat dengan putrinya.",


"Apakah itu tidak cukup untuk menunjukkan bukti cinta dan sayangnya?!.", tanya ayah Sean. membuat ibu Sean terdiam. begitu juga, dengan besannya dan dokter Jeno.


"Tidak adakah, sedikit rasa iba di hatimu untuk putraku?.", tanyanya.


"Selama ini, dia menahannya sendirian.", ucap ayah Sean penuh penekanan.


"Jika kau menyalahkan Sean sebagai ayah yang gagal untuk putrinya. maka, aku juga ayah yang gagal untuk putraku.",


"Karena apa?!. karena, saat aku melihatnya diperlakukan dengan jahat oleh ibu kandungnya, aku hanya bisa diam. karena, ia melarang ku berdebat dan menyakitimu.", teriaknya. ibu Sean tersentak mendengar penuturan suaminya.


Sesaat ayah Sean diam menunduk. ia memegang dadanya dan badannya mulai terhuyung. membuat dokter Jeno dengan cepat menahan dan memegangnya. John, pun yang sedari tadi bersembunyi segera ikut membantu dokter, dan mendudukkan ayah Sean di kursi tunggu.


Setelah besannya nampak lebih baik. ibu Cellya pamit pergi, di temani John, untuk menjenguk menantunya. sekaligus memberikan ruang bagi ayah dan ibu Sean untuk berbicara berdua.


......................


Sean kembali mendapatkan perawatan intensif setelah pingsan di kamar Neysa. ia belum sadarkan diri.


"Bagaimana keadaannya?.", tanya ibu Cellya pada John.


"Dokter mengatakan, tuan hanya mengalami beberapa infeksi setelah operasi, dan butuh waktu untuk istirahat lebih lama, nyonya.", jawab John. pria yang selalu menemaninya di waktu-waktu, Sean butuh dukungan seperti saat ini. helaan nafas ibu Cellya terdengar. entah, apa yang di rasakan dan dipikirkan oleh wanita yang menjadi mertuanya itu. yang jelas, kesedihan nampak di wajahnya.


Ibu Cellya berjalan lebih dekat pada Sean. lalu mengusap rambut hitam menantunya. tiba-tiba terlintas bayangan masa lalu mendiang sang putri bersama menantunya. mereka yang selalu berusaha membahagiakan satu sama lain. berusaha menjadi yang terbaik untuk satu sama lain.

__ADS_1


"Aku, sudah membersihkan durinya. jadi, kau bisa makan dengan lahap.", ucap Cellya kala itu. ia membersihkan duri ikan, agar Sean bisa makan tanpa perlu takut tertelan duri.


"Terimakasih.", jawab Sean. senyum tulus mereka membuktikan cinta yang nyata.


Sama seperti Cellya, Sean juga selalu menyiapkan apapun keperluan istrinya. saat Cellya merengek minta es krim di waktu sudah larut. padahal, di dalam lemari pendingin masih ada. hanya, Cellya menginginkan rasa yang lain. maka, malam itu juga. pria itu akan keluar dan akan kembali saat ia sudah mendapatkannya.


"Tebak, apa yang aku bawa?!.", tanya Sean, sumringah. Cellya menggeleng, ia malas untuk menebak. tapi pria itu tidak pernah merasa istrinya mengabaikannya karena kesal. ia pun mengeluarkan es krim sesuai rasa yang di minta oleh Cellya. gadis itu kembali tersenyum sumringah dan meminta Sean untuk menyuapinya.


Padahal, waktu sudah cukup larut malam, dan Sean baru saja pulang bekerja, menemui kliennya. tapi, dengan sayangnya, ia melakukan semua itu dengan tulus untuk istrinya. membuat mood istrinya, yang memburuk kembali lagi. itu terjadi saat mereka baru saja menikah. Sean harus kuliah dan belajar mengelola perusahaan ayahnya, dan Cellya yang juga masih kuliah. membuat waktu bertemu mereka berkurang, dan hanya bisa bertemu di musim libur semester.


"Terimakasih.", lirihnya. kata itu, yang akhirnya terucap mewakili hatinya. ia ingin berterimakasih, karena Sean telah berhasil membuat mendiang putrinya bahagia, sebelum kepergiannya. dan juga, ia ingin berterimakasih karena Sean berhasil menyelamatkan cucunya, lewat operasi ini.


"Cepatlah sembuh, dan sadar. jangan buat Neysa sedih. dia sangat menyayangimu.", ucapnya.


Tiga hari berikutnya, Sean di nyatakan berhasil melewati masa kritis. namun, pria itu belum juga membuka matanya.


"Oh, ya?!.",


"Aku tidak percaya, paman John kan orang kepercayaan ayah. pasti, paman akan mengatakannya pada ayah.", ujar gadis kecil yang sedang duduk di ranjangnya.


"Tidak. paman berjanji.", ujar John. Neysa nampak mengerucutkan bibirnya. ia menunjukkan mimik wajah tidak percaya dengan ucapan asisten ayahnya.


"Engh....", suara Sean. membuat Neysa dan John menoleh, ke sumber suara. sepertinya Sean akan segera siuman. Neysa segera turun dari ranjang. John dengan cepat mengambil infus Neysa yang menggantung agar jarum infus tidak tertarik.


Mereka nampak berdiri disamping ranjang. menunggu pria itu membuka mata setelah beberapa kali melenguh. dan benar saja, Sean perlahan membuka matanya. yang pertama terlihat adalah langit-langit kamar rawatnya.


"Ayah?!. ayah, bangun?.", suara yang tidak asing. membuat Sean menoleh ke sampingnya. ia melihat Neysa tersenyum manis, juga ada John yang berdiri di belakangnya. pria itu nampak menunduk hormat. ia menekan tombol nurse call, agar dokter segera datang untuk memeriksa Sean.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2