Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 31


__ADS_3

Ellyana menemani Cellya pindah kamar, sementara yang lain masih sibuk membersihkan diri dan sarapan.


Tidak lupa, ia mengirim pesan pada ibunya agar mereka tidak bingung mencari mereka nantinya.


Ponsel Ellyana berdering. sebuah notif panggilan masuk. ia yang melihat nama calon suaminya tertera jelas di layar, segera mengangkatnya setelah menjauh dari Cellya dan para perawat.


"Hai. bagaimana kabarmu?!. kau baik?.", tanya suara di seberang.


"Aku baik, ay.", jawabnya.


"Maaf membiarkan mu pergi sendiri dengan mama. aku harap, aku tidak mengecewakanmu kemarin.", ucap David.


"Aku dan mama, mengerti.", jawabnya.


"Sudah sarapan pagi ini?!.", tanyanya.


"Belum. aku masih menjaga Cellya.", jawab Ellyana.


"Oh, ya. bagaimana keadaannya sekarang?!.", tanya David. hampir saja, ia melupakan saudara dari calon istrinya itu.


"Dia sudah siuman. sekarang, para perawat sedang membereskan kamarnya. dia baru pindah kamar pagi ini.", jawab Ellyana.


"Oh syukurlah. aku senang mendengarnya, ay.", ucap David, helaan nafas lega nya terdengar jelas.


"Ay, ada mama. aku tutup telfonnya dulu, ya?!.", ucap Ellyana, ketika melihat ibunya datang ke kamar rawat Cellya yang baru.


"Baiklah. kalau begitu, aku menunggumu sarapan di cafe rumah sakit.", ucap David. Ellyana, sedikit terkejut. ia tersenyum senang, mengetahui calon suaminya menyusul ke negeri singa ini.


"Ok.", jawab Ellyana, sebelum menutup teleponnya.


Nampak semua perawat menyelesaikan tugas nya dan keluar dari kamar rawat Cellya.


"Thank you.", ucap ibu Cellya, ketika berpapasan dengan para perawat.


"Cellya, sedang istirahat kah?!.", tanya ibunya.


"Mama, bisa masuk untuk melihat nya.", ucap Ellyana.


"Eoh.", jawab Mama nya, mengangguk.


"Ma, aku ke cafe dulu.", ucap Ellyana, meminta izin. ibunya mengangguk dan berjalan memasuki kamar rawat putrinya.


Ibu Cellya tersenyum, begitu melihat putrinya. raut wajah bahagia jelas terpancar.


"Merasa lebih baik?!.", tanya ibunya yang berdiri, tidak jauh dari ranjangnya. Cellya menoleh ke sumber suara. ia tersenyum dan mengangguk.


Ibu pimpinan perusahaan itu, segera berjalan mendekat menghampiri putrinya dan memeluk Cellya erat.

__ADS_1


"I Miss so bad.", bisik ibunya. matanya mulai berair karena haru. Cellya hanya mengangguk, di pelukan ibunya.


Mereka mengeratkan pelukan masing-masing. menyalurkan kerinduan yang kini telah terobati.


"Bagaimana perasaan mu?!.", tanya ibu Cellya, setelah melepaskan pelukan mereka. ia nampak menghapus air matanya dan air mata putrinya bergantian.


"Kau belum mengenalkan dia pada kami, bukan?!.", ucap ibu Cellya, sembari mengusap perut putrinya yang terlihat membuncit.


"Sejak kapan dia ada?!. kenapa tidak memberitahu, mama?!.", tanya ibu nya.


"Aku.....


Nampak ayah Sean dan ibunya datang. mereka segera menghampiri menantunya. memeluknya penuh haru, bergantian.


"Apa kau merasa lebih baik?!.", tanya ayah Sean. Cellya tersenyum dan mengangguk.


"Thanks, dad.", ucapnya. hanya itu yang bisa ia ungkapkan saat ini.


"For?!.", ucap ayah Sean, penuh tanda tanya.


"For everything.", jawab Cellya.


"Itu adalah kewajiban kami sebagai orang tua. jadi, tidak perlu berterima kasih.", ucap ayah Sean, yang tertawa mendengar ucapan menantunya.


"Ada yang tidak nyaman?!.", tanya ibu mertuanya, Cellya menggeleng di sertai senyum.


"Hai, by. maaf aku datang terlambat.", sapa Sean, yang baru bergabung bersama mereka.


"Tidak istirahat?!.", tanya Cellya.


"Aku bisa istirahat disini.", jawabnya santai. Cellya hanya menghela nafas, karena suaminya terlihat sedikit kurus saat ini. pasti, karena sibuk menjaganya.


......................


"Aku baru tahu, beberapa hari sebelum aku berangkat ke Singapura, ma.",


"Awalnya, aku ingin memberitahu mama sekalian, and Dady. but, I think.. aku ingin memberi kejutan pada kalian saat ulang tahun Sean.",


"Jadi, aku memilih berangkat ke Singapura dulu.", cerita Cellya.


"Dan..., Cellya melanjutkannya cerita nya. memotong ibunya yang ingin berkomentar.


"Dan soal saki itu....


"Aku sudah hampir lima bulan melakukan kemoterapi.",


"Aku pikir, aku akan segera membaik. jadi tidak perlu memberitahu kalian.",

__ADS_1


"Aku ingin kalian, lebih fokus memperhatikan kesehatan Sean, saja.",


"Tidak semua bisa kau selesaikan sendiri, sayang.", sahut ibunya.


"I know.", jawab Cellya.


"Bulan pertama sampai bulan ke empat semuanya baik-baik saja.",


"Saat pemeriksaan rutin, juga kondisi ku menunjukkan hal yang positif. sel tumor semakin berkurang.",


"Waktu itu, aku berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. dan aku bisa segera sembuh total tanpa harus menambah beban pikiran kalian. aku sangat bersemangat, dengan pengobatan itu, tapi....


"Siapa yang mengatakan dirimu beban?!. tidak ada yang merasa seperti itu. jadi, tolong jangan berpikir begitu.", sahut ayah Sean. ia nampak meraih tubuh Cellya, dan memeluk tubuh gadis itu.


"Maksudku bukan begitu, dad. aku hanya tidak ingin merepotkan, selagi aku bisa. apalagi, ada Sean yang sakit nya lebih parah dariku.", ucap Cellya, menjelaskan.


"Lantas, apakah menurut mu sakit mu itu bukan hal yang parah?!.", tanya Sean. ia sedikit kesal dengan cara berpikir istrinya.


Cellya melepas pelukan ayah mertua nya dan meraih tangan suaminya.


"Bisakah aku melanjutkan cerita ku lebih dulu?!.", tanyanya pada semua orang yang ada. mereka mengangguk.


"Di banding dengan kesehatanku. tentu kesehatan mu lebih penting.", ucapnya pelan, menatap suaminya yang masih memasang wajah kesal.


"Kau mengalami pendarahan di otak. dan masih ada sumbatan yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa, karena itu dekat dengan batang otak.",


"Sedangkan, jenis tumor yang aku derita. bukanlah jenis tumor ganas. dan masih mendapatkan penanganan cepat yang dapat membunuh sel-sel tumor yang menyebar.",


"Membuat mu sedikit emosional, artinya setuju bertaruh dengan nyawamu.", jawab Cellya, menjelaskan.


"Pada bulan ke empat menginjak bulan ke lima. harusnya, itu hanya kurang beberapa kali dari tahap kemo. tapi, entah mengapa, semua obat dan tindakan oleh dokter tidak di respon oleh tubuh ku.",


"Aku menjadi sering lelah dan pusing.",


"Dokter yang menangani ku memeriksa dengan teliti. seharusnya, kondisi ku baik-baik saja karena, sel tumor semakin menurun. tapi, melihat kondisi ku yang kian tidak bisa menerima reaksi obat, dokter pun melakukan pemeriksaan lebih lanjut.


"Hari itu, pagi-pagi buta sebelum ke kantor aku menyempatkan diri check kesehatan di rumah sakit bersama dokter yang menangani ku.",


"Setelah di periksa menyeluruh, termasuk USG. baru di ketahui bahwa, aku hamil sudah jalan 12minggu. beruntung nya, bayinya baik-baik saja, dan sehat. tidak terdampak efek kemo.",


"Awalnya, dokter meminta ku untuk menggugurkan nya dengan alasan menuntaskan kemoterapi yang kurang beberapa kali lagi. tapi, aku menolak.",


"Kenapa?!.", tanya Sean.


"Bukankah, kesehatan lebih penting. kau bisa hamil lagi, nanti.", sambungnya. Cellya tersenyum.


"Bukankah, sel tumor nya sudah semakin menurun dna berkurang. jadi, tidak apa-apa untuk hamil dulu. setelah melahirkan, aku bisa menjalani pengobatan lagi.", jawabnya. ia tidak ingin ibu, mertua dan suaminya terlalu banyak berpikir dan khawatir pada dirinya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2