Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 107


__ADS_3

Sean meminum obatnya, sebelum memilih untuk beristirahat. ia harus terus menjaga kondisi tubuhnya, agar tidak ikut sakit. khawatir, putrinya akan sedih jika melihatnya sakit.


Sean memilih untuk tidur dan berbaring di bed yang berada di sebelah Neysa. esok adalah hari natal, dan keluarganya sedang sibuk mempersiapkan hadiah untuk dibagikan kepada orang-orang.


"Selamat natal.", ucap ayah Sean dan ibunya, mereka mengunjungi panti tempat biasa mendiang menantunya datang dan memberikan donasi. kebetulan, Cellya adalah donatur tetap. dan mereka datang untuk mewakili mendiang putrinya.


"Terimakasih, atas kunjungan, makanan dan hadiahnya. semoga di tahun ini, semua penuh dengan keberkahan.", ujar ketua yayasan. ibu Sean dan ayahnya hanya bisa mengaminkan. tidak lupa mereka meminta doa untuk mendiang Cellya dan untuk kesehatan cucunya.


Selanjutnya, kedua orang tua Sean membagikan angpao dan kado pada semua anak panti. mereka bahkan makan bersama setelahnya.


Sementara ibu Cellya, sedang merayakan natal bersama Ellyana, David dan Kai. ini adalah natal pertama Kai, jadi kedua keluarga ( keluarga David dan Ellyana), memutuskan untuk merayakan bersama.


Keluarga Sean dan keluarga mendiang istrinya, sudah meminta izin padanya untuk merayakan malam natal seperti biasanya. esoknya, saat pulang dari gereja baru mereka akan merayakan bersama Sean, sembari menunggu Neysa di rumah sakit.


Udara di malam natal cukup dingin, salju juga mulai turun. Sean terbangun di malam natal. ia menyelimuti putrinya, memastikan tubuh mungil itu tidak merasakan dinginnya cuaca yang mulai berubah.


"Selamat natal.", ucapnya, setelah cukup lama memandang wajah putrinya. ini adalah natal pertama mereka, kali pertama mereka merayakan bersama. tapi, putrinya masih belum juga membuka mata. Sean merasa senang, karena tahun ini bisa merayakan natal bersama Neysa. tapi, ia juga sedih karena merayakan natal dengan kondisi putrinya yang sedang sakit.


Ia mengusap surai putrinya, penuh kasih. tidak banyak yang bisa dilakukan Sean, selain terus berada di sampingnya. tiba-tiba Sean meraba pinggangnya. lagi-lagi ia merasakan baal di sekitar bekas operasi. dokter sendiri, memang sudah bilang bahwa, ini salah satu resiko dan efek sampingnya. jadi, tidak perlu khawatir. ia hanya perlu berbaring dan beristirahat sebentar.


Sean merebahkan tubuhnya di bed yang berada di samping ranjang putrinya. ia menarik selimut, untuk memastikan tubuhnya tetap hangat, sehingga bisa tidur nyenyak. ya, bagaimanapun, ia harus peduli pada kesehatannya sendiri. ia memilih untuk beristirahat.


Pagi datang, Sean membuka matanya dengan berat. namun, matanya terbelalak kaget melihat Neysa sudah berdiri di samping bed nya, sembari membawa kue di tangannya.


"Selamat natal, ayah.", ucapnya, dengan senyum manisnya. seketika, Sean bangun dari tidurnya. ia duduk dan menyibakkan selimutnya.


Benarkah ini?!, putrinya, bangun?!. ia memegang kedua pipi Neysa dengan kedua tangannya.


"Apa yang kau lakukan?!. dia benar, putrimu.", ujar ibu Cellya, yang baru saja masuk ke ruang rawat Neysa dengan yang lain. mereka baru pulang dari gereja dan membawa aneka makanan serta camilan natal.


"Ini benar, baby?!.", tanyanya, berjongkok di depan putrinya. haru bercampur bahagia ia rasakan. gadis kecil itu mengangguk dengan senyum manisnya. secepat kilat, Sean meraih tubuh mungil putrinya dan memeluknya. ia menangis di pelukan gadis kecil itu. Neysa, yang selalu bersikap dan berpikir dewasa, hanya mengusap punggung ayahnya untuk menenangkan.



"Ayah, minta maaf.",

__ADS_1


"Maaf.", ujarnya. Neysa tersenyum di pelukan ayahnya.


"Ney, yang seharusnya minta maaf.",


"Maaf, sudah membuat ayah khawatir.", ucapnya. Sean tersadar satu hal. ia segera melepaskan pelukannya, dan menggendong putrinya, lalu mendudukkan ney di bed nya.


"Tunggu, kapan baby sadar?!.", tanya Sean. Neysa tersenyum manis.


"Saat ayah baru saja tidur. paman John, datang.",


"Paman mengantarkan kue, dari istrinya untuk kita.",


"Paman, sebenarnya hanya ingin mengantar kue. tapi, karena melihatku sadar, paman segera memanggil dokter.",


"Ayah, nampak sangat lelah karena saat dokter dan perawat datang untuk memeriksa, ayah tidak bangun.",


"Jadi, aku dan paman John sepakat untuk memberi kejutan pagi ini.", ceritanya. wajah dan mata gadis kecilnya, menunjukkan bahwa ia sangat bahagia. Sean, memeluk putrinya. nampak John berdiri di depan pintu bersama istri dan putranya.


Kedua keluarga itu, begitu terharu melihat hubungan ayah dan anak antara Neysa dan Sean. mereka pun, memberikan jalan pada John dan keluarganya.


"Tuan, maaf.",


"Begitu, nona muda sadar saya tidak membangunkan anda.", ujarnya, lalu membungkuk hormat di ikuti istri dan putranya. Sean tersenyum dan mengangguk.


"Aku yang seharusnya berterimakasih.", ujarnya.


"Bukankah seharusnya kau libur untuk menikmati natal bersama istri dan putramu?!. kenapa masih menyempatkan waktu kemari?!.", tanya Sean.


"Entahlah, tuan. perasaan saya terus teringat pada anda. itu sebabnya, saya datang semalam.",


"Awalnya, istri hanya meminta untuk mengantarkan kue pada keluarga tuan dan nyonya. tapi, saat sampai di sini saya melihat, nona muda mulai membuka mata. jadi, saya putuskan untuk memanggil dokter, tanpa membangunkan tuan.",


"Sekali lagi, saya mohon maaf.", ujarnya, mengakhiri cerita. Sean mengangguk.


"Nyonya John Maxim, terimakasih banyak atas perhatiannya. maaf, merepotkan.", ucap Sean pada istri John. wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Sama sekali tidak merepotkan, tuan.", jawabnya. Sean tersenyum, ia melambai pada putra John.


"Reynold Maxim, kan?!.", tanya Sean, memastikan. anak lelaki itu mengangguk.


"Mau berteman dengan Neysa?!. sama seperti aku berteman dengan ayahmu?!.", tanya Sean. Reynold melihat Neysa, gadis itu tersenyum manis.


"Tentu, tuan.", jawabnya. Sean tersenyum.


"Terimakasih.", ujarnya, sembari menepuk pundak Reynold. anak lelaki itu tersenyum.


"Kelak, tolong jaga Neysa untukku. seperti ayahmu yang selalu menjagaku.", pesannya. Reynold tersenyum dan membungkuk hormat pada Sean dan Neysa.


"Senang, bertemu dan berteman denganmu.", ujar Neysa, mengulurkan tangannya.


"Namaku Neysa Xavier Kamasean. aku harap, kita bisa berteman baik, kedepannya.", ucap gadis kecil, putri Sean memperkenalkan dirinya.


"Namaku, Reynold Maxim. terimakasih, nona. bersedia menjadikan ku temanmu. aku akan berusaha menjadi teman yang baik dan bisa di andalkan untukmu.", ujarnya. mereka saling tersenyum.


"Baiklah. karena, semua sudah berkumpul. mari, rayakan Natal dengan doa dan makan bersama.", ujar ayah Sean, yang di sambut setuju oleh semua orang. mereka nampak tersenyum sumringah dengan suasana hangat saat ini.


Mereka mulai mengambil aneka makanan yang di bawa oleh ibu Sean, ibu Cellya dan istri John. setelahnya, mengambil tempat masing-masing untuk menikmati semua hidangan itu.


"Silahkan, nona. agar lekas sembuh, anda harus banyak makan.", ujar Reynold, sembari menyodorkan makanan buatan ibunya untuk Neysa. Neysa menatap ayahnya, Sean mengedipkan mata disertai senyum. membuat gadis itu, segera menerima mangkok dari tangan Reynold.


"Terimakasih.", ujar Neysa. Reynold mengangguk.


"Tolong, habiskan!. itu adalah masakan ibuku. ibu sangat pandai memasak.", pesannya. Neysa mengangguk dengan senyum manisnya. Reynold kemudian pergi mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Apakah enak?.", tanya Sean, saat melihat putrinya begitu lahap. gadis itu hanya mengangguk. membuat Sean ingin menjahili putrinya. ia mengusap pipi dan hidung Neysa dengan makanan di piringnya. gadis itu cemberut untuk sesaat, namun saat melihat ayahnya tertawa, Neysa pun tersenyum.


"Jangan hanya melihatnya, ayo makan punyamu sendiri.", tegur ibu Sean pada putranya, sembari memberikan semangkuk makanan pada Sean.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2