Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 62


__ADS_3

"Apa Dady mengganggu?!.", tanya ayah Sean yang baru saja memasuki kamar rawat menantunya. Sean menoleh dan tersenyum, begitu juga dengan Cellya.


"Ya, Dady sangat menggangu.", ucapnya, bergurau. membuat ayahnya tertawa dan berjalan menghampiri mereka.


"Lebih baik, hari ini?!.", tanya ayah Sean pada menantu nya. Cellya tersenyum dan mengangguk.


"Dady ikut senang, melihatmu lebih baik.", ujarnya.


"Oh, ya. dimana yang lain?!.", tanya ayah Sean, setelah melihat ke sekeliling, dan tidak menjumpai selain anak dan menantunya.


"Mama sedang melihat baby.", jawab Sean.


"Baiklah. Dady, akan menyusul mereka ke sana.",


"Kalian, bisa melanjutkan keromantisan kalian.", ujar sang ayah menggoda. yang membuat mereka tersenyum.


Ayah Sean pergi meninggalkan mereka. ya, ia juga tidak sabar ingin melihat cucu pertamanya. bagaimana perkembangannya?!, setelah di lahirkan secara prematur.


"Tok...


"Tok...


Pintu kamar Cellya, di ketuk oleh seorang perawat. "Dokter, meminta untuk bertemu anda, tuan.", ujarnya. saat Sean menoleh ke arah pintu.


"Baik.", ucapnya, sembari mengangguk. perawat itu, mengangguk kan kepala, sebagai tanda hormat sebelum pergi.


"Aku ketemu dokter dulu ya, by?!.", pamitnya pada sang istri, yang segera di angguki Cellya.


Sean mengecup tangan Cellya dan berlanjut pada kening istrinya. "Aku akan segera kembali.", ujarnya, membuat Cellya mengangguk.


Sean beranjak dari duduknya dan segera keluar kamar. ia menyusuri lorong, hingga akhirnya masuk ke dalam ruangan dokter Jeno, setelah mengetuk pintu sebelum masuk.


Kini ia sudah duduk berhadapan bersama dokter Jeno. ia menjelaskan kondisi Cellya yang sudah sadar, pasca operasi Caesar.


"Kita perlu mengevaluasi dan terus fokus memantau perkembangan nyonya, sebelum bisa melakukan operasi tumor otak.", ujar dokter Jeno.


"Saya ikut apa kata dokter saja. terus terang, saya tidak terlalu paham ilmu kedokteran. jadi, saya hanya bisa mempercayakan pada ahlinya.", ucap Sean, santai.


"Baiklah. kalau begitu, cukup sampai disini pertemuan hari ini.",


"Bila ada sesuatu hal lagi yang kami temukan, atau ada perkembangan lagi, kami pasti akan segera menghubungi dan memberi tahu pada kami.",ucap dokter Jeno mengakhiri pertemuan dan pembicaraan kali ini.

__ADS_1


Sean keluar ruangan, dan ia segera menuju kamar rawat istrinya lagi.


Sesampainya di kamar Cellya, ia sudah melihatnya istrinya nampak tersenyum senang dengan sesuatu yang di tunjukkan oleh saudarinya.


"Dia sangat imut.", ucapnya, yang di angguki Ellyana.


"Sudah terpikirkan nama untuk baby butter?!", tanya Ellyana. Cellya terdiam dan nampak berpikir.


"Sedang melihat apa?!. seru sekali, kelihatannya.", ujar Sean sembari melangkah masuk ke kamar rawat sang istri.


"Lihat video baby butter. aku sengaja merekamnya untuk saudara ku.", sahut Ellyana. Sean tersenyum, melihat istri dan iparnya.


Ia melihat sekeliling. "Kau kesini sendiri?!.", tanya Sean, saat tidak mendapati David di ruangan itu. Ellyana mengangguk.


"Dia ada pertemuan dengan klien di resto depan. jadi, aku memutuskan untuk pergi kesini melihat baby, dari pada hanya duduk dan jadi penonton di sana.", jelasnya. Sean mengangguk-anggukkan kepalanya, paham.


"Emm..., mama dan Dady, apakah belum kembali?!.", tanya Sean lagi. Cellya menggeleng.


"Hahh...., para orang tua itu. mereka masih berdiri mengelilingi inkubator dan terus memanggil-manggil baby.",


"Ayah mertua mu, sangat antusias untuk merekam nya. karena kalian tahu apa?!. baby, kalian itu seperti sudah mengerti.", ujar Ellyana sedikit kesal dan gemas. membuat Cellya dan Sean membulat kan matanya, menunggu cerita Ellyana selanjutnya.


......................


"Iya. setiap kali mereka memanggil. baby...., maka baby kalian akan menggeliat, berpose imut atau sesekali menangis.",


"Kalian tahu, apa yang di lakukan mereka saat baby menangis?!. mereka akan mengatakan bahwa, mereka semua mencintai dan menyayangi baby. dan bisa di tebak apa yang terjadi?!.", tanyanya, sengaja menjeda cerita. membuat Cellya dan Sean menggeleng, tidak mengerti.


"Dia akan langsung tersenyum imut. aku saja gemas, apalagi nenek kakek nya.", ujar Ellyana mengakhiri ceritanya. tangannya nampak mengepal, menandakan ia juga menahan gemas mengingat wajah baby butter.


Sean dan Cellya tersenyum mendengar cerita dan mimik wajah Ellyana.


"Aku tenang, begitu banyak yang mencintai baby.", ucap Cellya, terbata. Sean hanya menoleh dan tersenyum menatap istrinya lekat.


"Apa kata dokter?.", tanya Cellya, lirih.


"Dokter bilang, kau akan segera menjalani operasi tumor otak. untuk waktunya, belum di tentukan. dokter masih perlu mengevaluasi dan melihat perkembangan mu pasca operasi Caesar.", jawab Sean.


"Oh ya, dokter Tya bilang. baby, sudah bisa minum ASI. jadi, selang makanan akan segera di lepas.", sambungnya. Cellya tersenyum mendengar kabar baik untuk nya dan untuk baby.


"By, bolehkah aku melihatnya sekarang?!.", tanya Cellya, dengan suara terbata.

__ADS_1


"Tapi, by....


"Aku sudah bisa duduk. aku mohon!.", ujarnya lirih dengan suara yang hilang-timbul.


"Aku akan bertanya pada dokter, sebentar.", jawabnya, setelah lama diam.


"Tunggu sebentar, ok?!.", ucapnya, yang melihat istrinya sedikit kecewa dengan jawabannya, sebelum ia pergi.


Sean meninggalkan Cellya yang hanya di temani Ellyana di ruangannya. tidak lama kemudian, ia segera kembali dengan membawa kursi roda.


"Ayo, biar aku bantu.", ucapnya, saat kursi roda itu sudah berada di samping ranjang istrinya.


"Apa boleh?!.", tanya Cellya. Sean mengangguk. membuat wanitanya nampak begitu sumringah.


Sean segera mengangkat tubuh istrinya dan meletakkan nya pelan-pelan di kursi roda. Cellya terus tersenyum karena bahagia, sebentar lagi ia bisa melihat putri kecilnya. begitupun Ellyana, ia juga bahagia melihat Cellya yang berhasil berjuang sejauh ini, untuk putri dan suaminya.


"Aku rasa, aku harus segera pergi. David, sudah menungguku.", ujarnya, seraya berjongkok di depan kursi roda yang di duduki saudaranya.


"Secepat itu?!.", tanya Sean. Ellyana mengangguk.


"Dia sudah selesai, dan baru saja mengirimkan pesan.", jelasnya.


"Baiklah. kalau begitu, mari berjalan beriringan dan berpisah di lorong.", ujar Sean, yang di angguki Ellyana.


Mereka berjalan beriringan keluar kamar. dan akhirnya berpisah di ujung lorong. Sean harus mengantarkan istrinya bertemu putri mereka, sementara Ellyana harus segera menemui suaminya yang sedang menunggu di lobi.


Ruang NICU. tulisan besar di atas pintu itu memberi tanda bahwa, putri kecilnya sedang di rawat secara intensif di sana.


Senyum Cellya sudah mengembang. ia nampak mendongakkan kepalanya, memandang suami yang sedari tadi mendorong kursi roda nya.


"Kenapa?!.", tanya Sean. ia nampak berhenti sejenak.


"Aku tidak sabar, tapi juga sangat gugup, by.", ucapnya, beberapa kata terputus dan hilang karena tenggorokannya yang sakit.


Sean tersenyum. ia mengusap surai istrinya.


"Kalau begitu ayo kita masuk.", ajaknya. Sean mendorong istrinya memasuki ruangan baby. tentu nya setelah memakai pakaian steril.


Cellya menitikkan air matanya, haru. ya, bayi yang ia pertahankan mati-matian akhirnya bisa lahir dengan selamat.


"Hai, baby.", sapa Cellya, untuk pertama kali saat ia sudah berada di samping inkubator baby nya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2