Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 112


__ADS_3

"Apa nona kecil sudah tidur?.", tanya Sean saat melihat maid dan Nani keluar dari kamar putrinya. mereka menatap Sean sekilas dan menggeleng.


"Nona, sedang mendengarkan cerita dari ibunya.", jawab Nani.


"Ibu?.", tanya Sean, tidak mengerti. Nani dan maid mengangguk. Sean yang merasa aneh, membuka perlahan pintu kamar Neysa. nampak gadis itu sedang melihat video sang ibu di putar pada layar TV, yang tengah asyik merangkai bunga dan bercerita.


'Oh, ya. jika ayahmu kelelahan bekerja, biasanya ia akan melupakan hal-hal penting sebelum tidur.'


'Ia akan lupa untuk mencuci wajah dan meminum susu. hahahaha....... , terdengar seperti anak kecil, ya?!. tapi, itulah ayahmu.'


Terlihat dan terdengar jelas wajah dan suara khas istrinya di layar TV yang berada di kamar putrinya itu. Sean, melihat putrinya sekilas, yang masih belum menyadari kedatangannya. Neysa bahkan ikut asyik tertawa kecil mendengar cerita tentang sang ayah dari video ibunya.


"Ayah?.", gumam Neysa, saat melihat ayahnya berdiri di tempatnya. tepi ranjang, tepatnya. pria itu nampak tidak berkedip menatap layar TV, melihat mendiang istrinya yang sibuk bercerita di sana.


"Ayah.", panggilnya. membuat Sean sadar dan segera menatap putrinya yang kini tengah duduk di ranjangnya.


"Hai.", sapanya. ia lalu, berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang Neysa.


"Apa ayah mengganggumu?.", tanyanya, saat melihat putrinya kini duduk. gadis itu menggeleng. Sean mengalihkan pandangannya lagi ke layar TV. kini, nampak wanita yang selalu mengisi hatinya itu tersenyum, mengakhiri ceritanya.


"Maid dan Nani bilang, kau sedang mendengarkan cerita dari ibu.",


"Apakah ini?.", tanya Sean. Neysa mengangguk.


"Sejak kapan?.", tanya Sean, setelah diam mendapatkan jawaban dari putrinya.

__ADS_1


"Sejak kecil.", sahut ibu Cellya, yang tiba-tiba datang dan berdiri di tengah pintu. membuat Sean dan Neysa menoleh mencari sumber suara.


"Putriku, mungkin sudah tahu bahwa, dia tidak akan bisa menemani putrinya tumbuh dewasa.",


"Itu sebabnya, dia menyiapkan banyak video untuk putrinya.",


"Ia ingin putrinya, tetap mengenal dirinya. meskipun, dia tidak bisa merawat dan menemaninya.", ujar ibu Cellya, setelah menghampiri dan ikut duduk di ranjang cucunya.


Neysa menyerahkan foto kolase yang di buat oleh mendiang istrinya.


"Di setiap video yang akan di putar sebelum Ney, tidur. ada photo kalian berdua, yang sudah di kemas dalam buku atau album untuk di lihat, putrinya.",


"Cellya, menyiapkan semuanya agar putrinya tidak melupakannya bahkan saat mereka belum lama bertemu.", ujarnya.


Sean nampak melihat dan membalikkan lembar demi lembar album itu. ia tidak menyangka, istrinya memikirkan hal sedetail ini. bahkan, mertuanya mengatakan bahwa mendiang istrinya sudah menyiapkan banyak video untuk putrinya. termasuk, video ucapan selamat ulang tahun untuk putrinya setiap tahunnya.


Dari awal mereka kenal, dekat hingga menikah. dari mereka masih harus hidup terpisah karena harus menempuh pendidikan setelah menikah, hingga banyaknya waktu yang mereka habiskan bersama saat libur kuliah.


"Apa ayah mau mendengar cerita momy, denganku?.", tanyanya. Sean menatap mertuanya sekilas. ia tersenyum pada putrinya, saat menatap kedua mata bemby yang menurun dari mendiang istrinya.


"Oma, keluar ya?!.", izin ibu mertuanya. membuat Sean dan Neysa tersenyum dan mengangguk kompak.


......................


"Ayahmu, adalah pria pekerja keras. jadi, kau harus sering mengajaknya bermain dan bercerita.",

__ADS_1


"Itu, akan membantu ayahmu sedikit rileks dan nyaman.", ucap wanitanya, sembari menunjukkan keahliannya merangkai bunga di layar.


Sean memandang layar itu, dengan mata menerawang. sementara, Neysa perlahan masuk dan terbuai ke alam mimpinya. ya, gadis kecil itu terlelap di pelukan sang ayah sembari mendengar cerita ibunya dari video.


Wanita yang masih bertahta di hatinya itu benar-benar mengagumkan bahkan saat ia telah tiada. ia mempersiapkan segala sesuatunya untuk putri mereka. memastikan putrinya mengenalnya dan memberitahu putrinya tentang semua kebiasaan, sikap dan sifat ayahnya. ya, terlihat jelas dari semua peninggalannya untuk Neysa, putri mereka.


Ia mengalihkan pandangannya pada putri kecilnya. raut wajahnya nampak lelap dan damai. membuat Sean membenarkan posisi kepala putrinya yang sedikit miring karena bantal yang di pakai Neysa, sedikit tertekan oleh tubuhnya.


Pria itu meraih album photo yang masih bertaut dengan jari-jari kecil putrinya. ia nampak melihatnya sekilas dan hendak meletakkan album itu di atas nakas. namun, pria itu mengurungkan niatnya saat sekilas terlihat photo mereka berdua.


Ya, itu adalah photo saat mereka berdua selesai melakukan pemberkatan. ia ingat dengan jelas bahwa, saat itu seluruh keluarga memintanya untuk mencium sang istri. namun, raut wajah Cellya terlihat memerah. gadis itu bahkan menggeleng pelan dengan senyum manisnya karena malu. paham dengan hal itu, Sean pun hanya meraih tubuh Cellya dan memeluknya erat. namun, suara riuh dan tepuk tangan dari kedua keluarga besar mempelai tetap terdengar memenuhi ruangan, menyambut kebahagiaan sejoli yang resmi terikat dalam hubungan pernikahan. Sean tersenyum tipis mengingat hal itu.


Mengenal, mencintai dan memiliki wanitanya adalah kebahagiaan dan anugerah terbesar dalam hidupnya. apalagi, melihat perjuangan istrinya yang berhasil memberinya putri kecil, sebelum pergi. ia tahu, istrinya tidak ingin dirinya merasa kesepian.


Sean meletakkan album di atas nakas. bersamaan dengan itu video di layar TV pun selesai dan mati. ia mengalihkan perhatiannya pada putri kecil yang terlelap di sampingnya.


Di kecupnya kening sang putri penuh cinta yang hangat. kini, apapun yang telah terjadi padanya, pada istrinya pada keluarga kecil mereka ia merasa bersyukur dan bahagia. rencana tuhan memang indah.


Tugasnya kini, hanya merawat, menjaga, menyayangi dan memastikan bahwa putrinya baik-baik saja, sehat-sehat saja dan selalu bahagia.


Tidak lupa juga, ia memastikan kesejahteraan untuk putrinya di masa depan. untuk itu, ia pun telah mempersiapkan usaha di hampir segala bidang untuk putrinya. tentunya, dengan semua orang kepercayaan yang di didik oleh John, termasuk putranya.


Sean memasukkan kakinya dalam selimut sang putri, ia memastikan putrinya dan tubuhnya sendiri terselimuti dengan rapi, agar tidak merasakan dinginnya angin malam hari.


Ia memandang sekitar ruangan kamar putrinya sejenak. kamar dengan aksen aneka warna pink dan pallet itu benar-benar disiapkan mendiang istrinya untuk putri mereka. rasanya, setelah dipikir-pikir ia dan sang putri tidak akan pernah pindah dari rumah yang penuh kenangan dan cinta diantara mereka. biarlah, ia dan putrinya hidup bersama kenangan bayangan mendiang bidadari nya.

__ADS_1


Sean membenarkan bantalnya. ia lantas merengkuh tubuh mungil di sampingnya agar merasa hangat dan nyaman dalam tidurnya. tidak lupa, pria itu mengecup beberapa kali wajah sang putri, lalu bersiap menutup mata memasuki alam mimpi.


...----------------...


__ADS_2