Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 105


__ADS_3

"Apa tindakan yang harus dilakukan selanjutnya?.", tanya ibu Sean, panik.


"Untuk sementara, kami akan memberikan suntikan dan obat lewat infus.",


"Kita akan terus memantau perkembangannya. jika, memang itu di rasa cukup untuk mengatasi infeksinya, maka tidak perlu ada tindakan lain.", jelas dokter Jeno. kedua nenek Neysa, mengangguk paham dan setuju.


Dokter Jeno permisi undur diri. ibu Cellya masuk lebih dulu untuk melihat kondisi cucunya. gadis yang ceria dan tertawa beberapa hari lalu, kini terbaring tidak berdaya lagi di tempat yang sama. ia hanya berharap, kali ini bukanlah masalah kesehatan yang serius.


Ibu Sean menyusul masuk dan menghampiri cucunya. ia menggenggam tangan Neysa dan mengusap keningnya pelan. melihatnya terbaring tidak berdaya dan terus mengigau memanggil sang ayah, membuatnya kian bersalah karena menuruti ego nya.


Sementara, ayah Sean baru saja sampai setelah tiga jam melakukan penerbangan. ia segera menuruni tangga pesawat dan keluar dari bandara.


Tidak butuh waktu lama. ia sudah di jemput oleh orang kepercayaannya, dan segera di bawa ke apartemen Sean, sesuai dengan permintaannya.


Bel apartemen berbunyi, Sean bangun dari tidurnya dan membuka pintu, tanpa berpikir panjang.


"Dady?.", gumamnya tidak percaya, saat melihat ayahnya berdiri di depan pintu apartemennya. tanpa banyak bicara, ayah Sean memeluk putranya, erat. rasa sedih dan bersalah karena tidak bisa melindunginya merayap di hatinya.


"Ayo, masuk Dad.", ajaknya. ia lantas menutup pintu apartemen. Sean mengajak ayahnya untuk duduk di sofa.


"Siapa yang mengantarkan Dady kesini?.", tanyanya.


"Itu tidak penting.", jawab ayahnya. Sean mengangguk paham. ia pun mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. apa ada yang bisa aku bantu?.", tanya Sean. ayahnya diam tidak menjawab. tapi, sejurus kemudian nampak bahu ayahnya bergetar hebat. dan terdengar isak tangis ayahnya.


"Dad, are you oke?.", tanyanya, sembari memegang pundak ayahnya. pria tua itu tidak menjawab. ia hanya terus menunduk dan terisak.


Akhirnya, Sean lebih memilih membiarkan ayahnya untuk menangis, agar semua beban di hatinya menjadi lega. ia meninggalkan ayahnya, dan kembali lagi dengan membawa segelas air putih.


Ayahnya kini sudah nampak lebih tenang. Sean segera mengulurkan gelas berisi air pada ayahnya. ayah Sean meneguk air itu hingga habis. Sean tidak berani bertanya. ia hanya menunggu ayahnya siap bercerita.


Sean meraih bahu sang ayah dan memijitnya perlahan. rileks akan membantu ayahnya lebih tenang.


"Ayo pulang!.", ujar ayah Sean, memecah keheningan. Sean menghentikan aktifitas nya, dan terdengar menghela nafas.


"Dad, apa Dady bertengkar lagi dengan mama?.", tanyanya. ayahnya mengangguk pelan.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan seperti ini. itu akan membuat mama semakin membenciku.", ujarnya.


"Aku bertengkar dengannya karena Neysa.", jawab ayahnya.


"Itu bukan alasan, dad.", sahutnya.


"Pertengkaran kalian dengan alasan aku ataupun Neysa, tidak akan merubah kekecewaan mama padaku.", sambungnya.

__ADS_1


"Sekarang, Dady harus pulang.",


"Mama pasti sangat sedih, Dady bersikap seperti ini.", pintanya.


Ayah Sean menghela nafas berat di tempatnya.


"Aku tidak akan kembali tanpa dirimu.", ujarnya. Sean menatap ayahnya, dengan pandangan tidak percaya. Dady nya bukanlah orang yang keras kepala.


"Neysa, membutuhkanmu.",


"Dia kembali harus mendapatkan perawatan.",


"Suhu tubuhnya tinggi dan terus mengigau memanggilmu.",


"Itu sebabnya, Dady bertengkar dengan ibumu dan pergi kesini.", ujarnya. Sean terkejut mendengar penuturan ayahnya.


Bukankah kondisi putrinya baik-baik saja dan mulai stabil saat dia meninggalkannya?!. dia masih ingat gadis itu sangat ceria dengan segala tingkah dan celotehannya. dia meminta banyak hal dari Sean, waktu itu.


......................


Sean mengambil ponsel ia menghubungi seseorang.


"John, siapkan pesawat untukku. ",


"Aku harus kembali sekarang juga.", ujarnya.


"Daddy, sebentar lagi John akan datang menjemput. aku akan bersiap dulu.", ujarnya. ayah Sean mengangguk paham.


Secepat mungkin ia bersiap. rasa sakit di pinggang nya terabaikan begitu saja, saat mendengar putrinya sakit lagi. sungguh, ia tidak ingin kembali merasakan sakitnya kehilangan.


Dalam waktu kurang lebih setengah jam, John sudah sampai dan segera naik ke apartemen majikannya. ia menekan kode dan pintu segera terbuka.


Yang pertama terlihat adalah, tuan besar. tidak lupa ia membungkuk hormat pada tuan Xavier.


"Apa ada hal yang mendesak, tuan?.", tanyanya, saat melihat Sean. pria itu mengangguk menjawab pertanyaan John.


"Haruskah, saya ikut pulang juga?!.", tanyanya lagi.


"Apa pekerjaan disini bisa ditinggalkan?.", Sean balik bertanya.


"Kita bisa mengandalkan manager untuk sementara waktu.", jawabnya.


"Baiklah. ayo, pulang.", ujar Sean. John mengangguk paham.


Setelahnya, mereka segera keluar dari apartemen dan berjalan menuju lift. menunggu pintu lift terbuka, dan segera masuk setelahnya. John menekan tombol lift, hingga lift tertutup dan menuju lantai bawah. sesampainya di sana, pintu lift otomatis terbuka.

__ADS_1


Mereka keluar dan segera menaiki mobil menuju bandara. benar-benar perjalanan yang tergesa-gesa. Sean sendiri merasa tidak tenang selama penerbangan karena pikirannya fokus pada putrinya yang sedang sakit.


Ia nampak mencengkram sesuatu di balik bajunya, karena tidak mendapat ketenangan sejak ayahnya mengatakan putrinya kembali menjalani perawatan.


Tidak seperti ayahnya yang masih bisa beristirahat sejenak di pesawat. Sean, justru terjaga dan tetap menatap awan dan langit biru dari jendela pesawat. hatinya benar-benar gusar.


"Ayah, ayo tangkap aku dan momy.", ujar bocah kecil yang tengah tertawa riang sembari berlari kecil di taman. Sean tersenyum melihat putri dan istrinya.


"Apa hadiahnya?.", tanya Sean.


"Kalau ayah bisa menangkap kami, aku akan memberi hadiah ciuman untuk ayah.",


"Tapi kalau ayah sampai gagal. aku akan bermain dengan momy, saja.", ujarnya.


"Baiklah. ayo lari, ayah akan menangkap kalian.", sombongnya.


Neysa mulai berlari dengan ibunya. sementara Sean mulai mengejar. namun, ada asap kabut tebal disana. menutupi pandangannya. sementara suara tawa dan panggilan putrinya terus terdengar di telinga nya.


"Ayo, ayah!.",


"Ayo, tangkap kami.",


"Kenapa ayah, payah sekali?!.", ujar Neysa beberapa kali, sembari di selingi tawanya. begitu juga dengan tawa istrinya. terdengar jelas di telinganya.


Akhirnya, kabut mereda. ia bisa melihat Neysa yang sedang berjalan menjauh bersama istrinya.


"Ketemu!.", ujar Sean, sembari memeluk kedua sosok itu. namun, sosok itu menghilang.


"Ayah, payah.",


"Aku mau bermain dengan momy, saja.", suara Neysa tanpa wujud itu terdengar di telinganya.


"Neysa!.", Sean memanggil-manggil nama putrinya.


"Neysa!, sayang!.", teriaknya, sembari mencari dan melihat ke sekitar dan ke sembarang arah.


"Baby?!.", where are you?!.", teriaknya. Sean nampak mulai panik. ia terus mencari, berlari kesana-kemari, sembari meneriakkan dan memanggil putrinya.


"Bye, ayah.", ujarnya, sembari melambaikan tangan mungilnya. Sean menatap ke sumber suara. Neysa nampak tersenyum disana, sembari melambaikan tangan.


"Ney, mau ikut momy. Ney, janji akan jadi anak baik.", ujarnya. Sean menggeleng dan berlari ke arah putrinya.


"Bye!.", teriak Neysa, sembari tersenyum dan melambaikan tangan.


"No, no!. please!.", ujar Sean.

__ADS_1


"No!... no, baby. no!...", teriak Sean. ia mengigau dalam tidurnya. membuat ayahnya dan John segera menghampiri Sean, dan berusaha membangunkannya.


...----------------...


__ADS_2