
"Maaf.", ucap dokter Jeno lirih. Sean dan Cellya diam mematung di kursi masing-masing.
"Tolong periksa sekali lagi.",
"Awal aku periksa, dokter mengatakan bahwa itu adalah tumor jinak. untuk itu, aku di sarankan kemoterapi.",
"Mengikuti kata dokter, aku pun kemoterapi sesuai jadwal dan selalu tepat waktu.", ucap Cellya. ia bercerita pada dokter Jeno, dan berharap suaminya tidak terlalu khawatir dengan ucapan dokter Jeno, barusan.
"Tidak mungkin, kan?!. hanya berhenti kemoterapi dan menunda pengobatan karena hamil menjadi pemicunya?!.", sambung Cellya setelah diam beberapa saat.
Dokter Jeno menggeleng. kenyataan nya hasil pemeriksaan memang menunjukkan demikian. tidak mungkin mereka berani memanipulasi data pasien. apalagi, Sean dan keluarga Cellya adalah orang berpengaruh. menggali kubur sendiri, jika sampai mereka melakukan hal itu.
"By?!.", ia memanggil suaminya. berharap mendapat respon positif dari suaminya.
"Apa solusinya?!.", tanya Sean setelah lama diam, pada dokter Jeno.
"Gugurkan kandungan nya. dan kita bisa melakukan operasi.", ucap dokter Jeno, yakin menatap mata Sean. Cellya menggeleng kuat mendengar ide itu.
"By?!.", panggil nya. tangannya, memegang lengan suaminya dan menatap penuh arti. ia menggelengkan kepalanya, berharap suaminya tidak setuju dengan ide dokter Jeno.
Sean menunduk sesaat, lalu membuang muka. ia tidak tahu harus bagaimana?!.
"Apa tidak ada cara lain?!.", tanya Cellya pada dokter Jeno, karena tidak mendapat jawaban apapun dari suaminya.
"Itu adalah saran terbaik.", ujarnya. membuat Cellya terdiam. ia memeluk perut buncitnya, sementara pikiran nya melayang entah kemana?!.
Sementara Sean sendiri, sudah tidak bisa menahan air matanya. ia masih membuang muka dan berusaha menghapus air mata yang masih terus membasahi matanya begitu saja.
"Dokter.", panggil Cellya, saat cukup lama terdiam.
"Kandungan ku, sudah memasuki usia enam bulan jalan. sebentar lagi, dia berusia tujuh bulan.",
"Tidak bisakah, menunggu dia sampai umur tujuh bulan?!. agar dia bisa di lahirkan dengan selamat.",
"Dia berhak hidup.",
"Aku rela menahannya sedikit lebih lama, agar dia bisa melihat dunia.", ujar Cellya. wajahnya masih menunduk, matanya terus menatap perut buncit dalam pelukannya. sementara air matanya, sudah lolos begitu saja tanpa permisi, mewakili jeritan hati nya.
__ADS_1
Begitupun Sean. mendengar ucapan istrinya, membuat dada nya kian sesak. nampak pundaknya berguncang menahan tangisnya sekuat tenaga agar tidak di dengar istrinya.
Dokter Jeno menatap kedua orang yang duduk di depan nya bergantian. ia bisa merasakan kesedihan mereka. tapi, sebagai dokter ia hanya berusaha memberikan solusi terbaik yang bisa meminimalisir resiko yang lebih parah.
Dokter Jeno memberi isyarat pada asisten nya. dan asisten nya pun segera kembali dengan berkas data kehamilan Cellya dari dokter Tya.
Ia membuka map itu, lembar demi lembar. membaca dengan seksama semua catatan medis kehamilan Cellya. baik tentang kesehatan ibu maupun bayinya.
"Bayinya, sudah berumur 30 minggu, ya?!.", ujar dokter Jeno. Cellya mengangguk, meskipun ia masih tertunduk.
"Mungkin, kita bisa bertemu baby dengan sehat di usianya yang ke 32 minggu.", sambung dokter, membuat Cellya seketika mengangkat wajahnya menatap dokter spesialis kanker dan tumor yang sedang duduk di depannya.
Sean yang sudah lebih tenang pun, juga menoleh menatap dokter Jeno, setelah menghapus air matanya.
"Benarkah?!.", tanya Cellya sumringah. Sean menatap istrinya yang begitu antusias. dokter Jeno mengangguk.
"Asal jaga kesehatan, ya?!. dan sering check up.",
"Aku sarankan, seminggu sekali dari hari ini. agar semua terpantau dengan baik.",
......................
Mereka setuju untuk melahirkan baby di usia kehamilan 32 minggu. setelah melahirkan, Cellya akan segera melakukan operasi tumor di otaknya.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka sepanjang perjalanan menuju mansion.
Begitu sampai, Sean segera turun lebih dulu baru membuka pintu mobil untuk istrinya. mereka nampak bergandengan tangan memasuki mansion.
"Kalian sudah pulang?!.", suara khas milik ibu Sean, membuat mereka segera mengarahkan pandangannya ke ruang keluarga.
"Mama, menunggu lama?!.", tanya Cellya, melepas genggaman tangan Sean, dan berjalan menghampiri mertuanya.
"Tidak. Dady mu baru pulang, dan ingin langsung kemari. jadi, mama membawanya kesini. kami baru sampai sekitar sepuluh menit yang lalu.", jelasnya. Cellya tersenyum.
"Mana, Dady?!.", tanya Cellya, antusias.
"Sedang membersihkan diri.",
__ADS_1
"Dady, khawatir terkena bakteri ataupun virus selama di jalan jadi, begitu sampai di mansion, Dady segera membersihkan diri.", ucap ibu Sean.
Sean yang sedari tadi diam berdiri di tempatnya, mendekat. "By, istirahat lah!. dokter meminta mu untuk lebih banyak istirahat dan memperhatikan kesehatan.", ucap Sean. Cellya menoleh, seolah meminta izin pada mertuanya.
"Istirahatlah, sayang. biar Sean mengantar mu.", ucap ibunya. Cellya mengangguk.
"Cellya ke kamar dulu ya, ma.", izinnya.
"Oke.", jawabnya, di sertai senyum.
Sean mengantar Cellya ke kamar mereka. tidak lama kemudian, saat ia yakin istrinya sudah tidur Sean segera turun menemui ayah dan ibunya.
"Mama, mau makan malam di sini?!.", tanyanya, di balik pintu kamar tamu. ia melihat ibunya sedang mengeringkan rambut ayahnya.
"Tentu.", jawab nya. Sean mengangguk. pria itu tetaplah putra kecil bagi kedua orang tuanya, meskipun sudah menikah.
"Why?!.", tanya ayahnya, yang melihat putranya diam mematung di bibir pintu. dengan cepat Sean menggeleng dan mencoba tersenyum.
Ayah nya melirik ibu Sean yang kini sedang menyisir rambut suaminya. ibu Sean yang paham dengan maksud sang suami, segera meletakkan sisir di meja rias dan berjalan menghampiri putranya.
"Kemarilah!.", ajaknya, sembari menarik tangan putranya untuk masuk ke kamar.
Sean duduk di tepi ranjang saat ini, sementara bibirya terus menceritakan tentang hasil biopsi dan pemeriksaan hari ini.
Ia juga menceritakan ucapan dokter Jeno yang menyarankan untuk menggugurkan kandungan Cellya, dan segera melakukan operasi.
Dengan di iringi sesak dan mata yang sembab. Sean juga menceritakan tentang tekad dan kukuhnya sikap Cellya yang memohon dan meminta pada dokter untuk menunggu baby mereka cukup umur, agar bisa di lahirkan dengan selamat.
Cellya bahkan mengatakan sanggup menahan untuk bisa menyelamatkan baby mereka. ia merasa sedih karena tidak bisa melakukan banyak hal untuk istrinya.
"Dady rasa, kita hanya harus percaya pada dokter.",
"Dady yakin, dokter pasti sudah mempertimbangkan semua kemungkinan-kemungkinannya dengan rinci. jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir dan takut.",
"Banyak-banyak berdoa saja.
"Untuk saat ini, hanya itu yang bisa kita lakukan.", ucap ayah Sean berusaha menenangkan putra semata wayangnya, agar tidak terlalu menjadi beban bagi Sean.
__ADS_1
Dady meraih tubuh Sean yang sedari tadi duduk di tepi ranjang bersama dirinya. ia berusaha menenangkan putranya, walau sebenarnya setelah mendengar cerita dan penjelasan Sean, ia juga begitu takut dan khawatir dengan kemungkinan terburuk nya.
...----------------...