Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 38


__ADS_3

"Bagaimana?!.", tanya Sean, pada dokter Jeno saat dokter itu sudah duduk di depannya.


Tak berapa lama kemudian, Cellya segera menyusul dan duduk di samping istrinya.


"Cukup baik.",


"Kondisi ibunya cukup baik.",


"Kalau untuk baby nya lebih baik, segera periksa kan ke dokter kandungan.", saran dokter.


"Apa ada masalah?!.", tanya Sean, khawatir. dokter Jeno, hanya tersenyum.


"Bukan begitu, tuan. tapi, untuk mengetahui kondisi ibu dan bayinya sehat atau tidak?!. kita juga harus memeriksa bayinya juga, bukan?!.", ucap dokter, membuat Sean mendengus lega.


"Anda beruntung, nyonya Xavier. suami anda sangat perhatian dan siaga.", pujinya. membuat Cellya tersenyum bangga menatap suaminya.


Dokter Jeno, menulis beberapa resep vitamin untuk kesehatan Cellya, dan menyerahkan nya pada Sean, untuk di tebus di apotik, sebelum mereka pamit pergi menyudahi check up hari ini.


Setelah keluar dari ruangan dokter Jeno. Sean dan Cellya segera menuju ruang dokter kandungan.


Mereka kembali mengantri di tempat duduk yang sudah tersedia bersama pasien lainnya.


Tak berapa lama menunggu, nama Cellya sudah di panggil. Sean dengan sigap menggandeng sang istri memasuki ruangan dokter.


"Pagi, dok.", sapa Sean dan Cellya, bergantian.


"Selamat pagi. silahkan duduk, ayah bunda.", ucapnya, mempersilahkan.


Cellya segera mengikuti perawat untuk merebahkan tubuhnya di atas brankar, sembari menunggu dokter Tya datang untuk melakukan pemeriksaan dan USG.


"Senang hari ini, bunda?!.", sapanya, yang baru masuk dari balik tirai, di ikuti Sean di belakangnya.


Ia nampak memakai sarung tangan terlebih dahulu. Cellya tersenyum, melihat kedatangan dokter Tya yang menyapanya.


"Are you ready, mom?!.", tanya nya pada Cellya, sebelum mulai meletakkan transducer di perut Cellya.


Alat mulai di tempelkan. gambar Hitam putih mulai nampak di layar.


Nampak gambar lingkaran muncul di layar. dokter Tya menjelaskan dengan seksama kondisi baby.


"Baby nya sehat ya, mom?!.",


"Gerakannya aktif dan lincah.", ucapnya sembari terus melihat layar dan terus memutar transducer di atas perut Cellya.


Cellya tersenyum melihat layar dan sesekali melihat suaminya, yang duduk di kursi samping brankar.


Sean nampak bahagia. ia terus menggenggam tangan Cellya dan sesekali mencium tangan lembut istrinya.


"Jari-jarinya lengkap ya, mom.",


"organ tubuh lainnya juga lengkap dan mendekati sempurna.", ujar dokter Tya. lanjut memberi keterangan pada Cellya dan Sean.


"Untuk jenis kelamin nya?!....", ucapan dokter Tya menggantung. ia masih terus memutar alat di atas perut Cellya, sembari fokus memperhatikan layar monitor.

__ADS_1


"Dia tengkurap. mungkin malu.", canda dokter Tya, setelah beberapa lama diam mengamati layar monitor. membuat Cellya dan Sean, tertawa dengan ucapan dokter.


"Mau coba dengar detak jantungnya?!.", tanya dokter Tya, yang segera di angguki oleh keduanya.


Begitu detak jantung baby di perdengarkan, Cellya tak kuasa menahan haru. air mata, menetes dari sudut netra nya.


Sean yang menyadari hal itu, segera menghapus air mata istrinya, dan memeluk Cellya yang masih terbaring di brankar.


"Hei, jangan menangis. itu tidak baik untuk baby.", ujar Sean, mengingatkan.


Cellya segera menghapus sisa air matanya dan berusaha tersenyum.


"Kenapa menangis, mom?!.", tanya dokter Tya, berusaha menghibur.


Cellya mengambil nafas dalam, lalu berusaha tersenyum.


"Ini pertama kalinya, aku mendengar suara detak jantungnya.",


"Ahh, aku mengerti. tangis bahagia, bukan?!.", ucap dokter Tya, sembari menyudahi pemeriksaan USG lalu mengambil tisu dan membersihkan tangannya yang masih terbalut sarung tangan.


......................


Ya, dokter Tya sudah paham dengan kondisi Cellya dari surat rujukan yang di serahkan padanya.


Cellya, adalah pasien yang mengindap tumor otak tapi menunda pengobatannya karena hamil.


Dan ia serta beberapa dokter di rumah sakit ini, di percaya untuk menjaga dan mengontrol kesehatannya.


"Bagaimana?!.", tanya Sean, setelah duduk di depan dokter Tya, bersama sang istri.


"Perlukah hari ini kami ke dokter saraf?!.", tanya Sean.


"Dokter Jimmy, sedang tugas keluar negeri untuk beberapa hari, karena mendapat undangan pertemuan dokter seluruh Asia.", ucap dokter Tya.


"Lalu, apakah dia bisa mengikuti acara pemberkatan pernikahan besok?!.", tanya Sean.


"Bisa, tuan.",


"Tapi jangan terlalu di paksakan juga. sekiranya, nyonya sudah terlihat lelah, sebaiknya segera ajak nyonya untuk beristirahat.", jawab dokter, memberi saran.


"Baiklah, terimakasih.", ucap Sean. yang di jawab anggukan serta senyuman dari dokter.


"Silahkan, tebus resep vitamin nya.", ucapnya sembari menyodorkan selembar kertas yang langsung di terima oleh Sean.


"Jangan lupa diminum ya, nyonya. pastikan baby mendapat nutrisi yang cukup, dan istirahat yang cukup juga.", pesan dokter.


"Terimakasih, dokter.", jawab Cellya, senyum.


Mereka segera permisi keluar dari ruangan dokter Tya. tak butuh waktu lama, Sean dan Cellya segera ke apotik untuk menebus vitamin ibu hamil.


POV of Ellyana


"Ahh, tidak-tidak. aku hanya menginginkan mawar putih.", ucap Ellyana.

__ADS_1


Kurir bunga kebingungan karena memang awalnya hanya dekornya saja yang di hias mawar putih, tapi sekarang Ellyana meminta jalan sepanjang menuju dekor juga di hias mawar putih, di sisi kanan-kiri nya.


"Kami kehabisan stok. bagaimana kalau di ganti bunga yang lain?!.", tawar mereka.


"Ma?!.", rengeknya pada sang ibu.


"Apa kalian tidak bisa mengusahakan nya?!.", tanya ibu Cellya.


"Kiriman bunga akan datang besok siang, nyonya. itupun, jika tidak ada kendala.",


"Kalau ada macet dan sebagainya. mungkin, sore atau bahkan malam baru datang.", jawab mereka.


"Apa tidak ada relasi atau teman yang masih memiliki stok mawar putih?!.", tanya ibu Cellya.


"Mohon maaf, nyonya. kami sudah menghubungi semua kenalan dan teman kami sesama penjual bunga. tapi, stok mawar putih juga habis.",


"Ada bunga berwarna putih, tapi bukan mawar.", jawabnya.


Ellyana sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. ia keburu badmood dan beralih duduk dikursi.


Nampak gadis itu membuka ponsel dan mulai menghubungi calon suami serta saudara nya via chat.


"Ay, aku kesal. bunga mawar putih untuk dekorasi nya kurang.",


"Memang salahku, aku baru terpikir memberi bunga mawar putih di sisi kanan-kiri jalan menuju dekor.",


"Menyebalkan!.",


Tidak berapa lama, David membalas chat nya.


"Kurang berapa banyak?!.",


"Aku akan mengirimkannya untuk mu ke sana?!.",


"Really?!.",


"Love you, ay.", balas Ellyana.


"Love you more.", dan chat pesan itu berakhir.


Tidak lama kemudian, dua truk tertutup datang mengantarkan bunga mawar putih, dan bunga mawar warna lainnya ke hotel tempat di adakannya acara resepsi besok.


Sementara di gereja, Ellyana sudah mempercayakan dekor sepenuhnya pada wedding organizer.


"Masih di hotel?!.", tanya seseorang di seberang ketika Ellyana mengangkat telfon nya.


"Ya, sebentar lagi selesai.",


"Pemeriksaan mu sudah selesai?!. bagaimana hasilnya?!. semua baik, bukan?!.", tanya Ellyana pada saudari nya.


"Ya, semua baik.",


"Aku akan ke sana. dan kita bisa makan siang bersama.", ucap Cellya.

__ADS_1


"Ok. see you, bye.", jawab Ellyana , sebelum mengakhiri panggilan.


...----------------...


__ADS_2