Sebuah Janji

Sebuah Janji
Chapter 99


__ADS_3

"Boleh.", jawab Sean.


"Yeay!.", gadis itu berteriak girang, dan bersemangat. ia segera beralih, dan naik ke ranjang ayahnya. Omanya nampak sedikit khawatir, karena cucunya cukup aktif yang membuatnya khawatir selang infus terlepas.


"Pelan-pelan, sayang.", ujar Omanya, yang tidak di hiraukan oleh Neysa. gadis itu berhasil naik ke ranjang ayahnya. ia nampak begitu senang. sementara ibu Cellya, segera menggantungkan infus Neysa, pada tiang infus milik ayahnya.


Setelahnya, ibu Cellya mengambilkan obat Neysa dan kembali dengan membawa gelas berisi air di tangannya. ibu Cellya memberikan obat itu, pada cucunya. Neysa, yang sudah terbiasa dengan obat-obatan itu, segera mengambil butir-butir pil itu dari tangan Omanya. ia meminumnya satu persatu dengan bantuan air.


Setelahnya, ibu Cellya mengambilkan obat untuk Sean, dan segera menyodorkan pada menantunya, beserta segelas air. Sean pun, meneguk obat itu sekaligus. setelahnya, mereka berdua berbaring.


"Mama, pulang dulu ya?!.",


"Kai, sedikit demam. mama, khawatir Ellyana tidak bisa menghandle nya.", pamit ibu Cellya, setelah selesai merawat cucu dan menantunya. Sean mengangguk.


"Oma, hati-hati ya?.", pesan Neysa, yang di angguki oleh Omanya. wanita paruh baya itu memeluk dan mencium cucu serta menantunya bergantian. nampak John memasuki ruang rawat inap Neysa dan Sean, bersama asisten Han. ya, ia bertemu asisten Han di lobi, saat mengantarkan ayah Sean, turun. asisten Han, yang memang bermaksud menjemput majikannya itupun akhirnya, berjalan bersama dengan John, menuju kamar rawat majikannya.


"Selamat malam, tuan. nona.", sapanya pada Sean dan Neysa. Sean mengangguk, Neysa menunduk hormat.


"Paman Han, mau menjemput Oma?.", tanya gadis kecil itu. asisten Han, mengangguk.


"Benar, nona muda.", jawabnya, tersenyum.


"Baiklah, Oma. sampaikan salam ku pada aunty El dan uncle David juga adik Kai.", ucapnya, berpesan. ibu Cellya tersenyum dan mengangguk, mengiyakan ucapan cucunya.


"Oma pulang, oke?!.", pamitnya. Neysa mengangguk.


"Hati-hati di jalan, Oma.",


"Paman Han, jangan mengebut ya?!. karena ini sudah malam, dan paman pasti sudah lelah. pelan-pelan saja bawa mobilnya.", asisten Han, tersenyum mendengar pesan nona kecilnya ini. ya, ia selalu berpesan seperti itu padanya, setiap kali ia akan mengantarkan ibu Cellya pergi.


"Baik, nona. paman, mengerti.", jawabnya.


"Bye.", ucap Omanya, melambaikan tangan. Neysa membalasnya. mereka segera keluar ruangan untuk pulang.


Suasana hening setelah mertuanya pulang. apalagi, John sudah nampak tidur pulas, begitu Sean menyuruhnya istirahat. maklum, selama Sean di rawat. dia harus bolak-balik ke kantor dan menjaga tuannya. bila ada waktu, ia menyempatkan pulang, untuk menjenguk dan bermain serta makan bersama masakan sang istri bersama anak dan istri tercintanya. bisa di bayangkan bagaimana repot dan lelahnya dia.


Karena Neysa tidak kunjung tidur, Sean menceritakan tentang mendiang istrinya pada putri kecilnya. ya, ia menceritakan tentang paras cantik ibunya, budi pekerti Cellya, sifat ceria Cellya yang mirip dengan Neysa, juga mata cantik istrinya yang kini menjadi milik putrinya.


"Apa momy lebih cantik dari yang di photo?.", tanyanya. Sean mengangguk. Neysa mendongak untuk melihat respon ayahnya. mereka berbaring bersama di ranjang.

__ADS_1


"Momy mu sangat cantik. sangat!.", jawab Sean.


"Oma bilang, aunty El adalah saudara kembar momy. tapi, kenapa tidak mirip, ayah?.", tanyanya. Sean tersenyum kecil.


"Aunty El dan momy memang kembar. tapi, mereka bukan kembar identik. itu sebabnya, momy dan aunty El sedikit berbeda.", jelas ayahnya.


......................


Mereka berdua akhirnya terlelap dalam satu bed. untuk pertama kalinya, mereka bisa tidur bersama lagi setelah masalah tujuh tahun lalu.


Indah?, sudah pasti.


Senang?, tentu. ini adalah momen yang dirindukan oleh ayah dan anak itu.


Pagi menyapa lewat sinar mentari. ibu Sean, nampak sedang menyiram bunga-bunga di taman mansion nya. ya, sudah sangat lama ia meninggalkan mansion nya, dan tinggal di mansion putranya, untuk menemani Sean merawat Neysa, sejak bayi. dan kali ini, ia memutuskan untuk kembali tinggal di mansion nya sendiri.


"Nyonya, ada tuan besar, datang.", ucap seorang maid yang sudah lama bekerja di mansion ini. bahkan, saat ibu Cellya tinggal di mansion Sean, dia dan para maid juga penjaga rumah yang tinggal dan merawat mansion ini.


Ibu Sean mengangguk. maid segera pergi undur diri, setelah menyampaikan hal ini.


Wanita paruh baya itu meletakkan pot air, di lantai. setelahnya, ia mencuci tangan dan mengeringkannya. lalu, berjalan masuk rumah. nampak seorang pria, yang tidak lain adalah suaminya sendiri, sedang duduk menunggunya di ruang tamu.


"Kau bisa langsung masuk dan menemui ku, jika ingin bicara.", ujar ibu Sean. ayah Sean menghela nafas dalam.


"Aku pikir, kau masih menganggap ku suamimu. tapi ternyata, tidak.", ucap ayah Sean. ibu Sean menghela nafas, dan duduk di depan suaminya. ia tidak mengerti, mengapa suaminya, berkata demikian.


"Apalagi salahku?.",


"Kenapa semua sekarang menjadi salahku?.", tanya ibu Sean. ia tetap tidak bergeming pada keputusannya.


"Bukankah seharusnya, kau minta izin padaku jika kau masih menganggap aku suamimu, dan menganggap pernikahan ini masih ada?.", ucap ayah Sean. membuat ibu Sean, diam.


"Aku pulang dari rumah sakit, semalam. aku berpikir, kau pasti sudah sangat lama menungguku untuk makan malam. tapi, saat aku sampai di mansion. hanya ada para maid yang sibuk menyiapkan makan malam untukku.",


"Sedangkan kau, sudah pergi.", lanjutnya.


"Akhirnya, aku mengajak para maid dan penjaga mansion serta supir untuk makan malam bersama.",


"Kau pergi, sebelum aku pulang. dan aku yakin itu, sebuah kesengajaan.", ucapnya.

__ADS_1


"Sekarang, aku bertanya padamu.",


"Mungkinkah, bagi kita untuk meneruskan tali pernikahan ini?!.",


"Kau tidak perlu menutupinya.",


"Jika, sudah lelah katakan saja. aku tidak akan mencegah mu. aku, tidak bisa hidup bersama orang yang membenci putranya sendiri.", ujar ayah Sean, panjang lebar.


Wanita yang sedari tadi bersikap kuat itu, merasakan sesak sakit di dadanya. merasa tercekat tenggorokan nya. ia tidak menyangka suaminya, akan berucap demikian.


"Kenapa semua dilimpahkan padaku?!.", tanya ibu Sean. suaranya terdengar berat, dan kelu. ayah Sean, mendongak menatap wanita yang duduk di depannya.


"Aku merawat cucuku sendiri. dia mana peduli?!.",


"Tapi, kenapa sekarang kau memojokkan ku?.",


"Tidak bisakah, kau melihat lelahku selama merawat cucuku?!.",


"Aku pastikan, semua keinginannya terwujud. aku pastikan, semua cinta kasih dia dapatkan. tapi, anak itu?!. apa yang dilakukan anak itu?!.", tanyanya. ia mengeluarkan semua ungkapan dalam hatinya. sementara air matanya sudah membanjiri kedua pipinya.


"Dia anakmu. dan dia punya nama.",


"Aku memberinya nama, Xavier Kamasean.",


"Dulu, saat dia lahir. orang yang paling berbahagia selain aku adalah dirimu.",


"Dulu, sama seperti dirimu. aku memastikan memberikan yang terbaik untuknya. dirimu pun, juga begitu.",


"Dulu, saat dia menggoda mu, atau melakukan kesalahan. kau, adalah orang pertama yang selalu membelanya saat aku ingin memarahi atau menegurnya.",


"Sekarang, dia pun sama seperti dirimu waktu itu. dia selalu membela dirimu di depanku.",


"Saat kau menjauhkannya dari putrinya. dan aku ingin menegur mu. Dia juga membelamu. dia sangat bersyukur, putrinya memiliki nenek yang baik dan perhatian seperti dirimu. dengan begitu, dia tidak perlu khawatir Neysa akan kekurangan kasih sayang dari sosok seorang ibu.",


"Dia memilih menjauh, agar tidak ada perdebatan di antara kita.", ujar ayah Sean, mengakhiri ceritanya. ia nampak menghela nafas dalam. ibu Sean, menghapus air matanya.


"Oh ya, cucumu merindukanmu. datanglah, jika memang kau ada waktu. aku, akan menghubungi John saat kau mau kesana. agar dia membawa Sean pergi sebentar, jika memang kau tidak ingin melihatnya.",


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2