
Baby Neysa pulih dengan cepat dan bisa segera pulang hari ini. tentu saja, hanya kedua neneknya yang menemaninya.
Sementara di mansion Sean, Ellyana di bantu David dan beberapa maid telah menyiapkan kejutan untuk baby Neysa. tidak lupa, ia juga mengundang anak-anak sekitar agar suasana rumah semakin rame.
Tapi lagi-lagi, Sean tidak berada disana. ya, Sean memilih tidak ikut memberi dan menyiapkan kejutan untuk putrinya yang baru pulang dari rumah sakit.
Ibu Sean, jelas tidak mau membahasnya. rasa kecewanya masih melekat di hatinya.
Setahun, dua tahun berlalu. tidak terasa tujuh tahun berlalu. kini, baby Neysa telah tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik. matanya benar-benar mirip seperti ibunya.
Berbagai macam piala, piagam dan sertifikat di pajang di tembok dan meja kamar bernuansa pink, putih dan biru itu.
Ya, bayi prematur itu sangat pandai dan kreatif. berulang kali, ia memenangkan lomba melukis, menggambar ataupun mewarnai untuk mewakili sekolah TK nya dulu.
Tidak itu saja, Oma dan neneknya juga sering mengajak nya mengikuti lomba diluar perwakilan sekolah nya. itu di lakukan semata-mata, untuk mengasah bakat cucunya. dan mengajari Neysa bersosialisasi dengan orang yang baru di temuinya.
Ya, dia senang memiliki banyak teman, dengan hobi dan kesukaan yang sama. Neysa, juga mudah berkenalan dan akrab dengan teman-teman barunya.
"Oma, bisakah besok ayah mengantar ku mendaftar di sekolah dasar?.", tanyanya, pada ibu Cellya saat menemani gadis itu akan tidur malam.
"Emm... Oma, akan bicarakan pada ayahmu.", jawab ibu Cellya, ragu. mendengar hal itu saja, baby Neysa sudah berteriak girang. meskipun, belum tahu ayahnya bisa ikut mengantarkan atau tidak.
"Kenapa senang sekali, em?!.",
"Teriakanmu sampai terdengar keluar kamar.", ujar ibu Sean yang baru saja masuk.
"Besok adalah hari pendaftaran disekolah dasar, nek. dan aku meminta Oma, untuk menanyakan pada ayah, apakah bisa mengantar, besok?!.",
"Oma, bilang. akan membicarakan hal ini dengan ayah.yeayy!.", serunya. ia bercerita penuh antusias. ibu Sean hanya tersenyum tipis mendengar penuturan polos cucunya.
"Neysa.", panggil ibu Sean, sembari duduk di tepi ranjang cucunya.
"Mungkin, Oma akan mengatakannya. tapi, seperti yang Neysa, tahu. ayah, sangat sibuk.",
__ADS_1
"Jadi, semisal ayah tidak bisa. tolong berjanji pada nenek, untuk tidak sedih. ok?!.", ucap ibu Sean, lembut. lagi-lagi Neysa mengangguk mendengar penuturan neneknya yang seperti ini untuk kesekian kalinya.
Ibu Cellya, lagi-lagi hanya bisa diam mendengar besannya berucap demikian. ya, ia tahu besannya kecewa. tapi, tidak seharusnya terlalu membatasi hubungan ayah dan anak.
"Sekarang, ayo berdoa dan segera tidur.", ucap ibu Cellya, lembut. membuat Neysa tersenyum lagi dan segera menengadahkan tangannya.
"Amiin...", ucapnya, mengakhiri doa dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan kecilnya. ibu Cellya tersenyum, melihat cucunya segera berbaring. ia pun segera menyelimuti tubuh mungil gadis kecil itu.
Setelah yakin, cucunya tertidur. mereka segera keluar dari kamar Neysa. ya, baby Neysa sudah tidur sendiri di kamar yang di desain oleh ibunya dulu.
Pagi datang, seperti biasa Neysa sudah bangun lebih awal. ia segera ke kamar mandi untuk mencuci wajah, dan sikat gigi. barulah, ia segera keluar kamar dan menghampiri Oma serta neneknya yang tengah sibuk menata sarapan di meja makan.
"Selamat pagi, semua.", sapa Neysa. suara riang dan senyum ceria itu selalu menjadi awal semangat bagi keluarga itu. bukan hanya keluarga, tapi maid serta penjaga mansion pun mengakui bahwa, senyum Neysa adalah penyemangat bagi mereka.
......................
"Selamat pagi, nona muda.", jawab para maid, bergantian.
"Selamat pagi Oma, nenek.", sapanya, sembari berjalan ke arah mereka dan memeluknya satu persatu.
"Selamat pagi, sayang.", jawabnya, sembari memeluk tubuh mungil cucunya.
"Apakah ayah belum bangun?.", tanyanya.
"Ooh, ayah?!...., ayahmu, dia...
"Ayah sudah berangkat.", sahut ibu Sean, membuat suaminya terdiam seketika, dengan raut wajah sedikit kesal.
Baby Neysa terdiam. ia menunduk, keinginan nya sejak lama tidak pernah terealisasi.",
Ya, dia sudah sangat lama sekali menginginkan di antar ayahnya sekolah seperti anak-anak lainnya. tapi, kenyataan nya, sekali saja belum pernah.
"Ooh, cucu Oma. lihat!, Nani membuatkan makanan kesukaan mu. ayo, cepat makan dan segera berangkat!.",
__ADS_1
"Cucu, Oma pasti tidak ingin terlambat di hari pertama masuk sekolah, kan?!.", ujar ibu Cellya, mencoba mengalihkan pembicaraan,sembari menggendong Neysa, lalu mendudukkan nya di kursi.
Gadis kecil itu mulai tersenyum kembali. membuat hati ibu Cellya, menghangat. Neysa, menurut dan segera memakan sarapannya, tidak lupa gadis itu juga meminum jus yang sudah di siapkan.
Setelahnya, nenek dan kakeknya masuk kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya masing-masing. ya, sejak Neysa sekolah, mereka sudah aktif pergi ke kantornya.
Ibu Cellya, ke kantor miliknya yang di kelola bersama putrinya, Ellyana. ibu Sean ke butiknya dan ayah Sean harus kembali ke Singapura, di kantor cabang nya. setiap hari Kamis sore ayah Sean akan pulang, untuk menghabiskan weekend bersama cucunya. lalu, kembali lagi ke Singapura pada hari minggu sore atau Senin pagi.
"Hari ini di antar Oma, ya?!.", ucap ibu Cellya, Neysa mengangguk.
"Tapi, tunggu sebentar ya, Oma.", ujarnya, sembari turun dari kursi meja makan. ia berlari ke dapur dan membuka lemari penyimpanan. gadis itu nampak mengambil kotak bekal, lalu segera mengisinya dengan menu sarapan pagi ini.
"Ini untuk ayah. aku akan menitipkan nya pada paman, John.", ucap gadis kecil itu, membuat ibu Cellya tersenyum.
"Baiklah. cepat pakai tasnya.", Neysa mengangguk, sembari memasukkan bekal itu dalam tas nya.
"Ayo, pamit nenek dan kakek dulu!.", ajak ibu Cellya.
Neysa segera berlari menuju kamar nenek dan kakeknya untuk berpamitan. tidak lama kemudian, ia sudah kembali menghampiri Oma nya yang sudah menunggu di teras mansion.
"Paman John.", panggilnya, saat ia melihat asisten ayahnya itu. ia berlari kecil menghampiri John. asisten Sean membungkuk hormat pada Neysa. gadis kecil itupun melakukan hal yang sama, membungkuk hormat pada orang yang lebih tua darinya. John, tersenyum melihatnya. ya, dia adalah anak termanis yang pernah John lihat.
"Paman, bisakah aku titip sesuatu untuk ayah?.", tanyanya, membuat John mengangguk. dengan cepat gadis itu, mengeluarkan kotak bekal dan memberikannya pada asisten sang ayah.
"Ingatkan ayah, untuk memakannya. jangan lupa katakan pada ayah, untuk tetap utamakan kesehatan meskipun sedang sibuk.",
"Oh ya, hari ini....
"Nona.", panggil John, memotong ucapan Neysa. ia menyodorkan buku catatan kecil di sakunya dan pulpen.
"Nona, tulis saja.",
"Jika nona menulisnya, saya tidak akan lupa untuk menyampaikan. dan tuan, akan sangat senang.", ucap John. yang membuat Neysa tersenyum dan segera mengambil buku serta pulpen itu dari tangan John.
__ADS_1
...----------------...