
Inikah cinta?!. kenapa harus ia sendiri yang merasakan sakitnya. karma kah?!, karena tidak bisa mengingat istrinya, sehingga ia tidak bisa menyelamatkan istrinya tepat pada waktunya.
Sakit, itulah luka terdalamnya. membiarkan istrinya menepati janji mereka seorang diri untuk memberikan anak padanya. untuk membuat rumah mereka ramai dengan tangis dan tawa anak-anak.
Ia merasa bersalah, ia merasa menjadi pemisah antara ibu dan anaknya. ya, saat Neysa lahir saat itu pula ia harus kehilangan istrinya. hanya berselang beberapa jam, dari kebahagiaan yang mereka rasakan.
Bahkan, di hari-hari berikutnya tanpa sang istri ia hampir gagal menjadi ayah. frustasi menyerangnya saat itu. ia ingin mati saja, menggantikan kesakitan putrinya. tapi, ia sadar itu bukan jalan terbaik.
Bagaimanapun, ia telah berjanji pada istrinya di akhir hayat Cellya, bahwa ia akan menjadi ayah dan ibu terbaik, dan selalu menjaga putrinya. menjaga ketulusan cinta mereka dalam wujud bayi perempuan yang kini telah tumbuh dengan baik dan sehat. anak perempuan yang sangat dewasa dan selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya. benar-benar persis seperti mendiang ibunya.
Sean mengecup puncak kepala putrinya. dalam hatinya terasa perih melihat putrinya dewasa tanpa kasih sayang seorang ibu, meskipun ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua nenek, kakek, serta aunty dan uncle nya. tapi, jauh di lubuk hati pasti putrinya merindukan sosok mendiang ibunya.
Sean berusaha melupakan lara hatinya. ia memilih memejamkan matanya lagi dan berharap segera tertidur.
Sore hari, Neysa nampak lebih segar setelah mandi dan berganti baju. dokter baru saja melakukan pemeriksaan. kondisi Neysa menunjukkan hal yang positif dan lebih baik. membuat Sean merasa tenang dan lega tentunya.
"Terimakasih, dokter.", ucapnya sembari menjabat tangan dokter Jeno, saat dokter selesai memeriksa dan melaporkan kondisi Neysa.
"Sama-sama, tuan.",
"Itu, tidak lebih karena nona adalah anak yang hebat.",
"Ya, nona bisa melawan dan bertahan melawan penyakitnya dengan tekadnya.", jelas dokter Jeno. membuat Sean tersenyum senang.
"Nona, kalau kondisi nona terus stabil. kemungkinan, besok nona sudah di izinkan pulang.", ucap dokter Jeno, yang beralih pada Neysa. gadis itu tersenyum sumringah.
"Terimakasih dokter.", ujarnya. membuat dokter Jeno tersenyum dan mengangguk senang dengan respon Neysa.
Ya, di usianya kini. pemikiran serta sikapnya lebih dewasa dari umurnya. aura positif yang keluar dari wajah, tutur kata serta tingkah lakunya menunjukkan ia adalah anak yang begitu istimewa. tak heran, teman-temannya begitu senang dan bahagia saat bersamanya.
"Baiklah. kalau begitu, saya permisi dulu.", ucap dokter Jeno, pamit. Sean mengangguk.
Dokter Jeno dan perawat keluar dari ruang rawat Neysa. Neysa yang nampak sumringah itu segera berdiri dan melonjak-lonjak di bed nya.
__ADS_1
"Yey, pulang... pulang.", ucapnya kegirangan. membuat Sean tersenyum lebar dengan tingkah putrinya.
"Sudah, sayang. ayo, turun dan duduk yang benar.", ucap Sean. Neysa menghentikan aksinya dan tersenyum manis pada ayahnya. ia pun mengikuti ucapan sang ayah untuk duduk dan beristirahat di bed dengan benar.
"Ayah, ayo besok ke makam momy setelah Ney keluar.", ajaknya.
"Kenapa harus ke makam momy?!.", tanya Sean.
"Mumpung ini masih suasana natal, ayah.",
"Kita harus mengucapkan Merry Christmas pada momy, agar momy tidak sedih disana.", jelasnya.
"Setiap tahun, Ney selalu kesana dengan Oma untuk mengucapkan selamat natal pada momy.", lanjutnya.
......................
"Kita lihat besok, oke?.", ucap Sean, yang di angguki oleh putrinya.
"Sekarang, ayo makan dan minum obatnya.", ujarnya. lagi-lagi Neysa menurut pada ayahnya.
Sean mengulurkan gelas berisi air putih dan obat yang harus diminum pada putrinya.
"Minum obatnya.", ucap Sean. Neysa mengangguk dan mengambil gelas serta obat itu dari tangan sang ayah. ia meminumnya dalam sekali teguk. setelahnya, gadis itu menyerahkan gelas pada ayahnya.
"Ayah?!.", panggil Neysa, seolah ingin ayahnya menjawab pertanyaan nya yang terakhir tadi. terdengar helaan nafas dari sang ayah. membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya, ia takut ayahnya marah.
"Kenapa baby jadi sangat cerewet?!.", tanya Sean, pada putrinya. Neysa tampak memajukan bibir bagian bawahnya, hingga bibir atasnya tidak terlihat.
"Ney, hanya ingin tahu ayah.",
"Tapi kalau ayah tidak ingin menjawab. Ney, tidak akan memaksa.", jawabnya, menunduk. Sean melihat putrinya, ia nampak menghela nafas dan berbalik, sehingga ia dan putrinya saling berhadapan.
"Apa baby ingin punya momy?.", tanya Sean. mungkin, putrinya berucap demikian karena ia rindu sosok seorang ibu.
__ADS_1
Neysa menggeleng. gadis kecil itu masih menunduk di depan ayahnya. ia tidak ingin menyakiti perasaan ayahnya, ataupun membuat ayahnya sedih.
"Lalu kenapa?!.", tanya Sean, lembut. ia tahu putrinya sedang takut berhadapan dengannya.
"Oma bilang. sejak momy pergi, ayah terus bersedih. itu sebabnya, Oma dan nenek yang merawat dan menjaga Ney.",
"Ayah, sering mengabaikan kesehatan ayah sendiri dan sibuk dengan pekerjaan karena tidak ingin terlalu bersedih, dengan kepergian momy.",
"Di sela-sela kesibukan ayah. ayah, pulang larut malam pun, ayah selalu menyempatkan diri untuk menemani Ney begadang, saat Ney menangis minta ganti popok atau susu.",
"Ayah bekerja, menjadi seorang ayah sekaligus ibu. pasti, itu merepotkan bukan?.", ujarnya. mata bemby nya nampak tergenang air. ia menatap ayahnya sendu. Sean merasa tidak tega. ia segera meraih tubuh mungil putrinya dan memeluknya. sementara Neysa menangis sesenggukan di pelukan ayahnya.
Sean menghela nafas dan memejamkan matanya sejenak untuk melegakan dadanya, dan agar lebih tenang.
"Ayah tidak pernah merasa kesusahan merawat baby sejak lahir. tidak pernah sekalipun.",
"Itu adalah kewajiban ayah, untuk menjaga baby. sesuai dengan pesan momy. dan juga karena baby adalah tanggung jawab ayah.", ucap Sean, menjelaskan.
"Tapi waktu itu, ayah meninggalkan Ney. ayah tidak pernah bicara pada Ney.",
"Ney, tidak tahu apa salah Ney. tapi Oma selalu bilang, kalau ayah sangat sibuk bekerja untuk Ney. bahkan, ayah tidak memiliki waktu untuk diri ayah sendiri. itu sebabnya, Ney ingin ayah menikah lagi. agar ada yang mengurus ayah.", ucapnya di sela tangisnya. sekuat hati, Sean menahan agar air matanya tidak jatuh. ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan putrinya.
"Ayah, minta maaf.",
"Ayah benar-benar minta maaf, karena mengabaikan baby begitu lama.", ujarnya. ia melepas pelukannya dan melihat wajah putrinya, yang nampak memerah karena tangisannya.
"Baby, lihat ayah!.", pintanya. membuat Neysa menghapus air matanya dan menatap sang ayah yang duduk berhadapan dengannya.
"Mulai hari ini. ayah berjanji, tidak akan terlalu sibuk dengan pekerjaan.",
"Sehingga, ayah bisa lebih banyak waktu untuk baby.",
"Jadi, ayah mohon jangan bersedih lagi, oke?!.", ucapnya. gadis itu mengangguk. Sean memberi isyarat pada putrinya untuk tersenyum. Neysa pun melakukannya, meski ia masih sedikit merasa sedih.
__ADS_1
...----------------...