
"Ayo.", ajak Sean. ia menuntun Cellya hingga meja makan.
Sean nampak melayani istrinya, mengambilkan semua makanan di meja untuk Cellya, lalu meletakkan piring penuh itu di depan istrinya.
"Selamat makan.", ujarnya, ketika mereka selesai berdoa sebelum memulai makan malam.
Sean mulai menikmati makan malamnya. Sedangkan Cellya, ia meraba sendok di samping piring dengan tangannya karena, lagi-lagi ia melihat bayangan sendok, piring dan lainnya jadi banyak lagi.
Begitu menyadari Cellya belum menyantap makanan nya, Sean segera meletakkan sendok miliknya dan mengambilkan sendok untuk Cellya.
Ia menggenggam kan sendok di tangan Cellya, sembari mengamati wajah cantik istrinya itu.
"Ada apa denganmu, by?!.", tanya Sean. membuat Cellya menatapnya.
'Deg' tatapan istrinya tidak sepenuhnya tertuju pada dirinya.
"Aku tidak apa-apa, by. mungkin hanya sedikit lelah.", ujar Cellya, ia nampak tersenyum manis.
Membuat Sean memandang nya sendu, sembari mengusap rambut panjang istrinya.
"Setelah makan, minum vitamin nya dan segera istirahat, oke?!.", ucap Sean. Cellya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah. ayo selesaikan makan malamnya.", ucap Sean. Cellya segera menyantap semua makanan di piring nya. sementara Sean, makan sambil diam-diam mengamati wajah istrinya.
Ia merasa aneh. ya, biasanya saat ada orang yang diam-diam mengamati kita, kita pasti merasakannya. namun Cellya, ia tetap menikmati makan dan tidak terganggu saat Sean terus saja diam-diam memperhatikannya.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka. Sean segera mengajak Cellya ke kamar untuk minum vitamin dan istirahat.
Cellya nampak beberapa kali hampir tergelincir ketika menaiki tangga menuju kamar mereka. untungnya, Sean terus berada di sisi istrinya, sehingga ia dengan sigap bisa membantu Cellya.
Mungkin Cellya memang lelah. terbukti, setelah meminum vitamin dan Sean mengajak nya berbaring di ranjang, tidak berapa lama kemudian ia tertidur.
Sean nampak menyelimuti tubuh Cellya, lalu kembali berbaring di sampingnya.
Ia memandangi wajah ayu milik wanita yang hampir tiga tahun resmi menjadi istrinya ini. mengusapnya penuh lembut dan sayang.
Ia menyisipkan rambut Cellya yang menutupi kening istrinya, lalu bergerak mencium kening istrinya cukup lama.
Entah mengapa?!. perasaan nya mengatakan bahwa, istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Tiba-tiba ketakutan dan kekhawatiran muncul di benaknya. membuat Sean menatap intens wajah Cellya. air matanya mengalir begitu saja. ia nampak menarik nafas dalam-dalam. berusaha menetralkan sesak yang mengaduk-aduk perasaannya.
__ADS_1
Sesaat Sean beranjak dari ranjang meninggalkan Cellya, menuju balkon kamar mereka. ia diam mematung, melihat gemerlap lampu dari balkon mansion nya.
Entah apa yang beradu dalam benak dan pikirannya, yang jelas malam ini, ia belum bisa memejamkan mata.
Cukup mencari angin di balkon. Sean kembali masuk, dan menutup pintu kamar yang menghubungkan antara kamar dan balkon.
Ia melewati Cellya yang masih nampak tidur terlelap, menuju meja dan sofa yang berada di kamarnya.
Sean membuka laptop milik istrinya. ia melihat beberapa file tersimpan. ia mengeklik file dekorasi untuk baby mereka. Cellya hampir menyelesaikan nya, dengan baik.
Karena belum bisa tidur. maka, Sean memutuskan untuk menyelesaikan desain kamar baby mereka. ia baru memutuskan tidur saat jam dinding menunjukkan hampir jam empat pagi.
Rasanya baru sebentar matanya terpejam, sebuah suara membuat Sean langsung membuka matanya.
"By?!.", panggilnya, karena tidak melihat sang istri di sampingnya.
......................
Terdengar rintihan dari kamar mandi. Sean segera berlari dan membuka pintu kamar mandi.
Terlihat Cellya nampak berusaha berdiri. "Apa yang terjadi, sayang?!.", tanyanya, cemas.
"Keningmu berdarah, by.", ujarnya, panik. ia segera menggendong istrinya yang masih meringis kesakitan, ke ranjang.
Sean mendudukkan Cellya di tepi ranjang, dan segera beralih mengambil obat p3k yang berada di laci kamar.
Ia membersihkan luka Cellya, lalu menutup nya dengan kapas dan plester.
"Aku tida apa-apa, by. tadi hanya tersandung saja.", ucap Cellya, saat Sean hampir selesai mengobati lukanya. ia tahu, suaminya pasti sangat mengkhawatirkannya.
"Seharusnya, tadi kau membangunkan ku.", ucapnya.
"Kau nampak sangat lelah tadi. lagi pula, sudah kebiasaan kan aku bangun, membersihkan diri lalu menyiapkan air mandi untuk mu.", ujarnya. ia tidak ingin suaminya khawatir.
Sean terdiam mendengar ucapan istrinya. "Kau melihat ku tidur pulas tadi?!.", tanyanya, yang segera di angguki Cellya.
"Lalu kenapa bisa terjatuh di kamar mandi?!.", tanya Sean.
"Tadi sewaktu memasuki kamar mandi, tiba-tiba pandangan ku kabur, by. lalu, aku tersandung dan jatuh, keningku terbentur bathtub.", ceritanya.
Sekali lagi, cerita Cellya membuat Sean terdiam. ia menatap wanitanya, sendu. rasa takut kembali muncul, tapi ia berhasil menguasai emosinya.
__ADS_1
Sean mengusap rambut Cellya dan menyisipkan sebagian rambut istrinya di telinga.
"Nanti kita ke dokter, oke?!.", tawar Sean.
"Jadwal dokter masih besok, by. lagi pula, John bilang tadi hari ini ada rapat pemegang saham.",
"Bukankah rapat ini penting?!. apalagi Dady ada di Singapura, jadi kau harus hadir dalam rapat kali ini.", ujar Cellya.
"Aku akan meminta John, untuk menggantikan ku.", ucapnya, setelah lama diam.
"Tentu saja itu tidak boleh. para penanam saham akan mengira, kau meremehkan mereka. itu tidak baik untuk kerjasama kalian.", Cellya berusaha memberi pengertian pada suaminya.
"Lagi pula, besok kita ada jadwal periksa kandungan. bisa sekalian periksa lainnya.", sambung Cellya, dengan senyum manis nya. membuat pria yang begitu mencintainya itu hanya, mengangguk sekilas lalu mencium kening Cellya dalam.
"Baiklah. sekarang, mau aku bantu mandi?!.", tanya Sean. Cellya tersenyum, nakal.
"By, yang benar saja. aku masih sehat, aku mau mandi sendiri. lagi pula, jika kau membantuku mandi sudah pasti kita akan berada di kamar mandi lebih lama.", ujar Cellya.
"Justru itu lebih efisien, by. lebih bisa menghemat waktu.", ucap Sean, membantah ucapan istrinya.
"Tidak..., tidak. aku akan mandi sendiri.", ujarnya. ia segera beranjak dari ranjang dan bergegas masuk ke kamar mandi.
"Hati-hati,by.", ujar Sean, mengingatkan saat melihat istrinya sedikit berlari masuk ke kamar mandi. ia tersenyum sendiri memperhatikan tingkah istrinya.
Selesai mereka mandi, Cellya nampak membantu suaminya merapikan dasi dan memakaikan jas pada Sean.
"Selesai.", ujar Cellya, yang baru saja selesai merapikan rambut suaminya, sebagai sentuhan terakhir penyempurna tampilan suaminya sehari-hari.
"Baiklah. ayo, segera turun dan sarapan.", ajak Sean. mereka keluar kamar bersama dan menuruni tangga.
Sean dengan setia selalu berjalan di samping istrinya, dan mempersilahkan Cellya duduk setelah mereka berada di ruang makan.
Nani menghidangkan sarapan di meja. tidak lupa, ia menuangkan air putih dan jus untuk kedua majikannya.
"Silahkan di nikmati, tuan, nona.", ucap Nani, segera pergi begitu menyelesaikan tugas nya.
Setelah sarapan selesai, Sean mengumpulkan para maid dan penjaga rumah tanpa terkecuali. ia meminta mereka lebih ekstra menjaga dan mengawasi Cellya, karena beberapa kali istrinya hampir jatuh.
"Siap, tuan.", ucap mereka serentak. paham dengan maksud dan perintah majikannya.
...----------------...
__ADS_1