
"Oma.", panggil Neysa, membuat orang tua yang kini tidur memeluk tubuh mungilnya membuka mata.
"Iya?!.", jawab neneknya.
"Apakah menyenangkan saat di antar orang tua ke sekolah?.", tanyanya, membuat wanita itu diam, dan mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar.
"Neysa tidak senang, di antar Oma dan nenek ke sekolah?.", ucap ibu Cellya, pelan.
"Bukan begitu, Oma. Neysa, hanya ingin tahu rasanya saja.",
"Neysa, sering melihat teman-teman Neysa di antar-jemput orang tua nya.",
"Neysa, kan tidak punya mama, dan ayah juga selalu sibuk. jadi, Neysa bertanya.", jawabnya, menjelaskan maksud pertanyaan nya pada sang nenek.
Ibu Cellya menghela nafas, lalu mengeluarkan nya pelan. "Pada dasarnya, di antar orang tua atau tidak?!. bukankah, sama saja?!. sampai di sekolah, kita sama-sama belajar bersama.",
"Hanya saja, yang berbeda, mungkin hanyalah suasananya.",
"Ya, suasana dan semangat belajar jadi lebih giat karena di antar orang tua.",
"Tapi, sayang. seperti yang nenek bilang, ayah sibuk bekerja karena harus mencari uang untuk Neysa, itu sebabnya ayah tidak bisa mengantar Neysa kemana-mana, kan?!.", Neysa mengangguk.
"Neysa, paham Oma. Neysa, cuma bertanya saja. Neysa, enggak minta di anter ayah kok.",
"Ayah, sehat saja. Neysa, sudah cukup senang.", ujarnya. membuat ibu Cellya, meraih tubuh mungil yang terbaring di sampingnya, dan mengecup pucuk kepala cucunya.
Ia menahan sesak. ya, cucunya pasti ingin mendapat perhatian dari ayahnya. tapi, dengan sifat dan sikap dari ibu Sean serta Sean sendiri, bagaimana semuanya bisa membaik?!.
"Oma, tolong jangan pikirkan apa yang baru saja Neysa katakan.", ucap bocah itu. ibu Cellya hanya tersenyum tipis, dan memeluk erat cucunya.
Ia tahu, mungkin cucunya sedang sedih karena ayahnya harus mendadak pergi menggantikan kakeknya di kantor cabang Singapura.
Ya, walaupun mereka tidak pernah berinteraksi sehari-hari, tapi ikatan batin antara ayah dan anak, itu pasti ada kan?!.
"Sebentar lagi, ulang tahun Neysa. katakan!, cucu Oma mau hadiah apa?.", tanya Oma nya. gadis kecil yang tidur membelakangi dirinya itu hanya menggeleng.
"Cukup, ayah, Oma, nenek dan kakek sehat.", jawabnya, dewasa. sekali lagi, jawabannya membuat ibu Cellya menghela nafas.
"Kenapa tidak meminta sesuatu?.", tanya Oma nya.
__ADS_1
"Tidak, Oma. akan ada paman Santa yang mengabulkan permintaan ku, nanti.", jawabnya.
Ya, paman Santa. paman Santa yang selalu datang saat dia ulang tahun. paman Santa, yang selalu mengabulkan permohonan nya.
Ibu Cellya, mengecup puncak kepala cucunya. tidak bisa di lukis kan, dan di tuliskan seberapa besar cinta kasih nya pada putri mendiang Cellya. putri, yang menyembuhkan luka kehilangan putrinya secara perlahan dengan senyum dan perangai ajaib nya.
Suasana hening tanpa kata di antara mereka akhirnya, mengantarkan Neysa terlelap lebih dulu, di susul oleh Oma nya. mereka terlelap bersama hingga fajar tiba.
......................
Seperti biasa, gadis itu nampak sibuk di pagi hari. ia sibuk mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah pagi ini.
"Sayang, nenek pergi dulu. nenek, tidak bisa sarapan bersama. ada klien yang harus nenek temui sepagi ini.", pamit ibu Sean, sembari memasuki kamar Neysa dan membantunya, merapikan rambut panjang cucunya.
"Tidak apa-apa, kan?.", tanya ibu Sean, setelahnya.
"Tidak apa-apa, nek.", jawabnya, dengan senyum lembut. membuat ibu Sean gemas, dan memeluk Neysa.
"Nenek, hati-hati ya?!.", pesan nya, saat neneknya sudah melepaskan pelukannya.
"Baik. apapun, yang membuat princess nenek senang.", ujarnya, membuat Neysa tersenyum.
Ibu Sean mengecup kening Neysa, dan berlalu pergi. gadis itu kembali mengecek semua buku dan peralatan sekolah nya, sebelum berangkat. nampak kemudian, Oma nya masuk ke kamarnya.
"Sebentar ya, sayang.", ujar Oma nya. lalu, mengangkat telfon nya. Neysa menunggu Oma nya yang sedang melakukan panggilan telepon. tidak lama kemudian, Oma nya kembali. wajahnya terlihat sedikit panik.
"Sayang, Oma minta maaf. uncle David menelpon, aunty El di bawa ke rumah sakit.", ucapnya.
"Aunty El, mau melahirkan?.", tanya Neysa. Oma nya mengangguk.
"Maaf, Oma tidak bisa mengantar. tidak apa, kan sayang?!.", tanya Oma nya, memastikan.
"No, Oma. tidak apa-apa. Neysa, bisa di antar paman John, saja.", jawabnya.
"Ok, Oma pergi dulu ya?!.", pamitnya, terburu-buru. ibu Cellya mencium kening cucunya dan segera berlalu pergi.
Ibu Cellya berjalan keluar mansion, sementara Neysa mengikutinya berjalan di belakang neneknya. nampak ibu Cellya, segera memasuki mobilnya dan berlalu bersama asisten Han.
"Selamat pagi, nona.", sapa John, membuyarkan pandangan Neysa yang menatap kepergian neneknya. Neysa menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
"Selamat pagi, paman.", jawabnya, ramah.
"Mari, nona. paman antarkan.", ucapnya, yang di angguki oleh Neysa.
Ia segera berjalan dan memasuki mobil yang sudah di siapkan oleh John. setelah Neysa siap di kursi penumpang, baru John segera menjalankan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Neysa terdiam. John yang melihat dari spion berusaha mencari tahu apa yang mengganggu pikiran nona mudanya.
"Nona, kenapa diam?.", tanya John. Neysa menoleh, ia diam sejenak mendengar pertanyaan asisten ayahnya.
"Paman. apakah paman tahu, kalau ayah pergi ke Singapura?.", tanyanya. John diam sejenak, ia berusaha menata ucapan nya.
"Iya, nona.", jawabnya singkat.
"Kapan ayah pulang?.", tanyanya. John menghela nafas.
"Belum tahu, nona.", jawabnya. seketika, wajah gadis mungil itu terlihat murung.
"Kenapa, nona?.", tanyanya. Neysa, hanya menggeleng. ia beberapa kali nampak menghela nafas dalam.
"Paman. apa menurut paman, ayah menyayangiku?.", tanya polos. John berusaha tersenyum.
"Apa yang nona, tanyakan?!. jawaban nya, sudah jelas bukan?.", ujar John. Neysa menggeleng pelan, ia diam dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Kenapa, nona?.", tanya John.
"Aku merindukan, momy.", jawabnya lirih.
"Nani, memberitahuku sebuah doa, agar aku bisa bertemu momy. aku sudah membacanya, tapi aku tidak bertemu momy, juga.", ucapnya, sendu. mendengar nya membuat John merasa miris.
Ya, dia yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang momy nya. dan kini, ayahnya juga sedang pergi jauh untuk bekerja.
John menghentikan mobilnya saat sudah sampai di gerbang sekolah Neysa. ia segera membukakan pintu untuk nona kecilnya. begitu pintu terbuka, Neysa segera turun. wajahnya masih sama, murung.
"Nona, harus semangat. paman janji, akan bilang pada ayah untuk segera pulang menemui nona.", ucap John, berusaha menghibur. Neysa tersenyum.
Ia memeluk pria yang sedang berjongkok di depannya itu, cukup lama.
"Paman, sampaikan pelukan ku pada ayah. tolong katakan pada ayah, jangan terlalu lelah dalam bekerja. aku janji, akan menjadi anak baik yang patuh.",
__ADS_1
"Katakan pada ayah, aku ingin bermain bersamanya walau sebentar.", pesannya, yang di angguki John. ia mengusap punggung gadis kecil itu.
...----------------...