
Risma pulang dari pekerjaannya ia harus beristirahat karena besok sore sehabis pulang kerja ia ada jadwal pemeriksaan kandungan oleh Dokter Yaren, dengan perasaan terkejut lantaran Anton menghampiri dirinya.
"Risma duduk saya ingin bicara sama kamu."
"Bicara apa, Kak?" tanya Risma yang juga ikut duduk di sofa.
Risma memperhatikan wajah sang suami yang tampan karena blasteran Italia dari ibunya, Anton yang menunduk kemudian menatap istrinya berwajah Asia bermata sipit berdarah Jepang.
"Risma pernikahan kita adalah pernikahan yang tak di inginkan kita berdua, saya juga harus menanggung malu setiap bertemu orang karena bayi yang kamu kandung. Jadi saya putuskan kamu meninggalkan rumah ini segera."
Air mata Risma luruh tatkala suaminya mengusirnya, "kenapa tidak cerai sekalian, maksud kakak saya pergi dari rumah ini karena mau di tempati Fera?" tanya Risma pada Anton, pria di hadapannya hanya menganggukkan kepala.
"Oke, aku minta buku nikah sekarang." Risma berdiri dari sofa membuat Anton menatap istrinya.
"Besok saya kasih...," ucap Anton pada Risma.
"Gak usah besok, saya akan pergi hari ini!detik ini! dari rumah ini." Risma marah memaki suaminya.
"Risma!!" bentak Anton pada sang istri.
Risma segera masuk ke dalam kamarnya mengemasi barang-barangnya kemudian ia menelepon Hanna agar membantunya mencarikan tempat tinggal.
__ADS_1
"Hallo, Na." Risma menelepon teman kantornya dengan menempelkan benda pipih itu ke daun telinganya.
'Ada apa, Ris?" tanya Hanna di sambungan telepon.
"Gua bisa minta tolong," ujar Risma menarik nafas kemudian mengusap air matanya suaranya serak habis menangis.
'Lu kenapa, Ris? Lu gak napa 'kan? ya udah lu mau minta tolong apa?" tanya Hanna bertubi-tubi seolah Hanna itu peka dengan keadaan temannya yang satu ini.
"Lu bisa 'kan bantuin gua cariin apartemen atau kontrakan, lu pahamlah gak harus gua ceritain juga." Risma mengatakan hal itu pada sahabatnya.
'Iya, iya gua bakal cariin.' Jeda 'yaudah lu jangan nangis lagi nanti gua ke rumah lu, sharelock ya.'
'Yaudah, gua tutup ya.' Hanna berujar kemudian Risma mengatakan iya sebagai jawabannya.
Risma keluar kamar untuk mencari barang-barangnya yang munkin saja tertinggal tapi tak lama ada Salsa dan Fera di luar ruangan bersama Anton dan teman-teman yang lain.
"Ngapain loe?" tanya Fera sambil mendelik nakal.
"Gua mau ngambil barang-barang gua," jawab Risma dengan ketus.
Salsa dan Fera mendekat kemudian mulai bicara. "Yaelah hamil anak orang aja bangga lo." Salsa melotot marah.
__ADS_1
"Saya hamil anak Anton, dia yang memperkosa saya." Risma menahan tangis.
"Bacot aja terus lo." Fera terkekeh.
Fera dan Salsa mendorong Risma dengan tangannya. "Berhenti."
Hanna datang mendekati keduanya membuat semua orang melihat gadis berparas Jepang itu dengan heran, terkecuali Axel melihatnya sedikit terpesona.
"Fera Covrev dan Salsa Bragatsatya, aku tahu kalian berdua adalah orang terhormat. Tapi kenapa cara bicara kalian seperti orang hutan yang tidak di ajari sopan santun." Hanna bicara dengan nada formal.
"Siapa loe?!" tanya Fera dengan nyolot.
"Aku Hanna Okamoto, teman Risma." Hanna menjawab dengan mengangkat dagunya kemudian ia melihat Anton.
"Tuan Anton Darma Anjaya, aku tahu kau sudah punya istri tapi kenapa kamu masih menjalin hubungan dengan wanita lain." Hanna menatap Anton sambil menunjuknya dia juga Fera.
"Apa urusan lu, *****!!" Fera mendekat dan ingin mendorong Hanna, tapi dengan cepat Hana menangkap tangan Fera kemudian memutarnya membuat Fera kesakitan.
Anton berlari mendekat, "Fer kamu gak apa?" tanya Anton yang merangkul Fera.
Fera seperti ingin menangis ia bicara manja pada Anton, "satu hal lagi, Tuan Anjaya kau akan menyesal karena tega menelantarkan wanita yang berhati malaikat seperti Risma. Dengan buta anda tega menukar sebuah Berlian dengan batu."
__ADS_1